Kuah Sate

Cerpen: Iggoy el Fitra

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Edisi 09/24/2006


“Nama?” ”Ijuih.” ”Umur?” ”Hmm, berapa ya? Saya lupa!” ”Kelahiran tahun berapa?” ”Enam puluh tujuh.” ”Pekerjaan?” ”Manggaleh sate.” ”Pekerjaan tetap? “Ya, tukang sate. Memangnya ada yang mau kasih saya kerjaan layak, ha?? Kalau saya pegawai, tidak mungkin ada di sini!!” ”Eh, ibu, jangan cerewet, ini kantor polisi, bukan di pasar!” ”Kalera dek ang! Yang nanya-nanya saya itu siapa? Situ, kan?? Ditanya, ya saya jawab!” Meja digebuk Ijuih, kursi juga ditendangnya. Seketika emosinya meluap. Para penjaga memeganginya dengan paksa. Beberapa wartawan merekam kejadian dengan seksama, tak mau ketinggalan berita hangat. Namun mereka tak sempat mewawancarai Ijuih karena keburu dibawa pergi oleh penjaga. ”Masukkan dia ke sel!!” Kedai Ijuih malam itu lengang. Daging sate kambingnya sudah hampir habis, tinggal kuah yang tersisa. Sesekali ada juga ibu-ibu yang membeli kuah saja untuk dimakan pakai nasi. Ijuih tak pernah memberikan kuah satenya berlebih pada pembeli, meski pembeli minta ditambahi. Oleh warga kampung ia dikenal pelit dan kasar. Sepanjang hari tak masalah baginya mencaruti orang-orang yang tak disukai. Ponot, suaminya, sama saja tabiatnya. Hanya saja Ponot lebih sering diam daripada berceloteh seperti istrinya. Ponot bekerja sebagai kuli batu di sungai Kranci. Sepulang dari mengangkat batu, ia langsung membantu istrinya menyiangi daging dan menjual sate. Mereka berdua memiliki dua orang anak gadis yang masih kecil. Anak pertama, Isus, duduk di kelas lima SD. Sedangkan yang bungsu, Sari, masih berumur dua tahun. Ijuih kerap mengasari Isus dan Sari gara-gara hal sepele. Memukul pakai sapu, menjambak, menendang, menyundut pakai obat nyamuk bakar, lebih sering menyiram muka Isus dengan kuah sate yang baru keluar dari kuali. ”Sus, iriskan emak buluh buat tusuk sate!!” teriak Ijuih sambil mengaduk kuah sate matang. ”Aku mau pergi sekolah, Mak..” ”Eh, anak tak tahu diuntung, tolong sebentar saja tidak mau! Sini kau!!” ”Ampun, Mak, aku ada ulangan hari ini…” ”Ulangan-ulangan cirik!! Rasakan!!” “Aduhhhhhhh, panas.!!” Begitulah. Ponot juga sering mengasari dengan memukul Isus, namun bila perlu saja, sebab ia lebih sering mengalah dari istrinya. Sari yang sedang lucu-lucunya juga tak luput dari kekerasan Ijuih. Pernah ketika Sari tak bisa berhenti menangis, Ijuih menyumpal mukanya dengan selimut. Beruntung Ponot menyadari kalau perbuatan Ijuih sudah keterlaluan, lalu menyelamatkan Sari. Suatu hari Isus tidak pergi ke sekolah selama seminggu. Bukan karena sakit. Tapi karena ia malu dengan rambutnya yang dibotaki Ijuih akibat tidak mau menuruti perintahnya mencuri anak kambing tetangga sebelah. Waktu itu Ijuih benar-benar tak ada uang untuk membeli daging kambing lagi lantaran seluruh penghasilannya dibelikan sepeda motor. Uang sekolah Isus juga tak pernah dibayar lagi selama dua bulan. Kepala sekolah telah memperingati Isus berkali-kali