Singa yang Anggun
Cerpen Hudan Hidayat (Sumber: Media Indonesia, Edisi 06/11/2006)

KALAU aku mati di negeri dingin ini, tak kan ada yang peduli. Kota hanya sebatas pandang. Kabut dengan pecahan salju. Semata putih. Tubuhku tak kan kuat. Jaket musim dingin yang kubeli 10 tahun yang lalu telah lusuh. Tak kan kuat juga menahan dingin yang ganas.
Oh dinginnya. Gigiku gemeretak menahan dingin. Tubuhku ngilu. Aku akan segera mati kalau tidak masuk gedung kota ini. Tapi gedung mana yang akan kumasuki? Semua terkunci untukku. Mengunciku di luar cuaca. Aku berjalan terhuyung-huyung di jalan yang agak mendaki. Beberapa orang berjalan menyusulku. Seorang perempuan dengan pakaian musim dingin yang lengkap tergesa-gesa mengambil kuncinya dari saku jaket berbulu. Kunci itu jatuh dan dengan cepat tangannya yang bersarung tangan hitam tebal mengambil kunci itu kembali. Kunci terjatuh lagi. Kudengar perempuan itu mengeluarkan makian. Sialan. Kunci masuk dan pintu kaca yang tebal itu terbuka. Perempuan itu dengan cepat menghilang ke dalamnya. Kata-kataku mengambang oleh dingin.
“Nona, ajak aku ke dalam juga. Meski aku hanya tidur di tangga. Kau masuklah ke kamarmu. Aku cukup di tangga saja.”
Terlambat. Aku mencoba mendekat ke pintu kaca. Mengetuk-ngetuknya dari luar. Sejenak perempuan itu membalik.
Benar. Begitu nona. Membaliklah ke sini. Aku juga butuh ruang ini. Untuk sepotong tubuhku, meringkuk di pojok. Aku memang lapar. Tapi sekarang hanya butuh ruang. Biarlah laparku kuurus besok pagi. Sekarang selamatkan aku dari cuaca ini.
Terlambat lagi. Perempuan itu hanya memandang heran, lalu setengah berlari menuju lift di ujung sana. Menekannya dan menghilang ke dalam lift. Aku memaki.
“Kejamnya kamu. Berbalik benar dengan wajahmu yang lembut itu. Kau biarkan aku menahan dingin. Mengapa Nona? Bukankah aku tidak pernah bersalah padamu? Mengapa tidak kau ajak aku masuk ke dalam? Kalau aku masuk aku tidak akan mengganggu. Kalian penghuni gedung ini tidak akan tahu kalau aku ada di dalam. Aku hanya butuh meringkuk di bawah tangga. Besok ketika orang pertama membuka pintu, aku menjadi orang kedua yang melewati pintu. Jadi aman bukan? Oh Nona, kau salah besar tidak mengajak aku ke dalam sana.”
Bayang-bayang kejadian di negeriku sekilas-sekilas datang padaku. Apakah ini alamat kematian? Aku sudah 10 tahun berjuang melawan musim dingin. Apakah ini perjuanganku yang terakhir? Apakah perempuan itu sudah melihatku sebagai orang mati, sehingga ia menjadi takut untuk sekadar membukakan pintu?
Oh Tuhan, di mana Kamu? Tidakkah Kamu tahu aku melawan dingin yang membuat darahku membeku? Beri aku ruang. Mungkin aku banyak dosa. Tapi sekali ini, selamatkan aku. Aku ingin mati di negeriku sendiri. Aku rindu pada mereka. Aku akan datang pada mereka. Mengaku bersalah dengan hidupku. Kalau mereka mau menerimaku kembali, aku akan jadi ayah yang baik. Sangat baik. Hari-hariku hanya untuk mereka.
Sudah besarkah anak lelakiku? Mustinya sudah besar. Waktu sepuluh tahun cukup untuknya berbicara dengan benar. Mungkinkah dia akan memanggilku ayah? Mungkin saja. Bagaimanapun juga dia kan anakku. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin istriku sudah menganggap aku melarikan diri. Kenyataannya aku memang melarikan diri. Dan kini mungkin dia menganggap aku sudah mati. Jadi tidak ada ayah lagi dalam keluarga kami. Atau mungkin mereka sudah mendapat ayah yang lain.
