Ikan dalam Kabut

Cerpen: Herlino Soleman (Sumber: Kompas, Edisi 05/19/2002)

ADA satu hal yang ingin kukatakan secara khusus bahwa selama ini aku selalu terpesona oleh kabut. Setiap kali melewati dataran tinggi berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan kabut mengambang dekat di atas permukaan tanah, aku selalu terpesona olehnya. Secara sederhana aku pernah menerjemahkan keterpesonaanku atas kabut adalah bahwa kehadirannya selalu identik dengan kesejukan, hijau perbukitan, dan oleh karenanya aku selalu terbawa pada suasana khayali yang membuatku merasa menempati puncak ekstase kesegaran. Mungkin saja hal ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa setiap kali melihat kabut aku selalu teringat pada perkebunan kopi milikku yang kini hanya kunikmati dalam angan-angan. Semerbak wangi kembangnya, bening air pancuran di tengah-tengah perkebunan kopi itu, dengan suara gemericiknya melantunkan nyanyian yang selalu melambaiku pulang, memberikan nasihat yang baik tentang hidup yang baik. Tak jelas benar apakah itu berarti hidup dengan kicau burung-burung, semilir angin, hijau tumbuhan, dan hamparan kabut yang mengapasi dedaunannya. Hidup yang kuangankan dan selalu hanya ada dalam angan-angan. Entah telah berapa tahun aku tinggal di Jepang sebagai penduduk gelap, namun beruntung menjadi sahabat Yoshida Tua, mantan bos-ku yang telah pensiun beberapa tahun yang lalu. Apresiasiku atas kabut yang seperti itulah yang hampir setiap akhir pekan membawaku ke sebuah tanjung besar berbukit-bukit dan menginap di vila milik Yoshida Tua yang secara aneh memberikan kebebasan kepadaku untuk menginap di vilanya, seperti sekarang ini. Mungkin pula karena dengan demikian vilanya dapat terawat dengan baik karena aku memang suka membersihkannya. Mulanya kami cuma sekadar kenal biasa, aku kuli dan ia bos yang berhak menghitamputihkan nasibku, tetapi sejak aku datang pada upacara penguburan kotsutsubo istrinya, dan setelah itu sering menemaninya ngobrol, kami menjadi akrab. “Jadilah kau sahabatku yang baik setelah ini dan aku bukan lagi bos sebagaimana sebutanmu selama ini!” katanya. Saat itu aku cuma diam memandangnya. Juga ia diam memandangku dengan mata tuanya yang mulai rabun. Meskipun dengan tulus ia memintaku menjadi sahabatnya yang baik, aku selalu menghindar jika ia ingin berbicara tentang negeriku. Memang ia selalu mengatakan bahwa cacat negerinya itu tak mungkin sirna, meski pemerintah negerinya berusaha menghilangkan aib dengan mengajarkan beberapa bagian sejarah yang palsu, yang bagiku berarti ia menyesali betul kesalahan negerinya atas negeriku di masa lalu, aku selalu berusaha menghindar jika ia ingin berbicara tentang negeriku. “Sekaruno itu…” “Soekarno, Soeharto, atau makhluk aneh dari jenis apa pun aku tak mau menanggapi pembicaraanmu tentang negeriku, Yoshida Tua! Mari kita bersahabat dengan melepaskan negeri masing-masing. Jika kita bicara juga, paling-paling kau akan menyesali masa lalu sambil memuji-muji indahnya alam negeriku, sementara kau menjadi grogi jika kukatakan negerimu sebagai bekas penjajah yang kemudian berusaha menjadi pahlawan dengan menimbun modal di negeriku lewat orang-orang goblok yang duduk di elite pemerintah negeriku di masa lalu dan te-rus berlanjut sampai sekarang hingga jika bisa membayar secara normal pun utang negeriku baru bisa lunas sete-lah tiga-empat generasi!” Kataku ketika ia memaksaku berbicara tentang negeriku. “Kau terlalu berprasangka! Aku benar-benar terpesona oleh alam negerimu!” “Semua itu sudah berlalu, Yoshida Tua. Mungkin dalam arti harfiah memang alam negeriku masih indah, tapi apakah bisa disebut keindahan jika para penghuninya cuma memahami kalimat-kalimat pendek: Aku benar! Kau salah! Bagaimana aku? Mana bagianku? Kau siapa? Aku besar! Kamu kecil! Kamu sepele! Dan yang membuatku merasa terpuruk, Yoshida Tua, di negeriku hukum menjadi permainan semua orang terutama yang mengerti hukum dan yang punya duit! Juga kekuasaan!” “Aku mengerti yang kamu rasakan. Tapi aku benar-benar menyukai negerimu! Dan secara aneh aku juga merasa simpatik kepadamu!” Waktu itu Yoshida Tua memandangku lekat-lekat. Agak lama setelah itu baru aku sadari bahwa terlalu keras sikapku untuk tak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan negeriku. Karenanya, sejak saat itu aku mengendorkan sikapku. Dengan demikian, jika kami menginap di rumahnya yang besar di Tokyo atau di vilanya, kami jadi banyak membicarakan negeriku.

