Kemuning Rubuh Sebelum Magrib

Cerpen: Gita Romadhona

Daun-daun Kemuning di halaman berguguran, sudah mulai musim kemarau, pikirku. Aku tatap tinggi batangnya yang melebihi tinggi badanku. Langka batang kemuning setinggi ini, biasanya batang kemuning hanya setinggi Kenanga atau Asoka pagar. Kemuning itu, kemuning kesayangan Yayi. Ia dapat bibitnya dari kenalannya yang orang Jepang. Yayi sangat memperhatikan kemuning itu, bahkan ketika bunga-bunganya yang kecil-kecil dan berwarna putih mulai mekar, Yayi akan mengawetkan beberapa di antaranya. Dimasukkannnya bunga-bunga kemuning itu ke dalam botol yang berisi air tawas. Kemuning awetan itu akan tahan berbulan-bulan, baik bentuk maupun wanginya, wangi yang mirip dengan wangi Kenanga. Ia lalu menyimpan Kemuning-tawas itu dalam lemari kaca kecil miliknya bersama barang-barang “berharganya” yang lain.
Usia Batang kemuning itu jauh lebih tua dariku yang sudah 20 tahun, namun batang dan rantingnya masih terlihat kokoh dan kuat. Kata mama, ketika pertama kali ia datang ke rumah ini sebagai pengantin baru, Kemuning itu telah lebih dulu ada.
Dulu,…dulu sekali, ketika cucu Yayi baru kami berempat, aku dan abangku, lalu anak pakwo, ayuk Mayang dan ayuk Ega, Papa pernah membuatkan ayunan yang dipotong dari ban bekas di dahan kemuning itu. Kami sangat senang, ayunan tersebut menjadi satu-satunya permainan kami yang paling berharga. Sayang, suatu hari Yayi memotong dan membakar ayunan tersebut, ayunan yang menjadi kesenangan dan kebanggaan kami. Yayi membakar kesenangan itu hanya karena marah kemuning kesayangannya diganggu. Kami berempat menangis sedih, tapi Yayi malah memarahi kami dan menjentik kuping kami satu-satu. Kadang aku pikir ia jauh lebih menyayangi kemuning tersebut ketimbang cucu-cucunya.

“Jangan tegak di depan pintu ta, dak elok anak gadis laku seperti itu,” Suara tua Yayi menyadarkanku dari lamunan.

“Bawakan bangku ke luar ta,” perintahnya

Agak malas aku beranjak dari depan pintu, aku ambil bangku kayu dan berjalan mengikuti Yayi. Sosok tuanya tertatih-tatih memegang tongkat, berjalan di depanku.

Yayi menggunakan kemeja yang tidak pernah dikancing, memperlihatkan dadanya yang kurus dan hitam. Kemeja yang sama tua dengannya. Kain yang dikenakannya juga lusuh dan agak berbau pesing. Bau khas Yayi. Yayi memang jarang sekali mandi, seminggu mungkin hanya satu kali. Ini membuatnya beraroma khas yang membuat orang segan berlama-lama berada di dekatnya. Ia terus berjalan menuju kemuning, aku letakkan bangku itu di dekatnya.

Sebenarnya aku ingin bergegas pergi, malas rasanya berlama-lama berdua saja dengannya. Ada-ada saja petuah atau cerita yang bakal kudengar, petuah dan cerita yang diulang itu-itu lagi, sampai aku hapal luar kepala. Kalau lagi tidak bercerita, Yayi akan marah-marah, ada-ada saja yang diomeli dan digerutuinya. Mama adalah orang yang paling sering kena omelannya, dari mulai kopi yang tidak manis, pindang ikan yang kurang asin, sampai kain yang kurang kaku setrikaannya. Kata bicik Reni, adik papa yang paling kecil, Yayi tidak menyukai mama karena mama bukan asli orang Jambi.

Dulu, ketidaksukaan Yayi pada mama tidak begitu kentara karena skala pertemuan yang sebulan sekali atau di hari-hari raya saja. Sejak maknyai meninggal dua tahun yang lalu dan Yayi tidak bisa mengurus dirinya sendiri, kami sekeluarga pindah dan tinggal serumah dengan Yayi. Sebenarnya menurutku, bukan mama saja yang ia tak suka, atau tepatnya tidak ada orang yang ia suka. Ada-ada saja cela orang di matanya yang akan membuatnya menggerutu.

“Ambil air ta, percik-percikan ke dahannya, lihat batangnya meranggas kekeringan,”

“Musim kemarau Yayi, semua juga meranggas,”

“Kau tau apo ta, sekemarau apapun hari, belum pernah Yayi nengok kemuning ini jadi seperti ini,”

Aku diam saja, kupercikkan air yang kuambil dari kolam ikan, kuperhatikan batang kemuning, biasa saja. Batang kemuning itu tak tampak seperti yang dikhawatirkan Yayi. Dahan-dahannya masih kelihatan kuat dan congkak. Aku tidak melihatnya meranggas seperti yang dikatakan Yayi.

