Rumah Idaman
Cerpen Lidya Kartika Dewi


Selesai makan, siang itu, seperti biasanya, Maman duduk santai di ruang tamu rumah kontrakannya sambil asyik membaca koran yang dibelinya di bis kota sepulang dari mengajar tadi. Biasanya Maman hanya sendiri saja menikmati korannya. Tapi, siang itu istri dan ketiga anaknya tiba-tiba ikut nimbrung. Maman merasa heran dan segera menghentikan bacaannya.

“Ada apa ini, kok tumben kalian ikut nimbrung duduk di sini?” tanyanya sambil meletakkan koran di atas meja.

Istri dan ketiga anaknya senyum-senyum penuh arti

Ada apa ini?” desak Maman penuh selidik.

“Mm… anu, Pak, kita minta dibelikan rumah BTN yang sederhana,” kata anaknya yang sulung, Santi, dengan takut-takut.

“Hah, kalian minta dibelikan rumah?” sontak mata Maman melotot.

“Iya, Pak. Masak kita menempati rumah kontrakan terus dan di daerah kumuh lagi,” kata Adi, anaknya yang kedua, juga dengan suara takut-takut.

“Ada angin apa kalian ini, kok tiba-tiba minta dibelikan rumah BTN segala?” kata Maman dengan suara tinggi dan mata tetap melotot. “Hah, ada apa? Apa kalian pikir Bapak ini sudah diangkat jadi pegawai negeri?”

“Bukan begitu, Pak,” sahut istrinya dengan suara tenang. “Aku pikir, anak-anak kini sudah besar. Santi, anak sulung kita, sudah duduk di bangku SMA. Jadi sudah sepatutnya kalau kita menempati rumah yang lebih layak untuk dihuni.”

“O, jadi Ibu sudah nggak betah tinggal di rumah kontrakan ini, lantas minta dukungan anak-anak, supaya Bapak mau mengambil rumah BTN?” tatapan tajam Maman terarah pada istrinya. “Ingat, Bu, ingat, sudah 17 tahun kita mengontrak rumah ini dan tidak pernah pindah, karena harga sewanya sesuai dengan gajiku sebagai guru honorer.”
“Nggak kok, Pak, Ibu nggak minta dukungan,” Santi menyela. “Tapi saya juga ingin tinggal di rumah BTN yang sederhana. Karena, rumahnya cukup bagus, dengan tata letak yang juga bagus, jalan-jalannya diaspal, dan lingkungannya bersih. Sehingga kalau suatu saat nanti mengajak teman-teman main ke rumah, saya nggak merasa malu, Pak.”

Tatapan tajam Maman kini tertuju pada putri sulungnya. “Iya, Santi, Bapak menyadari keinginanmu. Tapi kamu juga harus ingat, ngambil rumah BTN itu sekarang ini uang mukanya sangat tinggi! Yang tipe-21 saja, uang mukanya sudah hampir enam juta rupiah! Dari mana Bapakmu ini punya uang sebanyak itu? Belum lagi nanti cicilannya. Bapak dengar hampir tigaratus ribu per bulan. Ingat, Bapakmu ini hanya sebagai guru honorer!”

“Alah, guru kan masih lebih hebat daripada pegawai konveksi seperti Pak Budi bekas tetangga kita itu?” Adi yang kini duduk di kelas III SLTP itu kembali bersuara.

Pak Budi bisa mengambil rumah BTN yang sederhana, kenapa Bapak tidak bisa?”

Kali ini Maman terdiam. Ia tak mampu berkomentar lagi. Kata-kata anaknya yang nomer dua itu serasa panah yang membidik tepat di ulu hatinya. Maman menghela napas panjang. Sejenak, timbul rasa frustasi di hatinya. Ia kecewa, karena istrinya belum dapat sepenuhnya memahami profesinya. Profesi guru memang cukup terhormat. Tapi berapa sih gaji guru honorer? Hanya sedikit di atas gaji pembantu rumah tangga!

Hari-hari terus silih berganti dan berguguran. Impian untuk memiliki rumah sendiri tetap masih jauh dari angan-angan Maman. Hal itu berbeda dengan istri dan anak-anaknya. Memiliki rumah sendiri itu sudah merupakan harapan yang harus dapat segera terwujud. Karena itu, istri dan anak-anaknya tiap saat terus mendesak, agar Maman dapat mewujudkan impian mereka.

