Seorang Band
Cerpen: Geger Riyanto

SEJENAK suara bass berdistorsi memenuhi Hall raksasa Bulungan tempat berlangsungnya KURASSEL – pensi SMUN 99. Sang sumber suara yang berada diatas panggung kembali menampar alat musiknya beberapa kali, ia melanjutkannya dengan tarian lincah jarinya memetik senar bass, disambut dengan permainan drum dan gitar yang menyambungnya menjadi suatu lagu yang berirama nge-funk dan ‘nge-but’ (baca:ngebut).

Penonton lalu bersorak dan ‘bergonjang-ganjing’ ala ‘moshpit’ setelah mengetahui mereka memainkan lagu Aroud the World’nya Red Hot Chilli Peppers.

“Woooooooooo!!!” Teriak Kid sang vokalis mengikuti permainan cepat bandnya, dan lirik-lirik kemudian melantun dari lidah Kid, diiringi oleh permainan bandnya yang benar-benar persis dengan permainan RHCP yang diambil dari album Californication itu.

Setelah lagu tersebut berakhir, teriakan KID menggema, menyapa penonton yang memenuhi ruangan besar tersebut.

“Kami adalah Arteeet!!! YEAAAAH, METAAAAAAALLL!!!” Segenap personel Artet menyambung Kid dengan iringan musik lagu selanjutnya – Give it Away.

Suasana hangat dan meriah di stadion bulungan terus meliputi penampilan band ini seiring 3 lagu yang dibawakannya setelah itu – Other Side, Can’t Stop dan Under the Bridge, semuanya adalah lagu Red Hot Chilli Peppers.

***

Dua hari sesudah kemeriahan tersebut, kegiatan Belajar-Mengajar kembali dilangsungkan di SMUN 99. Kwartet Artet anak kelas 3 SMUN 99 juga kembali mengikuti hari sekolah seperti biasa di kelas mereka masing-masing.

Ketika Kid menaruh tas dimejanya, ia diserbu oleh geng ‘anak belakang’ IPA 1.
“METAAALLL!!!” seru seorang temannya mengikuti teriakan KID di Pensi kemarin, membuat Kid bereaksi dengan terkekeh-kekeh.

“Ngomong-ngomong kemaren lu ikut ‘moshing’ ngga?” tanya Kid kepadanya.
“Ya ikut lah, lu mangnya kaga ngeliat gw? Payah lu ah…” Jawabnya penuh nada canda.
Berbagai wujud pujian terus menghampiri Kid. Pada hari itu Kid menjadi bintang di kelasnya. Demikian juga yang dialami oleh ketiga kawannya Edo sang gitaris, Martin si drummer dan Bassis Geri di kelasnya masing-masing.

Sebagai pemegang instrumen sentral dari bandnya yang berhaluan Red-Hot (Red Hot Chili Peppers…Pen), Geri siswa IPS 3 dipuja-puja oleh wali kelasnya Mas Amir yang menggemari musik beraliran metal-jazz.

“Gile lu kemaren, RHCP kan bassnya susah mampus… Lu belajar bass dari kapan?” tanya mas Amir iseng di tengah jam pelajarannya.

“Baru-baru koq, palingan pas kelas 2 akhir-akhir…”

Tidak percaya dengan singkatnya waktu yang diperlukan Geri untuk menguasai alat musik tersebut, mas Amir kemudian mencari pertanyaan yang bisa merasionalkan talenta Geri tersebut.

“Lu ikut les ya?”

“Kaga…” Jawaban singkat yang semakin membuat Mas Amir terpongah.

Autis yang diderita Geri di masa kecil membentuk karakternya menjadi pribadi yang sangat melankolis. Lingkungan pergaulan yang selalu menekannya dengan celaan-celaan verbal maupun non-verbal, memvonisnya sebagai “sosok yang tidak memiliki talenta”. Tokoh tak bertalenta tersebut berhasil diruntuhkan ketika ia menemukan dunia baru yaitu musik & band. Perkenalannya dengan dunia musik adalah ketika ia menonton konser Red hot Chili Peppers dari VCD yang dipinjamkan oleh Kid. Kekagumannya langsung mengarah kepada Flea sang bassis yang kemudian menjadi Inspirasinya untuk membeli Bass dan berlatih keras mengandalkan lagu-lagu Red-Hot yang didengarkannya melalui MP3.

