Bulan Ungu Café
Cerpen Indra Tranggono (Sumber: Jawa Pos, Edisi 04/02/2006)

Kafe Bulan Ungu masih sepi. Para pelayan masih mengoleskan gincu di bibirnya. Musik belum mengalun. Yongki, sang keyboardis, masih memencet-mencet tuts, menimbulkan bunyi tak beraturan. Emy, yang suaranya rada jazzy itu, masih mematut-matut baju ketat merah tanpa lengan. Kulit Emy jadi tampak sangat putih.
“Kalau RUU Pornografi dan Pornoaksi sudah disahkan, kamu bisa ditangkep, sayang…,” goda Yongki sambil mengamati lekat-lekat penampilan Emy yang tampak sangat seksi itu.
“Masak cuma kayak gini ditangkap. Kurang kerjaan.”
“Lho, yang namanya petugas itu kan sukanya mencari-cari kesalahan orang. Menghukum kan sudah jadi hobi mereka. Dan lihatlah model belahan blusmu itu sangat lebar.…bikin orang geregetan…” Yongki tertawa.
“Dasar mata nakal…,” Emy tersipu, langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangan.
Tawa Yongki berderai. Emy memukuli tubuh Yongki. Manja. Gurauan mereka terhenti ketika seorang lekaki masuk. Langsung duduk di pojok. Emy langsung berhambur, menyapanya dengan akrab, “Mas Gofar…Apa kabar?”
Gofar tersenyum. “Dia sudah datang?” ujarnya sambil mengeluarkan rokok dan menyulutnya.
“Dia siapa, Mas?”
“Perempuan yang kemarin mengenakan kaus hijau toska. Yang rambutnya pendek, yang cuteknya ungu,” ujar Gofar penuh semangat.
“Yang wajahnya cantik, yang tubuhnya langsing….yang…” Potong Emy tak kalah semangat.
“Sudah. Kok jadi kamu yang nyerocos. Sudah datang belum?”
“Jam segini dia mungkin masih tidur. Sudah janjian?”
“Kenalan aja belum.”
Gofar menyandarkan tubuhnya di kursi. Mulutnya terus mengisap rokok. Yongki mulai beraksi. Satu lagi hit Beatles dilepas, Yellow Submarine. Suasana mulai hangat.
Perempuan berkaus hijau toska itu hampir setiap malam hadir di Kafe Bulan Ungu. Sendirian. Ia selalu duduk di kursi paling pojok belakang. Meski tanpa teman, ia selalu memesan dua minuman atau dua porsi kentang goreng. Semula, para pelayan heran. Tapi, akhirnya mereka menganggapnya biasa.
Gofar yang juga rajin hadir di kafe itu, sudah lama mengamati perempuan yang dianggapnya ganjil itu. Dari kejauhan ia melihat perempuan itu seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Kadang tampak serius. Kadang diiringi tawa. Gofar menghabiskan puluhan batang rokok untuk mengamati adegan yang sangat menarik itu. Apa yang sedang dipikirkan perempuan itu, Gofar membatin.
Malam berikutnya, Gofar melihat perempuan itu datang dengan membawa kue tart kecil dan beberapa lilin. Gofar bedebar-debar menunggu adegan yang akan berlangsung. Sesudah lilin dinyalakan, perempuan itu tampak berdoa. Kemudian dia menyanyikan lagu ulang tahun bagi seseorang. Tapi tidak dengan wajah yang riang. Kepiluan tampak membungkus hati perempuan itu. Gofar melihat, mata perempuan itu basah.
Gofar makin penasaran. Setiap malam ia menunggu perempuan itu datang. Dan, ia berniat, suatu ketika ia akan mengajak ngobrol. Ia ingin tahu, perasaan macam apa yang sedang bergolak di hati perempuan itu.
Kafe makin penuh. Puluhan pasangan datang. Asap rokok mengepung ruangan. Yongki memainkan dan menyanyikan lagu Queen, Bohemian Rhapsody yang memukau itu. Mata Gofar terus menyelidik kapan perempuan itu datang. Tapi berulang kali ia kecewa. Belasan lagu telah mengalun. Tapi hati Gofar tetap saja sunyi. “Gadis berkaus hijau toska, ke mana kamu?” Gofar menarik napas dalam-dalam. Ia mendadak merasa terasing dan tersiksa di kafe itu.
Gofar hendak beranjak dari kursi, namun perempuan berkaus hijau toska itu muncul. Aneh, melihat perempuan itu, mendadak hati Gofar bergetar. Seperti gerak kamera dalam posisi long shot, mata Gofar mengikuti gerak dan langkah perempuan itu: dari pintu masuk, duduk di kursi paling pojok, dan memesan dua soft drink dingin. Selebihnya adalah monolog yang tampak asyik.
Gofar mencoba menghitung-hitung kemungkinan untuk mendekati perempuan itu. Mungkin perempuan itu akan terganggu, menolak dan marah. Tapi mungkin juga perempuan itu akan ramah kepadanya. Gofar percaya pada kemungkinan yang kedua. Pelan-pelan ia beringsut mendekat.
“Selamat malam, Mbak,” ujar Gofar setengah gemetar.
“Malam… Ada apa ya?” ujar perempuan itu.