Apalagi sang istri, berulang kali menyatakan, “Orang hidup itu baru benar-benar sempurna, kalau dapat memenuhi tiga hal dengan baik, yaitu pangan, sandang dan papan alias rumah.”

Hati Maman tergerak juga! Maka kini tak ada lagi istilah leha-leha, istilah santai buat Maman. Selesai mengajar pagi ia nyambi mengajar di SLTP swasta siang. Selepas magrib, ia ngojek sepeda angin! Dalam hati ia bersyukur, di daerah tempat tinggalnya, Jakarta Utara, sepeda angin masih bisa diojekkan!

Dan berkat kerja kerasnya itu, dalam waktu hampir 10 bulan Maman punya tabungna yang cukup banyak. Ditambah uang pinjaman dari koperasi sekolah, ditambah lagi uang arisan di RT tempat tinggalnya yang bulan ini kebetulan jatuh atas nama istrinya, terkumpul juga uang enam juta limaratus rupiah. Maka terpenuhi sudah syarat untuk membayar uang muka rumah sederhana BTN tipe-21. Dan kini memiliki rumah BTN itu bukan lagi hanya impian, tapi sudah menjadi kenyataan!

Minggu pagi Maman, dibantu Adi dan beberapa orang tetangganya, sibuk mengangkut barang-barang perabot rumah tangga ke dalam sebuah mobil pick-up. Maman sekeluarga boyongan, pindah rumah. Dan ketika semua sudah beres, bergeraklah mobil pick-up itu menuju perumahan sederhana BTN yang telah dibeli oleh Maman. Di belakangnya sebuah Metro Mini yang disewa Maman mengiringinya, berisi para tetangganya.

Ketika sampai di perumahan itu, para tetangga Maman bedecak kagum. “Wah, Bu Maman sekarang sudah jadi orang kaya, ya.”

“Iya-ya, tempatnya enak dan asri. Tapi kita harap sih jangan melupakan kita-kita yang masih tinggal di pemukiman miskin.”

“He-eh. Jangan lupa sowan ke kita. Ya siapa tahu besok-besok kita kecipratan dan bisa juga kita tinggal di pemukiman yang nyaman seperti ini.”

Tawa Bu Maman berderai. “Sudah, jangan dipuji terlalu berlebihan. Saya masih Bu Maman yang dulu,” suaranya terdengar renyah. “Dan tiap awal bulan kita masih akan tetap riungan. Bukankah arisan tahun ini di RT kita belum habis?”

Manusia hidup memang tak pernah merasa puas. Karena itu, persoalan datang silih berganti. Begitu pula yang dialami keluarga Maman. Belum genap dua bulan menempati rumah BTN, istri dan anak-anaknya kembali mengeluh, minta rumah itu untuk direnovasi. Karena rumah tipe-21 yang hanya berkamar satu itu memang tak layak untuk dihuni satu keluarga dengan anak tiga, apalagi si sulung, santi, sudah beranjak perawan!

Sejenak Maman terdiam mendengar tuntutan istri dan ketiga anaknya ini. Tapi akhirnya ia berencana untuk pinjam uang ke rentenir, Iwan Tobang. Mula-mula istri dan ketiga anak Maman menolak, karena bunganya yang tinggi dapat menghancurkan ekonomi kelurga mereka. Tapi setelah Maman ngotot tak ada jalan lain lagi, akhirnya istri dan ketiga anaknya setuju juga. Keesokan harinya Maman mendatangi rumah Iwan Tobang. Dan Iwan Tobang yang sudah lama ingin ‘memangsa’ Maman dengan senang hati meminjami delapan juta rupiah seperti yang diinginkan oleh Maman. Dan dengan uang sebanyak itu Maman dapat merenovasi rumah BTN-nya sesuai dengan yang diinginkan istri dan ketiga anaknya. Maman merasa puas dapat memenuhi tuntutan istri dan anak-anaknya. Istri dan anak-anaknya bangga, karena dapat menempati rumah yang benar-benar laik untuk dihuni.

