Angin Simore

Cerpen: Hari Ambari (Sumber: Suara Karya, Edisi 08/20/2006)

Ketukan alu dan lesung seketika berhenti ketika Neneng dengan wajah merah menunduk memasuki saung lisung. Hening, padi-padi dalam lisung ikut tertegun. Haru. Ambu segera memeluk putri semata wayangnya seakan hendak menutup seluruh tubuh telanjang Neneng dari tatapan perempuan-perempuan pemukul lesung.

“Sabar ya Nok, nanti juga terbiasa,” Ambu berbisik. Neneng hanya diam saja, wajahnya kian menggelap. Ambu menatap kasihan anak kesayangannya. Seorang putri satu-satunya yang dia punya, dan perawan. Yang terakhir ini tampaknya malah jadi bencana. Neneng, perawan satu-satunya yang ada di desa. Terakhir.

Neneng terpaksa tidak boleh berpakaian ke mana-mana. Puun yang menyuruhnya atas petunjuk Batara Tunggal. Dia harus menurut agar Angin Simore tidak lagi menghancurkan huma masyarakat desa.

Ambu mengajak Neneng itu masuk ke rumah panggung persis di sebelah timur lapangan adat. Puun masih sibuk dengan tungku dan asap kemenyan di seberang wetan. Ia terlihat sangat serius. Setiap hari kepala adat kampung itu selalu turun naik gunung Halimun untuk meminta wangsit dari Batara Tunggal.

“Berapa lama lagi Neneng harus tanpa baju Ambu?” Ambu kaget setengah tidak percaya. Dia menilik sudut bibir anaknya seolah hendak mencari bukti suara tadi benar-benar keluar dari bibir gadis kebanggaannya.

“Sabar saja ya Nok.” Ambu ragu. Ia tahu, putrinya ingin lepas dari penderitaan ini. Tidak tega orang tua itu melihat Neneng tiap hari memutari kampung tanpa busana. Tiap hari pula ia harus mengantarkan putrinya ke rumah, memberinya makan dan menyuruhnya duduk di tepas (teras) rumah.

Biasanya Neneng selalu membantu Ambu mencuci dan mencari kayu bakar. Umurnya sudah lima belas kali panenan, semua teman seumurannya sudah menikah. Kalaupun belum, mereka sudah diusir Puun karena sudah disetubuhi pendatang. Pernah selintas Ambu berharap anaknya lebih muda tujuh panenan. Tentunya dia tidak harus telanjang seperti ini.

Ambu menuntun Neneng menaiki golodog, sebuah tangga kayu menuju rumah panggung, dan mendudukannya di tepas. Mata tua Ambu menatap kembali sesosok tubuh yang kini terbaring lemas. Pandangannya terlihat kembali kosong. Cepat-cepat Ambu masuk ke imah dan keluar dengan sepiring nasi, kemangi dan secobek sambal.

“Makan dulu Nok.” Yang diminta makan hanya diam. “Ayo makan Nok, biar kamu tidak sakit perut seperti kemarin,” kembali Ambu membujuk. “Nok, kamu kan harus duduk di sini sampai nanti waktu sareureuh budak. Kalau kamu tidak makan…”

“Saya tidak mau makan Ambu.”

“Kamu jangan buat Ambu-mu ini sedih.”

“Enok juga sedih Ambu, tapi semua orang tidak mau tahu. Mereka maunya hanya selamat saja,” Neneng menarik nafas panjang, tubuhnya penuh dengan keringat. “Neneng malu Ambu!” teriak Neneng disusul suara tangis lirih tapi cukup untuk mengiris hati Ambu.

“Ambu juga mengerti Nok,” Ambu memeluk putrinya. Air mata tidak bisa dia bendung. Berdua mereka hanyut dalam tangis di antara sayup bunyi lesung yang kembali terdengar.

* * *

Tersiar kabar, Puun terbawa angin Simore ketika turun dari gunung Halimun. Masyarakat semakin gelisah, Kenapa Puun malah jadi korban? Bukankah dia sakti? Tapi mengapa angin Simore itu bisa menerbangkan Puun? Pertanyaan itu menyisakan misteri. Tapi justru misterilah yang membuat Simore jadi sangat menakutkan.

“Simore yang kemarin datang berbeda dengan Simore yang dulu.” Penduduk desa meneliti setiap kata yang diucapkan Mang Uja. Murid utama Puun ini berharap menemukan jawaban dari bencana. “Dia datang dari arah wetan, tidak lagi dari kulon.”

“Lalu apa penyebabnya?” Seorang yang menyimpan kored terselip di di ikatan sarung di pinggang bertanya.

“Penyebabnya karuhun wetan marah kepada kampung kita. Mereka mengutuk kita karena kita menyuruh Neneng telanjang.”

“Walah, kumaha atuh? (Bagaimana ini?) Kalau si Neneng tidak telanjang nanti

Simore kulon ngamuk. Kalau telanjang, Simore wetan yang ngamuk.”
“Saya juga bingung.”

“Lalu saya harus bagaimana?” Neneng berdiri. Para lelaki melihat betapa tubuh Neneng sekarang sudah semakin ranum. Apalagi tanpa ditutupi sehelai benang pun. Mereka menelan ludah masing-masing.

Mang Uja memandang sekilas ke arah Neneng yang sedang menunduk lalu menarik nafas panjang seolah hendak menjejalkan seluruh udara ruangan ke dalam tubuhnya. “Kamu coba saja dulu pakai baju.”

“Jika nanti Simore Wetan mengamuk?” kata lelaki yang tadi kembali berdiri.

