Saat Bintang Pergi
Cerpen : I Gusti Ayu Prima Wirayani

Aku berjalan pelan dengan kepala menunduk memperhatikan paving stone yang kutapaki. Malam belum beranjak larut. Lampu-lampu penerang jalan membentuk bayangan panjang tubuhku. Kesibukan khas kota metropolitan membuatku teracuhkan.

Aku sibuk dengan pikiran dan kegundahanku sendiri. Sesak di dadaku semakin menjadi. Jantungku seperti diremas-remas. Tanpa kusadari air mataku bergulir perlahan. Tangis yang berusaha kutahan selama ini akhirnya tumpah juga. Aku menangis sesegukan sambil terduduk di atas trotoar.

“Harus berapa kali Ayah katakan, heh? Ayah tidak suka melihat kamu dekat-dekat dengan anak itu! Entah siapa namanya. Bintang, Bulan atau apalah, Ayah tidak peduli! Pokoknya kamu tidak boleh dekat-dekat dia lagi!”

Ayah naik pitam setelah ia memergokiku membonceng Bintang sepulang sekolah tadi. Ia langsung menyerbuku dengan omelan kasarnya begitu aku tiba di depan pintu ruang tamu. Ia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara.

“Yah, sudah…. Biarkan El ganti baju dulu. Nanti kita tanyai lagi.” Ibu berusaha menenangkan ayah. Aku tahu ibu lebih berpihak pada ayah dibandingkan padaku. Tapi, ibulah yang lebih mengerti dan dekat denganku. Aku juga tahu ibu sering bercerita pada ayah tentang isi curhatku padanya. Pernah sekali waktu aku memrotes ibu ketika tahu ia telah menceritakan perihal hubunganku dengan Bintang. Dan sudah bisa kutebak, ayah sangat marah saat itu.

“Tidak bisa! Anak ini tidak bisa diberi tahu. Dia sudah terlalu manja! Sudah tidak mau mendengar kata-kata orang tua lagi!” Kata-kata ayah mulai memerahkan telingaku. Aku hanya menunduk agar ia tidak melihat wajahku yang mulai memerah menahan amarah.

“El, jawab Ayah! Siapa Bintang itu?” Aku tersentak. Inilah pertanyaan yang paling aku takutkan. Aku terdiam. Ingin rasanya aku menghilang dari muka bumi saat itu juga agar terhindar dari pertanyaan mematikan itu.

“El! Jawab Ayah! Siapa dia?” Ayah mulai membentakku. Kuangkat kepalaku. Aku melihat ibu memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti maknanya. Lalu, kutatap ayah. Wajahnya benar-benar mengekspresikan kemarahan yang luar biasa. Matanya memandangku tajam. Aku berdehem. Tenggorokanku terasa kering dan perih.

“Bintang bukan siapa-siapa, Yah. Dia hanya teman El,” jawabku. Aku berusaha menyembunyikan getaran dalam suaraku yang mungkin membuatku terdengar bersalah.

“Bohong! Ayah tahu kamu menyembunyikan sesuatu!” Ayah menghardikku. Aku merasakan bahuku berguncang tak terkendali, wajahku terasa makin panas.

“Yah, tadi Bintang sakit. Jadi, El yang mengantar dia pulang,” aku beruasha menjawab dengan tenang. Ayah masih menatapku dengan ekspresi meragukan. Amarah itu belum sirna dari matanya. Aku memberanikan diri menatap matanya untuk meyakinkannya walaupun aku tahu mataku tidak bisa berbohong.

“Yah, El sudah menjawab. Sekarang biarkan dia istirahat dulu,” ucap ibu memecah keheningan di antara kami. Ayah memalingkan wajahnya dariku dan hal itu diartikan oleh ibu sebagai tanda setuju.

“El, cepat masuk kamar,” kata ibu lagi.

Aku bergegas masuk kamar sebelum ayah berubah pikiran. Kuhempaskan tas dan tubuhku ke atas tempat tidur. Kupandangi langit-langit kamarku. Udara siang itu sedang panas-panasnya. Baju seragamku terasa basah oleh keringat. Pikiranku melayang pada sosok Bintang. Sudah empat bulan ini kami berpacaran dan kami berdua terpaksa merahasiakannya dari orang tua kami. Sebab, mereka pasti tidak akan setuju. Tapi, aku tidak boleh menyerah! Aku akan terus bertahan sekuat tenaga karena semua ini demi kebahagiaan Bintang.

