Celana Dalam

Cerpen: Labibah Zain (Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 09/17/2006)

Ini yang keempat kalinya aku kecurian. Yang dicuri bukan ATM, kartu kredit, jam tangan atau uang, tetapi celana dalam! Pun bukan celana dalam mahal seperti yang ada di iklan majalah-majalah wanita tetapi celana dalam murahan yang aku beli di penjual kaki lima. Aku heran, apa maunya orang itu dengan mencuri celana dalamku.

“Paling juga jatuh ketika dijemur!” Kata suamiku ketika aku mengadu tentang raibnya celana dalamku untuk yang ketiga kalinya.

“Kalau jatuh kan mestinya Marti akan mengambilkannya. Mosok dia tega membiarkan celana dalamku berceceran di kebun belakang,” sahutku.

“Aku takut celana dalamku dicuri setan. Konon kabarnya, setan laki-laki suka celana dalam perempuan,” kataku lagi.

“Haha, tahayul! siapa tahu ada tetangga kita yang iseng karena sudah lama kita tinggal di kampung ini tetapi kita masih malas-malasan untuk kumpul-kumpul dengan mereka. Bahkan si Mart nampak lebih gaul dengan mereka dibandingkan kita.”

Suamiku selalu memanggil Marti, pembantuku dengan sebutan Mart. Katanya biar namanya lebih keren didengar.

“Boleh jadi begitu, ya?” Aku akhirnya menyetujui pendapat suamiku sekaligus untuk menenangkan diri sendiri. Tetapi mengapa yang dicuri celana dalamku, bukan celana dalam Marti? Aku masih menyisakan pertanyaan itu di benak.

Aku mungkin akan lupa persoalan celana dalam itu kalau saja hari ini aku tak kehilangan celana dalam untuk keempat kalinya. Dan aku mungkin tak akan memikirkannya dengan serius bila saja malam harinya seorang kawan suamiku tak datang bertandang dan bercerita macam-macam tentang jin.

Marijo, kawan suamiku itu, seorang tokoh masyarakat di kampungnya dan juga seorang penyair. Ketika seorang tokoh masyarakat berbicara tentang setan dan jin, tentu aku menjadi percaya. Tetapi kalau dia bicara sebagai seorang penyair, tentu aku masih mikir-mikir karena boleh jadi dia sedang bermain-main dengan imajinasinya.

“Jin itu ada. Mereka punya kehidupan seperti manusia juga,” katanya menjelaskan.

Aku dan suamiku terdiam.

“Sekarang, coba saja untuk menjemur celana dalam Tirta. Kalau masih hilang juga berarti ada jin yang suka dengan Tirta atau….” Marijo terdiam.

“Atau apa?” tanyaku tak sabar.

“Atau ada yang akan mengguna-gunai Tirta,” katanya lagi. Pelan tetapi mem- buatku tersentak.

Malam itu juga, Marti kusuruh mencuci tiga celana dalam sekaligus; celana dalamku, dan dua celana dalam Marti. Aku sendiri yang menjemur celana-celana dalam itu di kebun belakang tepat jam 8 malam. Kubolak-balik susunannya. Kedua celana dalam Marti aku letakkan di pinggir kanan-kiri tali jemuran, mengapit celana dalamku.

Jam empat pagi, aku bangunkan suamiku. Kugamit tangan suamiku menuju kebun belakang. Mataku terbelalak! Celana dalamku lenyap! Hanya celana dalamku saja yang lenyap. Dengan cahaya lampu senter kami mencari-cari celana dalam itu di tanah sekitar jemuran. Siapa tahu celana dalamku jatuh di atas tanah dan kabur terbawa angin. Tetapi tak kutemukan. Kugedor-gedor pintu kamar Marti untuk menanyakan apakah dia yang menyingkirkan celana dalamku. Marti mengatakan tak melakukannya, tentu dengan wajah pucat pasi.

Sejak malam itu aku diliputi dua ketakutan; rumahku berhantu atau ada orang yang akan meneluhku. Saking takutnya aku tak berani tidur di kamar sendirian. Ketakutan ini ada hikmahnya juga bagiku. Suamiku jadi tidak sering-sering lagi berkunjung ke rumah Mela, istri pertamanya. Sebenarnya semenjak menikah dengan suamiku, aku sering merasa keberatan kalau dia sering-sering ke rumah Mela.

Aku cemburu. Itu saja alasanku. Aku ingin memiliki Damar seutuhnya sehingga aku memperbolehkan suamiku untuk mengunjungi Mela dan Santi, anak semata wayangnya hanya pada malam Rabu saja. Sisanya dia harus menghabiskan waktunya bersamaku. Suamiku sebenarnya sudah protes agar dia diperbolehkan untuk tinggal lebih lama menemani Santi tetapi protesnya selalu saja membuatku menangis. Kalau sudah begitu suamiku akan luluh. Apalagi pada saat aku ketakutan seperti ini, dia semakin tak tega meninggalkan aku tidur sendirian.

Herannya semakin sering aku melarang suamiku untuk mengunjungi Mela, semakin sering pula aku kehilangan celana dalamku. Aku jadi berpikiran buruk. Jangan-jangan Mela mau meneluhku aku dengan mencuri celana- celana dalam itu.

Aku memang merebut Damar dari Mela dengan cara yang agak kurang ajar. Mela adalah sahabatku. Ketika dia menikah dengan Damar, otomatis Damar menjadi sahabatku juga. Damar suka mencurahkan perasaannya alias curhat bila sedang bertengkar dengan Mela. Sebaliknya, aku juga sering curhat kepada Damar ketika aku berselisih dengan Bram, kekasih. Lama kelamaan bibit cinta aku dan Damar bersemi. Damar pun mengajakku menikah.

