Setelan Jas Itu Bersayap Kupu-kupu

CERPEN: JAYADI BOSANG SAU’

Pintu kamar terdengar dibuka. Seseorang masuk dan melangkah menuju ranjangku –kudengar dari suara sepatunya di lantai. Aku tahu ini pasti mama. Dari balik selimut aku kembali memejamkan mata. Hanya berpura-pura.
“My Litle Angel, ayo bangun. Bukankah kamu harus mengumpulkan tugas matematika pagi ini?”

Inilah bagian yang aku suka dari rutinitas pagiku. Aku masih berpura-pura tidur. Mama menarik selimut yang menutupi hingga ke ujung-ujung rambut blondeku, lalu jari tangannya yang halus mengusap-usap wajahku dengan lembut. Jarinya berhenti di ujung hidungku dan dengan telunjuknya mama menutup kedua lubangnya. Akupun berteriak karena tak bisa menahan nafas dan tertawa setelah itu. Mama memang selalu bisa menebak kepura-puraanku.

“Kena kamu! Haha… ayo Litle Angel, sekarang kita mandi. Bukankah Nona Brenda selalu menghukum dengan penggarisnya yang panjang kalau ada yang terlambat? Jangan sampai hari ini giliranmu.”

Nona Brenda. Aku sebenarnya tak terlalu suka dengannya. Dia adalah wali kelasku di kelas dua. Bukan karena ia selalu menghukum setiap anak yang terlambat dengan pukulan penggaris panjang di telapak tangan –karena bisa dipastikan aku tak pernah terlambat—ataupun karena ia selalu memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan di rumah. Aku tak suka pada Nona Brenda karena setelan blousenya yang kuno dan selalu berwarna hitam yang semakin menampakkan postur tubuh kurusnya, ditambah lagi dengan kacamatanya yang tebal. Sepele, tapi Nona Brenda mengingatkanku pada tokoh-tokoh antagonis dalam serial telenovela yang tak pernah dilewatkan oleh Nanny, pengasuhku.

“Litle Angel, kamu sudah siap?” suara mama memanggil dari bawah.
Aku segera turun dari kamarku di lantai atas diikuti Nanny yang menenteng sepatu dan tas sekolahku. Rupanya mama sudah menunggu di meja makan dengan segelas susu dan selembar roti panggang berlapis selei strawberi kesukaanku. Sambil mengunyah roti aku menyampaikan hal kecil yang sudah kurencanakan sejak di sekolah kemaren bersama Rachel. Bahwa aku akan menjemputnya untuk berangkat bersama.
“Ma, boleh kan’ aku menjemput Rachel nanti? Kami janji berangkat bersama.”
“Tentu, Litle Angel. Kita akan menjemput Rachel di rumahnya. Tapi, kamu sudah bilang padanya untuk menunggu?”

“Iya, sudah. Tapi, mmm… sebenarnya hanya aku, bukan dengan naik mobil mama. Kami nanti bersama Tuan Pedro ke sekolah.” Jawabku setengah gugup. “Aku juga mau bermain di rumahnya dari sekolah nanti, tidak lama hanya tiga jam.”
Mama meletakkan sendok dan garpu di tangannya, menatapku dengan perasaan agak heran karena ini yang pertama kali aku berangkat ke sekolah tanpa diantar mama –tentu saja jika diijinkan. Namun hanya sebentar, tak lama kemudian ia kembali melanjutkan menyantap sarapannya setelah meneguk orange juice dari gelas minumannya.
“Kamu yakin?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

Mama menyelesaikan sarapannya tanpa bertanya apa-apa, itu artinya ia mengijinkan. Ketika aku sudah selesai dan akan berangkat, ia masih mau mengantar aku sampai ke pintu gerbang. Tak lupa ia juga memberikan sebuah ciuman di keningku.
“Hati-hati, Litle Angel.”

“Baik, ma.”

