Kang Kapiyin

Cerpen Irham Effendy

Dengan keringat bercucuran dan langkah gontai lelaki tua itu masuk serambi rumahnya, duduk di kursi dengan tatapan kosong ke depan. Dihisapnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskan asapnya kuat-kuat hingga bertebaran melayang-layang di udara, menandakan bahwa ia sedang dalam kesedihan. Istrinya yang baru pulang dari pasar langsung kaget ketika melihat suaminya pulang dengan wajah kuyu.

“Ada apa, Kang?” tanyanya sambil duduk dekat suaminya.

Kang Kapiyin tak menjawab.

“Ada masalah apa, Kang?” tanyanya lagi, penasaran sekaligus khawatir.

“Juragan, Bu.”

“Ada apa dengan juraganmu?”

Dua hari yang lalu Kardi, juragan Kang Kapiyin, datang ke rumahnya. Katanya ada pesanan sebuah lemari yang harus dikerjakannya. Kang Kapiyin menerima pesanan itu dengan senang hati. Satu buah lemari, berarti ia akan menerima upah dua puluh ribu rupiah. Lumayan. Apalagi sudah empat hari ini ia tidak masuk kerja karena sakit. Pesanan itu dari Kasrib dan harus selesai esok lusa, begitu kata juragannya. Mendadak ia ragu-ragu begitu tahu siapa pemesannya. Kasrib adalah seorang peternak udang yang sangat pelit dan rewel dalam menentukan segala hal. Semua orang tahu itu. Kang Kapiyin ingat bagaimana Kasan, tetangganya yang penjahit, dimaki Kasrib habis-habisan karena tidak bisa menyelesaikan baju yang dipesannya tepat pada waktunya. Kang Kapiyin tidak mau jika hal itu nanti terjadi pada dirinya. Ia takut akan kemarahan dan caci-maki Kasrib seandainya lemari yang dipesannya itu tidak bisa selesai esok lusa, apalagi badannya belum sehat betul. Di samping takut, ia juga malu bila dikatakan sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

“Sudahlah, tidak usah mikir macam-macam. Aku sengaja memilihmu karena pekerjaanmu jauh lebih halus dan cepat daripada Kasim. Bagaimana?”

“Baiklah, akan aku usahakan. Kapan aku mulai?”

“Besok saja. Sebab kayunya baru datang nanti sore.”

“Jadi, aku harus kerja lembur?”

“Ya,” kata Kardi. “Soal ini,” lanjutnya sambil menggesekkan ibu jari dengan telunjuknya, “tidak usah kuatir. Seperti biasanya, tentu ada ekstranya.”

Sepulang juragannya ia memberitahukan hal itu kepada istrinya. Istrinya menyambut gembira dan berjanji akan menyiapkan ramuan kuat untuknya biar badan tidak loyo saat bekerja nanti.

“Tapi aku kok sedih, Bu.”

“Apa yang kamu sedihkan, Kang?”

“Sepertinya aku tidak sanggup menyelesaikannya sehari-semalam.”

“Ah, dicoba dulu, tho. Kalau kamu memang tidak sanggup, mau apa lagi.”

“Itulah, Bu, Kasrib pasti akan marah-marah.”

“Sudahlah, Kang, tidak usah kuatir. Dijalani saja dulu. Jangan mikir apa yang belum tentu terjadi.”

“Waspada kan perlu, Bu.”

“Ya. Tapi siapa tahu Kasrib akan memaafkanmu, seandainya, dan mudah-mudahan itu tidak terjadi, kamu tidak bisa menyelesaikannya tepat pada waktunya.”

Keesokan paginya, di kala matahari baru menampakkan sinarnya, Kang Kapiyin sudah berada di rumah juragannya.

“Itu kayu-kayunya,” kata Kardi sambil menunjuk tumpukan kayu di pojok gudang. Segera dihampirinya tumpukan kayu itu dan diambilnya beberapa potong. Mulailah ia bekerja. Selang beberapa saat kemudian Kasim datang.

“Wah, ada tugas lembur rupanya,” tukasnya sambil mengeluarkan alat-alat dari dalam kotak.

“Ya, begitulah. Itung-itung buat nomboki empat hari tidak kerja.”

“Memang beginilah nasib kita. Tidak kerja, ya upah melayang. Maunya sih upah jalan terus meski bolos kerja, biar asap dapur tetap ngepul.”

“Ah, kayak pegawai kantoran saja.”

Sore telah datang. Kasim, karena tidak ada kerja lembur, harus pulang. Seandainya ia tetap ngoyo menyelesaikan pekerjaannya sehari-semalam padahal bukan waktunya kerja lembur, bayaran yang akan diterimanya tetap sama seperti kerja biasa. Untuk kerja lembur biasanya harus menunggu perintah dari juragan dulu.

