Desember Hujan, Aku pun Gegas
Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Sumber: Horison, Edisi 04/01/2006)

Desember hujan, aku pun gegas
merapikan sisa jejak yang tanggal
lalu menyusunnya jengkal-sejengkal

MALAM merambat amat letih. Langit bertabur hitam. Jalan basah, dan aku harus bergegas memacu mobil dalam guyuran hujan yang masih menampakkan runcing pisau.
Desember, seperti tahun-tahun lalu, memang akrab sekali dengan hujan, Jalan basah, dan gigil. Terutama sejak sore hingga malam.
Aku siapkan payung dan mantel, meski tak yakin apakah alat itu berguna untuk menghindar dari air yang muntah dari langit? Tetapi, setidaknya, aku sudah menyiapkan jika suatu waktu diperlukan. Kupacu mobil dengan ukuran sedang. Tape mengalunkan musik lembut. Di sisi kiriku, Shinta—istriku, tak mengerjap: tetap menatap ke depan. Seperti masuk ke dalam selimut hujan.
Hari ini, 30 Desember 1985. Tepatnya tiga tahun setelah kami mengucap sumpah setia sebagai suami istri baik dalam suka maupun duka. Sebagai sepasang merpati yang bersumpah selalu setia mengarungi kehidupan ini dalam pekat maupun benderang. Karena itu, kami tetap tegar menembus walau hujan sejak sore tadi tiada tanda akan berhenti. Langit pekat sejak senja.
Shinta masih diam, walau berkali-kali siulku menjerit-jerit seperti hendak mengalahkan musik klasik nan lembut dari tape mungil di mobil. Entahlah, apa pula yang bersarang di benaknya. Adakah ia tengah menikmati senandung hujan yang begitu mengasyikkan, tatkala bersentuhan dengan atap mobil? Ataukah ia sedang memandangi jejak air yang luruh setelah dihapus wiper? Sekali lagi, ya sekali lagi, entahlah.
Dan, aku tak hendak mengusiknya. Biarlah ia bermain dengan kupu-kupu yang bersarang di benaknya. Atau sekawanan burung kenangan yang memainkan ingatannya. Hidup memang selalu dipenuhi oleh metafora dan ingatan, begitu kata para seniman, walau aku tak pernah bisa menafsir makna itu semua. Aku hanyalah pebisnis, seorang yang senantiasa hidup dalam khasanah praktis. Karena itu pula segala yang terasa indah—seperti musik klasik yang sebetulnya aku yang menghidupkan—tak sampai sebagai keindahan. Atau kaki hujan yang melangkah di atap mobil—juga tetesan air yang merangkak di kaca setelah dileburkan wiper—tiada juga sanggup mengusikku. Bukan tersebab aku tak menyenangi sesuatu yang indah dan mengasyikkan.
Aku selalu menyukai perjalanan seperti ini, saat hujan mengguyur Desember dan malam bertabur kelam. Dan, aku selalu merindukan susanasa semacam ini. Jadi tak beralasan kalau aku tak menyenangi sesuatu yang asyik dan menyenangkan, meski aku tak tahu adakah itu bagian dari keindahan?
Yang pasti aku menyukai pantai dengan lautnya yang biru, bebukitan dengan rerumputan hijau, bungalow menghadap ngarai, dan kehijauan ladang di perdesaan. Dan, Shinta, tetaplah membisu. Hening…
Malam merangkak amat lamban. Langit bertabur kelam. Tak berbintang. Aku telah mengambil payung dan mantel dari dalam mobil. Duduk di teras bungalow. Di dekatku setumpuk kembang api yang sebentar lagi akan kunyalakan, lalu pecah di langit hening. Tapi mungkinkah kembang api akan terbang dan menaburkan cahayanya di pekat malam, saat hujan seperti ini? Udara lembab dan amat basah.
Aku pandang Shinta. Ia mengerjapkan bola matanya.
“Apa yang kau pikirkan?” aku membuka suara. “Maksudku, kau….”
“Aku tak apa-apa.”
“Kau pasti ada apa-apa. Aku mampu menyelam ke dalam perasaanmu, Shinta….”
“Aku hanya kurang sehat.”
“Kenapa kau tak katakan tadi sewaktu di rumah? Kita bisa batalkan ke sini. Kita habisi malam Tahun Baru di rumah saja,” kataku kemudian. Aku menyesal mengapa tak kutahu perasaan Shinta saat di rumah tadi? Kalau benar ia kurang sehat, lebih baik urung ke tempat ini. Aku terlalu yakin bahwa Shinta akan senang kuajak ke tempat ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, ia selalu beriang. Sampai kami kembali ke rumah, dan esok lusa ia akan bercerita kepada teman-temannya di kantor ihwal keindahan bermalam Tahun Baru di bungalow.