tentang penunggakan uang sekolahnya ini. Kemudian Isus makin risih dan terpaksa tidak pergi ke sekolah. Padahal Isus selalu mendapatkan juara di kelasnya. Ia termasuk siswi berprestasi. Teman-teman dan guru-gurunya tidak pernah mau tahu. Isus hanya anak dari keluarga miskin, pikir mereka. Buku tak pernah membeli, hanya difotokopi, tidak pernah memberi hadiah kepada guru bila meraih rangking satu, dan telat bayar uang sekolah. Tanpa mundur Isus melanjutkan belajar di rumah. Ia akan terus berjuang demi meraih cita-cita yang pernah ditawarkan Emaknya dulu: menjadi Dokter. Masa kanak-kanak yang bahagia. Masa kanak-kanak yang sebenarnya ia rindukan. Ia rindu sosok Emaknya yang dulu. ”Iya, Isus mau jadi Dokter aja, Mak..” Penghasilan Ponot yang pas-pasan dan tidak menentu juga belum bisa membantu uang sekolah Isus. Untuk beli beras lontong dan makan saja kurang, apalagi untuk yang lain-lain. Ponot pun mencoba memanfaatkan motor barunya untuk menambah modal biaya kedai satenya dengan mengojek. Kebetulan kerja mengangkat batu belum ada. Namun dari pagi sampai malam, hasil mengojeknya minim sekali. Dipotong dari membeli bensin dan tetek bengek lainnya, hasil keringatnya cuma cukup untuk membeli modal membuat kuah sate. Itu pun tak seluruhnya. Karena sebagian lagi dipakai Ponot main judi domino di balai pemuda, ditambah biaya minum-minum dan makan supermi. Ya begitulah, sampai di rumah akhirnya ia pun tidak membawa sepeser pun hasil mengojeknya. Ijuih melemparnya dengan asbak kaca. Esoknya, kedai mereka tidak buka. ”Aku mau pergi ke Pekanbaru.” ”Mau apa kau ke Pekanbaru??” ”Aku mau cari kerja, di sana lebih banyak lowongan. Sekarang ini banyak saingan kuli batu. Aku kan tak muda lagi. Jadi tukang ojek juga tidak mencukupi. Pakai saja motor itu untuk pergi-pergi ke pasar.” ”Pergilah, asal tiap bulan kau kirim uang padaku! Kedai sate kita harus tetap buka.” ”Itu aman, kalau aku sudah dapat kerja. Aku percayakan Isus dan Sari padamu. Aku mohon, jangan terlalu menyiksa mereka. Mereka kan anakmu juga. Anak yang harus kau jaga dan kau sayangi. Oh ya, bagaimana daging yang mau dijual besok? Kau sudah dapat?” ”Daging mahal sekali sekarang. Aku akan coba lagi menyuruh Isus mengambil kambing tetangga itu. Lumayan untung, kan?” ”Ah, kau…” Kemudian besoknya Ponot pun pergi ke Pekanbaru bermodalkan satu tas pakaian dan sehelai kartu nama. Dia punya kenalan di sana, yang barangkali bisa memberikan pekerjaan layak. Berbulan-bulan setelah kepergian Ponot, di rumah, Ijuih mulai kebingungan. Kedai satenya belum bisa dibuka sebab belum ada biaya. Ponot juga tidak kunjung mengirim uang. Isus jadi sakit-sakitan lantaran tidak terurus. Siapa lagi yang bisa disuruh Ijuih selain Isus. Sari yang baru belajar berjalan tak mungkin bisa disuruh-suruh. Kerjaannya menangis terus-terusan dan membuat hati Ijuih geram. Lalu bagaimana dengan kedai satenya kemudian hari? Buka atau tidak? Malam harinya dia semakin bingung. Di bilik apek itu, Isus merintih kesakitan. Ijuih