Semula aku ragu-ragu tetapi Damar berkali-kali meyakinkanku bahwa dia tak bahagia hidup bersama Mela. Kata Damar, Mela sudah tak perawan di malam pertama perkawinan mereka. Hanya saja perceraian tak mungkin dilakukan karena sebulan kemudian Mela telah mengandung Santi. Damar sangat mencintai Santi sehingga seberapapun kerasnya Mela meminta cerai, Damar tak pernah meluluskannya. Damar takut Santi akan diperlakukan jelek oleh ayah tirinya bila Mela menikah lagi. Aku sempat mengira kalau Damar masih mencintai Mela tetapi Damar bersumpah berkali-kali bahwa dia mempertahankan perkawinannya dengan Mela hanya karena Santi.

Dan akhirnya, aku menerima Damar apa adanya. Kami pun menikah.

Aku masih sibuk dengan pikiran tentang guna-guna itu ketika pintu rumahku diketuk. Marijo datang tergopoh-gopoh mengabarkan Mela tengah sekarat di rumah sakit karena usaha bunuh diri. Damar seketika pergi meninggalkan rumah tanpa sempat pamit padaku. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Sudah seharusnya aku meminta maaf bukannya malah melarang Damar untuk mengunjunginya.

Terbayang wajah Mela yang lembut. Kemudian wajah Santi, anaknya. Aku terisak. Kalau sampai Mela bunuh diri, maka akulah pembunuhnya, pikirku. Aku masih sibuk mengutuki diriku sendiri ketika pintu rumahku kembali diketuk.

Perempuan berambut panjang melongokkan kepala. Dia tersenyum tapi sepertinya senyumnya amat dipaksakan.

“Silahkan masuk!” kataku ramah. “Siapa ya?”

“Aku Karyani, teman Mela!” jawabnya sambil duduk di kursi ruang tengah.

“Kok aku tak pernah melihatmu, ya. padahal aku dan Mela sudah bersahabat sejak kuliah dulu. Katanya Mela masuk rumah sakit, ya?” tanyaku bertubi-tubi.

“Tentu kau tak pernah melihatku. Aku dan Mela bersahabat setelah engkau menikah.”

“Oh…,” kataku maklum.

“Iya, aku baru dari rumah sakit. Dia kritis,” dia melanjutkan kata-katanya.

Aku menarik nafas panjang. Air mataku kembali meleleh.

“Aku memang perempuan yang tak tahu arti sebuah persahabatan,” kataku lirih.

Karyani menatapku tajam-tajam se- olah-olah hendak mencari kesungguhan di mataku.

“Sudahlah, Mela bilang, aku harus memastikan kalau kau mau merawat anaknya…”

“Tentu aku bersedia. Anaknya adalah anak Damar yang berarti juga anakku.”

“Syukurlah. Kuharap kau bersungguh-sungguh,” ada kelegaan dalam tarikan nafasnya.

“Demi Tuhan aku akan menjaga mereka sebagaimana anakku sendiri,”

Karyani tersenyum. Dia berdiri dari tempat duduknya.

“Aku harus kembali ke rumah sakit.”

“Aku akan ikut bersamamu.”

“Tidak usah. Lebih baik kau ke sana besok pagi saja. Malam ini sudah banyak orang di rumah sakit,” dia berkata sambil mencari-cari sesuatu di tas merahnya.

“Aku punya sesuatu untukmu. Mungkin bisa sedikit menenangkanmu.”

“Apa ini?” Aku tak paham.

“Terima saja , ya?”

“Baiklah, terima kasih, ya, “kataku mencoba tersenyum.

Sebuah kotak berbungkus koran diletakkannya di meja. Dia pun segera beranjak meninggalkan rumahku. Aku antarkan dia sampai beranda rumahku dan aku baru masuk ke rumah setelah tubuh Karyani hilang di mulut gang.

Kuraih kotak pemberian Karyani. Kusobek bungkusnya. Celana-celana dalamku yang hilang ada di dalamnya! Kukejar Karyani sampai ke ujung gang. Tetapi tubuhnya sudah tak tampak.

Aku penasaran. Darimana dia mendapatkan celana-celana dalamku Kupanggil Marti yang sedang nonton TV di ruang tengah. Kuceritakan kalau celana-celana sudah dikembalikan oleh seorang bernama Karyani. Tiba-tiba muka Marti pucat. Dengan terbata-bata dia berkata bahwa Karyani adalah nama anak Pak Sukijan yang mati bunuh diri karena suaminya kawin lagi.

Aku tak puas. Kuketuk pintu rumah Pak Sukijan untuk memastikan kebenaran cerita Marti. Pak Sukijan membuka pintu. Belum sempat aku berkata apa- apa, aku telah melihat foto seorang perempuan di dinding rumah itu. Wajah itu adalah wajah perempuan yang baru saja datang ke rumahku!

Tepat jam empat subuh, Damar menelepon, mengabarkan bahwa Mela sudah meninggal! Sejak itu kurawat Santi dengan penuh kasih sayang. Dan sejak itu pula aku tak pernah kehilangan celana dalam. Pengembalian celana dalamku yang hilang aku pahami sebagai tanda perdamaian antara aku dan Karyani, perempuan yang mencuri celana-celana dalamku sebagai protes atas kelakuanku yang mencuri suami, barang paling pribadi milik sahabatku sendiri.

Montreal, 2006

Iklan