Beberapa bulan kemudian ia menjadi mahir memainkan alat musik ini. Kid, salah satu dari sedikit sahabat yang Geri punyai menyulap talenta Geri ini menjadi fondasi dari suatu kelompok yang bernama Artet. Kelompok ini’lah yang menjadi tempat terbaiknya, benteng bagi jiwanya yang lemah dan juga belahan dari dirinya sendiri.

***

Hari selasa jam 2 siang sebelum pelajaran tambahan, Edo ikutan nimbrung di tongkrongan IPA 1 bersama Kid dan kawan-kawan. Ditengah gelak canda, ia tiba-tiba teringat pada tawaran yang pernah diberikan kepadanya.

“Gw ditawarin bocah-bocah osis noh!” ucapnya kepada Kid. “Hari selasa 2 minggu lagi ada acara koka kola di sekolah kita. Kita mo ngisi acaranya ngga?”

“Gw sih boleh-boleh aja… Bocah-bocah yang laen gimana? Lagunya gimana?”
“Kita arrange aja hari sabtu ntar…” jelas Edo menjawab rentetan pertayaan Kid tersebut.

“Sekarang lu hubungi anak-anak aje!”

“Yo!”

***

Tibalah hari sabtu, yang merupakan hari rutin mereka untuk latihan nge-band di studio NVU yang berlokasi tak jauh dari SMUN 99. Merupakan suatu tradisi di studio ini untuk menempatkan nama artet hari Sabtu jam 13.00-14.00.

10 menit sebelum jam main mereka Geri tiba di NVU setelah berjalan kaki dari SMUN 99, sementara Edo dan Martin yang naik motor telah tiba duluan.

“Kid mana ger?” tanya Edo ketika ia melihat Geri tidak bersama sobatnya.

“Mmm… Dia sms barusan katanya dia ga bisa ngikut hari ini.”

“Yeee!!! Koq kaga sms ke gua dari tadi?!?” Omel Edo menyalahkan Kid

“Lah gimana? Orang dia baru ng-sms gw 5 menit yang lalu!!!”

“Hhhh… Iya juga yak…” tutur Edo dengan agak geram, “Tapi gimana sih…’kan dua minggu lagi kita manggung… “

Keluhan Edo barusan menutup percakapan mereka, menyimpulkan bahwa tidak ada yang dapat dipersalahkan secara langsung saat itu. Ketiga orang ini terdiam bingung sambil dilihati oleh Bang Edwin sang penjaga Studio.

“Kalian jadi Nge-Band ngga nih?” tanya Bang Edwin.

Ketiganya saling melihati satu sama lain, lalu pertanyaan serupa diulangi oleh Martin

“Iya, jadi Nge-band ngga nih?”

“Ya udah… jadi’in aja deh!” jawab Edo.

“apa maksud lu?” tanya Martin lagi

“Ayo aja, kita coba be-3 aja sekali-kali.”

Setelah mereka bertiga sepakat untuk tetap bermain, Bang Edwin membuka pintu ruang studio dan mengecek sound maupun kondisi alat-alat musik di dalamnya. Beberapa menit kemudian Bang Edwin keluar dan mempersilahkan ‘Artet tanpa Kid’ untuk masuk.

Satu persatu dari mereka menepati posisinya masing-masing di ruangan ber-ac tersebut.

“Hehe, gw pengen jadi vokalis neh sekali-kali…” ucap Edo, seraya ia mengambil gitar.

Setelah beberapa menit mengetes alat musiknya masing-masing, Martin yang dari tadi sibuk memposisikan simbal dan tom-tomnya bertanya.

“Jadi mau maen apa nih?”

“Red-hot’kan?” Ucap Geri yang dari tadi diam karena tidak ada sobatnya.

