Perempuan di Seberang Jalan

Cerpen: Gita Nuari
Sumber: Suara Karya, Edisi 04/02/2006

Seorang perempuan terlihat tengah menggendong seorang bayi di seberang gedung perkantoran bertingkat. Sesekali perempuan itu mendongakkan kepala ke lantai empat, di mana Silvia berkantor. Sejak perempuan itu datang, matanya selalu tertuju ke arah Silvia berada.

“Lihat perempuan itu, Vera,” kata Silvia kepada teman sekantornya yang juga tahu keberadaan perempuan itu di depan kantornya. “Dia berdiri lagi di situ. Mau apa dia? Apa tidak kasihan sama anak yang digendongnya?”

“Mungkin dia mau cari pekerjaan. Kamu tawarkan saja dia jadi pembantu di rumahmu,” sahut Vera sambil menoleh ke bawah, di mana berbagai jenis kendaraan berlalu lalang di depan perempuan yang sedang dibicarakannya.

“Untuk apa pembantu, di rumahku tak ada pekerjaan. Kau sajalah.”

“Ah, pembantu di rumahku sudah dua orang. Kau saja, Sil.”

“Aku nggak butuh, Vera. Aku suka mengerjakannya sendiri.”

“Untuk menjaga rumahmu barangkali?”

“Sekarang ini masalah pembantu rumah tangga lagi rawan. Jadi, aku belum

membutuhkannya,” tukas Silvia kembali. Dan, perempuan yang tengah dibicarakan itu tetap bertahan di seberang kantornya, menatap ke lantai empat di mana Silvia berada.

Handphone Silvia berdering. Silvia mengangkatnya.

“Sil, mau dijemput jam berapa?” terdengar suara suaminya.

“Jam empat saja Mas, aku mau ke Pasar Baru. Antar aku ya.”

“Ya, jam empat aku ke kantormu,” sahut Fredy, suami Silvia. Silvia tersenyum. Telepon ditutup.

“Enak ya, punya suami setia,” sela Vera yang sempat menguping. “Mau jemput

aja pake nanya dulu kesiapanmu. Terus mau mampir ke mana dituruti. Beruntung kamu Sil, punya suami seperti Fredy,” sanjung Vera. Silvia hanya tersenyum menanggapi komentar teman kerjanya itu.

Pukul empat kurang lima menit Fredy sudah muncul. Silvia melihat kedatangan suaminya itu dari jendela. Dan, perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan juga turut memperhatikan kedatangan Fredy yang mengendarai Soluna merah memasuki pelataran parkir. Apa tidak cape berdiri seharian di situ, renung Silvia sesaat matanya masih menangkap sosok perempuan itu. Lalu Silvia pamit kepada Vera yang masih membenahi kertas kerjanya, terus ke luar pintu menuju lift. Setibanya di groundfloor, Fredy sudah menyambutnya dengan senyuman manis. Perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan itu menyaksikan sepasang suami istri itu keluar gedung dengan pandangan mata yang nanar.

“Mas, perempuan yang berdiri di pinggir jalan itu sudah sejak pagi hari berdiri di situ. Apa tidak kasihan sama bayi yang digendongnya?” kata Silvia ketika mobilnya melewati perempuan itu. Fredy yang sempat menoleh sekejap ke perempuan yang diceritakan istrinya itu mendadak linglung namun tak diketahui Silvia. Seperti ada getaran yang tiba-tiba merayap ke tubuh Fredy ketika sekilas tadi matanya melihat perempuan yang dimaksud istrinya. “Kasihan juga mas, masa dari tadi pagi kerjanya cuma mondar-mandir di depan kantorku. Entah siapa yang ditunggunya,” lanjut Silvia menerangkan. Sedangkan Fredy justru menancap pedal gas setelah kaca spion memperjelas sosok perempuan itu.

“Mungkin orang kesasar!” tukas Fredy sekadar mengusir kegusaran hatinya.

“Kesasar kok nggak mau nanya, ya repot!” timpal Silvia. Sang suami kali ini tidak

menanggapi. Fredy lebih sering bicara dengan perasaannya sendiri sejak melihat perempuan itu berdiri di depan kantor istrinya.