Lama aku bersamanya, tak seperti biasanya, Yayi tak banyak bercerita. Ia duduk diam, hanyut memandangi dahan-dahan kemuning. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Magrib Yayi, ta masuk dulu ya,” kataku ketika kudengar sayup-sayup azan dari surau bawah.

Yayi tak menjawab, ia tetap diam tak melihatku. Biasanya kalau magrib Yayi juga akan segera masuk, walaupun ia tidak pernah ikut sholat. Tapi, ia menghormati magrib, tidak baik katanya berada di luar pada saat magrib. Kali ini lain, Yayi tetap berada di luar.

Aku lalu bergegas masuk, meninggalkannya berdua dengan kemuning. Yayi memang tidak pernah sholat. Iya, sejak aku tahu dan bisa memanggilnya Yayi, aku tak pernah sekalipun melihatnya tegak berdiri mengangkat takbir. Padahal, sering sekali aku mendengarnya bicara atau menasehati, baik pada anak-anaknya atau kepada cucu-cucunya, dengan menggunakan contoh ayat-ayat. Ia tahu tentang semua dalil, ia tahu tentang semua hadis. Bila ia mencontohkan ayat-ayat itu, suaranya merdu dan menyejukkan. Sayangnya, ia tak pernah mempraktekkannya, Yayi tidak pernah sholat, ia juga tidak pernah puasa.

Yayi memang dibesarkan oleh keluarga yang cukup Islami, dan ia adalah seorang yang pintar. Ia salah satu dari dua orang, yang pada tahun 1933 dikirim ke Batavia untuk bersekolah. Saat itu hanya merekalah sarjana di Jambi. Denmar, sarjana satu lagi, hidup makmur dan terpandang. Anak-anaknya hidup sukses dan berpendidikan. Sedangkan Yayi, entah mengapa tidak begitu sukses. Kata Papa, itu karena ia terlalu pintar, ia terlalu sibuk membaca dan memikirkan ilmu itu sendiri sampai lupa memikirkan hidup, bahkan untuk mandi pun ia segan. Sehari-hari ia hanya duduk membaca buku, buku apa saja, dari Perang Vietnam sampai komik Khopingho bertumpuk-tumpuk di atas loteng. Untungnya, Maknyai adalah putri seorang demang dengan warisan yang cukup banyak. Kedelapan anak-anaknya hidup dari uang warisan itu.

Ternyata sore itu adalah kali terakhir aku, Yayi dan Kemuning itu bersama-sama. Malamnya ia tiba-tiba jatuh sakit, tak hendak makan apapun sedikit juga. Setiap ditawari makan ia bilang perutnya sudah penuh, terlalu kenyang. Ia bahkan tak menoleh ketika mama memasakkan ikan tempoyak kesukaannya. Dua hari ia terbaring, ia semakin kurus. Malam ke tiga, Papa memutuskan untuk memanggil semua anggota keluarga. Pakwo dan Om wan yang tinggal di Muara Bungo, beberapa jam jauhnya dari Jambi, datang malam itu juga bersama anak-anak mereka.

Malam itu, semua anak-anak yayi dan cucu-cunya berkumpul. Ia lalu memanggil semua untuk mendekat kepadanya. Yayi lalu bercerita.

Tiga malam yang lalu ia bermimpi, dua orang berbaju putih mendatanginya. Mereka bilang isi perut Yayi terlalu penuh, lalu mereka membedah perutnya, tapi anehnya tak dirasakan oleh Yayi sakit sedikitpun. Anehnya lagi di dalam perut itu tidak ditemukan kotoran dan organ yang seharusnya berada di sana. Yayi hanya melihat dari perutnya dikeluarkan begitu banyak ayat-ayat, Al-fatiha, An-nas, Al-baqarah, hingga terakhir yang keluar adalah At-taubah. Yayi berteriak-teriak menghentikan perbuatan mereka, ia bilang jika semua dikeluarkan, lalu apa lagi isi perutnya nanti? Tapi, mereka menjawab hal yang sama, bahwa perut Yayi sudah lama terlalu penuh.

Aku diam, semua diam. Bicik reni teseguk-seguk menahan tangis.

Lalu ia melanjutkan ceritanya. Dua orang laki-laki itu berkata bahwa mereka menyesal menitipkan semua pada Yayi. Tapi, kata Yayi, walaupun saat itu ia merasa tidak rela isi perutnya yang sudah bertahun-tahun dimilikinya dikeluarkan dan diambil, ia juga merasa sangat lega, ia merasa saat itu perutnya begitu terasa bersih dan luas.

