Malam Minggu

Cerpen K. Usman

Ketika senja secara perlahan menghitam karena digantikan kelam malam, jantungku berdebar kencang. Perasaanku mendadak tidak enak. Tidak nyaman seperti malam-malam sebelumnya. Ketika mendekati komputer untuk menyelesaikan pekerjaan, tanganku gemetar. Ada rasa was-was saat teringat pada istri dan keempat anakku. Mereka sudah enam hari meninggalkan aku, mengunjungi ibuku di kota tambang minyak, Prabumulih, tempatku dibesarkan. Aku terpaksa tinggal di Jakarta karena tidak dapat meninggalkan tugas.

”Jadi, liburan kali ini, Ayah menunggu rumah,” kata Mimin, istriku sehari sebelum mereka menuju Prabumulih.

”Ayah tidak akan merasa kesepian?” lanjut Mimin sambil menggelayutkan tangan-tangan cekatannya di leherku.

”Pasti kesepian,” kataku.

“Tapi, bagaimana lagi? Tugas sebagai juri lomba mengarang itu tidak mungkin kuwakilkan kepada orang lain. Tak apalah, cuma seminggu kalian meninggalkanku,” kataku mengikhlaskan.

Pukul 20.50, malam Minggu itu, puncak ketidaknyamananku benar-benar tiba. Sebuah taksi biru parkir di halaman depan rumahku. Seorang perempuan cantik berpakaian seksi turun. Sopir menolongnya menurunkan sebuah tas besar. Begitu melihat aku, perempuan itu mengucapkan halo padaku sambil tersenyum. Setelah membayar sewa taksi, perempuan itu melambai ke arahku. Dia tampak begitu gembira. Neon 40 watt yang menerangi teras rumah pasti tidak dusta tentang keceriaan Sabrina, demikian nama tamuku di malam Minggu itu.

”Maafkan aku, Karel. Terpaksa aku mengganggu hari-hari tenangmu,” Sabrina berbasa- basi.

”Tak apa-apa kan aku menginap di rumahmu malam ini?” lanjutnya setelah tas besarnya kubawa ke kamar kosong, tempat tamu menginap.

”Tak apa-apa,sih,” kataku serba salah. Adalah tidak etis bila aku menolak kakak sepupu Mimin menginap di rumah kami. Lagi pula, Sabrina mengatakan, dia merasa tidak aman bila menginap di hotel sendirian. Aku pun mengetahui, Sabrina sudah cukup lama menjanda sejak bercerai dengan Akang Dody, suami ketiganya. Sabrina sudah tiga kali menikah dan tiga kali bercerai. Dari tiga kali menikah, kakak sepupa Mimin itu tidak memperoleh keturunan. Gosip yang disebarkan tentang Sabrina adalah: dia memiliki kelainan seksual. Istriku terpengaruh oleh cerita miring itu. Lalu, Mimin wanti-wanti memperingatkan aku, agar super hati-hati bertemu atau kedatangan Sabrina. Katanya, si cantik bertubuh indah itu bagai magnit. Terutama tatapan matanya dapat menaklukkan lawan jenisnya.

Setelah meninggalkan kamar untuk tamu, aku kembali ke ruang kerjaku di sebelah kamarku dan Mimin. Kulihat tumpukan naskah novel karya para peserta sayembara mengarang yang harus dinilai satu-satu secara cermat dan adil. Tapi, ingatanku pada cerita Mimin tentang Sabrina mengiang.

”Sejak kelas lima SD, Kak Sabrina sudah pacaran,” Mimin mengawali kisah mengenai kakak sepupunya itu pada suatu malam di ranjang kami. Waktu itu, baru seminggu kami menikah. Yakni, lima hari setelah kami kembali berbulan madu dari Bali.

”Selama kelas lima SD itu tiga kali Sabrina ganti pacar,” sambung Mimin.

”Di masa SMP, dia akrab dengan enam cowok. Waktu di SMA kakak sepepupuku itu dikabarkan hamil dan menggugurkan kandungan secara gelap di suatu klinik, milik seorang dokter. Terdengar kabar, klinik dokter yang diam-diam menggugurkan kandungan itu digerebek polisi dan disegel. Cerita terakhir ini dari mantan-mantan pacar Kak Sabrina, yang-dikecewakan kakak sepupuku itu,” lanjut Mimin.

