Lelaki yang Jatuh Cinta Tiap Hari
Cerpen Hermawan Aksan (Sumber: Pikiran Rakyat, Edisi 08/19/2006)

NA, kau datang seperti bidadari yang meluncur dari pelangi, berselendang rangkaian kata-kata yang berwarna-warni. Kau ungkapkan sekian pertanyaan, yang membuatku makin bergairah. Sebab, aku sesungguhnya ingin menulis di tubuh Nay. Sungguh hanya berbeda satu huruf. Tapi bahkan satu karakter kecil pun akan membuat perbedaan yang seperti jurang. Kepak kupu-kupu di taman rumahmu bisa menyebabkan badai di bibir pantai.

Dia mungkin tak menganggap penting keinginanku. Boleh jadi dia memang tidak membaca keinginanku. Tidak masalah. Dan kalau justru kau yang ingin aku menulis di tubuhmu, aku akan segera menulisnya. Sebab, Nay, kau, atau siapa pun lainnya memiliki kejelitaan istimewa yang selalu membuatku jatuh cinta.

Dan inilah kisahku. Bacalah. Rasakanlah rangkaian huruf-huruf yang membentuk kata-kata di sekujur tubuhmu. Mungkin aku tak perlu memberinya judul. Aku hanya ingin berkisah tentang seorang lelaki yang jatuh cinta tiap hari. Tidak seperti kisah lain yang kutuliskan dengan tinta atau melalui tarian jemari di papan ketik, kalimat ini sudah muncul di kepala jauh mendahului kisahnya.

Namun kalau aku bilang jatuh cinta tiap hari, bukan berarti aku berkisah tentang lelaki yang senang mempermainkan cinta. Mungkin malah sebaliknya, dialah yang dipermainkan cinta. Kalaupun benar demikian, ia –baiklah, lelaki itu memang aku– tak akan mengeluh atau menyesalinya. Aku selalu bahagia meski dalam pusaran badai cinta.

Meski demikian, seperti kataku, aku hanya akan menulis kisah yang sederhana. Sebab, kisah yang rumit, apalagi dengan pretensi yang terlalu muluk, hanya akan menyebabkan keindahan sulit lagi dinikmati. Aku hanya ingin menulis sesuatu yang bisa dirasakan keindahannya meski sederhana. Sebab, kalaupun orang lain gagal menyesap keindahannya, biarlah hanya kita –aku dan kau– yang merasakannya. Hanya satu yang kupahami dalam hal ini: bukankah cinta itu sederhana?

Entah kapan berawal, aku selalu tenggelam dalam kebahagiaan oleh lautan kata-kata. Setahun lalu? Sepuluh tahun lalu? Dua puluh? Mungkin ketika aku mulai berenang dalam kata-kata yang dituliskan Din. Kata-kata dan kalimatnya yang lembut dan santun justru membuatku kerap terbanting-banting dalam gairah. Tapi aku tak bisa mengenali apakah aku jatuh cinta. Dia terlalu indah, terlalu jauh dan tinggi, tak mungkin kugapai. Mungkin juga karena dia terlalu klasik, seperti keramik Cina.

Kemudian pada saat yang hampir bersamaan, aku terbuai oleh samudera kata-kata Lei dan Sha. Mereka adalah remaja yang luar biasa, yang bisa membuatku menjadi arca hanya dengan mantra berupa kata-kata. Aku tak pernah berjumpa dengan Lei. Tapi dengan Sha bertemu muka berkali-kali, tanpa kusadari. Maksudku, kami, aku dan Sha, pernah sekian kali berada dalam satu ruang yang sama, tapi baru pada saat-saat terakhir aku tahu bahwa dia Sha. Bahwa dialah gadis yang menggunakan nama samaran Sha. Sha yang selalu kukagumi tiap aku meneguk kata-katanya.

“Kamu Sha yang suka menulis itu?”

Dia mengangguk dengan wajah tersipu. Pucuk pipinya memerah. Aku memandangnya dalam diam seraya berharap agar waktu berhenti.

Namun waktu terus berlari dan Sha pergi.

Sampai sekarang nama Lei dan Sha tak pernah lekang. Namun aku tak pernah bisa lagi membaca kata-kata mereka. Ke mana mereka? Aku tak rela kalau keduanya tak lagi menuliskan kata-kata hanya karena waktu yang melesat seperti peluru.

Cukup lama aku seperti melayang di ruang antarbintang yang hampa dan tanpa gravitasi. Tangan menggapai-gapai tak sampai. Apakah aku merindukan Sha? Mungkin tidak benar-benar begitu. Aku merindukan kata-katanya.

Dan kemudian muncul Ti seakan-akan menjelma dari ketiadaan, bagaikan Big Bang. Seperti simsalabim. Dia gadis belia yang membuatku terpana-pana. Aku mabuk oleh rangkaian kata-katanya. Aku sangat menikmatinya. Tak puas-puasnya aku berenang di kolam kata-kata yang dia bangun di tamannya. Kau tahu? Kata-kata Ti yang tegas, variatif, dan kerap tak terduga seperti anggur yang justru selalu membuatku dahaga. Apakah Ti membangun tamannya dalam semalam seperti halnya Sangkuriang? Orang-orang memang banyak yang dengan sinis menilai bahwa Ti sekadar mengucapkan dan menuliskan kata-kata seseorang entah siapa. Tapi aku tidak percaya. Aku yakin semua itu adalah kata-kata Ti belaka.