Tiba-tiba saja Yayi diam, menghentikan ceritanya. Ia mulai menangis. Ia bilang, ia teringat perjumpaannya dengan Al-fatiha, bagaimana ia berjanji padanya untuk menjaga dan menjenguknya beberapa kali sehari, namun ia terlalu terlena, ia menumpuk-numpuk janji pada yang lain, ia mulai menyukai bentuk-bentuk lain, ia terlalu haus pada setiap bentuk hingga tak pernah puas dan lupa memanfaatkannya.

Aku semakin tidak mengerti pada racauan Yayi, dan semua orang dalam ruangan ini pun aku yakin tak seorang pun yang mengerti. Tapi, aku begitu jelas melihat dari wajahnya, Yayi sangat menyesal, entah untuk apa, dan entah untuk siapa.

Malam itu Yayi tidur nyenyak sekali, ia belum pergi.

Baru esoknya, ketika Bicik Reni sedang di dapur membuatkan susu buatnya, ia pergi. Bicik Reni menangis memanggil-manggilnya, namun ia sudah tidak ada. Aku tidak menangis. Entahlah aku tidak mengerti, tapi aku sama sekali tidak merasa kehilangan. Bukan berarti aku tidak menyayanginya, tapi entahlah mungkin karena aku terlalu lelah dan sudah tahu akan menghadapi hal ini. Aku tidak menangis.

Semua langsung sibuk, Papa memberi kabar pada penjaga surau. Orang-orang kampung mulai berdatangan, ada yang membawa beras dan ada yang membawa bunga. Ibu-ibu mengiris daun pandan, memotong-motong mawar dan beberapa meronce melati. Aroma melati dan mawar yang bercampur pandan segera saja memenuhi ruangan. Akan tetapi, entah mengapa aku merasa ada aroma yang tidak hadir dalam ruangan ini, aroma yang seharusnya ada, aroma bunga kemuning.

Dua hari setelah itu, semua sedang sibuk untuk menyiapkan tahlil malam ketiga. Tahlil malam ini berbeda dengan dua malam sebelumnya.Tahlil akan diadakan setelah sholat magrib, dan akan disediakan nasi beserta lauk-pauknya untuk menjamu mereka yang tahlilan. Biasanya tamu tahlilan malam ketiga lebih banyak daripada tamu malam-malam sebelumnya. Karena itulah, Papa memasang tenda di halaman karena takut ruang tamu tidak cukup menampung orang-orang tahlilan nanti.

Tiba-tiba terdengar suara berdebam keras dari halaman. Aku bergegas keluar, di luar sudah kulihat Papa memegang parang. Kemuning Yayi, rubuh.

“Kenapa ditebang pa?,” Tanyaku

“Tenda tahlilannyo dak muat kalu kemuning ni dak di tebang, lagi pulo sudah tuo, cuma jadi sarang anai-anai,” jawab Papa sambil menunjuk batang kemuning tersebut.

Dari sisa akar kemuning tersebut, aku melihat beratus-ratus anai-anai keluar dari dalam tanah. Ternyata sudah lama mereka menggerogoti Kemuning itu. Kemuning yang terlihat kokoh dan kuat itu ternyata dalamnya keropos dan hancur.

“Ambil koset (korek api) samo minyak tanah ta,”

Aku segera berlari ke dapur mengambil koset dan minyak tanah, lalu kuserahkan pada Papa. Papa menyiramkan minyak tanah pada akar kemuning dan menyulutnya. Segera saja api membakar sisa akar kemuning tersebut.

Aku diam memandangi api yang tidak terlalu berkobar.

Pikiranku kembali mengingat, ketika beberapa hari yang lalu masih bersama Yayi di depan kemuning ini.

Tahukah Yayi saat itu, kalau kemuning itu ternyata sarang anai-anai. Tahukah Yayi kalau ia bukan meranggas, tetapi keropos? Kemuning yang bediri lebih dari dua puluh tahun itu ternyata menyimpan Anai-anai yang semakin hari-semakin merusak batangnya sendiri. Tahukah Yayi saat itu, kalau mereka akan segera berpisah?

Sayup-sayup aku dengar azan Magrib dari surau bawah.

* * *

Margonda, 18 Februari 2003, 10.36 wib.

Thanks to PO Paris De Fib 2004 🙂 This story dedicated for my grand pa and for you

Gita Romadhona Lahir di Jambi 18 Juni 1983, mulai menulis sejak SMU. Karya-karyanya di muat di harian Jambi ekpress, Jambi Independent, majalah Horizon, Annida, dan Sabbili. Aktivitas sekarang adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Sajak-sajaknya terkumpul dalam berbagai antologi.Antologi: Kalam (Jambi, 2001), Musim Bermula (Riau, 2001), Tadarus Puisi (Jambi, 2002), Kemilau Musim (Riau, 2002), Nominasi Krakatau Awards 2002 (Lampung, 2002) Bisikan Kata, Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta, 2003), Jurnal Puisi, dan CyberPunk Grafity (2005)

Iklan