***

VILA Yoshida dibangun pada ketinggian deretan bukit yang membentuk tanjung besar di baratdaya Tokyo yang menyambung dengan deretan bukit-bukit di kaki Gunung Fuji. Sering muncul kebingungan dalam pikiranku bahwa ketika berangkat menuju vila melalui jalan berliku sepanjang pantai timur Atami, maka setelah membelok ke kanan dan mendaki jauh sampai ke vila Yoshida Tua, aku juga bisa melihat laut di belakang vila yang berarti membelakangi laut yang tampak ketika berangkat. Jika vila ini berada di ujung tanjung, tentunya pemandangan laut akan tampak dari tiga sisi. Karena secara jelas daerah ini bukan daerah ujung tanjung, secara sederhana aku berpikir bahwa di belakang vila Yoshida ada teluk kecil dalam tanjung. Ke teluk kecil itulah aku biasa mancing jika sedang berada di vila Yoshida Tua. Setiap kali mancing di teluk kecil ini aku biasa mendapatkan ikan sabak, sawara, kadang-kadang juga iwashi. Dan meskipun sangat jarang, pernah pula aku mendapat ikan inada, yang biasa kusebut sebagai ikan ekor kuning. Jika aku mancing sejak lewat tengah hari, sambil duduk di beton-beton penahan ombak selama dua-tiga jam dengan pemandangan yang luas, waktu berikutnya pemandangan menjadi sangat terbatas. Kabut yang awalnya menyungkup perbukitan yang hampir semuanya merupakan perkebunan jeruk, akhirnya merendah sampai ke permukaan laut. Meskipun aku selalu merasakan kesegaran yang berlebih, pada saat ini aku mulai lelah hingga sewajarnya jika kemudian kembali ke vila. Akan tetapi, biasanya aku justru dikejutkan oleh ikan-ikan yang berloncatan seolah menyambut kabut. Pemandangan kabut yang lembut redup dan ikan-ikan yang berloncatan seperti terbang adalah sebuah kenyataan atraktif yang kontradiktif; antara kelembutan yang indah dan kelincahan yang manis-menarik, hingga aku selalu menunda kepulanganku. Anehnya, saat menikmati kenyataan seperti itu aku jadi berpikir bahwa antara kelembutan yang indah dan kelincahan yang manis-menarik, kedua-duanya mampu menyembunyikan kejahatan yang nista. Kalimat ini selalu teringat dan kembali kuucapkan jika aku berpikir tentang Yoshida Tua yang selalu menyesali anak laki-laki tunggalnya yang disebutnya sebagai anak tak berbakti. Aku tak tahu apakah benar demikian sikap anaknya. Tidakkah justru Yoshida Tua sendiri yang suka mengganggu ketenangan anaknya? Kecurigaanku atas Yoshida Tua yang seperti ini sesungguhnya merupakan premis minor dari premis mayor bahwa seperti juga pembesar-pembesar negeriku yang banyak berdosa, yang telah maupun yang masih berkuasa, pada masa tuanya harus merasakan penderitaan yang hina. Waktu aku menceritakan perihal ikan yang berloncatan dalam kabut, lalu aku terkenang pada pembesar-pembesar negeriku yang korup, Yoshida Tua terdiam beberapa saat. Setelah itu, dalam keadaan aku mengharap ia memberikan tanggapan atas ceritaku, ia justru mengambil sake dan beberapa kali menenggaknya dengan cangkir keramik sambil tetap membisu. “Aku tahu engkau mengerti cerita dan pemikiranku tentang ikan dan kabut, tetapi mengapa kau membisu saja?” kataku setelah tak kuat menghadapi kebisuannya. Karena ia tetap membisu, aku menahan tangannya yang hendak menenggak sake lagi sambil mengatakan bahwa tak semestinya ia membisu atas cerita dan pemikiranku. “Aku lebih menyukai ceritamu tentang kabut yang mengambang di perkebunan kopi milikmu ketimbang kabut yang kau campur dengan segala hal yang semuanya cuma ngo-yoworo!” Katanya mengakhiri kebisuannya. “Aku tidak ngoyoworo!” “Kau bahkan lebih dari sekadar ngoyoworo!” serang Yoshida Tua. Ia lalu melanjutkan, “Aku malah berpikir, jika kau memandang persoalan terlalu dipengaruhi hal yang tak saling berhubungan, maka pemandanganmu akan selalu keliru! Ikan-ikan itu cuma sebentar berloncatan di permukaan teluk, bukan terbang! Yang tampak dalam pandanganmu lebih lama tak lain adalah