Dengan langkah kecil aku berjalan menyusuri jalur trotoar ke arah utara, menuju rumah Rachel kira-kira satu blok dari kompleks rumah kami. Pagi ini matahari bersinar terang memancarkan embun-embun di daun-daun bunga menjadi perak berkilau. Aku suka cuaca seperti ini kecuali hari Senin karena hari itu selalu ada upacara bendera yang melelahkan dan juga sangat tak nyaman berdiri di bawah sengatan terik dan cucuran keringat.

Cuaca yang cerah serasi dengan kelopak-kelopak bunga di taman yang berbagi sedikit ruang dengan trotoar. Bunga-bunga mungil itu berdaun tipis dan panjang seperti daun rumput tapi agak lebar.

Jalan ramai sekali oleh lalu-lalang kendaraan. Orang-orang sangat sibuk rupanya kalau pagi seperti ini, aku berpikir kalau kebanyakan dari mereka itu pekerja kantoran. Bisa ditebak dari pakaian yang mereka pakai di belakang setir mobil, setelan kemeja putih, jas hitam dan celana hitam. Memang cuma tebakan saja, tapi bukankah sebagian besar orang-orang kantoran bekerja dengan setelan jas lengkap? Kecuali ayahnya George yang juga bekerja di kantoran tapi tak pernah aku lihat berangkat dengan setelan jas. Bahkan kemeja. Setiap pagi ketika mau berangkat ke sekolah aku lihat Tuan Newton pergi ke kantor dengan mengayuh sepeda berpenampilan seadanya. Padahal Tuan Newton dan mama kerja di kantor yang sama.

Suatu malam ketika mengantarku ke tempat tidur aku pernah menanyakannya pada mama.

“Apakah dia, direktur?”

“Siapa yang kau bicarakan Litle Angel?”

“Tuan Newton, aku lihat dia ke kantor tak pernah memakai setelan jas seperti teman pria mama yang lainnya?” sahutku pada mama. “Lalu kenapa hanya punya sepeda kalau dia direktur?”

“Oo, Tuan Newton. Tidak sayang, Tuan Newton bukan direktur dan tidak perlu mengenakan jas karena di kantor dia sudah punya pakaian yang bagus. Kalau kamu lihat kamu pasti suka, berwarna biru tanpa dasi. Walau pun demikian, Tuan Newton sangat senang dengan pakaiannya dan tentu saja pekerjaannya. Kalau Tuan Newton hanya punya sepeda, itu karena Tuan Newton ingin menabung untuk masa depan George.”

“Mama punya mobil, apakah mama tidak menabung untuk masa depan saya?”

“Litle Angel, mama selalu memikirkan masa depan kamu sayang. Walau pun punya mobil, mama masih bisa menabung. Lagipula mama kan’ tak cukup kuat untuk mengayuh sepeda karena kamu yang semakin besar. Haha…” Mama menggelitikku dengan tiba-tiba, tawanya menggema dari langit kamarku. Aku tak mau kalah, bangun untuk balas menggelitiknya. Kami tertawa dalam dunia malam kami yang kecil di mana hanya ada kami berdua.

“Jadi sekarang tidurlah. Mimpi yang indah, ya?” Jawab mama sambil mengecupkan bibirnya di keningku. Sebentar merapikan selimut sebelum akhirnya ia keluar dan kamar menjadi gelap.

—oOo—
Rumah Rachel begitu luas dan indah. Lebih besar tiga kali dari rumah mama. Ruang tamunya berhiaskan guci-guci bercorak naga dengan aksara Cina, bunga-bunga artifisial yang menyala dan kursi ukiran keemasan. Di tengah impitan lukisan-lukisan yang hampir memenuhi dinding ruang tamu itulah, aku lihat ayah Rachel berpakaian jas lengkap. Rachel juga ada di sana, diapit oleh dua kakak laki-laki dan mamanya. Aku yakin sekali kalau ayah Rachel pekerja kantoran, pastilah dia seorang direktur.
Mereka juga memiliki meja makan besar dan panjang dengan piring-piring keramik gading dan gelas-gelas kristal di atasnya. Aku dan Rachel makan dari piring yang sudah disediakan oleh dua perempuan yang tadi melucuti seragam sekolah kami. Sedang mamanya Rachel, aku belum melihatnya sejak kami datang.