Cerita-cerita minor mengenai Kak Sabrina itu bagai film dalam benakku di malam Minggu yang sunyi ini. Cerita nyata tentang Kak Sabrina yang kuketahui adalah: dia telah menikah tiga kali. Suami pertamanya, Mas Azir, seorang insinyur pertambangan, yang kaya, keturunan bangsawan asal Surakarta. Lelaki tampan, bertubuh atletis, yang suka melukis itu diceraikan Kak Sabrina. Padahal, baru setahun pesta pernikahan mereka di sebuah hotel berbintang lima. Alasan Kak Sabrina pada keluarga dekat, Mas Azir itu tidak peduli kebutuhan istri. Dia asyik dengan pekerjaan dan melukis. Tapi, waktu Mas Azir curhat padaku, katanya Kak Sabrina sangat dominan. Dia ingin menguasai suami. Tidak disebut oleh Mas Azir bahwa Kak Sabrina itu hyper dalam seks.

Mengenai suami keduanya. Mas Anto, sarjana ekonomi, manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti, Kak Sabrina bilang, lelaki kelahiran Surabaya itu hanya gagah fisiknya dalam pandangan mata. Tapi, kejantanannya payah lembek. Usia pernikahan mereka hanya sembilan bulan sepuluh hari. Dari Mas Anto kudapat cerita bahwa Kak Sabrina ingin menguasai suami. Kak Sabrina pencemburu berat. Teman kantor Mas Anto yang perempuan, khususnya yang di kantor, sering dilabrak Kak Sabrina.

Lain lagi cerita Kak Sabrina mengenai Akang Dody, lelaki muda kelahiran Serang, Banten.

”Akangmu itu seperti perempuan Solo,” cerita Kak Sabrina padaku sebulan setelah mèreka menikah. ”Fisiknya pun loyo, walaupun otaknya cerdas. Dia memang pakar hukum yang disegani, pengacara kondang, tapi sayang, dia tidak mampu memenuhi kebutuhan psikis kakakmu ini,” cerita Kak Sabrina. lebih lanjut. Lalu, apa komentar Akang Dody tentang istrinya itu padaku?

”Aduh, Karel, Kakakmu itu tidak mengenal puas. Capek Akang melayaninya. Eh, diam-diam dia tidur dengan Gumilang, sahabat akrab Akang waktu mahasiswa. Mati, ah, Akang,” keluh Akang Dody,

Ketukan di pintu kamarku mengejutkan aku. Debar jantungku menjadi lebih kencang. Kutatap wajahku di cermin, tak jauh dari tumpukan naskah novel yang harus aku nilai. Wajahku pucat. Tiba-tiba tubuhku menggigil. Banyak pertanyaan bermunculan, bagai jamur musim penghujan di ladang-ladang atau kebun di dusun pedalaman. Keringat mulai membintik-bintik di leher, dada, dan didahului di pelipisku. Mau apa Kak Sabrina, bisik hatiku.

”Dik Karel, buka pintunya, dong! ” Suara itu merdu tapi bernada perintah.

”Tunggu sebentar, Kak Sabrina, aku lagi di kamar mandi,” aku berbohong. Saat itu, aku sedang memikirkan strategi untuk menghadapi Kak Sabrina bila dia ingin menggoda suami adik sepupunya ini. Jujur kuakui, aku ini bukanlah seorang moralis. Aku bukan lelaki suci. Sebelum jadi suami Mimin, waktu mahasiswa aku telah tidur dengan Ana, perempuan panggilan di Jakarta. Lepas dari Ana yang jalang, dan memang hypersex, yang suka anak-anak muda, aku digilai Emma, perempuan indo paruh baya, juga pemburu anak-anak muda. Dari Ana dan Emma aku dibayar. Tapi, itu dulu, kala aku masih mahasiswa, saat jadi petualang. Lalu, aku bercinta dengan Tanti, juniorku di fakultas sastra. Gadis lugu dan mengaku masih perawan itu selama setahun luluh lantak dalam peluk ciumku. Syukur, dia tidak sampai menyerahkan keperawanannya. Aku pun selalu ingin menjaga kesucian anak tidak berayah sejak kecil itu. Aku juga berkencan dengan Easy, janda beranak satu asal Bandung. Setahun kami hidup bersama. Setahun pula, janda kaya, istri simpanan pejabat tinggi dari Jakarta itu ‘memelihara’ aku dan membiayai seluruh kebutuhanku, termasuk membayari seluruh kuliahku sampai aku menggondol strata satu sastra. Tragis nasib Easy. Lepas dari aku karena tobat, menjelang bertunangan dengan Mimin, dia diperkosa dan dirampok tiga lelaki kriminal di sebuah rumah mewah milik Easy, warisan dari suaminya almarhum. Easy mati dalam keadaan bugil di rumah mewah di tepi kota Jakarta itu.