Ah! Kini ia tak akan bisa bercerita tentang keriangannya. Shinta tak mendapatkan keceriaan itu, lalu bagaimana ia mampu mengungkapkannya? Kisah akan menarik didengar, apabila si pencerita mengetahui dan menguasai apa yang ingin diceritakan. Dan itu, ini kesempatan, tak didapatnya.
“Tak apa. Mungkin sebentar lagi juga akan membaik,” katanya setelah hening.
Aku mengangguk. Menanti dia mengusir kabut dari wajahnya. Kuhidupkan sebatang rokok filter lagi, ini sudah batang kesembilan. Sekadar mengusir gelisah yang kian merambat di dalam diriku. Ah. benarkah aku gelisah? Kukira tidak. Sebenarnya sepi tengah menyergap kami. Ya! Tiga tahun malam Tahun Baru kami habisi di bungalow ini tanpa suara kanak-kanak, tiada keriangan anak-anak yang bermain di bawah hujan bertabur kembang api.
Ya! Sekali Shinta hamil namun gugur, setelah itu kandungannya selalu kempis. Aku—tentu saja Shinta lebih dari itu—amatlah merindukan seorang anak di antara kami. Shinta, beberapa kali, mengharap (tepatnya meminta) kandungannya berisi janin dari benihku. Hanya saja, harapan itu tinggal harapan. Kandungannya tak berbuah janin. Padahal, beberapa dokter kandungan telah kami sambangi untuk meminta “petunjuk” dan obat paling khasiat mendapatkan anak. Bahkan, aku tahu kemudian, diam-diam Shinta pernah pula mencari pengobatan alternatif kepada orang yang diyakini pintar. Tapi, sekali lagi—ya sekali lagi, Tuhan belum merestui kami.
Dan, kini pada tahun ke tujuh dari perkawinan kami: Desember 1989, kami pilih kembali bungalow ini untuk menghabisi malam Tahun Baru. Tapi tidak dengan berisik anak-anak. Kami kembali mendekap sepi. Dan, Shinta tetap tidak bisa riang. Sebagaimana langit yang kini kutatap dari bebukitan ini: kelam. Hanya wajah istriku masih membiaskan sinar. Itulah bintang cinta yang terbit dari hatinya. Dari kerlip bintang itu, aku seperti memasuki dunia jauh.
“Kadang aku rindu ke mari ditemani anak-anak,” tiba-tiba Shinta bersuara. Malam terasa sunyi. Merambat amat lamban, layaknya siput yang berjalan.
Aku terjaga. Ya, beberapa detik lalu kiranya aku pun digayuti kerinduan yang sama. Aku sangat ingin menggendong, digelayuti oleh tangan mungil, dan ingin sekali bermain dengan anak-anakku. Di sini. Saat kami merayakan malam Tahun Baru, seperti juga jutaan orang lain melakukannya. Entah di jalan raya, tepi pantai, kafe, bioskop, hotel, vila, ataupun bungalow.
Ah ya! Di bungalow lain, aku memang mendengar tawa sebagai tanda riang ketika kembang api meluncur dan pecah bersama taburan cahaya di cakrawala pekat. Lalu, anak-anak mereka berlarian seakan ingin mengejar pecahan bintang.
“Kau lihat mereka, betapa bahagianya?”
Aku mengangguk.
“Mungkin suatu ketika, entah tahun muka, kita pun akan seperti mereka.”
Shinta tertunduk. Ingin menyembunyikan kabut yang meruap di wajahnya….
HARI ini, 30 Desember 2005. Tepatnya dua puluh tiga tahun setelah kami mengucap sumpah setia sebagai suami istri baik dalam suka maupun duka. Sebagai sepasang kekasih yang bersumpah setia mengarungi hidup ini dalam pekat maupun benderang. Karena itu, dengan tegar kami tetap menembus walau hujan sejak sore tadi tiada tanda akan reda. Sejak senja langit begitu pekat.
Shinta masih tertunduk. Membiarkan helai-helai rambutnya yang tampak memutih menutupi separuh wajahnya. Sementara bola mata kirinya di balik kacamata plus menatap lantai. Tak bergerak. Tak berkerjap.
