Rie dan Rei

Cerpen: Lily Yulianti Farid
Sumber: Media Indonesia, Edisi 12/17/2006

“Patah hati lagi, Rei?”

“Kau sendiri bagaimana Rie?”

Lalu keduanya berkata bersamaan: “Ya.. pencarian dan pengembaraan masih berlanjut. Mari kita makan satu atau dua mangkuk nyuknyang (1) untuk merayakannya.

***

(13:15 di arloji Rei)

Rie tidak berubah. Ia tetap perempuan pengembara dengan pijar mata sesejuk embun. Mata pemimpi. Ia selalu pergi, tapi selalu kembali ke kota ini membawa cerita. Ia belum meninggalkan kebiasaannya mempermainkan ujung sapu tangan saat bertutur tentang romansa yang mengadukkan mimpi dan kenyataan. Ia berkisah tentang langit ungu tua dan bintang kuning seperti titik cahaya petromaks. Tentang sejarah yang seharusnya ditengok kembali. Kali ini ia membawa kisah cinta yang kandas di the Forbidden City.(2)

“Mengapa tidak membawa tisu yang lebih praktis, Rie?” tanyaku sambil memandangi ujung saputangannya yang kusut terpelintir.

“Ah, apa kamu lupa betapa aku mencintai sapu tangan sejak kecil? Tisu tidak mungkin menyimpan kenangan apa-apa. Sekali pakai, lapuk, lalu dibuang. Sapu tangan setia memelihara semua kisah, Rei. Kadang ia menjadi asin karena air mata dan di lain waktu, ia bertabur wangi karena kusemprot parfum menunggu kekasih yang akan menjemput.”

***

(13:15 di arloji Rie)

Rei tetap jiwa yang tabah sekaligus melankolis. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh meski nasib baik belum juga berpihak. Ya, lagi pula mengapa harus mengutuki nasib. Mengapa tidak merayakannya saja? Bukankah menabrakkan logika dengan imajinasi, telah terbukti bisa mengurangi rasa sedih dan menghadirkan kegirangan yang ganjil? Ia mengajariku, sekali-kali kami perlu ke restoran memesan rasa lapar.(3) Atau sekali-kali bersikeras tetap masih berada di Januari, ketika penanggalan telah berlari ke Februari.

Ia tetap di sini. Tidak ingin ke mana-mana. Suatu saat, pasti ada satu cinta di kota ini untukku, katanya berkali-kali. Dari mana gerangan keyakinan itu diperolehnya? Rei percaya pencariannya akan berujung, dan selalu tak jera ia mencoba. Terbentur. Mencoba lagi. Terbentur lagi.

Laki-laki yang melahirkan puisi, dengan kepekaan dan kekuatan, dengan gemuruh dan dendam, dengan percintaan yang selalu patah tapi ia tidak pernah jera.

***

Di sebuah warung kecil di kawasan Panakkukang, mereka memesan dua mangkuk nyuknyang. Bola-bola daging kenyal berwarna abu-abu yang mengapung di kuah panas, di antara serpihan bawang goreng dan daun seledri adalah kebahagiaan bagi keduanya. Menu sederhana kegemaran sejak kecil untuk merayakan sebuah pertemuan tahunan. Inilah ritual mereka.

“Mengapa perempuan itu meninggalkanmu, Rei?”

“Klise. Sangat klise. Cintaku bukan sebuah masa depan. Itu kata bapaknya.”

“Kata bapaknya?”

“Ya…kata bapaknya.”

“Lalu apa kata perempuan itu?”

“Ia ikut kata Bapaknya….”

***

(13:45 di arloji Rie)

Cinta Rei tidak mungkin menjelma masa depan yang baik. Mengapa semua bapak dari perempuan yang membalas cintanya mempercayai asumsi ini? Aku menyaksikan Rei sebagai seorang penyair yang tertatih-tatih di lumbung beras, sarang para saudagar kaya mengukur kemuliaan hidup dari gemerincing pundi semata. Betapa malang. Betapa sayang. Aku membayangkan Rei menjelma menjadi pegawai bank, dosen, pengurus partai politik atau apalah yang semacamnya, setiap kali ia jatuh cinta. Dengan begitu, perempuan yang membalas cintanya berani membayangkan masa depan dan mengajaknya berbicara tentang perkawinan.

Di lumbung beras ini, puisi Rei tetap diakui keindahannya, tapi puisi tidak masuk dalam daftar kekayaan, bukan sebuah unit produksi. Tak mungkin kau hidupi perempuan dengan kata-kata, Rei, meski bisa kau luluhkan hatinya dengan selusin sajak. Kecuali bila kita berandai-andai bahwa penyair yang memberi makanan bagi jiwa seluruh rakyat, digaji oleh negara karena berjasa menjadi penjaga nurani, pengawal moral bangsa. Ups! Sebuah andai-andai yang keterlaluan, tentu saja…

***

Mereka berseru kepada penjual nyuknyang yang berdiri di pintu warung. Mereka mengenalnya dengan baik, namanya Minggu. Laki-laki asal Tana Toraja yang selalu menyampirkan handuk kecil di bahu kanannya. Rei dan Rie termasuk orang yang tidak percaya desas-desus bahwa Minggu menggunakan handuk yang sama untuk mengelap keringat dan mengelap mangkuk nyuknyang untuk para pelanggan. Meski setiap kali melihat handuk di bahu Minggu, keduanya akan saling bertatapan dan teringat lagi pada desas-desus itu.