Dari Pasar Baru Fredy tidak mau diajak ke mana-mana lagi oleh Silvia. Alasan Fredy, ada pekerjaan kantor yang terpaksa dia bawa pulang ke rumah. Silvia tidak protes karena dia tahu pekerjaan suaminya begitu padat sebagai manager di perusahaan yang bergerak di bidang asuransi sehingga pekerjaan itu sering dibawa pulang ke rumah, dan Silvia amat tahu itu. Namun sebaliknya, jika pekerjaan Fredy benar-benar menumpuk, barulah dia total mengerjakannya di kantor sampai pagi. Bila Fredy kecapean karena pekerjaannya itu, Silvia rela memijiti suaminya sampai badannya segar kembali. Belum lagi, kalau Fredy minta diteruskan dengan bercinta, Silvia dengan senang hati melayaninya. Silvia selalu tanggap terhadap apa saja yang diinginkan suaminya. Tapi satu hal yang belum dikabulkan keinginan suaminya yaitu, anak. Silvia kadang kehabisan akal bila Fredy menanyakan hal itu. Karena, hingga kini Silvia belum hamil-hamil juga.

Tetapi untuk hari itu, Fredy tidak minta apa-apa. Dipijiti atau bercinta. Ada yang bergelut di dalam hatinya. Bahkan dadanya seakan hendak meledak. Mengapa dia ada di situ? Kalimat itu terlintas di benak Fredy saat menjelang tengah malam, saat Silvia sudah tertidur nyenyak.

* * *

Orang-orang yang berpapasan dengan perempuan yang berdiri di tepi jalan raya itu hampir semua matanya tertuju kepada bayi yang digendongnya. Seorang ibu datang menghampiri lalu memberi sejumlah uang. Mungkin untuk membeli susu atau membeli keperluan si bayi yang digendongnya. Orang-orang yang merasa iba, ikut-ikutan memberi uang ala kadarnya. Dan, perempuan itu tidak menolak meski dia tidak merasa mengemis. Sudah tiga hari ini perempuan itu berturut-turut datang membawa bayinya lalu berdiri di tepi jalan raya itu lagi, di seberang gedung perkantoran tempat Silvia bekerja. Silvia yang sering melihat perempuan itu, jadi ikut-ikutan bingung terhadap kelakuannya yang sanggup berpanas-panas dari pagi hingga petang. Apa maksud perempuan itu berdiri terus-terusan di situ? Renung Silvia untuk yang kesekian kali.

Namun ada kejadian yang teramat janggal di mata Silvia, yaitu sewaktu dia sedang asyik-asyiknya memperhatikan perempuan itu, tiba-tiba datang sebuah mobil sedan berwarna merah dan berhenti tepat di depan perempuan yang sedang menggendong bayi itu. Silvia amat terkejut karena kenal betul dengan mobil sedan yang berhenti di depan perempuan itu. Bukankah itu mobil Fredy? Silvia membatin. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri perempuan itu. Sang ibu satu anak itu tampak terkejut sewaktu tangannya ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Setelah perempuan itu dapat dibawa masuk bersama bayi yang digendongnya, dengan cepat mobil itu dipacunya ke arah utara. Kejadiannya begitu cepat, sampai-sampai Silvia terpaku diam tanpa bisa berteriak untuk mencegah perbuatan pria yang ternyata adalah suaminya sendiri. Ada apa suamiku dengan perempuan itu? Renung Silvia ketika sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui. Yang melihat kejadian itu bukan hanya Silvia, tetapi orang-orang yang berada di sekitar lokasi itu.

“Tadi itu penculikan!” kata seseorang.

“Kejadiannya begitu cepat. Mau dibawa ke mana perempuan dan bayinya itu?”

kata yang lain.

“Ada apa?” tanya seseorang yang belum paham.

“Penculikan!”

