Uang Sekolah

Cerpen: Krishna Mihardja

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Edisi 09/03/2006

”BU, koran yang itu jangan dikembalikan lho!” teriak Paimo kepada istrinya.

”Lho, ini kan harus segera aku kembalikan ke rumah Pak Harjo, untuk kemudian meminjam lagi yang hari kemarin,” jawab istrinya. Sebagai lulusan perguruan tinggi, Paimo belum bisa lepas dari yang disebut koran. Hanya saja karena tak mampu membeli koran, apalagi berlangganan, Paimo hanya nebeng membaca koran milik keluarga Pak Harjo.

Sebenarnya Paimo bisa saja membaca koran di rumah Pak Harjo setiap sorenya. Tapi bisa saja kedatangan Paimo akan membuat rasa sebal pemilik rumah jika dilakukannya tiap hari, setidaknya akan membebani si empunya rumah.

Kiat Paimo untuk tetap membaca koran tanpa harus membebani keluarga Pak Harjo adalah meminjam koran yang terbit kemarin lusa. Paimo akan meminjam koran terbitan hari Sabtu saat hari Senin sore. Kemudian dia akan mengembalikannya di hari Selasa, untuk sekaligus meminjam koran hari Minggu. Dan seterusnya.

”Wah, jika tidak mengembalikan… aku malu untuk meminjamnya lagi,” ucap istrinya tak jadi berangkat meminjam koran.

”Yaa… sudah. Nanti aku sowan sendiri ke rumah Pak Harjo, sekaligus untuk meminta beberapa koran yang lain,” ucap Paimo langsung ke kamar mandi.

Seperti biasa, saat Paimo datang dari tempat kerjanya menjadi bengkel, istrinya segera mengembalikan koran sekaligus meminjam lagi. Karena makanan sore sehabis kerja bagi Paimo adalah koran.

”Memangnya ada berita apa, kok nampaknya sangat penting?” tanya istrinya saat Paimo selesai mandi dan mulai menikmati tehnya.

”Berita sekolah! Nah, itu yang sedang hangat akhir-akhir ini,” Paimo yang sore itu tak juga membaca koran berceloteh sekenanya.

”Oo, tentang uang sekolah. Tentang demo uang sekolah, tentang somasi terhadap sekolah. Itu?!”

”Mm, yaa..”

”Karena kau merasa terwakili oleh para pendemo atau para ‘wakil wali murid’ yang keberatan tentang uang sekolah. Begitu yaaa?!” istrinya menebak apa yang ada di pikiran suaminya.

Istrinya mengetahui dengan pasti, bahwa suaminya sejak awal tahun pelajaran dipusingkan oleh uang sekolah anaknya. Awalnya, istri Paimo memang menginginkan anaknya memasuki sekolah yang berada di pinggiran kota saja. Tapi Paimo menolaknya mentah-mentah.

”Bu, sebenarnya… kau suka tidak sih jika anaknya itu pandai. Mosok, nilai anak kita duapuluh sembilan… akan kausuruh masuk ke sekolah pinggiran?” Paimo marah-marah waktu itu.

”Pak, tapi kita harus mawas diri, mosok anaknya si Paimo, bengkel yang belum banyak langganan, akan memasuki sekolah di kota yang ternama”.

”Bu, bukan masalah Paimo atau Paidin. Tapi masalah nilai duapuluh sembilan. Ngerti? Tak mudah mendapatkan nilai sebesar itu, itu luar biasa. Dan kau? Malah akan menjerumuskan anak kita ke sekolah yang biasa?”

”Maksudmu anak kita harus sekolah di tempat yang…”

”Yaa, yang setingkat dengan nilainya”.

”Meski akhirnya dengan membayar mahal? Bukankah semua sekolah adalah sama”.

”Orang bisa saja mengatakan: semua sekolah adalah sama. Tapi, mana ada sekolah yang membayarnya murah dengan sarana pendidikannya lebih baik daripada sekolah yang membayarnya besar. Sekolah memang bukan bisnis yang sesuatunya dihitung dengan untung dan rugi, tapi… adakah sekolah yang sarananya bagus dan lengkap dengan membayar murah?” Paimo berapi-api.

