Empat Puluh Tahun Kemudian
Cerpen: Hardo Sukoyo (Sumber: Suara Karya, Edisi 09/03/2006)

Pertemuan eks siswa-siswi sebuah Sekolah Menengah Atas Kejuruan di Semarang, Jawa Tengah yang berlangsung di sebuah perumahan di bilangan Semarang barat itu, diliputi keceriaan dan penuh canda, walaupun yang hadir semuanya sudah tergolong tidak muda lagi.
Betapa hubungan antarmereka yang hadir terkesan saling menyayangi, bagaikan keluarga besar. Cerita-cerita seputar nostalgia di SMA milik mereka masing-masing yang hadir, untuk kesempatan kali ini, silih berganti diketengahkan, menambah meriah pertemuan rutin dua bulanan itu.
Ada yang membangkitkan ingatan, bahwa dia dulu selalu berusaha mendekati siswa yang lumayan pandai di kelas, untuk sekadar mendapat kemudahan dalam menjawab soal-soal ketika ulangan. Karena dapat contekkan atau mendapat bisikan jawaban dari siswa yang diincarnya itu.
“Siapa ini hayo Ingat tidak? Tanya Farida, teman akrab Permadi di sekolah kejuruan itu, kepada Permadi, sambil menunjuk wanita yang sisa-sisa kecantikannya masih terlihat itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Permadi hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahunya, sebagai tanda tidak bisa menebak siapa sebernarnya wanita yang dimaksut.
“Lupa ya. Ini kan Mbak Murwani. Teman kita sejak di SMEP dulu,” kata Farida, berusaha menjelaskan. “Oh maaf. Saya baru ingat sekarang. Mbak Mur yang tinggal di Jalan Dr Cipto itu tho. Yang dulu gemar mengenakan pakaian berwarna biru?” Cetus Permadi, memastikan.
“Wah ternyata ingatan mu boleh juga. Sampai urusan warna baju saja masih ingat sampai sekarang,” ucap Murwani, senang. Gelak tawa seketika memecah di ruangan itu, begitu mendengar ucapan Murwani.
“Kalau ini dan itu siapa?” Tanya Purwanti, sahabat Permadi yang lain, lebih seru. Bisa juga hal itu untuk menguji daya ingat Permadi akan teman-teman lamanya. Gagap juga Permadi dibuatnya. Karena memang ia sama sekali lupa, siapa saja wanita-wanita yang berada di depannya itu.
Suasana pertemuan tersebut berubah menjadi hening, ketika Permadi yang untuk pertama kalinya hadir dalam pertemuan persaudaraan itu, mendapat kesempatan berbagi pengalaman, bercerita tentang perjalanan hidup Permadi selama ini dan tentang masa lalunya, terutama tentang hubungannya dengan Ratih, “sang gadis idaman”, yang adik kelasnya itu, di hadapan teman-teman seangkatannya.
“Anggap saja ini sebuah penjelasan, klarifikasi saya, atas berita burung yang beredar selama ini yang cenderung menganggap saya adalah laki-laki pembohong, tidak memiliki perasaan, pengkhianat, berkelakuan nol atau entah apa lagi sebutannya, karena saya tingggalkan Ratih begitu saja, dalam kesedihan yang berkepanjangan, setelah saya ke Jakarta,” tutur Permadi, dengan suara bergetar. “Begitulah yang saya dengar selama ini,” kata Farida, menukas penuturan panjang Permadi.
“Salah siapa, karena yang saya dengar selama ini hanya kelakuanmu yang negatif itu. Kamu pun sepertinya membenarkan prasangka buruk banyak orang atas apa yang kamu perbuat terhadap Ratih. Sejak kepergianmu meninggalkan Semarang, apa kamu memberi kabar kepada kita-kita ini. Ayo, jawab. Salah siapa kalau begitu jadinya?” ujar Purwanti, tidak kalah sengitnya dengan Farida.
Walaupun dalam suasana penuh canda, sepertinya dalam pertemuan melepas rindu itu, Permadi menghadapi “pengadilan moral” di hadapan sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak jumpa, bahkan tidak saling memberi kabar. Selama ini Permadi sepertinya menghilang, ditelan bumi.