“Ooh”

Melihat kejadian yang sangat tak terduga itu, Silvia nekat pulang cepat. Dia

bingung, mau berbuat apa, melapor atau apa. Semua belum bisa dia pahami. Bahkan Silvia tidak tahu lagi di mana suaminya kini berada. Karena sampai larut malam Fredy belum pulang. Ketika dikontak lewat HP-nya, ternyata HP suaminya tidak diaktifkan. Hati Silvia tambah gelisah. Rasa cemburu mulai merayap, mulai membakar kepercayaannya terhadap suaminya yang sangat dia cintai itu. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Silvia memburunya cepat, “Mas Fredy?” sapa Silvia dengan bibir gemetar.

“Sabar Sil, aku tahu kamu gelisah,” sahut Fredy dari seberang, “Tapi dengar dulu omonganku,” lanjutnya.

“Jangan dikira aku tidak tahu, mas. Aku melihat apa yang mas lakukan terhadap perempuan itu tadi siang. Jelas sekali, mas! Sekarang katakan, dibawa ke mana perempuan dan anaknya itu?” tanya Silvia berang.

“Anak.., anak itu sekarang ada di dalam mobil. Ta…, tapi ibunya, ibunya,” suara Fredy terputus-putus.

“Kenapa dengan ibunya?” kejar Silvia tak sabar, cemas dan gelisah.

“Tak sengaja aku telah membunuhnya! Maafkan aku Sil.” Wajah Silvia tiba-tiba

berubah tegang, sedang tubuhnya jadi lemas. “Sil, Silvia, dengar dulu aku mau bicara, aku mau berterus terang! Kamu harus bantu aku, aku khilaf!”

“Siapa perempuan itu?”

“Ceritanya panjang Sil, tapi anak yang digendongnya itu adalah anakku.”

“Apa?” Silvia terkejut. Kian perih hatinya. Beribu pekikan muncul di dalam

dadanya. Dia baru sadar kalau orang yang dia cintai itu ternyata hanya seorang bajingan! Benaknya berkata.

“Terus terang, aku ingin punya anak. Maka aku kawini perempuan itu secara diam-diam. Sudah setahun ini, Silvia. Dan, kuminta perempuan itu tetap tinggal di kampung bersama kedua orang tuanya, tapi ternyata perempuan itu tidak sabar. Dia nekat mencariku, dan dia minta untuk tinggal serumah bersama kita. Aku tolak mentah-mentah keinginannya. Tapi dia mengancam, kalau tidak dituruti dia akan meletakkan anak itu di depan kantor kamu. Dan, itu nyaris dia lakukan kalau tidak keburu aku bawa pergi,” papar Fredy

Silvia terisak keras.

“Maafkan aku, Sil. Kamu harus tolong aku. Jangan bilang siapa-siapa atau lapor

polisi tentang kejadian ini. Anak yang ada di tanganku ini kita rawat saja. Kita besarkan bersama-sama. Mudah-mudahan tak ada orang melihat apa yang baru saja aku lakukan. Bantu aku, Silvia.”

“Baik,” kata Silvia berusaha menguatkan hatinya. “Sekarang mas pulang, dan bawa anak itu ke rumah,” lanjut Silvia mencoba tenang, tapi air matanya tidak bisa dibendung.

“Terima kasih, terima kasih Silvia, aku akan segera pulang.”

“Sekarang!”

“Ya, sekarang.”

Telepon terputus. Silvia terduduk lunglai di lantai rumahnya. Hatinya remuk

redam. Tak menduga kejadiannya akan seburuk ini. Tetapi entah apa yang dirasakan oleh Silvia di tengah malam itu ketika dia tiba-tiba bangkit lagi lalu meraih kembali gagang telepon dan kemudian memutar nomor-nomor tertentu.

“Halo, selamat malam, kantor polisi? Ini saya, Silvia, melaporkan bahwa tadi siang telah terjadi penculikan anak di depan gedung Mutiara II, dan sekaligus terjadi pembunuhan terhadap ibu si anak itu di tempat lainnya. Tolong Bapak datang ke Jalan Palang IX Nomor 2002, karena si pelaku akan datang ke rumah saya malam ini!” Lapor Silvia kepada polisi yang menerima pengaduannya.

Setelah Silvia menelepon polisi, di benaknya berkata; ‘Aku mau tahu, seperti apakah melihat Fredy berjalan dengan tangan diborgol!’

***