Akhirnya anaknya mendaftar di sekolah yang ternama di kota. Dengan nilai duapuluh sembilan, Paimo memang bisa memilih sekolah di manapun di kota. Tentu saja Paimo memilihkan sekolah untuk anaknya adalah sekolah yang bagi Paimo merupakan sekolah paling bisa dipercaya. Hanya satu yang ada di otak Paimo: sekolah yang baik! Tak peduli istrinya ketakutan akan biaya sekolahnya nanti.

Benar juga! Hari pertama setelah pengumuman penerimaan siswa baru, Paimo sudah diberi daftar isian untuk kesanggupan biaya pendidikan. Dengan tenang Paimo memilih alternatif sumbangan pendidikan paling rendah, meski tak rendah untuk Paimo.

”Bengkelnya ramai, Pak?” ucap anggota Komite Sekolah yang saat itu memandu pengisian formulir kesanggupan pembayaran.

Mungkin anggota Komite Sekolah itu memandang remeh seorang Paimo yang kerjanya hanya bengkel, tanpa banyak cing-cong melingkari alternatif biaya pendidikan yang disodorkan

”Mm, satu dua motor saja, setiap harinya, Pak,” Paimo menjawab dengan tegar, ”Yaa, buat orang seperti saya, mungkin terlalu besar biaya ini, pak. Tapi, demi pendidikan untuk anak nampaknya memang tak ada pilihan”.

”Bagus, Pak. Terima kasih”.

”Tak ada barang murah itu berkualitas lebih baik daripada barang yang mahal. Yaa, seperti onderdil sepeda motor. Ada original, ada kawe satu, atau kualitas dua, atau ada bahkan yang benar-benar palsu”.

Paimo memang tegar meski sekembalinya dari membayar biaya awal pendidikan, istrinya menyambut dengan muka masam.

”Uang sekian itu, sebenarnya sudah bisa sekalian untuk uang biaya pendidikan dan uang lainnya, jika kemarin masuk ke SMA pinggiran,” ucap istrinya dengan nada menyesal.

”Bu, apa kau ingin anak kita belajar dengan satu komputer dikerubut lima orang, itupun tak conect dengan internet. Apa kau ingin anak kita hanya ikut ekstrakurikuler pramuka, karena itu memang satu-satunya”.

”Tapi Pak, bukankah besuk bayarnya sangat besar?!”

”Itu bisa diangsur!”

Paimo sangat tegar saat membayar uang seragam dan uang awal, karena sebelumnya dia memang telah menabung. Paimo tegar saat membayar uang SPP. Paimo tegar meski harus pontang-panting saat membayar cicilan uang Sumbangan Komite.

Kini, saat Paimo pontang-panting lagi, koran-koran memuat berita tentang kasak-kusuknya uang sekolah. Bahkan somasi dihamburkan, ketidakpercayaan diangkat-tinggikan.

”Kau ikut senang ada sekolah disomasi, biar besuk kita tak membayar iuran sekolah yang tinggi yaa?” ucap istrinya, Paimo masih saja menikmati rokoknya.

”Senang? Justru aku berpikir sebaliknya. Kalau saja mereka tak kuat membayar, yaa… sekolah saja di sekolah pinggiran. Jangan mendaftarkan di sekolah yang sudah jelas bagus, tapi begitu anaknya diterima terus langsung minta pembebasan iuran sekolah. Memangnya sekolah itu miliknya mbahne. Memangnya sekolah itu nggak perlu uang untuk kegiatan sekolah. Mikir dong. Mikir. Jangan asal bisa nulis di koran. Mikir! Apa dikira sekolah itu narik sekolah untuk membayar para gurunya? Tidak! Pembayaran sekolah itu untuk kegiatan anak kita. Kalau ingin yang murah, yaa… sekolah saja di tempat yang tidak ada kegiatannya. Begitu kan? Mikir!” seperti biasa, jika Paimo merasa kesal, semua yang ada di dekatnya kena semprot.

”Lalu kenapa kau ingin menyimpan koran itu?”

”Aku akan meminta koran yang memuat berita tentang Unas hingga kasak-kusuk uang sekolah”.

”Banyak orang memperdebatkan Unas. Tapi jika mereka jadi korban nilai sekolah seperti aku, tentu mereka akan berpikir lagi”, ucap Paimo penuh perasaan.