Beberapa kali aku pernah bertemu dengan Nyonya Lorena di sekolah saat ia mengantar Rachel. Perempuan itu sangat cantik mengenakan perhiasan yang tak pernah kulihat dikenakan oleh mama atau pun Miss Brenda. Nyonya Lorena sangat ramah pada setiap orang tapi entah kenapa pembicaraannya selalu ditujukan pada perhiasan dan baju-baju yang dikenakannya. Setiap kali mengantar Rachel penampilan atau perhiasan yang dikenakannya selalu berbeda.

Namun, lebih sering yang mengantar Rachel adalah sopirnya. Pedro, panggilan Rachel untuk lelaki tua itu. Hanya Pedro saja, menurutku seharusnya Rachel menambahkan mister atau tuan di depan nama sopirnya itu, untuk lebih menghormati lelaki tua tersebut.

Tuan Pedro lelaki yang baik, ia selalu membukakan pintu bagi Rachel sebelum turun dan naik ke atas mobilnya. Tuan Pedro datang ke sekolah tak pernah terlambat baik pagi mau pun siang untuk mengantar dan menjemput Rachel. Saat bel tanda pulang berbunyi, kami berhamburan keluar dari kelas seperti anak-anak rusa yang ketakutan di kejar-kejar Singa, tapi bedanya kami berteriak dengan tertawa riang. Tak lagi menghiraukan aba-aba Miss Brenda untuk berbaris rapi di lorong-lorong deretan meja dan kursi dalam kelas.

Di pintu, Tuan Pedro sudah berdiri dalam setelan jas lengkap.

“Hei, kupu-kupu kecil. Bagaimana kelasmu hari ini, menyenangkan?” sambutnya pada Rachel.

Gadis cilik berkepang itu melompat dan sejurus kemudian ia sudah berada di gendongan Tuan Pedro dengan tawa yang renyah. Tangannya yang mungil bermain-main dengan dasi Tuan Pedro. Dasi berbentuk kupu-kupu.

“Ayahmu seorang direktur, Rachel?”

“Tidak, aku tak tahu. Mungkin bukan.” Ujarnya tanpa melihatku.
Rachel tampak asyik sekali dengan Brad dan Katie, pasangan Barbie yang baru saja dikawinkannya.

“Aku kira iya, kamu memiliki rumah yang indah, bunga-bunga artificial menyala, meja makan yang besar. Dalam foto di ruang tamu, ayahmu mengenakan setelan jas lengkap.”

“Pedro juga punya jas lengkap, dengan dasi kupu-kupu pula. Lebih indah dari punya ayah. Tapi Pedro cuma seorang sopir.”

Benar juga yang Rachel katakan. Aku memutuskan untuk tak lagi bertanya. Terus-terang aku tak ingin mengganggu permainan keluarga Barbie kami dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tapi Rachel kembali mendelik ketika aku memotong dialog dua pasangan pengantin barunya di atas ranjang.

“Rachel, lihatlah. Apakah Calvin bisa berkencan dengan Marie jika ia datang ke rumahmu dengan setelan jas lengkap seperti ini?”

Pria muda tampan bernama Calvin di tanganku sedang jatuh cinta pada Marie, adik Katie si pengantin perempuan. Calvin aku dandani lengkap dengan dasi kupu-kupu.
Rachel terrsenyum. Dalam bola mata birunya aku melihat Tuan Pedro.
—oOo—
Hari yang melelahkan. Aku dan Rachel tertidur dalam kamarnya yang melimpah dengan boneka dan mainan. Boneka Barbie, Doggie, Pigsy, Kingkong serta berbagai bentuk binatang liar lainnya dengan nama-nama yang lebih bersahabat saling berpelukan dalam sebuah kotak besar berjaring merah.

