Lak-uk Kam

Cerpen Gus tf Sakai

Dalam remang, dari jendela yang daunnya disentak diempas-empaskan badai, ia lihat semua: ombak yang menjulang, laut yang seakan terangkat—menganga bagai rahang, bergemulung menelan pantai. Suaranya gemuruh. Bergederam. Jadi inilah “lak-uk kam”, badai musim utara itu, yang menjadikan sebagian pulau porak-poranda, penuh genangan, dan membuat para penduduk pindah-sementara ke balik bukit pulau bagian selatan.

Senja. Lalu malam. Gelisahnya dihantam debar saat lampu suar tiba-tiba menyala. Dia masih ada? Ia julurkan kepala—dingin bagai mengiris muka!—melayangkan pandang ke puncak menara. Tak tampak apa-apa, kecuali lesat cahaya yang bagai terentang sedapat-dapatnya. Ia rasakan juga, saat matanya menyapu menyusur muka laut, lesat cahaya itu seolah ikut bergolak, berkecamuk, mengempas-empas menerpa-nerpa. Sesaat ia tertegun. Lalu, bagai gugup, mengembalikan pandang ke puncak menara.

Dia masih ada.

Ditariknya kepala. Ditutupnya jendela. Kecamuk di luar bagai tertahan, teredam. Tetapi kecamuk lain bergolak bangkit dari dalam dirinya.

Beberapa saat ia diam, tegak terpaku di balik jendela, kemudian bergerak melangkah ke bilik. Cahaya lampu semprong—kadang meredup kadang meletup—membuat bayang tubuhnya tampak aneh, bagai makhluk lain di dinding. Di kegelapan bilik, tangannya meraba-raba dipan, meraih senter dari samping bantal, kemudian kembali melangkah ke luar. Ia sudah akan menarik daun pintu ketika terpikir pada lampu semprong—berbahaya ditinggal hidup, berbalik, lalu meniup memadamkannya. Seketika gelap. Jarinya memencet. Cahaya senter menyorot.

Begitu pintu ia buka, gemuruh gederam kembali menghenyak telinga. Angin menampar, dingin mengiris itu, lalu ia terkejut menyadari air bergemilat berkecipak di bawah tangga. Air lautnya, dia benar, sampai ke sini. Percakapan itu, dialog pertama mereka, kembali terngiang. Betapa ia tak menyangka. Dalam kosong, sepi pantai, debur ombak lengang. Lelaki itu—entah sejak kapan—ada di belakangnya, mencangkung di batu karang.

Sunyi sekali ya?

Ia tak menyahut. Masih tercengang, merasa heran.

Akan amat beda bulan depan. Badai musim utara, sangat gila. Mereka menyebutnya lak-uk kam.

Ia akan menyahut, atau setidaknya bersuara, tapi urung. Kata itu, “mereka”. Mendadak ia sadar satu hal: si lelaki juga bukan penduduk pulau ini. Dan tiba-tiba ada rasa lega, rasa bahagia, dan—entah, seperti debar.

Mereka akan mengungsi. Kau akan libur, mmm, mungkin satu bulan. Air akan menggenangi sekolah, pondok-pondok mereka. Tentu juga rumah dinasmu.

Dan segera pula ia sadar: laki-laki ini tahu siapa dirinya. Dan pulau kecil terpencil ini tampaknya bukan tempat yang asing bagi si lelaki. Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu siapa dirinya sementara ia, telah hampir dua bulan di sini, belum pernah bertemu dengan si lelaki? Ingatannya dikejutkan oleh empasan—bukan lagi kecipak—air menerpa tangga. Dan tangga yang dibuat dari ruyung pohon kelapa itu terasa bergerak, bergeser, membuatnya serta-merta melompat, melangkah ke gundukan batu yang sehari-hari ia gunakan sebagai bangku.

Sorot senter, kecamuk lidah air—cahaya mengempas-empas itu, kembali mengantarkannya ke perasaan ganjil. Kembali ia bagai gugup. Tertegun-tegun. Cahaya mengempas menerpa-nerpa, seolah dari suatu tempat di masa lalu, menggeliat, bergolak bangkit meringkus benaknya.

Tetapi tentu, ia tak bisa melangkah tanpa menyorotkan senter. Maka setiap kali cahaya senter melesat menerpa kecamuk-kecipak lidah air, ia bagai terlambung ke waktu lain. Dan ia jadi gemetar, bahkan serasa berpeluh, saat menapak-meniti batu-batu sepanjang seratusan meter ke arah tanjung. Di kaki tanjung, setelah menaiki batu bercowak bagai berjenjang, ia akan sampai di jalan setapak bercecabang.

Ada tiga cabang turun di jalan setapak itu, salah satunya menuju sekolah. Ada dua cabang mendaki, satu mengarah ke balik bukit tempat para penduduk sejak kemarin berangsur-angsur mengungsi, sedang satunya lagi, setelah mendaki seratusan meter juga, akan berbelok, turun, lalu mendaki lagi menuju tanjung lain yang menjorok lebih jauh ke laut, tempat menara suar itu tegak menjulang. Menara suar? Ah, dia masih ada. Gelisah itu. Debar. Gemetarnya bertambah-tambah. Kenapa dia masih ada?

… Tapi kali ini aku takkan sempat melihat lak-uk kam.