Sungguh, demi Tuhan, setelah petualangan Ana, Emma, dan belasan perempuan lain, serta terakhir dengan Easy, aku bertobat. Aku menyadari kekeliruanku di masa muda, suatu kehidupan liar, buas, dan paratisme. Setelah bertunangan dengan Mimin, aku bersumpah di dalam hati sampai meneteskan air mata, tidak akan mengotori hidupku lagi dengan kebejatan apa pun. Aku inginkan hidup bersih, lahir-batin bersama istri dan anak-anakku. Sampah-sampah masa muda dulu telah kubakar. Abunya saja tak mau lagi kucium.

”Dik Karel, kok lama amat, sih!” Desakan Kak Sabrina menyadarkan aku dari lamunan tentang petualangan cintaku di masa muda.

”Cepatlah, Dik Karel!” Suara Kak Sabrina seperti tak sabar menunggu, walau beberapa menit. Aku berdoa sambil memejamkan mata, memohon pada Tuhan agar aku kuat menghadapi godaan kakak sepupu Mimin. Dia memang cantik. Dia memang seksi. Dia memang memiliki magnit dengan daya tarik tinggi. Mata indahnya seakan memiliki lem perekat amat kuat dan pekat. Banyak cerita tentang lelaki-lelaki yang telah tunduk dan memeluk kakinya. Tapi apakah aku, adik iparnya dapat bertahan?

Ketika pintu kubuka perlahan, tampak wajah cantik dan mata indah, dan tubuh seksi di hadapanku. Kak Sabrina mengenakan gaun tidur sutra warna merah jambu. Aku tahu, pada bagian atas, dia tidak mengenakan penutup dada. Sehingga dadanya yang menggunung itu tampak menantang. Senyumnya merekah, menggoda seorang lelaki muda berusia 35 tahun. Kak Sabrina sendiri baru saja mensyukuri hari ulang tahun ke-39, sebuah usia, bagi perempuan sedang matang-matangnya. Lagi pula, dia kaya dengan pengalaman. Profesinya sebagai pebisnis berlian dan barang-barang antik, belakangan ini, memperluas pergaulannya dengan kalangan turis mancanegara. Lengkaplah perbendaharaan pengalaman hidupnya. Aku mengaku kalah. Tetapi, tidak berarti, aku harus tunduk pada kemauannya.

”Tidak keluar malam Minggu begini, Dik Karel?” tanya Kak Sabrina setelah berdiri di belakangku, membelai-belai rambutnya yang tergerai.

”Banyak kerjaan, Kak,” kataku. Lalu, kutunjukkan puluhan naskah novel yang terjilid rapih di meja tulisku.

”Naskah-naskah itu harus sudah kunilai hari Selasa, Kak. Siang itu, bersama empat juri lain, pemenang harus sudah ditentukan. Selasa itu juga, nama-nama pemenang akan diumumkan,” kataku.

”Karena pekerjaan mendesak inilah makanya aku tidak ikut bersama Mimin dan anak-anak menengok Ibu di Prabumulih,” lanjutku.

”Oh, jadi, Dik Karel sibuk sekali, ya?” sela Kak Sabrina seraya agak menjauh. Dia memandang foto besar aku dan Mimin di dinding sebelah timur. Dalam foto itu, Mimin dan aku berpakaian pengantin adat Palembang.

”Siapa yang memotret kalian?” tanyanya. Dia masih berdiri di ujung ranjang kami.

”Nas Syam,” jawabku.

”Bagus sekali,” pujinya.” Pastilah dia fotografer profesional. Komposisi, pencahayaan, dan karakter tokoh begitu serasi,” masih Kak Sabrina memuji rekanku, sang fotografer profesional itu. ”Latar belakang, pelaminan dan ranjang pengantin, hem, romantis sekali. Dik Karel ikut menata, ya?” tanyanya.