Kamar Rachel sangat luas untuk ukuran anak seusia kami. Dindingnya bercat warna terang. Kuning, hijau dan biru muda. Langit-langitnya di lukis persis seperti langit sebenarnya, berawan lengkap dengan gantungan bulan dan bintang-bintang. Dulu aku pernah meminta pada mama agar dibuatkan lukisan seperti itu, juga dinding yang berwarna terang. Tapi beberapa kali kami membicarakannya, mama selalu punya alasan untuk menolak. Aku juga tak mau membantahnya, seperti telah timbul perasaan yang aneh dalam jiwaku. Semacam ketertarikan.

“Litle Angel, di luar sana setiap hari mata kita tertusuk jarum-jarum emas matahari. Itu sudah cukup sakit sayang, kamu tentu tak mau tidur kita terganggu dinding kamar berwarna terang yang sama menusuknya dengan warna di luar sana. Mama lebih suka tetap seperti ini, putih. Seputih sayap malaikat… Seputih hati malaikat… Seputih cinta malaikat… Seputih cinta kamu pada mama.”

Yang kutahu, mama memang begitu menyenangi warna putih. Perlahan rasa suka itu juga menurun padaku dan itu membuat mama semakin mudah melakukan hal-hal yang ada kaitannya dengan memilih warna karena kami kini memiliki selera yang sama.
“Sudah bangun, nona manis?”

Mataku masih berat. Dalam samar aku lihat Tuan Pedro sedang menyetir. Sesekali tatapan matanya di arahkan padaku yang masih mengangsur di sandaran kursi di sebelahnya.

“Tadi mamamu telepon, ia cemas kau belum pulang. Sebenarnya dia yang akan menjemput tapi Nyonya Lorena memintaku untuk mengantarmu.”

“Tuan Pedro…”

“Iya?”

“Dasimu bagus sekali.”

Lelaki itu tersenyum, lalu tertawa kecil. Ekor matanya melirikku, sepertinya ia sedikit malu mendapat pujian dari seorang anak kecil. Itu bisa aku lihat dari bibir atasnya yang naik turun.

Setibanya di rumah, mama sudah menunggu di depan pintu. Tuan Pedro menggendongku turun dari mobil karena aku masih lemas dan belum sepenuhnya sadar. Mama menyambutku dari tangan Tuan Pedro dengan raut muka yang bergetar karena kecemasan yang berlebihan ke dalam pelukannya. Diam-diam aku mengintip perilakunya dari balik kelopak mataku.

“Bagaimana keadaan Nyonya Lorena, apakah baik-baik saja?”

“Nyonya sedikit terguncang tapi saya rasa tak akan lama. Dari sini saya akan mengantarnya ke kantor pengacara terkenal di kota ini untuk penangguhan status tuan menjadi tahanan kota.” Kata Tuan Pedro sambil membuka topinya dan mundur selangkah menjaga jarak dengan mama. Wajahnya juga mengguratkan kesusahan. “Memangnya nyonya mendengar berita di televisi tadi siang?”

“Iya, makanya saya segera menelepon. Sampaikan saja salam dan terima kasih saya buat Nyonya Lorena.”

Tuan Pedro pamit pulang dengan membungkukkan punggungnya. Samar aku dengar ia juga pamit padaku dengan memberikan sebuah ciuman di keningku.

“Sampai ketemu besok di sekolah, kupu-kupu kecil.”

Ah, Tuan Pedro memanggilku dengan panggilannya pada Rachel. Aku usahakan membuka mata menatap jalannya dari belakang. Sosok lelaki berpakaian setelan jas lengkap itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam mobilnya.

Sayang aku tak bisa melihat sayap kupu-kupu di pangkal lehernya mengipas di hembus angin. Apakah ia bisa terbang? Barangkali suatu hari nanti ia akan terbang. Mungkin begitu juga dengan Tuan Pedro karena ia merupakan bagian tak terpisahkan dari sepasang sayap kupu-kupu itu.

Tuan Pedrolah kupu-kupunya.

Bukan aku. Juga bukan Rachel.

* * *


Suryatmajan-Yogyakarta, 23 Nov’ 2004


Iklan