Kupu-kupu Kuning
Cerpen: Iyut Fitra
Sumber: Kompas, Edisi 06/10/2002

Seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisah sesaat ada ia bertengger di daun pintu di saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku….Hari sudah malam. Lampu-lampu sepanjang jalan kota bertaburan seperti bintang-bintang turun menyerbu kami. Sesekali terdengar sayup suara penjaja. Cuaca tidak mendung, hanya angin memukul-mukul daun di taman-taman hingga menimbulkan bunyi desau teratur seperti suara kanak-kanak bermain galah di bawah bulan. Asti berjalan ke arah cermin di kamar itu. Di kaca bayangnya memantul. Ia tidak tahu pasti, apakah wajahnya yang ayu itu sedang berduka atau tengah gelisah. Setelah membuka pita rambut, ia biarkan rambutnya yang panjang lepas tergerai. Tiba-tiba matanya tertuju pada sehelai kertas yang tergeletak di atas meja; lakukanlah apa yang kauanggap perlu, setidaknya perintang kejenuhan, saya akan datang jam sebelas! Begitu bunyi surat tersebut, yang Asti pikir pasti untuknya.

Inilah hari pertama Asti menjadi wanita panggilan. Seseorang telah memesannya untuk datang ke hotel ini. Pertama kali ketika kunci kamar hotel diserahkan kepadanya, hatinya berguncang. Ingin rasanya ia mencampakkan kunci tersebut dan segera berlari sekencang-kencangnya. Tetapi pada saat yang lain, ada sesuatu yang seolah-olah menahannya, menuntunnya, dan mengatakan: bagi hidup, tak satu pun yang harus ditakutkan, Asti!Pukul sebelas kurang lima menit. Sebentar lagi orang yang memesannya bakal datang. Asti kembali memperhatikan wajahnya di cermin. Matanya yang bulat di bawah alis yang tebal. Hidungnya yang bagus. Bibirnya. Lehernya yang jenjang. Dadanya. Ya, dadanya…. Ah, betapa sempurnanya! Tiba-tiba hatinya pedih. Asti tak sanggup menahan air mata yang begitu saja menetesi kedua pipinya. Ingin rasanya ia meninju cermin, menghantamnya, agar ia tidak lagi melihat wajahnya. Agar ia tak melihat lagi dirinya yang seolah-olah akan kehilangan begitu banyak hal yang teramat penting. Tetapi ia mencoba untuk menetralisir perasaannya. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri. Pekerjaan itu harus dilakukannya. Harus! Kemudian dari dalam tas kecilnya ia keluarkan sehelai sapu tangan. Ia menghapus air matanya. Mengoleskan sedikit bedak yang tadi terhapus. Mewarnai bibirnya dengan lipstik yang menyala. Ia mencoba untuk tersenyum.

Seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisah sesaat ada ia bertengger di daun pintu di saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku….Setelah menghidupkan televisi, Asti menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Segalanya begitu saja tiba-tiba menjadi seolah sia-sia dan tidak berharga. Pahanya tersingkap. Dadanya tersembul. Ketika sesuatu telah dimulai, barangkali saat itu pula sesuatu yang lain bakal berakhir, demikian pikir Asti, dan membiarkan segala yang selama ini ia jaga menjadi terbuka.Di televisi, seorang pejabat pemerintah sedang berpidato penuh antusias. Bahwa untuk kehidupan yang lebih layak, mengatasi pengangguran serta gelandangan, lapangan kerja harus dibuka. Bahwa kemiskinan harus dientaskan, dimusuhi, dan akan segera dicari jalan keluarnya dengan berbagai-bagai perencanaan yang segera akan direalisasikan dan seterusnya….“Taik!“ umpat Asti kesal. Televisi pun mati. Asti menyelai sebatang rokok. Dan jelas, pegangan serta isapannya terkesan masih sangat gagap. Sudah pukul sebelas lewat lima menit.Ada suara ketukan. Kemudian terdengar handel pintu berderit. Jantung Asti berdegup. Dalam perkiraannya telah tergambar seorang laki-laki gendut, sesungguhnya telah tua, buruk, menjemukan tetapi kaya. Laki-laki yang tentunya sudah bosan dengan istrinya yang keriput, apalagi jika sang istri tidak pandai membenahi diri. Laki-laki dengan mata yang penuh nafsu, rakus, dan dari mulutnya akan tercium bau tembakau. Laki-laki yang bagi orang-orang di sekitarnya (apalagi yang suka menjilat-jilat) pasti dipanggil Bos. Kalau tidak, mana berani ia membayar harga yang diminta oleh Asti. Harga yang cukup tinggi, karena untuk sesuatu yang pertama.Namun dugaan Asti jauh meleset. Seorang laki-laki muda, paling tinggi sekitar tiga puluh tahun, tersenyum ke arahnya. Asti terkesiap. Laki-laki itu membuka jas dan menggantungkannya. Menanggalkan dasi. Masuk ke kamar mandi. Mungkin membersihkan muka. Kemudian keluar lagi dan mengambil dua buah minuman kaleng dari bar mini yang ada di kamar itu. Ia menyodorkan satu di antaranya pada Asti. Asti menerimanya dengan perasaan berkecamuk. Ia mencoba untuk tenang, meski kegelisahan tidak sanggup dibuangnya. Ternyata laki-laki yang memesannya masih sangat muda! Tetapi apa bedanya? pikir Asti. Bukankah tua atau muda ia harus melakukannya? Bukankah ia kini telah menyandang profesi kupu-kupu malam?Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, sangat berdekatan dengan Asti. Asti tidak dapat membohongi dirinya bahwa tubuhnya gemetar. Entah takut, entah cemas, entah apa. Mata laki-laki itu mulai menelusuri seluruh tubuhnya yang tersingkap di sana-sini. Kulit Asti yang putih, yang selama ini dijaganya, seolah-olah mulai terjual.