Oh Tuhan. Selamatkan aku dari musim dingin ini. Aku rindu pada mereka. Ingin melihat mereka dari dekat. Tidak dalam bayang otakku seperti sepuluh tahun terakhir ini.
Di sana kami punya rumah yang bagus. Indah, kuat dan kokoh. Kalau saja rumah itu bisa dipindahkan ke negeri ini, aku dengan cepat akan berlari menuju rumahku sendiri.
Dengan cepat pula aku akan memanggil istri dan anakku. Mereka akan membukakan pintu dan istriku akan menyiapkan air hangat untukku. Aku akan minta tolong pada anak perempuanku membuatkan minuman kesukaanku. Teh manis yang kental. Ai asyiknya. Kalau saja rumahku dapat dipindahkan ke sini. Saat aku kedinginan seperti ini anak lelakiku satu-satunya itu akan berteriak-teriak melihat aku pulang: papa pulang! mama papa pulang! Teriakan dan lonjakannya membuat suasana menjadi hidup. Lebih dari cukup untuk melawan musim dingin.
Tapi mereka tidak ada di sini. Terpisah oleh jarak antarbenua. Hanya aku dengan musim dingin di sini. Menyesali semua yang terjadi. Tapi aku tidak boleh begitu menyesal. Bukankah hidupku indah juga, meski pahit. Bukankah ini hidup yang kukehendaki sendiri. Jadi aku harus menanggungnya. Tidak usah melibatkan mereka. Aku memang tidak mau melibatkan mereka. Aku hanya terkenang apa yang pernah kumiliki. Tidak ada yang salah dengan kenangan, bukan?
Aku berhenti memikirkan mereka, ketika aku merasa dadaku seolah terputus. Seolah aliran nafasku tersumbat. Aku merasa seluruh musim dingin mengirimkan dinginnya terburuk dan musim itu kini serentak memasuki sekujur tubuhku. Membuat tubuhku menggelepar. Sia-sia aku menahan kakiku agar tidak terjatuh.
Aku sempat berpegangan pada dinding sebuah gedung yang megah. Tanganku meraih patung singa yang anggun. Kumis singa itu mengelus wajahku. Kalaulah aku tidak seperti ini, akan kubalas belaian singa itu. Kubelai dengan sayang. Mungkin singa itu capek juga terpacak di situ. Mungkin dia ingin bebas sebagai singa, bukan sebagai patung yang tak bergerak. Kebebasannya membuat dirinya mengaum dan berlari ke sana kemari. Ia akan melonjak dan aku dengan girang akan mengikuti lonjakannya. Berlari di padang rumput mana saja di belahan dunia. Oh senangnya. Tapi singa itu hanya berhenti sebagai patung, terpacak dan tidak bergerak di tempatnya. Seperti aku kini, terpacak dan tidak bergerak di tempatku. Nasib kita sama, wahai singa yang anggun. Kau berhenti sebagai singa menjadi patung. Aku berhenti sebagai manusia menjadi orang putus asa.
Aku diam tidak bergerak, memeluk singa itu, ketika kudengar seorang pria berhenti di belakangku, berkata pada wanitanya.
“Sudah matikah dia? Kita harus lapor polisi!”
“Tidak. Dia tidak mati. Dia hanya berjuang melawan dingin. Lihat tubuhnya membeku!”
“Ayo sayang, rumah kita tak jauh lagi. Peluklah aku erat-erat di dalam sana. Belailah sesuka hatimu.”
“Tapi sayang, kasihan lelaki ini. Mungkin dia butuh pertolongan.”
“C’mon honey, what happen with you!”
Mereka berlalu. Kudengar langkah sepatu hilang meninggalkanku.
Mungkin aku sudah mati. Entahlah. Aku tidak menyadarinya lagi. Aku hanya mendengar suara sirene mobil polisi seperti dalam mimpi. Seolah aku tidur panjang dan kudengar suara sirene itu datang padaku. Lalu pintu mobil dibanting dan langkah-langkah yang berat mendekat ke arahku. Kudengar suara salah seorang polisi itu berkata:
“Aha, kita mendapat gelandangan lagi. Ayo, kita lemparkan dia ke mobil. Nanti orang jenazah akan mengurusnya!”
* * *
Barcelona, 18 Januari 06

Iklan