Burung-Burung
Cerpen: Gunawan Maryanto (Sumber: Media Indonesia, Edisi 01/15/2006)

KAU pernah membayangkan jadi burung? Terbang sendirian melintasi langit kosong?
Aku tidak. Tapi beberapa malam ini, sebelum tidur, begitu mataku terpejam, aku merasa menjadi seekor burung. Terbang sendirian melintasi langit kosong. Aku buru-buru membuka mataku, tapi perasaan menjadi seekor burung itu tak kunjung hilang. Segala sesuatu kulihat seperti berada di kejauhan. Aku bahkan tak menemukan lagi alas tidurku. Pohonan, gundukan bukit, anak-anak sungai dan seluruh jalan setapak yang pernah kita lewati terus mengecil tanpa bisa kuhentikan. Aku tak bisa menemukanmu. Aku panik. Aku mencari titik kecil yang bisa kukira kamu. Tapi kabut segera menggagalkan pencarianku. Dan tak ada apa-apa lagi yang bisa kutemukan.
Tak ada siapa-siapa. Aku melayang-layang mencari jalan pulang. Tapi aku seperti berputar-putar di satu tempat. Semua tempat menjadi serupa. Semua tempat sama saja. Aku hanya menemukan kelelahan di sepasang sayapku. Kelelahan yang terus tumbuh di sesela bulu sayapku. Setiap kepakanku seperti membuatnya jadi lebih besar dua kali lipat dari pada kepakan sebelumnya.
Dan ketika kelelahan itu tak tertanggungkan lagi, aku jatuh, terhempas dalam gelap. Lalu pagi dan sisa-sisa kelelahan.