“Beberapa detik Gofar menatap wajah perempuan itu. Matanya bulat, bibirnya mungil, hidungnya tak terlalu mancung. Ada tahi lalat di atas bibir.
“Boleh saya duduk di sini? Apa menganggu?”
“Agak lama perempuan itu berpikir. Namun akhirnya bilang, “Boleh. Anda siapa?”
“Gofar.”
“Ika.”
Mereka bersalaman. Lalu diam. Gofar tampak sangat canggung dan kikuk. Sementara perempuan itu tampak sangat rileks dan penuh percaya diri.
“Eeee anu…boleh tahu…kenapa Anda selalu memesan dua minuman, padahal Anda hanya sendirian. Tapi sorry kalau mengganggu…”
“Pesan minuman dua, apa dilarang undang-undang?”
Gofar kena skak mat. Kepalanya seperti dihantam lonjoran balok besi. Wajah Gofar tampak tersipu. Malu, sangat malu. Cepat-cepat Gofar menyulut rokoknya.
“Maaf, saya sering pusing mencium bau tembakau…”
Lonjoran besi itu kembali menghantam kepala Gofar.
“Okay. Kalau saya memang mengganggu…” Gofar hendak beranjak.
“Tapi kita bisa ngobrol, tanpa rokok. Okay.”
Gofar mematikan rokoknya.
“Anda tentu ingin tahu, kenapa saya selalu kelihatan aneh atau ganjil.”
Gofar diam. Matanya menatap perempuan itu.
“Okay. Dunia ini terlalu egois dan selalu memaksa orang untuk selalu sama. seragam. Apa anehnya bicara sendirian? Swear. Aku tidak ngobrol sendirian, sebenarnya. Kekasihku selalu datang pada jam 12. Dan kami bicara apa saja. Politik. Badut. Saham. Korupsi. Musik. Sejarah. Seks. Kekerasan terhadap perempuan. Atau yang ringan-ringan, kenapa Pak Polisi perutnya kebanyakan gendut… Rupanya karena mereka terbiasa mengisap asap knalpot, jadi perutnya penuh logam… Atau bicara soal kebiasaan bangsa semut bunuh diri masal, untuk mengurangi populasi agar saudara mereka yang lain punya kesempatan untuk hidup. Fantastis bukan. Semut saja punya rasa berbagi, kenapa manusia keterlaluan egois.”
Suasana sedikit cair. Perempuan itu punya selera humor yang lumayan, pikir Gofar.
“Boleh tahu, apa profesi kekasih Anda?”
“Anda tidak sedang menginterogasi saya, kan? Okay. Dia sineas. Tapi dia lebih suka menyebut diri sebagai tukang bikin film…”
“Apa dia suka bikin sinetron?”
“Sinetron? Barang apa itu? No…no…no… Itu mah kerajinan…”
“Dia sendiri suka disebut tukang…”
“Ah itu kan bahasa dia untuk merendah. Tapi sebenarnya dia agak sombong. Dia suka bikin film yang aneh-aneh. Tapi menarik. Dia punya selera yang baik. Otaknya juga encer. Itu yang membuat saya jatuh cinta.”
“Siapa nama kekasih Anda itu?”
Perempuan itu meraih soft drink dan meminumnya. Lama ia diam.
“Anda keberatan?”
“Oh no…no…no… Nama dia Sony… Lengkapnya Sony Margantoro.”
Gofar terdiam. Kafe mulai sunyi. Yongki dan Emy sudah tidak tampak lagi.
“Kenapa? Ada yang istimewa?” Perempuan itu kembali minum.
“Tidak. Nama dia sangat bagus. Apa film terakhir dia?”
“Dia sedang menyiapkan Black Hole. Semi dokumenter.”
Gofar kembali terdiam. Ia membuka-buka pita ingatannya, dan ia menemukan nama itu: Sony Margantoro, seorang sineas. Beberapa tahun lalu, ketika menjadi salah satu relawan untuk korban kerusuhan rasial, ia menemukan mayat laki-laki itu. Sony ditemukan tewas ketika sedang merekam berbagai kasus penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan yang meledak di kota “S”. Mungkin rekaman berbagai kekerasan itu menjadi bagian dari persiapan film Black Hole, pikir Gofar.
Gofar ingin mengatakan semua kejadian itu. Tapi niat itu cepat-cepat dibunuhnya. Takut menganggu kenyamanan gadis itu. Atau, mungkin saja laki-laki itu bukan Sony-nya gadis itu. Di dunia ini ada jutaan orang bernama Sony, pikirnya. Tapi seandainya laki-laki itu memang Sony pacar gadis itu? Diam-diam ia yakin. Sang sineas itu memang Sony yang jadi topik obrolan.
“Okay. Sudah hampir pukul 12. Sebentar lagi Sony datang. Pasti Sony akan membawa cerita yang seru-seru,” ujar perempuan itu. Gofar pamit. Tapi tak langsung pulang. Ia duduk di ruang yang jauh dari posisi perempuan itu. Kafe makin sepi. Hanya ada beberapa pasang pengunjung.
Gofar menatap ke arah perempuan itu. Di mejanya sudah ada dua soft drink dan dua piring kentang goreng. Perempuan itu tampak bercengkerama. Kadang disertai tawa. Mungkin banyak cerita lucu yang dibawa Sony.

* * *
Yogyakarta, Maret 2006.

Iklan