Kini hari-hari dapat dilalui Maman dengan tenang dan tentram. Hidup serasa kembali ringan, tanpa beban, seperti ketika ia menempati rumah kontrakan dulu. Tapi, kenyamanan dan ketentraman itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, persoalan kembali datang menerjang! Karena Adi lulus dari SLTP hendak masuk SMA dan si bungsu Rian lulus dari SD mesti melanjutkan ke SLTP! Maman kembali pusing. Lama ia berpikir, mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mendatangi rumah Pakde-nya di Menteng.

Sebenarnya Maman sudah memutuskan tali silaturahmi dengan Pakde-nya itu. Perkaranya, Pakde-nya itu terlalu kikir. Ia tak pernah mau tahu kesusahan orang lain, walau ia orang yang berpunya. Tetapi dalam keadaan kepepet seperti itu, Maman ingin mencoba juga.

“Wah, aku dengar sekarang kau sudah jadi orang kaya,” ucap Pakde dengan senyum, menyambut kedatangan Maman. “Makanya kau nggak mau lagi datang bertandang ke rumahku.”

“Ah, kaya apa, Pakde. Hanya sekadar menempati rumah BTN tipe-21 saja.” \

“Lha, itu kan sudah lebih baik dari pada ngontrak. Iya, to?”

“Inggih, Pakde, benar,” Maman mengangguk takzim. “Tapi, justru sekarang ini persoalan datang silih berganti.”

“Oh, nggak perlu putus asa. Ya begitulah romantika hidup ini. Apa kau butuh pinjam uang?”

Maman terperangah, seakan tak percaya dengan kata-kata Pakde-nya yang nampak diucapkan dengan sangat tulus itu.

“Tapi ya nggak polos. Ada sedikit bunganya,” lanjut sang Pakde.
Maman semakin terperangah. Heran dan penuh tanda tanya.

“Ya beginilah, Man, romantika hidup. Karena sekarang aku sudah pensiun, pendapatan sudah banyak berkurang, obyekan sudah nggak ada lagi, kamu nggak usah heran kalau aku melakukan pekerjaan ini.”

Maman mengangguk-angguk, tapi pikirannya hampa.

“Bagaimana, jadi kau pinjam uang?” sang Pakde mengusik.

“Ya ya jadi, Pakde, jadi,” suara Maman gagap. “Tapi jangan banyak-banyak. Satu juta saja.”

“Apa nggak kurang?”

“Cukuplah, Pakde. Kalau banyak-banyak, takut nggak sanggup membayarnya.”

Dan dengan uang pinjaman dari Pakde-nya itu, terselamatkanlah biaya sekolah anak-anaknya. Maka untuk sementara waktu Maman kembali dapat menghela napas lega. Tetapi dua bulan kemudian, Maman harus mulai mencicil utang pada Pakde-nya, seperti yang telah ia janjikan. Karena utang yang harus dicicil sudah terlalu besar, ia kewalahan juga. Tetapi untung, ia segera menemukan jalan, dengan memending cicilannya pada BTN.

Namun, tiga bulan berturut-turut tidak membayar cicilan rumah BTN, Maman dapat surat peringatan. Walau dalam hati risau, Maman mencoba untuk tenang. Dan delapan bulan berturut-turut tidak membayar cicilan rumah BTN-nya, tempat tinggal Maman pun DISEGEL!

Kali ini Maman benar-benar panik, sebab utangnya pada koperasi sekolah, pada Iwan Tobang dan Pakde-nya juga belum lunas. Maka tanpa pikir panjang dan tanpa berkompromi pada istri dan anak-anaknya, Maman mengoper kredit rumah BTN-nya pada orang lain. Karena dioper dengan tergesa-gesa disamping rumah itu sedang bermasalah, terpaksa Maman menawarkannya dengan harga murah. Dan karena murah, Iwan Tobang si rentenir itu, dengan cepat menyambarnya.

Dengan uang hasil mengoper kredit rumah BTN-nya itu, Maman dapat menutup semua utang-utangnya. Tetapi dengan sangat terpaksa dan berat hati, ia bersama istri dan ketiga anaknya harus kembali menempati rumah kontrakan. Dan, ironisnya, sisa uang hasil mengoper kredit rumah BTN yang ada di tangan Maman hanya cukup buat mengontrak rumah satu bulan, dibekas rumah petak kontrakannya yang dulu, di daerah kumuh di bilangan Jakarta Utara itu!

* * *

Iklan