“Sudah lama menunggu?“ tanya laki-laki itu. “Maaf, saya agak telat karena rapat terlalu sulit menemukan solusi.““Sudah. Dan segalanya mungkin telah bisa dimulai,“ jawab Asti berusaha setenang mungkin. Tetapi nada suaranya jelas bergetar. Laki-laki itu tertawa. Berdiri meletakkan minuman.“Saya tidak serakus yang kaupikirkan!“ ungkapnya. Apakah itu sebenarnya atau hanya basa-basi, Asti barangkali tidak perlu tahu.

“Tetapi aku telah siap!“ ucap Asti lagi. Laki-laki itu menyelai sebatang rokok, lalu menawarkan pada Asti. Asti mengambilnya. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang, duduk di sebuah kursi.

“Benarkah ini kali pertama?“ nakal pertanyaan itu.

Asti tidak menjawab. Tapi ia mengangguk.

“Mengapa begitu berani melakukannya?“Asti seperti dipojokkan. Sesuatu seolah-olah menerjang hatinya. Jantungya perih. Dadanya bergemuruh. Ia berusaha melawannya.

“Lakukanlah!“ akhirnya Asti berkata seraya membuka bajunya, sehingga sebuah panorama terpampang begitu indah.

“Jangan tergesa-gesa, saya tidak suka. Sesuatu yang tergesa tidak akan meninggalkan kesan yang bagus,“ ucap laki-laki itu seraya meminta Asti untuk kembali memasang bajunya. Asti bingung. Tapi, barangkali ini baru permulaan, pikir Asti. Bukankah laki-laki akan selalu tampil untuk merampas simpati seorang wanita pada tahap pertama?

“Kau keberatan untuk menceritakannya?“ tanya laki-laki itu seraya membenahi rambut Asti yang berserakan di keningnya. Asti jadi gugup.“Barangkali itu tidak ada dalam perjanjian kita.“

“Barangkali itu akan dapat menukar apa yang telah menjadi perjanjian kita!“Asti terperangah. Ditatapnya mata laki-laki itu lama-lama. Tapi semakin lama ditatapnya, semakin ia tidak mengerti dengan apa yang tengah dihadapinya. Kupu-kupu malam! Ah, bagaimanapun Asti kini telah masuk ke dalam ragam rahasia yang masih sangat asing baginya.seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisah sesaat ada ia bertengger di daun pintu di saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku….“Aku dilahirkan tepat pada hari kematian ayahku. Jelas aku tidak paham, apakah ibuku menangis saat itu untuk kebahagiaan setelah melahirkan aku dengan selamat, atau untuk kesedihan atas kematian ayahku yang telah sepuluh tahun mendampinginya,“ ucap Asti akhirnya memulai, pelan dan ragu-ragu. Waktu terus bergerak. Di luar, gelap mungkin telah semakin jelas. Malam merangkak mengembuskan angin menembus ventilasi. Kehidupan sungguh aneh dan gaib, tapi tentu lebih gaib nasib dan takdir.“Ayahku tidak meninggalkan apa-apa selain sepetak rumah kontrakan yang belum lunas serta derita di pundak ibuku yang tak berdaya. Sebagai seorang buruh pabrik, ayahku ternyata tidak sanggup memberikan kesejahteraan pada apa yang ia cinta. Tapi kami tidak pernah menyesalinya.Semenjak itu ibuku mulai bekerja sebagai tukang cuci di rumah-rumah keluarga berada. Upah cuci ternyata tidak mampu untuk menjelmakan hasratnya menyekolahkanku. Lalu pada malam harinya ibuku mencoba membuat kue-kue kecil yang esok paginya ia antarkan ke warung-warung. Dalam kemorat-maritan itulah aku dimasukkan sekolah. Kadang ada saat aku terkantuk-kantuk di kelas karena membantu ibu sampai larut malam. Segala berlangsung dalam kesederhanaan. Bukan! Bukan kesederhanaan, barangkali lebih tepat kekurangan!