Mang Uja tidak bisa lagi menahan ombak di hatinya dan menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. “Batara Tunggal hanya memberi petuah saja tadi. Katanya, semua ini karena kita hanya melihat kaler dan kidul saja. Kata Batara Tunggal, kita juga harus memperhatikan kulon dan wetan.” Penduduk menyerap tiap kata yang diucapkan Puun, kerutan bergaris di dahi para penduduk. Tidak mengerti. “Begini saja. Sementara semua orang tinggal di rumah masing-masing. Saya akan kembali ke gunung Halimun.”

“Ambu, saya harus pakai baju atau tidak.”

“Pakai saja Nok, biar kamu tidak malu.”

“Tapi Ambu, jika nanti Simore Kulon datang?”

Semua terdiam sunyi.

Antara sadar dan tidak, Ambu memperhatikan tingkah laku Neneng yang sedari tadi hanya menunduk sambil mengorek-orek alas tikar. Rupanya wanita tua itu tidak sadar dari tadi para lelaki itu memanggil-manggil namanya, hingga sebuah teriakan meledak tepat di daun telinganya. Ia seketika keluar dari ruangan batinnya. Jantungnya hampir saja keluar dari mulutnya sendiri.

“Kita harus hilangkan perawan kampung itu sekarang,” bentak lelaki yang meneriakinya itu. Ambu mengerutkan keningnya seakan menelisik hati lelaki itu untuk mendapatkan alasan.

“Iya Ambu, kita harus menghilangkan perawan di kampung sekarang,” seorang lelaki lain menambahkan. Ambu hanya terpaku saja di tempat duduknya, dia hanya mengalihkan matanya ke arah pintu bale.

“Ambu! Ini penting. Neneng harus diperawani sekarang juga.” Lelaki yang tadi membentaknya itu sekali lagi berteriak. Suaranya kembali mengacaukan lamunan Ambu.

Seorang lelaki yang lebih muda menjelaskan. “Angin Simore tergantung Neneng. Kalau dia buka baju, angin Simore datang dari timur. Kalau pakai baju, angin datang dari barat. Karena, Neneng cuma satu-satunya perawan yang ada di sini.”

“Kalau kampung kita sudah tidak punya perawan lagi, maka angin itu tidak akan lagi datang.” Yang lainnya meneruskan.

“Tidak bisa seperti itu. Kita harus tunggu dulu wangsit dari Batara Tunggal. Jangan coba-coba mengambil keputusan semau kita.”

“Alaah. Batara Tunggal tidak membuat kita aman dari angin sialan itu. Bagaimana? Ambu juga pasti setuju kan? Ambu sudah setuju, diam itu artinya setuju kan? Jadi Ambu sudah setuju,” lelaki yang membentaknya itu kini tidak lagi membentak. Dia mempertontonkan gigi kuningnya dengan tertawa terbahak-bahak.

Seketika semua lelaki kampung ribut memperebutkan Neneng. Lelaki yang membentak Ambu bersedia menjadi yang pertama, setelah dia membentak istri dan kesembilan anaknya. Lalu lelaki lain juga ikut bersedia, hingga semua lelaki yang ada di sana ingin jadi yang pertama. Tidak terkecuali, karena semua percaya lelaki “yang pertama” akan mendapat kekuatan di luar kemampuan manusia biasa. Begitulah khasiat seorang perawan terakhir. Mang Uja, sibuk menenangkan suasana. Tak cukup kharisma yang ia punya untuk membela keponakannya. Malah tubuh yang hanya tulang berbungkus kulit keriputnya terlempar ke luar bale.

Ambu tidak tinggal diam. Tidak ada pilihan lain. Anaknya yang jadi mainan di tengah lelaki-lelaki beristri. Ia memeluk Neneng kuat-kuat. Ingin rasanya Ambu membawa Neneng ke luar dari bale dan kabur dari kampung itu. Tetapi ada semacam kekuatan yang memaku dirinya tetap berada di sana.

Hingga suatu ketika tubuh Ambu ditarik tangan kekar entah oleh siapa hingga terpelanting. Ambu terjerembab disusul teriakan Ambu-Ambu yang lain. Hanya itu yang bisa didengar. Wanita hanya bisa berteriak, Ambu baru sadar, ternyata di bale itu banyak juga wanitanya, tidak hanya dirinya dengan Neneng. Sia-sia, mereka pun hanya bisa berteriak saja, setelah itu menangis meraung-raung memeluk kaki kaum lelaki.

Perempuan yang ditinggal mati suaminya itu menangis sambil melihat anaknya telah telentang dikerumuni kaum lelaki seperti seekor kijang di antara serigala-serigala haus darah. Teriakan Neneng menyayat hati, di samping teriakan lelaki-lelaki yang membuat Ambu ingin mengeluarkan makanan tadi pagi dari mulutnya.

“Noook! Enook!” Ambu berteriak memanggil anaknya. Sia-sia. Ambu tidak bisa lagi melihat anaknya. Mereka saling berebut satu sama lain agar bisa jadi yang pertama. Sekali lagi yang pertama karena mereka juga masih percaya perawan terakhir bisa memberikan mereka kekuatan. Dewa-dewa bahkan akan tunduk kepada seorang laki-laki yang mendapatkan perawan terakhir di pelukannya.

Ambu berpikir keras mencari cara menyelamatkan Neneng. Satu kesempatan perempuan itu berhasil merebut kored dari salah seorang lelaki. Tanpa pikir panjang, kored di tangannya dihujam-hujamkan ke arah Neneng. Darah bersimbah, Neneng dibunuh Ambu sambil menangis.

Aku, yang disebut-sebut sebagai Batara Tunggal, terkesiap sekejap, lantunan musik sendu di pikiranku merangsangkan tubuh untuk menari. Tarian pencipta Simore.

***

Iklan