Teman-teman Permadi lainnya, Purnomo, Farid, Ahmadun, Shodig, Susantio, Usman, Slamet, Suyanto, Mardiono, Abdulkadir, Prayitno, Darmadi, Rifai, Sumiyatun, Murwani, Sri Wahyuni, Sugiarti, Sukarti, Ani dan Kun Sri Haryanti diam membisu. Mereka serius mendengarkan silang pendapat di antara Permadi, Farida, dan Purwanti.
“Mohon maaf sebelumnya kawan, saya pastikan bahwa saya tidak meninggalkan dia. Justru Ratih yang tanpa alasan apa pun memutuskan hubungan itu, ketika saya sedang berjuang meraih masa depan di Jakarta,” kata Permadi, dengan nada suara meninggi. Hening sejenak. Permadi menarik nafas dalam-dalam dan kemudian dihembuskannya lewat mulutnya pelan-pelan. Diraihnya gelas plastik yang tersedia di depan tempat ia duduk. Sekali sedot, air mineral isi gelas itu kandas dibuatnya. Sepertinya Permadi ingin menghilangkan sesuatu yang membebani hidupnya selama ini. Kemudian ia berbicara kembali.
“Sejak saat itu saya benci Semarang. Saya kubur dalam-dalam semua kenangan manis yang pernah saya peroleh di kota ini,” ujar Permadi, lirih.
Permadi dan Ratih oleh teman-teman mereka ketika itu dianggap sebagai pasangan ideal di sekolah kejuruan tersebut. Mereka adalah dua sejoli yang tidak saja aktif dalam kepengurusan organisasi siswa sekolah, tetapi mereka berdua juga sama-sama aktif sebagai pengasuh majalah dinding, tim bola basket serta anggota grup drum band di sekolah itu.
Tidak hanya itu. Secara fisik keduanya memiliki bentuk tubuh yang serasi. Sama-sama bertubuh tinggi, tegap, padat berisi.
Bukan hanya di lingkungan sekolah, dalam pergaulan yang lebih luas pun, sudah bukan rahasia lagi bahwa Permadi dan Ratih adalah dua remaja yang saling menyayangi. Seperti amplop dan perangko, begitu Permadi dan Ratih diibaratkan oleh teman-teman dekatnya, karena begitu lengketnya hubungan mereka berdua. Sepertinya di mata Permadi di dunia ini tidak ada wanita lain kecuali Ratih, demikian juga sebaliknya Ratih terhadap Permadi.
* * *
Dalam suasana ceria dan penuh canda itu, emosi Permadi tersedot ke masa lalu, yang sepertinya baru saja terjadi. Berbagai kilas balik muncul silih berganti dan tergambar jelas dalam ingatannya, saat-saat yang membahagiakan yang dilalui Permadi bersama Ratih.
Pohon bunga Tanjung yang tumbuh di depan kantin sekolah menjadi saksi bisu kebersamaan mereka berdua. Selalu, sehabis berlatih bola basket, Permadi dan Ratih duduk di bawah rindangnya pohon yang menyebarkan aroma wangi itu, sambil menikmati segarnya es sirop. Setelah itu mereka naik sepeda berboncengan. Permadi lebih dahulu menghantar pulang Ratih yang tinggal di bilangan Perbalan, sebelum ia pulang di daerah Bandarharjo
Pengembaraan ingatan Permadi, membawa ke saat Permadi pingsan karena cuaca panas ketika latihan drum band, dalam persiapan study tour sekolah ke luar kota, bertandang ke sebuah sekolah kejuruan di Yogyakarta. Begitu sadar, Permadi merasakan betapa waswasnya Ratih terhadap kondisi Permadi ketika itu. Layu, tanpa daya, karena kelelahan fisik. Dan kedua mata Ratih yang bulat itu terlihat sembab, sehabis menangis.
Permadi juga ingat, di suatu sore ia harus sibuk mencari keberadaan Cemeng, kucing piaraan Ratih yang raip sejak siang hari, di sekitar tempat tinggal Ratih. Kalau binatang kesayangan itu tidak diketemukan saat itu juga, dapat dipastikan “tidak ada selera makan” Ratih akan menjadi-jadi. Kemanjaan-kemanjaan kecil seperti itu sering dilakukan Ratih terhadap Permadi. Dan Permadi pun tahu, bahwa hal itu merupakan bentuk sebuah ujian kesabaran dan kesetiaan yang dilakukan Ratih terhadap Permadi.