“Kamu seperti masih menyesali hidup, kau kecewa dengan perkawinan kita?” aku bertanya amat hati-hati, tak ingin hatinya terluka. “Sudahlah jangan terlalu berharap lagi. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kita punya anak. Tuhan lebih tahu mana hambanya yang sanggup diuji dengan anak dan mana yang tidak. Barangkali, kita termasuk hamba-Nya belum bisa diuji….”
“Kenapa?” ia mengangkat wajahnya. Menatapku lekat. “Apakah aku tak mampu mengasuh dan membesarkan anak?”
“Bukan cuma itu yang dimaksud ujian Tuhan itu, tapi….”
“Karena kau pikir aku tak bisa jadi ibu?” Shinta kini menudingku. Aku tergagap, kini aku merasa bersalah. “Kalau saja aku diberi hamil dan punya anak, aku juga bisa menjadi ibu. Setiap perempuan pasti bisa jadi ibu dan mampu mengasuh atau membesarkan anaknya. Cuma….”
“Jangan menyesali hidup Shinta, jangan kecewa kalau saat ini kau belum hamil….” ujarku tersekat sebab ia segera memotong.
“Mungkin tahun depan, tahun depannya lagi. Begitu yang akan kau katakan?”
Aku tediam. Malam berselubung pekat merangkak amat lamban. Udara basah. Bungalow-bungalow di perbukitan ini berselimut kabut, layaknya si tua janggut berbungkus kain putih. Kupandangi wajah Shinta yang kembali menunduk kini. Jemari kakinya bergoyang pelan. Lalu, ia mendesah. Panjang.
“Lupakan duka. Mari kita beriang. Mari Shinta….” ucapku mengharap sembari mengembangkan kedua tanganku. Seperti sayap burung yang hendak terbang. “Kalau kau tahu dengan perasaanku kini, dengan suara hatiku saat ini, sesungguhnya aku juga berduka. Tetapi, apakah hanya karena duka segalanya akan berubah? Hidup ada yang menentukan, dan kita sudah ada dalam ketentuan-Nya,” lanjutku di dalam hati.
“Mari Shinta, mari kita beriang,” kataku lagi. “Kalau kehadiran anak-anak di tengah kita saat ini akan membuat malam tahun Baru ini menjadi sempurna, marilah kita angankan mereka ada di dekat kita sekarang. Mereka, anak-anak kita, ikut bermain dan mengejar pecahan kembang api. Ikut beriang dan tertawa. Lihatlah….”
“Aku melihatnya. Ya melihat mereka, Kanda. Anak-anak kita. Mereka berlarian dan saling berkejaran. Memburu pecahan kembang api. Seperti serpihan bintang pecah.”
“Ya,” kataku turut memberi semangat. Lalu aku berlari kian ke mari, seperti sedang berkejaran dengan anak-anakku. Shinta juga mengikuti langkahku. Menguntit jejakku.
“Jangan cepet-cepat, Kanda….” harap Shinta.
“Larimu lebih cepat lagi, supaya tak tertinggal jauh,” seruku. Aku seperti menunjuk ke depan, ke anak-anak kami. “Jangan sampai kita kalah dengan mereka.”
“Tapi aku sudah letih.”
“Kau harus bergegas. Kuatkan dirimu. Jauhkan lagi langkahmu,” kataku bersemangat. Meski begitu, aku maklum usis Shinta kini 48 tahun dan aku berumur 50 tahun.
“Aku tak bisa.”
“Harus bisa!”
“Tak bisa.”
“Kau bisa!”
Ah, lalu Shinta terkulai. Rebah di rerumputan basah. Aku memburu dan rebah pula di sisinya. Malam ini kulihat wajah Shinta makin cantik, sebagaimana kulihat kali pertama pada 24 tahun lalu.
Ketika hendak kukecup pipi dan bibirnya, ia bergegas bangun. Kemudian lari ke sebelah bungalow. Hendak bersembunyi, seperti mengajakku main umpetan. Aku mengejarnya. Namun Shinta menghindar dari sana, mencari persembunyian di sebatang pohon di tepi bebukitan. Kuburu ia segera. Tiba-tiba aku benar-benar khawatir karena ia berada di tepi tanah yang curam.
“Awas Shinta, nanti….”
Aku terpana. Geming. Bersitatap dengan kelam. Malam begitu lamban merangkak. Saatnya kini Desember sungguh-sungguh tanggal dari kalender. Berhujan. Kelam berselimut kabut. Pekat amat.
Entahlah, apakah aku sanggup mengumpulkan jejak demi jejakku yang patah. Sisa dari serpihan harapan.
Pandangku buram. Harapku kelam ….
* * *

Lampung, 17-18 Desember 2005

Iklan