“Aku pulang dulu, ya,” kata Kasim, dan dijawab oleh Kang Kapiyin dengan anggukan Kang Kapiyin melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia bekerja dan bekerja tanpa mengenal lelah. Ramuan yang telah diberikan istrinya ternyata bermanfaat banyak sekali. Ia tidak merasakan kelelahan yang berarti, hanya sedikit saja dan itu sudah biasa dialaminya setiap kali bekerja. Ketika lemari itu berhasil diselesaikan, ia menarik nafas panjang, lega.

“Bagaimana, sudah selesai?” tanya Kardi.

“Beres, Gan.”

Kardi mengamat-amati lemari itu, mengelus-elusnya dari atas sampai bawah, dari muka sampai belakang, dan dari sisi kanan sampai sisi kiri, kemudian memandang Kang Kapiyin seraya mengacungkan ibu jarinya. Kang Kapiyin hanya tersenyum.

“Terimalah ini, 20 ribu termasuk ekstranya,” kata Kardi.

“Lho, kok cuma segini?”

“Maunya berapa?”

“Masak upah kerja lembur hanya segini?”

“Dulu memang lebih dari itu, tapi sekarang sudah aku turunkan upah kalian. Malah kemarin Kasim hanya kuberi 18 ribu. Sementara kamu 20 ribu. Lebih banyak dari dia, kan? Lagipula, berapa sih Kasrib akan membayar lemarinya itu? Tidak banyak. Kalau seandainya kubayar kamu lebih dari itu, berarti aku akan torog. Torog artinya rugi. Dan aku tidak mau rugi.”

“Tapi kenapa kami tidak dikasih tahu dulu?”

“Apa? Dikasih tahu? Buat apa dikasih tahu. Kamu itu siapa, hah? Kamu hanya pekerja biasa, tidak berhak ikut campur segala! Upah naik atau turun itu hakku, bukan hakmu! Pokoknya mulai besok dan seterusnya aku akan tetap membayarmu dan temanmu, Kasim, 16 ribu untuk sebuah lemari, dan tambah 2 ribu lagi bila dikerjakan lembur. Sekarang tidak apa-apa kamu kubayar 20 ribu. Itu soal kemurahanku saja. Kalau kamu tetap tidak mau, sekarang juga kamu boleh pilih: upah tetap seperti yang aku tentukan atau kamu keluar dari sini!”

Mendengar itu Kang Kapiyin diam sesaat, kemudian tanpa pikir panjang lagi ia berkata, “Baiklah, aku akan keluar dari sini. Tidak ada gunanya lagi bekerja di tempat orang serakah.”

Ia meninggalkan Kardi dan pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih. Bagaimana pun juga ia harus menghidupi keluarganya, seorang istri dan tiga orang anak. Namun, di pihak lain, ia tidak rela bila harga dirinya diinjak-injak.

“Sudahlah, Kang, memang sudah nasib kita. Untunglah kamu bisa kembali pulang dengan selamat, tidak sampai babak-belur.”

“Aku tidak mikir itu, Bu. Biarlah terjadi apa yang telah terjadi, tidak ada gunanya disesali. Aku hanya sedih bila mikir anak-anak kita, terutama Sardula. Sebentar lagi dia pasti akan membutuhkan uang banyak untuk menamatkan sekolahnya. Lalu, dari mana uang itu aku peroleh?”

“Usaha tho, Kang. Apa kamu lupa kata-kata Wak Kaji Ali tempo hari?”

“Bumi Tuhan itu luas. Itu tho, Bu, maksudmu?”

“Ya. Cobalah kamu cari pekerjaan yang lain.”

“Kerja apa?”

“Apa saja asal halal. Pasti bisa, Kang. Ayam saja tidak pernah kelaparan meskipun tidak ada yang memberinya makan. Apalagi manusia, makhluk yang derajatnya di atas ayam. Apa kamu tidak malu kalah dengan ayam?”

“Jangan disamakan dengan ayam tho, Bu. Ayam bisa makan apa saja. Lha, manusia, apa mau makan sisa, begitu?”

“Bukan itu maksudku, tapi usahanya itu lho yang patut ditiru. Cobalah kamu ikut Kairuman melaut. Bukankah dulu kamu pernah jadi nelayan sebelum kita menikah? Nah, tunggu apa lagi? Paling-paling kamu hanya perlu sedikit menyesuaikan diri dengan keadaan di laut.”

Kang Kapiyin membenarkan apa yang diutarakan istrinya itu. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Jadi, tidak ada salahnya mencari rezeki di laut. Senyum Kang Kapiyin mengembang di bibirnya. Bumi Tuhan itu luas. Di mana dipijak, di situ terdapat rezekinya, batinnya.