Masa-masa merajut kasih memang sangat membahagiakan. Apalagi bila kondisi tersebut sangat didukung oleh berbagai faktor. Sepertinya hubungan Permadi dengan Ratih berjalan mulus, tidak ada hambatan yang berarti. Apalagi kedua orang tua mereka sama-sama memberi restu. Dengan catatan, setidaknya Permadi dan Ratih harus mengantongi ijazah sarjana muda, atau D3 terlebih dulu. Syukur-syukur mereka mampu menyelesaikan sarjana strata satu.
“Dik Ratih, walaupun kita selalu bersama-sama dan kedua orang tua kita memberi restu, dalam kesempatan ini Mas mu minta agar dik Ratih mau menjadi pendamping Mas mu ini untuk selama-lamanya, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak kita,” kata Permadi tegas dan lancar, ketika berada di dalam becak. Malam itu. mereka dalam perjalanan pulang dari menghadiri resepsi perkawinan seorang kerabat dekat Ratih.
Plong. Rasa sesak di dada Permadi mencair, setelah ia menyampaikan “lamaran” kepada Ratih, gadis dambaannya itu.
Mendengar ungkapan perasaan hati Permadi seperti itu, Ratih hanya mampu memandang Permadi dengan mata yang berbinar-binar. Bibir Ratih bergetar, kemudian berucap, mengiyakan permintaan Permadi. “Ya mas,” ucap Ratih, lirih, menjawab “lamaran” Permadi.
“Terima kasih dik,” kata Permadi singkat, sambil menggegam tangan kanan Ratih erat-erat, dengan kedua tangannya. Permadi pun mencium kening Ratih yang memiliki potongan rambut berponi itu.
Kilat di langit yang berpijar-pijar beberapa kali di tengah hujan yang menyiram kota Semarang ketika itu, sepertinya menjadi saksi atas ikrar kesetiaan kedua muda-mudi yang tengah merajut kasih itu.
Sebuah kotak tempat perhiasan dikeluarkan Permadi dari kantong jasnya. Bros perak bermotif Burung Merak hasil pengrajin perak Kotagede, Yogya, ia serahkan kepada Ratih.
“Aku tidak tahu, ini untuk apa. Tetapi Mas mu ini sangat berharap agar benda ini Dik Ratih simpan,” kata Permadi, berharap.
“Ya mas,” jawab Ratih memberi kepastian. Digenggamnyalah benda bernilai kenang-kenangan dari Permadi itu erat-erat, seolah takut kehilangan.
* * *
Usai pertemuan dengan sahabat-sahabatnya, sore itu juga Permadi pulang ke Jakarta, naik kereta api dari setasiun Tawangsari.
Walaupun rangkaian kereta Argo Muria yang akan dinaiki Permadi telah berada di lintasan satu, Permadi lebih suka jalan-jalan di peron, sekadar melihat-lihat dan membuang waktu tunggu.
Setasiun kereta api Tawangsari, Semarang, sepertinya tidak mengalami perubahan yang berarti, setelah sekian puluh tahun tidak dikunjungi Permadi. Di mata Permadi, hanya lapangan bola yang berada di seberang jalan depan satasiun itu yang berubah fungsi. Lapangan tempat Permadi kecil main bola itu, kini telah menjadi “situ”, danau kecil, penampungan air.
Di peron lintasan satu, tidak jauh dari pintu masuk setasiun Tawangsari, terdapat sederet tempat duduk. Di tempat itu Permadi menghentikan langkahnya dan duduk sejenak. Ia teringat kembali akan sebuah peristiwa yang telah lama dikubur di relung hatinya dalam-dalam,
Ya, di tempat itu, di suatu hari, empat puluh tahun yang lalu ia duduk berdampingan dengan Ratih, menunggu keberangkatan kereta ekonomi yang akan membawa Permadi merantau ke Jakarta untuk menggapai harapan. Empat puluh tahun yang lalu di tempat itu, sebuah janji dan ungkapan kesetiaan diucapkan oleh dua anak manusia yang saling mencinta.