Bintang tampak tidak sehat hari ini. Wajahnya agak pucat. Tapi ia tetap tersenyum seperti biasa, ketika ia menghampiriku di depan perpustakaan. Aku menunggunya di sana karena kulihat ia sangat sibuk mengurusi teman sekelasnya yang akan mengikuti lomba drama antarkelas. Ketika ia melihatku duduk sendirian menunggunya, ia segera menghampiriku. Tentu saja dengan senyum manisnya.

“Udah selesai, Ta?” tanyaku setelah ia duduk di dekatku.

“Tinggal dikit. Tapi, udah diurus sama yang lain. Tenang aja, El,” jawabna sambil tersenyum. Wajahnya terlihat makin pucat. Aku menjadi khawatir melihat kondisinya.

“Ta, kamu sakit, ya?” tanyaku. Ia tersenyum lagi.

“Ya, nih. Agak demam. Kayaknya tensiku dropp lagi.”

Kusentuh keningnya. Agak panas memang. Tapi, Bintang berusaha tetap terlihat sehat. Berkali-kali ia meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. Tapi, matanya tidak bisa berbohong. Ia terlihat sangat gelisah, mungkin menahan rasa sakitnya.

“Ta, kamu nggak apa-apa, kan? Kamu kelihatan gelisah banget,” tanyaku pelan.

“Nggak, aku nggak apa-apa, kok. Aku ambil minum dulu, ya. Kamu tunggu di sini aja. Aku nggak lama, kok,” ujarnya.

Aku hanya mengangguk. Ia lalu menuju kelasnya. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan segelas air mineral di tangannya. Ia menawariku tetapi aku menolaknya dengan halus. Aku benar-benar mengkhawatirkan kesehatannya. Sudah dua bulan ini ia selalu terlihat pucat dan lemah. Tapi, Bintang memang gadis yang kuat. Tak sekalipun aku mendengarnya mengeluh. Sebaliknya, ia selalu berusaha terlihat ceria dan kuat.

“Ta, hmmm… aku mau tanya sesuatu sama kamu.”

Bintang memandangku.

“Ta, nanti kalau kita udah lulus kuliah dan aku udah dapet kerjaan, kamu mau nggak nikah sama aku?”

Raut wajah Bintang berubah. Ia pasti tidak pernah menyangka aku akan menanyakan hal ini. Ya, ini memang bukan pertanyaan yang biasa dilontarkan oleh seorang siswa kelas 3 SMA. Wajar saja bila ia terkejut mendengarnya. Aku menunggu jawabannya dengan perasaan yang tidak menentu.

“Hmm… kalau memang itu jalannya… ya, Helios Anugraha, I want to marry you,” jawabnya.

Aku menghela napas lega. Bukan main senangnya hatiku! Wajahku memerah karenanya. Bintang hanya tersenyum dan pipinya mulai bersemu merah jambu. Manis sekali. Untuk sesaat dunia rasanya sangat bersahabat bagi kami berdua. Namun, itu tidak lama. Bintang tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Aku menjadi panik dan kulihat wajahnya semakin pucat.

“Kamu kenapa, Ta?”

Bintang tidak menjawab. Sepertinya ia berjuangkeras melawan rasa sakitnya yang teramat sangat. Ah, ada darah mengalir dari hidungnya! Aku semakin panik. Tanganku gemetar saat mengusap darah itu.

“Ta, kenapa? Kenapa bisa berdarah? Ta….”

Bintang terlihat makin lemah. Kesadarannya menurun, kemudian benar-benar tak sadarkan diri. Aku panik dan berteriak minta tolong. Beberapa orang siswa segera membantuku membawa tubuh Bintang ke ruang BK. Tak lama terdengar sirine ambulans menuju gerbang sekolahku.

Bintang masuk ruang ICU. Aku sangat shock. Aku tidak tahu Bintang sakit apa. Dokter masih memeriksanya.

“Bu, bagaimana keadaan Bintang?”

Aku menoleh ke arah suara itu. Rupanya kedua orang tua Bintang yang datang. Mereka bertanya pada Bu Yuni, wali kelas Bintang, yang ikut menungguinya. Kecemasan membayang di wajah mereka. Mata ibunya terlihat sembab.

“Kami belum tahu, Bu. Dokter masih memeriksanya,” jawab Bu Yuni.
Ayah Bintang terduduk lesu di kursi ruang tunggu. Pemandangan itu makin menyesakkan dadaku.

“Bu, sebenarnya Bintang sakit apa?” tanya Bu Yuni.

Aku tersentak. Pertanyaan itulah yang sedari tadi menggoda rasa ingin tahuku. Kulihat ibu Bintang menghela napas.

“Bu, dua bulan lalu Bintang didiagnosa terkena leukemia dan kondisinya makin hari makin buruk. Saya… saya takut.”