”Tidak, Kak. Pengatur gaya adalah Asniar Shahab, seorang wartawati, kolom di bidang interior, sahabatku waktu masih menjadi editor di majalah wanita dulu, ”celotehku dengan suara kutinggi.-tinggikan. Dalam hati, aku hendak mengatakan, begini-begini, aku pernah menjadi editor majalah wanita yang sempat bertiras 147 eksemplar setiap 13 hari. Aku boleh bangga, bukan? Itu sebuah prestasi kolektif. Dalam dunia pers di mana pun, kolektivitas dan integritas adalah maha penting. Gengsi dalam pers perlu. Tapi, karakter dan moral, sebagai pilar demokrasi, insan pers patut konsisten, ”tak tergoyahkan oleh godaan apapun. Itulah prinsip kami dulu di majalah wanita itu. Kupikir di media massa apa pun, prinsip itu wajib dijunjung tinggi secara jujur terus-menerus kalau mau berwibawa.

Pada saat Kak Sabrina memulai aksinya, memegang kedua pundakku, telepon berdering. Perempuan yang kesepian di belakangku itu, dan lelaki yang was-was di hadapannya terkejut.

”Silakan terima,” katanya sambil melirik jam dinding. Sudah puku 22.55 saat itu.

”Pacarmu barangkali,” sambung Kak Sabrina mulai cemburu. ”Dia tahu, istri dan anak-anakmu tidak di rumah. Dia pun tahu, dahulu Dik Karel adalah seorang gigolo, bukan?” ejek Kak Sabrina sambil melirikku.

”Eh, halo, Sayangku! Miminku! Kau dan anak-anak baik-baik saja? lbu bilang apa, hem?”.

Kak Sabrina menowel lenganku sambil menutup bibir dengan telunjuk tangan kanannya. Maksudnya, jangan bilang pada Mimin kalau Kak Sabrina ada di rumah kami. Dusta itu, kupikir harus kulawan dengan sejujurnya.

”Anu, Min. Malam ini, Kak Sabrina nginap di rumah kita. Dia takut di nginap di hotel. Di dalam kopor besarnya banyak berlian dan barang antik yang mahal!”

Mendengar kalimatku itu, Kak Sabrina segera pasang wajah cemberut. Buru-buru dia membuka pintu dan membantingnya cukup keras. Kudengar, pintu kamarnya dibantingnya waktu menutupkannya.

”Waktu ini Kak Sabrina di mana?” tanya Mimin gugup. Napasnya deras kudengar sangat jelas. ”Awas, lho Ayah! Kau bilang sudah bertobat, bukan? Ingat, sekarang di belakang ada empat pengawal yang kuat, anak-anak kita!” ancam Mimin sambil menahan tangis.

Kubilang pada Mimin, saat telepon berdering, Kak Sabrina ada di kamar kami. Begitu kubilang ada Kak Sabrina, perempuan itu buru-buru keluar sambil membanting pintu.

”Kalau Ayah mengulangi ketidakjujuran masa lalu itu, aku dan anak-anak akan lapor pada lbu,” kembali Mimin mengancam.

”Miminku Sayang, bukankah aku sudah bersumpah demi Tuhan, dulu, sebelum kita bertunangan?”

”Apa itu sumpah!” ketus suara Mimin. ”Sudah ratusan pejabat republik ini disumpah atas nama kitab suci dari Tuhan, tapi korupsi, kolusi, dan nepotisme terus merusak tatanan ekonomi, politik, dan moral bangsa yang malang ini,” kritis Mimin keluar amat gamblang. Maklum, Mimin adalah istri wartawan yang pandai pula mengarang, dan gemar membaca, pastilah dia kritis. Dasarnya memang cerdas.

”Sayang, ingat, jangan samakan aku yang sekarang dengan yang dulu, dong!” kataku.

”Ya, mata, telinga, dan hati nurani akan menilaimu, Ayah! Bilang pada Kak Sabrina, salamku dan anak-anak. Juga dari lbu.” Sempat-sempatnya Mimin kirim salam. Lewat telepon, kukecupkan bibir buat Miminku. Lalu, lengang.

Aku heran, kamar yang ditempati Kak Sabrina sepi. Mati pola lampu di dalamnya. Kubiarkan saja hal itu. Tapi, waktu salat subuh, kuketahui, kamar itu sudah kosong. Kutemukan secarik kertas memo bertuliskan permintaan maaf dari Kak Sabrina…

***

Iklan