belibis atau camar yang beterbangan dan siap mematuk ikan-ikan itu!” Karena aku terdiam, Yoshida Tua mengatakan bahwa benarkah setiap pembesar negeriku yang berdosa harus disiksa dan dihinakan begitu kesempatan tiba? Mengapa dulu mereka dibiarkan berbuat dosa? Benar dibiarkan berbuat dosa atau karena merasa takut hingga tak berani memperingatkan mereka? Dan sekarang setelah merasa tidak takut, lantas merasa berhak menjadi galak, bahkan segalak-galaknya? “Jika para pembesar negerimu yang korup itu berdosa, mengapa mereka yang dulu merasa takut memperingatkannya sekarang tidak merasa berdosa? Pada dua pihak semacam ini, aku sulit mencari sikap dan sifat kesatria. Mengapa aku justru menemukan banyak sikap dan sifat pengecut yang menjijikkan?” Beberapa saat aku terdiam. Dan dalam keadaan masih diam kuambil cangkir keramik di hadapanku dan kemudian menyodorkannya kepada Yoshida Tua yang segera menuangkan sake ke dalamnya. Juga dalam keadaan masih terdiam, kutenggak sake itu sekaligus, untuk kemudian kuulurkan lagi cangkir keramik itu minta dituangi sake lagi sampai beberapa kali. “Waktu muda, sepertimu aku pun menyukai kabut!” Yoshida Tua berkata memecah kesunyian. Kuberikan sedikit perhatian dengan menatapnya. Yoshida Tua lalu melanjutkan bahwa karena kesukaannya atas kabut itulah yang mendorongnya membuat vila ini. “Di vila ini penuh kureguk kesunyian, cinta, dan juga sake! Biarlah kunikmati juga kehidupan lain yang jauh berbeda dengan hiruk-pikuk suasana pabrik tempatku bekerja. Jika di luar sana kabut mulai turun, kaca-kaca jendela mulai mengembun, kesunyian datang dan cinta telah lewat kureguk bersama istri atau sesekali kubeli perempuan lain, giliran sake mulai terasa mengembun di ubun-ubunku, saat itu kurasakan bahwa sesungguhnya hidup tidak sesulit yang kita bayangkan! Mengapa kau nodai kabut dengan khayalan yang memperburuk keindahannya? Mengapa kau rusakkan kesyahduan kabut dengan sesuatu yang membuat pikiran dan perasaan menjadi nyeri?” Waktu itu ambang kesadaran karena sake mulai bereaksi menguasai saraf, membuatku tak bisa menanggapi kata-kata Yoshida Tua. Kubayangkan, waktu itu mungkin aku terbengong-bengong atau bahkan kepalaku jatuh ke atas meja dan lantas tertidur begitu saja karena mabuk. Aku tak tahu pasti. Sore ini kembali kunikmati kabut di teluk ini. Dua ekor ikan sabak telah berhasil kupancing dan kurencanakan akan kubuat sashimi untuk makan malam bersama Yoshida Tua yang rencananya akan datang pada ambang senja. Bukit-bukit perkebunan jeruk yang semula menampakkan buahnya berupa titik-titik kuning di antara dedaunannya yang lebat, perlahan-lahan menjadi suram, dan akhirnya lenyap. Kabut yang kali ini turun teramat tebal, lebih cepat turun dan mengambang di atas permukaan teluk. Perasaanku harap-harap cemas menanti ikan-ikan berloncatan di atas permukaan teluk. Ingin kuyakinkan bahwa saat itu tak ada belibis atau camar yang beterbangan dan siap mematuk ikan-ikan itu. Sayang sekali, setelah beberapa lama menunggu, pemandangan yang kuharapkan kemunculannya ini sama sekali tak menampak. Yang terasa justru yang tak kuduga sama sekali. Ya, saat itu tiba-tiba bumi terasa bergetar, bergerak-gerak. Mula-mula pelan, tapi pada detik-detik berikutnya menjadi kuat. Gempa bumi, pikirku. Bersamaan dengan kesadaranku atas gempa yang baru saja terjadi, seorang penjaga pantai mengumandangkan pengumuman lewat pengeras suara agar para pemilik perahu memeriksa dan mengikat perahunya kuat-kuat sehingga tidak dibawa arus balik tsunami yang pasti datang. Pengumuman itu juga dengan keras mengingatkan agar siapa pun yang berada di pantai segera naik dan berlindung di rumah masing-masing. Bersama langit yang tiba-tiba gelap oleh mendung, aku segera kembali ke vila sambil menjinjing dua ekor ikan sabak yang siap kubuat sashimi.

***

Tokyo, April 2002

Iklan