“Minggu, tambah dua mangkuk. Satu campur. Satu halus!<4>”

Rei meneriakkan pesanan tambahan.

Rie mendekatkan kepalanya ke arah Rei dan bicara dengan suara yang direndahkan.

“Eh, kalau Minggu patah hati, ia juga akan mengusap air matanya dengan handuk itu….”

Mereka tertawa, seperti dua orang tolol yang baru menemukan lelucon baru.

Bola-bola daging kenyal berwarna abu-abu yang mengapung di kuah panas, di antara serpihan bawang goreng dan daun seledri membuat keduanya kembali berbahagia melanjutkan perayaan pertemuan.

“Bagaimana Beijing, Rie?”

“Penuh sesak tapi eksotis. Aku melancong menggunakan nama Fasciola. Hm, selalu saja aku bebas setiap kali menjadi bukan diriku. “

“Kamu masih sering aneh begitu, Rie?”

“Aku selalu tidak ingin menjadi aku.”

“Fasciola?”

“Nama cacing, Rei. Fasciola hepatica, cacing hati yang menggerogoti tubuh…”.

“Cacing?”

“Sekali-kali menjadi cacing tidak apa bukan? Makhluk kecil tak ada nilainya, menjijikkan.”

“Ada yang jatuh cinta pada Fasciola?”

“Tentu saja ada. Namanya Raphael. Laki-laki dari Sisilia. Pemuja Mao yang merengek-rengek minta ditemani berfoto di Lapangan Tiananmen dan berkeliling di kompleks the Forbidden City. Ia aktivis Green Peace yang sudah dua tahun pantang minum Coca-cola. Aku mengaku penentang rekayasa genetik. Klop, bukan?”

“Sebuah affair yang biasa?”

“Sebuah affair tanpa prospek. Tapi tak apa….”

***

(13:59 di arloji Rei)

Di manakah ujung pencarianmu, Rie? Pengembaraan menjadi orang lain. Pelarian penuh kepalsuan berganti-ganti nama. Mimpi yang terus diaduk dengan kenyataan. Kepribadian yang terbelah-belah diguncang realita. Kau pernah mengeluhkan dirimu sebagai perempuan dengan empat rantai pasungan yang tidak mungkin bisa kau lepas. Pasungan pertama: jangan jatuh cinta pada sembarang laki-laki. Pasungan kedua: jaga kehormatan dan nama baik keluarga. Pasungan ketiga: cari laki-laki yang segolongan, seagama, sederajat kalau perlu lebih kaya. Pasungan keempat: jangan pergi jauh, jodohmu telah diatur keluarga.

Ah, putri bangsawan yang frustrasi. Pemberontak kecil yang tak berhenti melawan. Pewaris berhektar sawah dan kebun yang mengeluh miskin kebebasan. Sampai kapan mengembara, Rie? Sampai kapan? Dulu kau pernah berkata, mungkin nasibku berakhir seperti tiga kakak perempuan Bapak yang tetap menjadi perawan tua karena setia pada pasungan berlapis-lapis itu.

Tapi tak apa. Setidaknya ada percintaan dan romansa sesaat di banyak tempat, yang bisa kukenang, katamu menghibur jiwamu sendiri.

***

“Kau memikirkan aku, Rei?”

“Kau sendiri?”

“Aku mengkhawatirkanmu.”

“Sama. Aku juga mengkhawatirkanmu.”

Keduanya bersitatap. Ada kegetiran yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi, tapi mereka bersikeras untuk tidak mengakuinya. Mereka memaksakan diri untuk tertawa.

Dua sahabat masa kecil yang setia menabrak-nabrakkan mimpi pada kenyataan itu, terus tertawa. Keriangan yang ganjil.

Menuntaskan perayaan pertemuan itu, Rei menghadiahkan puisi pendek untuk Rie:

“Aku memilih bertahan di cahaya senja, tak hendak ikut beranjak ke gelap malam.”

“Ke mana setelah ini, Rie?”

“Hm, kembali ke Singapura. Kalau ada uang lebih, mungkin akan ke Kathmandu…”

“Kapan ke sini lagi?”

“Tahun depan. Dan doakan aku punya cerita cinta yang….”

Keduanya tertawa lagi. Getir.

***

Tokyo, 3 Maret 2006 00:58 am.

Catatan Kaki:

(1) Nyuknyang: sejenis bakso khas Makassar, yang lebih kenyal dan lebih halus dari bakso umumnya.

(2) The Forbidden City adalah salah satu objek wisata utama di Kota Beijing yang dulunya merupakan Istana Kerjaan Dinasti Ming dan Qing.

(3) Kutipan puisi “Di Restoran” karya Sapardi Djoko Damono

(4) Kata “Campur” di sini artinya: semangkuk nyuknyang dengan bola daging yang halus dan kasar. Sementara kata “Halus” di sini artinya: semangkuk nyuknyang dengan bola daging yang halus semua.