Paimo adalah lulusan perguruan tinggi dengan indeks prestasi dua seperempat. IP yang cukup tinggi, karena hanya ada satu orang yang lulus dengan IP lebih dari dua setengah. Saat akan mendaftarkan pegawai negeri, salah satu syaratnya adalah IP harus lebih tinggi dari dua setengah. Paimo benar-benar masygul, karena perguruan tinggi swasta waktu itu mengobral nilai secara gila-gilaan. Apa lacur, teman-teman Paimo yang lulusan perguruan tinggi swasta berlenggang mendaftarkan menjadi pegawai.

”Aku adalah korban nilai ujian yang tak merata. Tahu?! Kau kira aku lebih goblog dari Bambang Pelo yang sekarang dinas di Pemda? No… no… no… itu akibat dari nilai ujian yang tak merata. Itulah sebabnya aku kepingin menyimpan koran-koran itu”.

Istrinya diam saja.

”Mmm, selain itu juga untuk kenang-kenangan kau telah membayar sangat mahal untuk anak kita?”

”Pertama, untuk catatan bahwa di negeri ini lebih banyak orang bisa berbicara tapi tak pernah memiliki cermin di rumahnya. Sehingga mereka tak pernah bercermin. Kedua, sebagai catatan bahwa di negeri ini orang lebih bisa menuntut tanpa pernah melihat realita yang sebenarnya. Mereka ingin pendidikan di negeri ini tidak tertinggal sementara mereka juga ingin sekolah gratis. Memangnya kita hidup di negara Jerman atau Perancis?”

”Yang jelas, jika memang tak mempercayai sekolah… yaa jangan sekali-kali memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Ngerti?” Paimo meradang, seperti biasanya jika sedang kesal.

”Semaumu lah.” Istrinya tak ingin melanjutkan perdebatan. ”Lalu apakah kau sudah punya uang cicilan untuk dibayarkan bulan ini?”

”He… he…” Paimo malah tertawa. ”Aku baru akan meminjam di tempat Pak Kemin”.

Pak Kemin adalah juragan bos. Dahulu selepas kuliah, dan tak mendapatkan pekerjaan, Paimo sempat menjadi kernet bus. Baru setelah dirasanya memiliki keberanian, Kemin keluar dari perusahaan angkutan itu untuk membuka bengkel sepeda motor kecil-kecilan.

”Ingat, tempat Pak Kemin juga terkena gempa”.

”Meskipun dilanda gempa, juragan bus yaa… tetap kaya raya”.

Pagi harinya, Paimo bertandang ke rumah Pak Kemin untuk meminjam uang guna membayar cicilan uang sekolah. Bagian belakang rumah Pak Kemin nampak hancur oleh gempa.

”Hei… apa kabar, Mo?” sapa Pak Kemin ramah. ”Anakmu yang seumur anakku juga sudah SMA kan?”

”Mm, hiya Bos. Yaa… karena itu saya pagi-pagi ke sini”.

”Maksudnya?”

”Mm, terus terang saja. Langsung saja. Saya akan meminjam uang guna membayar iuran untuk sekolah anak saya”.

”He… he… Kau kok masih gebleg seprti dulu.” Kemin malah tertawa, ”Lha… anakku saja tak membayar uang sekolah kok”.

Pak Kemin lalu bercerita bahwa dia mengajukan keringanan uang sekolah karena rumah dan keluarganya dilanda gempa. Untuk itu Pak Kemin hanya membayar duapuluh lima persen dari ketentuan yang ada.

”Gila!” desis Paimo, saat menerima pinjaman uang dari Pak Kemin.

Berapa orang di kota ini yang culas seperti Pak Kemin ini? Lalu, berapa orang ‘Kemin’ yang berteriak-teriak ikut demo?

Sepulang dari rumah Pak Kemin, Paimo mungkin akan mempertimbangkan bahwa keculasan memang diperlukan di zaman yang sedang dilanda culas ini.

”Tidak! Aku tidak akan bermodalkan keculasan saat menyekolahkan anakku. Dengan modal halal saja, belum pasti semuanya menjadi tidak haram. Lebih baik aku membayar uang sekolah dengan keringatku daripada harus membayar dengan kebohonganku,” pikir Paimo tegar, meski bayangan suara tawa Pak Kemin masih terngiang di kepalanya.

***

Yogyakarta, 2006