Kami pernah berjumpa dan dengan mataku aku menyapanya. Dia benar-benar cantik seperti boneka. Menyentuh tangannya, rasanya seperti menyentuh sesuatu yang rapuh tapi sangat berharga. Namun aku tidak tahu apakah Ti memahami tatapan mataku. Dan dia tak pernah membalas sapaan mataku sampai kemudian lenyap entah ke mana. Apakah dia dan kolam kata-katanya larut kembali di ruang hampa? Sampai sekarang aku masih merindukannya. Aku masih yakin bahwa Ti akan muncul kembali dengan kolam kata-katanya yang baru yang membuatku kembali jatuh cinta.

Dan aku masih menunggu Ti ketika datang Mi menyapaku dengan kata-katanya yang mengguncang dada. Bahkan mengguncang dunia. Setidaknya, dunia kata-kata. Seperti kuda bersayap penuh gairah, Mi menerjang menembus batas-batas. Dengarkan kata-katanya: setiap kali aku berhubungan dengan tubuh yang masai tanpa daya itu, menyentuh permukaannya yang kesat, kelaminnya yang menyisakan lembab…. Ah, begitu mengagumkan, mendebarkan, mencekam, sekaligus mengoyak. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta kepadanya? Meski kali ini, cinta dalam multimakna.

Seperti halnya Ti, Mi juga diserang oleh sementara orang: bahwa dia hanya mengucapkan kata-kata seseorang yang berbisik di belakang. Ah, aku sekali lagi tak percaya. Serangan demikian hanyalah disemburkan oleh mereka yang cemburu dan kering oleh kata-kata.

Lalu, seperti di udara senja ketika hujan reda, beterbangan laron-laron bersayap sama menyemburkan kata-kata yang senada. Warnanya memang beraneka, tapi garis-garis sayapnya, mungkin juga baunya, sama belaka. Satu-dua mencoba berbeda, toh muaranya itu-itu juga.

Dan aku jatuh cinta lagi. Terus-menerus. Laron-laron yang mengagumkan.

“Wahai kau yang sedang dimabuk cinta, berikanlah padaku setetes apa yang kaureguk. Di kala kau terjatuh nanti, aku akan tahu rasanya limbung tanpa harus terpuruk,” kata Di suatu hari.

Ah, buat Di, apa yang takkan kuberi? Jangankan hanya setetes. Bahkan segelas –atau sekolam– akan kupersembahkan. Meski aku akan terperas menjadi hanya kulit dan tulang, aku akan tetap bahagia.

Tiap hari, tiap saat, kata-kata mengalir dari sumber entah di mana yang tak pernah kering. Dan tiap saat pula aku berenang di dalam kata-kata, berkecipak-kecipak, meluncur, menenggelamkan diri, menyembul menghirup udara, lalu kembali menyelam mencoba menggapai dasar yang tak juga tersentuh.

Tak lelah aku menyelam. Biarlah selamanya aku tenggelam.

Kemudian Ning.

Lalu Sa.

Cha.

In.

Wi.

Fan.
Lan.
Rie.
Tam.
Dan entah siapa lagi.

Semuanya membiusku. Semuanya mengguyurku dengan keindahan kata-kata.

Dalam kata-kata, aku tiap hari jatuh cinta.

Dan kemudian memang Nay.

Dia sebenarnya tak berbeda. Namun tetap istimewa –bukankah tak selalu tiap soal memiliki alasan yang rasional? Meskipun dia hanya punya cerita pendek tentang cerita cinta pendek, aku tak pernah berhenti mengerang oleh lesatan kata-katanya. Dia bilang cerita cintanya terlarang bagi mereka yang merasa mengerti tentang cinta. Aku tak benar-benar mengerti tentang cinta, tapi aku tetap tenggelam dalam kata-katanya. Pada saat yang sama, keningku, lidahku, leherku, dadaku, perutku, pahaku, betisku, berdarah-darah oleh anak-anak panah kata-katanya.

Tapi aku bahagia tenggelam dalam darah yang bercampur kata-katanya.

**

BEGITULAH, Na, kisahku yang akan kutuliskan di tubuhmu. Bisa kubayangkan sebuah puncak ekstase ketika aku menyelesaikannya.

Dengan demikian, mestinya kau tidak menilaiku menganaktirikanmu meski kau bilang kita hidup dalam peradaban yang menganaktirikan kaummu. Tentu saja kau punya hak dan kuasa atas tubuhmu. Bukankah aku sekadar menulis tubuhmu dengan ujung jariku? Dan bukankah aku menulisnya dengan maksud menambah indah tubuhmu?

Sekarang, aku harus rela memperpanjang waktu sebelum kita mati di puncak cinta. Sebab, kau sendiri justru ingin menulis di tubuhku. Kau ingin kita saling tulis di tubuh kita. Apa yang akan kau tuliskan di tubuhku? Tentang realitasmu?

Ayolah, apa saja, tulislah. Realitas atau fiksi, aku tak peduli. Aku memang sulit memilah fiksi dari realitas. Aku selalu mempertukarkannya. Sering, ketika aku menulis sebuah fiksi, aku merasa bahwa aku sedang menciptakan realitas. Namun sebaliknya, ketika aku menghadapi realitas, aku merasakannya sedang membaca sebuah fiksi.

Tulislah apa pun di tubuhku –kalau kau memang mau. Mungkin aku tak perlu membaca dengan mataku. Aku akan memejamkan mata. Sebab, tanpa menatap huruf-huruf yang kautuliskan, aku akan bisa membaca kisahmu.

***

Bandung, Juni 2006

Cerpen ini merupakan jawaban atas cerpen Safrina Noorman berjudul “Aku Ingin Membaca Tulisanmu di Tubuhku” yang dimuat di Khazanah edisi 27 Mei 2006.