***
Jatayu dan Sampati melayang-layang dalam kepalaku. Sepasang burung dari masa kecil itu datang, entah angin mana yang mengantarnya, padaku. Ibuku, betapa hebat ia, menghidupkan mereka, sepasang putra Aruna itu. Ia tak pernah kehabisan napas menembangkan kepahlawanan mereka di hutan Dandaka.
Jatayu dan Sampati adalah ingatanku yang paling jauh atas burung-burung.
Adalah resi Kasyapa, anak begawan Marici, cucu batara Brahma, memperistri empat belas putri begawan Daksa: Aditi, Diti, Danu, Aristi, Anayusa, Kasa, Surabi, Kadru, Winata, Ira, Tama, Mreni, Krodawasa dan Tamra.
Beberapa bulan kemudian resi Kasyapa mulai dikaruniai putra. Masing-masing istri memperanakkan jenis makhluk yang berbeda. Ira, misalnya, ia menjadi ibu para gajah, Danu beranak danawa, Surabi menimang lembu dan Kasa menyusui raksasa. Katakanlah, seluruh makhluk yang pernah kau temui sejauh ini dan yang akan kau temui di suatu hari nanti adalah anak turun Kasyapa. Tidak ada yang tidak.
Hanya tinggal Kadru dan Winata yang belum memperanakkan apa-apa dan seperti tak akan pernah memperanakkan apa pun. Dengan air mata yang terus-menerus jatuh ke tanah mereka menghadap Kasyapa.
“Ya, Sang Resi. Ampunilah istrimu yang tak sanggup membahagiakanmu ini. Seluruh saudariku telah memberimu anak turun yang akan memperpanjang darah Kasyapa. Sedangkan Kadru, istri yang hanya bisa memberimu kesepian ini, hanya bisa memanjangkan kesedihan hingga akhir jaman. Ya, Sang Resi. Jika kau masih menyisakan sedikit kasihmu padaku, berilah Kadru puja dan mantra agar bisa memberimu seribu putra.”
Kasyapa memenuhi permintaan Kadru. Diberinya Kadru seribu butir telur. Kadru menyembah berkali-kali lalu beringsut pergi. Tinggal Winata dan air matanya yang semakin deras jatuh ke tanah.
“Sang Resi. Berilah Winata benih Kasyapa yang paling utama, yang akan melahirkan putra-putra yang perkasa dan sakti. Lebih sakti dari anak turun Kadru atau siapa pun.”
Maka diberilah Winata sepasang telur.
“Tetaskan, lalu peliharalah mereka dengan seluruh kasih yang kau miliki. Merekalah benih paling utama yang pernah aku punya.”
Lima ratus tahun kemudian, seribu telur yang dierami Kadru menetas menjadi seribu naga yang mahasakti. Seribu naga yang mampu menyemburkan api dari mulut dan lubang hidung mereka. Seribu naga yang mampu bergerak dengan cepat di lautan maupun di daratan. Dan bisa yang bisa membuatmu mati dalam sekejapan mata.
Cemaslah Winata melihat seribu naga kecil dan nakal yang tiap pagi dan sore keluar masuk kediaman Kadru. Bukan hanya Winata yang cemas, tapi kedua belas saudari Kadru yang lain juga merasakan hal yang sama. Seribu naga kecil, nakal dan berbisa, yang mampu mengeluarkan api seenak perutnya sendiri, yang mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa dalam medan macam apa pun, adalah ancaman yang bukan main-main. Kebakaran dan kematian menjadi berita harian yang makin hari makin terdengar biasa saja. Dan Winata bertambah-tambah lagi cemasnya, karena sepasang telur yang dipeluknya lebih dari lima ratus tahun tak juga menetas. Ia marah. Ia menuduh Kasyapa, menuduh seluruh hal di luar dirinya, adalah bencana yang membuatnya terhina.
Di puncak kemarahan ia memecah sebutir telur dan menarik isinya dengan sekuat tenaga hingga seekor burung yang gagah dan indah tapi tanpa sepasang kaki, terbetot keluar dengan paksa. Tubuh yang lumpuh itu masih dibasahi lendir kental kekuning-kuningan. Bau busuk yang menusuk hidung menyebar dengan cepat dari kediaman Winata menuju seluruh tempat yang bisa dicapai angin.
Winata terpaku. Ia serupa patung seorang ibu yang tengah menyesali perbuatannya. Sedangkan seekor makhluk yang belum saatnya keluar dari cangkang, tergeletak tak berdaya di dekat kakinya. Burung malang itu bergetar, mungkin oleh perasaan sedih dan marah. Ia memang tampak belum siap untuk berada di dunia. Dan ketidaksiapannya itu menjelma jadi kutuk dan serapah pada perempuan yang telah berani merebut takdir yang masih berada dalam pelukannya.
Winata belum beranjak dari perasaan bersalahnya. Dan sepertinya tak akan bisa pergi jauh-jauh dari sana. Ia lupa bahwa ia masih punya sebutir telur yang masih menggenggam erat-erat takdirnya sendiri.
Burung gagah tanpa sepasang kaki itu bernama Aruna. Karena kesaktiannya ia dipercaya menjadi kusir matahari. Setiap hari ia menyeret matahari mengitarimu tanpa henti. Kurasa kau tak perlu meragukan kesaktian, dan kesetiaannya.
***
Jatayu dan Sampati, Bu, dulu kukira mereka bersarang dalam mulutmu. Ternyata keliru-mereka bersarang di dasar kepalaku dan sekarang terbang meninggalkan sarangnya, melintas di tempurung kepalaku. Mereka menuju matahari, tepatnya, mencari bapaknya yang menyeret matahari.
Sepasang burung yang gagah berani itu membumbung tinggi dan semakin tinggi. Tubuh mereka telah berubah menjadi dua titik hitam yang melesat secepat bintang jatuh. Ribuan minggu telah mereka lintasi dan matahari masih butuh ribuan minggu yang lain lagi. Tapi sepasang burung yang begitu merindukan bapaknya itu tak peduli. Mereka terus mengepakkan sayap sekuat-kuatnya, menapaki angin, menghembuskan rasa kangen yang berlebihan.
Apa jadinya jika kita adalah sepasang burung? Kita adalah Jatayu dan Sampati yang melintas di sesela bintang-bintang dan debu luar angkasa, berpacu dengan ribuan minggu menuju matahari. Apakah kau akan terus terbang bersamaku sampai saat matahari melelehkan bulu-bulu kita?
Sampati memeluk tubuh Jatayu ketika panas itu sudah tak tertahankan lagi. Bulu-bulu di kedua sayapnya meleleh, menetes seperti air hujan kental berwarna hitam terbakar. Dengan tenaga yang tersisa, mereka menjauh dari matahari.
Tak ada Aruna. Hanya ada matahari yang melelehkan apa saja. Aruna hanya cerita yang hampir saja membunuh mereka berdua.
Sampati tak bisa terbang lagi sejak saat itu. Sedangkan Jatayu, sepanjang hidupnya dikejar hutang: sepasang sayap saudaranya yang hangus terbakar karena melindunginya dari panas matahari.
Aku tak pernah membayangkan diriku adalah seekor burung.

***

Iklan