Namun segalanya dengan tertatih dapat berjalan.Itu hanya berlangsung sampai aku kelas satu SMP. Saat itu kupikir nasib selalu ingin bermusuh dengan keluarga kami. Karena tiba-tiba ibuku sakit, dan kontan tidak dapat berbuat apa-apa. Tak ada jalan lain, otomatis aku berhenti sekolah, menggantikan peran ibu sebagai pencari nafkah. Kian hari sakit ibuku kian parah, dan itu memerlukan pengobatan yang serius, sedangkan kami tidak punya uang. Kini sudah enam belas tahun usiaku. Aku tidak sanggup lagi rasanya melihat ibuku terus didera penderitaan. Telah cukup lama ia tersiksa. Barangkali sudah sepantasnya ia mengecap kesenangan, kebahagiaan, jauh dari kekurangan. Lama sekali aku dibelit oleh pikiran seperti itu, sementara aku juga tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa,“ ungkap Asti tidak sanggup lagi menahan isaknya.“Maka ketika seseorang datang kepadaku memberikan jalan keluar seperti ini, aku menerimanya. Kupu-kupu malam! Atau lebih kasar lagi, pelacur! Alangkah takutnya aku dulu mendengar kata-kata itu. Tapi kini aku harus menyandang sebutan tersebut. Tidak! Aku tidak akan menyesal. Aku lebih mencintai ibuku daripada kehidupanku. Aku lebih menyayangi ibuku ketimbang tubuhku,“ urai Asti dalam campuran tangis yang tidak dapat dibendungnya. Malam barangkali telah sampai di ujungnya. Dingin semakin menyergap. Suara penjaja telah sepi. Dan waktu seolah terseret-seret mengikuti detak jarum menuju sebuah siklus yang sesungguhnya selalu berkisar pada tempat yang sama; kehidupan!

Pada suatu ketika kita menyaksikan pemandangan yang teramat berlebihan. Di mana segala sesuatu seolah-olah bergerak sangat mudah, tanpa aral, tanpa rintang, dan tidak satu pun yang dapat membendung setiap keinginan.Pada saat yang lain kita terkadang tidak mampu menyurukkan muka melihat kekurangan demi kekurangan yang betapa melahirkan kepedihan, tetapi tak satu jua yang rela menceburkan dirinya untuk memberikan sedikit pertolongan.Alangkah hidup itu sesungguhnya sangat nisbi dan betapa mencengangkan!

“Segalanya sudah jelas. Kini, lakukanlah!“ ucap Asti setelah selesai mengusap air matanya, kemudian ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Seluruhnya! Asti telah pasrah. Ia pikir, ia harus bertarung melawan nasib.Laki-laki itu berdiri, dan berjalan ke arah Asti. Asti telah menunggu di ranjang. Gemetar, atau mungkin takut, atau mungkin dengan segunduk harapan akan kebahagiaan ibunya.seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisah sesaat ada ia bertengger di daun pintudi saat lain, ingin pagi cepat datang o, embun! peluklah aku….Tetapi setelahnya, tidak sesuatu pun yang sempat terjadi selain ucapan laki-laki itu:

“Saat azan subuh telah selesai, tandanya pagi telah datang. Sesuatu akan berubah seirama dengan deru waktu. Dan perubahan itu, terkadang kita tidak pernah sempat menduganya. Bila aku telah tertidur, tinggalkan alamatmu, lalu pulanglah! Katakan pada ibu, bahwa aku akan menikahimu, Asti!“ ucap laki-laki itu lembut tapi pasti.Asti tidak sempat berkata-kata. Namun yang ia pikir, adakah ini hanya sebuah mimpi karena nasib begitu cepat sekali berubah. Tetapi kemudian ia dapatkan dirinya telah berjalan menuju rumahnya dengan bayangan sejuta kupu-kupu beterbangan riang, tanpa sedikit pun kegelisahan.

***

Payakumbuh, 2000

Iklan