Kenapa?

Minggu depan aku tak lagi di sini. Begitulah kami, penjaga mercusuar. Sekali tiga bulan dijemput, dipindahkan ke menara lain. Ke pulau lain.

Ke kesepian lain … ia membatin.

Ya, ke kesepian lain … si lelaki bagai mendengar kata hatinya. Salah tingkah, ia lemparkan pandang ke laut. Saat itu mereka berada di atas menara. Dan itu entah salah tingkah keberapa setelah sebelumnya juga terjadi di “tangga tikus” ke lantai 2. Mereka bersentuhan, dan reaksinya yang berlebihan saat menarik tubuh membuat si lelaki menoleh. Mereka sangat dekat. Sangat rapat. Dengus itu, napas si lelaki dan napasnya. Segera ia alihkan pandang. Mencari-cari. Dan matanya ia hentikan pada tulisan—seperti prasasti—di dinding: Onder De Regeering van ZM Willem III Koning Der Nederlanden, opgericht voor Draailicht Vierde Grootte 1886.

Oh, itu artinya ’Pada masa pemerintahan Yang Mulia Raja Belanda Willem III, menara suar keempat terbesar ini dibangun pada tahun 1886’.

Kau bisa bahasa Belanda?

Tentu tidak. Kami diberi tahu. Ada 20 menara suar dibangun Belanda sejak tahun 1868 hingga 1891. Dan menara ini salah satunya.

Dilepaskannya “o” panjang, berharap gugupnya ikut lepas dalam “o” itu. Tetapi ternyata tidak. Betapa sukar. Betapa debar. Mereka: dua orang asing, di pulau kecil asing terpencil yang penduduknya hanya 142 jiwa, betapa—

Tetapi entah, mungkin cuma dirinya yang merasa asing. Karena, bukankah lelaki itu sudah terbiasa. Sekali tiga bulan kapal Dinas Perhubungan akan datang menjemput si lelaki dari sebuah pulau terpencil entah di mana, untuk diantarkan ke pulau terpencil lain yang juga entah di mana. Begitulah penjaga mercusuar selalu dirotasi. Dan sering tanpa jadwal yang pasti. Bahkan kata si lelaki, ada menara suar yang sama sekali tak terletak di sebuah pulau, melainkan cuma di sebungkah karang.

Sebungkah karang?

Kalau laut sedang pasang, lantai 1-nya akan tenggelam. Aku hanya akan di atas menara, tak bisa ke mana-mana.

Oh… seperti dipenjara.

Ya, seperti penjara… dan ia ingat, waktu itu ia jadi malu. Ia bercerita betapa merasa asingnya ia. Telah lebih dua bulan, belum bisa melakukan apa-apa. Jangankan mengajar, ia malah harus belajar.

Harus belajar?

Bahasa mereka, aku belum mengerti. Ikan memang mereka sebut ikan, tetapi kupu-kupu mereka sebut kelembak. Kelapa mereka bilang nyio, dan kera mereka bilang ke-e. Untuk cepat belajar, aku harus punya foto atau gambar. Tapi, di tempat ini, bagaimana cara mendapatkan semua gambar?

Oh, memang sulit. Lima atau enam kali tugas di sini, aku hanya tahu: mereka tak biasa melafalkan r, dan a kadang mereka sebut e. Eh, bagaimana mereka memanggilmu?

Memanggil Pak Guru maksudmu?

Ya.

Pak Guk-o.

Dan lelaki itu tertawa. Ia senang tawa itu: nyaris tak bersuara, hanya guncang bungkah pundak, bibir yang tertarik lebar, dan garis melengkung dalam dari ujung bibir ke sudut mata, bagai dipahat sempurna. Ah.

Desah.

Gelisah.

Gemetarnya kian bertambah-tambah.

Menaiki batu bercowak, sampai di jalan setapak, debar itu menjelma jadi beduk, berdentum-dentum. Ada lima cabang di depannya, dan tiba-tiba, ya Tuhan, ia mengubahnya. Ia tak memilih cabang mendaki menuju ke balik bukit tempat para penduduk sejak kemarin berangsur-angsur mengungsi itu, melainkan cabang mendaki lainnya, yang setelah mendaki seratusan meter akan berbelok, turun, lalu mendaki lagi menuju tanjung lain yang menjorok lebih jauh ke laut, tempat si menara suar tegak menjulang.

Dalam gelap, dari 3-4 jenjang terakhir “tangga tikus” ke lantai 2, ia melihatnya. Lelaki itu tegak di tengah ruangan, tepat menghadap ke arahnya seperti hendak melangkah ke mulut pintu lantai 1—ataukah memang tengah sengaja menunggunya? Senter masih di tangannya, dan jarinya tak memencet, tetapi cahaya mengempas-empas itu bagai menerobos dari masa lalu. Seorang lelaki menindih. Seorang bocah ketakutan. Orang-orang berteriak, menggedor-gedor pintu atau entah apa, lalu cahaya senter menyorot menerpa-nerpa. Oh….

Ia telah di lantai 2. Jarak mereka dua depa.

“Kau masih di sini….”

“Mereka terlambat. Tak mungkin menempuh badai.”

Lelaki itu mendekat. Lalu semua menjadi lenguh.

Gemuruh.

Bergederam.