Ibu Bintang terisak lagi. Bu Yuni berusaha menenangkannya. Saat itu jantungku terasa berhenti berdetak, kepalaku pusing, dan pandanganku menjadi kabur. Hatiku hancur, sangat hancur. Dadaku terasa sesak dan perih. Air mataku mulai menitik. Kubenamkan wajahku di antara lututku.

Tiba-tiba dokter keluar dari ruang ICU. Kami semua yang menunggu memandangnya penuh harap. Dokter hanya menggeleng dan menyatakan Bintang ada dalam kondisi kritis saat ini. Ia sedang berjuang melawan sel-sel kanker di tubuhnya.
Mendengar itu tubuhku terasa makin lemas. Aku ingin menangis keras-keras tapi kutahan sebisaku. Aku tidak ingin Bintang mendengarku menangis. Kulihat kedua orang tua Bintang masuk ke ruang ICU itu. Aku memaksa tubuhku untuk bangkit dan berjalan. Dengan gontai aku mendekati dinding kaca ruangan itu dan melihat Bintang tergolek lemah di dalamnya. Berbagai alat bantu terpasang di tubuhnya.

Sejak bintang sakit aku tidak pernah lupa untuk mengunjunginya. Kedua orang tuanya akhirnya tahu hubungan kami. Mereka terkesan tidak begitu menyukaiku. Tapi, keadaan Bintanglah yang membuat mereka mencoba untuk menerimaku. Hal ini sedikit mengurangi beban pikiranku.

Kondisi Bintang mendadak turun drastis. Kami semua panik dibuatnya. Ibunya mulai menangis dan aku hanya bisa berdoa dengan perasaan yang sangat buruk. Teman-teman Bintang mulai berdatangan. Aku sengaja pergi keluar, karena suasana itu hanya menambah kesedihanku.

“Beep… Beep….” Ponselku tiba-tiba berbunyi. Titan, salah satu kawanku, meneleponku. Perasaanku mendadak jadi tak enak.

“Ada apa, Tan?” tanyaku padanya.

“El,” suaranya terdengar panik. “Cepat balik ke rumah sakit! Bintang….”

Aku tak menunggu kata-katanya selesai. Aku segera berlari secepat-cepatnya. napasku nyaris putus ketika tiba di depan ruang ICU. Teman-teman Bintang menangis sambil berpelukan. Jantungku makin keras berdetak. Tubuhku terasa dingin. Terlambatkah aku?

Dengan gontai aku memasuki ruang ICU. Aku mendekati Bintang dan terpaku menatap sosok Bintang yang tak berdaya itu. Wajahnya pucat. Kugenggam tangannya. Tiba-tiba aku sadar apa yang sedang aku hadapi. Bintang menungguku. Lama aku memandangnya sebelum akhirnya kuikhlaskan kepergiannya.

“Ta, ini El. Ta…,” suaraku hampir tak terdengar, “Bintang sayang, aku… aku rela, aku ikhlas, Ta… Yang penting kamu nggak sakit lagi. Aku udah rela, aku sayang kamu, Ta… sayang banget….”

Sekilas kulihat ia tersenyum untuk terakhir kalinya.

“El, suatu saat aku akan menjadi bintang yang paling dekat denganmu.” Kata-kata Bintang terngiang kembali di telingaku saat kuantar ia menuju tempat peristirahatan terakhirnya. “Dan aku akan menunggu saat itu tiba,” gumamku pelan sambil tersenyum. Hidup memang harus terus berjalan. Itu yang diajarkan Bintang padaku.

* * *

Cerpen di atas adalah juara pertama Lomba Penulisan Cerpen Festival Kreativitas Pelajar Indonesia 2005 yang diadakan oleh STIE Widya Wiwaha Yogyakarta bekerja sama dengan Harian Republika. Selain cerpen karya I Gusti Ayu Prima Wirayani (siswi SMAN 1 Selong, NTB), dewan juri tahap final yang diketuai oleh Ahmadun Yosi Herfanda juga memilih cerpen Oh Ayah karya Lilinesia (SMAN 7 Pontianak, Kalbar) sebagai juara kedua, dan Jangan Cengeng Rika karya Vanya Nabila Ayura (SMAN 1 Binjai, Sumut) sebagai juara ketiga. Sedangkan juara harapan 1, 2 dan 3 adalah cerpen Berkata Dalam Diam karya Ririn Afrianti Lubis (SMAN 7 Pontianak), Kursi Jabatan Maksiat karya David Tandri (SMA Metodhist 2 Medan), dan Sakaw karya Lalu Abdul Fatah (SMAN 1 Selong, NTB).

( )

Iklan