hanya bisa melempar kesal dan memakinya berkali-kali. Sari mengoek tak henti-henti. Ia kehausan dan sangat butuh air susu Emaknya. Ijuih makin kesal, emosinya tumpah. Diambilnya sehelai kain panjang, lalu dihempaskannya ke mulut Sari sekuat tenaga. Tubuh Sari berusaha berontak kecil, mengejang. Ijuih makin kesetanan. Dan sebentar saja Sari tidak lagi berdaya. Kehabisan napas. Ijuih menyeringai kesenangan. Dipandangi tubuh anak bungsunya itu. Manis, lucu… Ah, anak tak berguna, kesalnya. ”Masih kecil sudah bikin repot orangtua, apalagi sudah besar! Hidupmu tak berguna!! Mudah-mudahan matimu bisa berguna!” Pandangan Ijuih menerawang. Antara perasaan senang dan menyesal. Barangkali tak ada sama sekali sesal. Seringainya bertambah tajam. Dia bergegas pergi ke dapur. Menyiapkan dagangan untuk besok pagi. Kedai satenya harus dibuka kembali. Terdengar tangisannya yang perih. ”Eh, bu Ijuih sudah jualan lagi, ya? Sudah beberapa bulan tidak buka.” ”Sudah. Belilah sateku, jangan tanya-tanya saja!” ”Saya memang mau beli, kok. Bungkuslah satu porsi!” ”Nah, begitu. Saya tambahin satu tusuk.” Ijuih telah membuka kedainya dari pagi-pagi sekali. Tetangga yang lain berdatangan. Mereka butuh sarapan untuk anak-anak mereka yang akan berangkat ke sekolah, dan suami-suami mereka yang akan berangkat ke kantor. Seperti telah bertahun-tahun tidak mencicipi sate Ijuih. Semua orang kampung jadi rindu. Rindu sama satenya, bukan orangnya. ”Heh, daging sate bu Ijuih kok rasanya beda, ya?” ”Iya, ya. Beda sama yang kemarin-kemarin. Lain sekali rasanya…” ”Masih pakai daging kambing kan, Bu?” ”Jangan-jangan ibu pakai formalin…” ”Kanciang, enak saja kalian. Saya tidak pernah pakai formalin, tahu!! Kalau tak suka, pergi saja sana, tak usah dimakan!!” jawab Ijuih berang. Hari semakin siang. Masih ada saja tetangga yang datang membeli sate. Ijuih sudah siap dengan membuat porsi dagangannya berlebih. ”Bu, ngomong-ngomong, si Isus sama si Sari mana, Bu? Kok tak kelihatan dari kemarin?” ”Oh, eh.., si Isus demam-demam terus seminggu ini. Seharian tidur saja di kamar. Si Sari… si Sari dibawa bapaknya ke Pekanbaru. Daripada di sini, rewel melulu.” ”Ah, tadi malam saya masih dengar si Sari nangis-nangis? Kan sudah tiga bulan bapaknya pergi?” ”Ibu salah dengar barangkali? Si Sari sudah dari kemarin pagi pergi sama bapaknya.” ”Masak sih, Bu? Tak mungkin saya salah dengar. Jangan-jangan, suara hantu… Hiiii…” Ijuih lega. Berkali-kali ia ketar-ketir bila ada yang menanyakan tentang kedua anaknya. Sifat pemarahnya hilang seketika demi mengalihkan perhatian tetangga-tetangga agar tidak menyinggung soal Isus dan Sari. Namun, kali ini jantungnya hampir berhenti saat mendengar pekikan Isus dari dalam rumah. Suasana kedai yang mulai sepi menjadi riuh lantaran orang kampung penasaran apa yang terjadi. Isus dengan badannya yang kian kurus memakai selimut berlari ketakutan keluar rumah mencari Ijuih. ”Ada kepala!! Ada kepala di dalam panci, Mak!!” *** Ilalangsenja Padang, 30 Januari 2006