“Tidak lama lagi Mas mu harus ke Jakarta. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk masa depan kita. Akan ku kejar apa yang menjadi cita-citakan kita berdua, dan akan kita genggam kebahagiaan itu bersama-sama,” kata Permadi, suaranya bergetar, menahan haru.
Hanya menundukkan kepala serta menangis dan menangis yang dapat dilakukan Ratih saat itu. Air mata itu ada pula yang menetes, membasahi bros burung merak yang dikenakan Ratih di dada kirinya.
Pengumuman keberangkatan kereta api tepat pukul 16.00 WIB dari Setasiun Tawangsari menyadarkan Permadi dari lamunannya. Bergegas ia menaiki gerbong dan duduk di kereta lima. Kereta pun berangkat. Dari balik jendela ia pandangi deretan tempat duduk di peron itu, hingga hilang dari pandangannya.
Stasiun Poncol baru saja terlewati. Tiba-tiba Permadi teringat akan nomor telepon rumah Ratih yang diberikan Purwanti, siang tadi.
MenghubUngi tidak menghubungi tidak Menghubungi Tidak? Ya kalau diterima, kalau tidak, apa malahan tidak membuat luka hati ini semakin menganga? Sebaliknya kalau diterima, bagaimana? Namanya juga menyambung tali silaturahmi, menyambung tali persaudaraan yang lama terputus. Apa salahnya? Tetapi apakah nantinya tidak akan menimbulkan sesuatu yang bukan- bukan? Atau malahan menimbulkan perasaan cemburu pihak lain, barang kali? Berbagai perasaan itu berkecamuk dalam batin Permadi. Lama Permadi menimbang-nimbang baik buruk, bermanfaat atau tidaknya bila ia saat itu menghubungi Ratih.
Awak restorasi datang untuk menyerahkan “jatah” makan malam kepada Permadi, ketika kereta api itu baru saja meninggalkan stasiun Pekalongan.
“Selamat malam. Ya, saya sendiri. Siapa ini? Astaghfirullah alazhiim. Yang benar. Bagaimana kabarnya? Di mana ini?” Suara dari seberang sana terdengar begitu emosional. Ternyata dalam keragu-raguan itu Permadi lebih memilih menghubungi Ratih, lewat telepon genggamnya. Dari nada suara yang pernah sangat dikenali Permadi, suara tersebut ditengarai adalah milik Ratih.
Stasiun Tegal baru saja ditinggalkan kereta eksekutif itu. Banyak yang diperoleh Permadi dari pembicaraan dengan Ratih lewat telepon itu. Tanpa mengungkit-ungkit masa lalu, pembicaan tersebut memberi kesejukan pada suasana batin Permadi. Sepertinya ia terbebas dari beban batin yang terlalu lama dipikulnya. Dan Semarang bagi Permadi mulai saat itu diniatkan bukan lagi sebagai kota yang dijauhi.
Kereta api Argo Muria baru saja melewati stasiun Bekasi, sebentar lagi memasuki daerah Klender dan kemudian berhenti di Jatinegara. Tepat pukul 21.30 WIB, Permadi turun di stasiun itu.
Lagu lama, “Sepanjang Jalan Kenangan” karya Is Haryanto terdengar dari radio pada taksi yang ditumpangi Permadi, malam itu.
Sungguh tepat syair lagu itu bagi Permadi. Secara khusus bait akhir lagu yang dipopulerkan Teti Kadi tersebut kemudian dihayati Permadi sebagai pendorong untuk lebih memilih kekeluargaan, daripada berseteru tanpa ujung, akibat masa lalu. Masa lalu biarlah berlalu dan tersimpan menjadi kenangan tersendiri. Apalagi kini Ratih adalah nenek dari sembilan cucu dan Permadi adalah kakek dari empat cucu.
. . . Walau diriku kini t’lah berdua
Dirimu pun tiada berbeda.
Namun kenangan s’panjang jalan itu
Tak mungkin lepas dari ingatanku.***
Klender, Medio Agustus 2006