“Bosen ah… Sekali-kali maen yang laen napa!” Ujar Edo

Geri cukup terkejut dengan ucapan Edo barusan. Semenjak Artet pertama kali nge-band belum pernah Geri mendengar Edo berucap demikian, setidaknya ketika mereka berempat bersama Kid.

“Gimana kalo Nirvana, Smells Like Teen Spirits? Pas’kan kita bertiga…” tanya Edo.

“Boleh…” jawab Martin.

“Yo..Lu pasti tau lagunya kan Ger?” tanya Edo kembali.

Menganggap reaksi diam Geri sebagai tanda ia tahu, Edo langsung saja mulai mengocok gitarnya memainkan intro Smells Like Teen Spirits. Kunci F, A#, G#, C# diulang dua kali dengan gitar tanpa efek, kemudian disambung permainan drum martin yang masuk bersamaan dengan permainan efek gitar Edo memainkan kunci yang sama sebanyak 4 kali.

Setelah memasuki bagian lagu tanpa distorsi (efek gitar…Pen), nampaklah jelas bahwa Geri tidak bisa mengikutinya. Saat itu juga permainan mereka dihentikan oleh Edo.

“Kenapa lu ger?” tanya Edo kepadanya.

“Eeeh.. Gw ngga tau lagunya…”

Jawaban Geri tersebut benar-benar sulit diterima oleh Edo dan Martin. Geri , sosok yang dalam pikiran mereka adalah sang ‘master bass’ dan motor dari permainan band mereka tidak mengetahui hits no. 1 dari Nirvana tersebut.

“Lu bisa maenin apaan donk?” tanya Edo yang masih agak-agak bingung.

“Kalau mau terus terang, gw ngga tau apa-apa kecuali Red Hot…”

Jawaban kali ini jauh lebih menyingkap ketidakmampuan Geri. Kedua rekannya yang baru saja mengetahui kebenaran tersebut tidak tahu harus berkata atau berperasaan apa kepadanya saat ini. Mereka memilih untuk diam seolah-olah telah mengetahuinya sejak lama. Setelah keheningan berlangsung selama beberapa detik barulah terpikir di benak Edo “Mau main apa kita klo gitu..?”, lalu muncullah ide dari Edo sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut..

“Klo gitu Blink 182, All the Small things gimana? Paling ngga lu tau kan lagunya, yang waktu itu dimaenin di Pensi ama bandnya si Upil” ujar Edo kepada Geri.

“Yang itu gw tau tapi gw ngga tau kuncinya.” Jawab Geri.

“Kuncinya Cuma C, G, F, G di ulang-ulang aja” Balas Edo.

“Mmmmmm…”

“Ikutin gw aja… Kita coba ya…” Ucap Edo, menghentikan keragan Geri.

Martin mengetuk hi-headnya tiga kali, permainan All the Small Things pun dimulai dengan intro. Simfoni ketiga instrumen tersebut bersatu pada intro permainan mereka, namun belum sampai pertengahan Edo menghentikan permainan.

“Ger, lu ga bisa ngikutin…Kocokan lu salah!” kata Edo bernada kesal.

“Hhhh…” gumam Geri sambil menggaruk-garuk kepala dan diliputi perasaan tidak enak kepada rekan gitarisnya.

Trio Artet menjadi hening selama beberapa detik mencari pemecahan terhadap ketidakmampuan Geri. Memecah keheningan tersebut, Martin berujar.

“Red Hot aja yuk!”

“Cuma be-3 gini sapa yang mo jadi vokalisnya? Dah tau Red-Hot susah maenin instrumennya sambil nyanyi.” Balas Edo dengan perasaan sedikit jengkel.

“Coba aja dulu…” ujar Martin.

Seperti yang diduga sebelumnya, permainan Red-Hot tanpa Kid amburadul. Demikian juga setelahnya, tidak ada satu lagu pun yang berhasil dimainkan. Walau Edo mengajari Geri mati-matian selama waktu nge-band mereka, namun sang bassis yang kurang dalam kemampuan inter-personal tidak bisa menyerap ajaran Edo dipelajarinya secara langsung, sementara itu Martin asik sendiri dengan drumnya.

Mendekati akhir jadwal mereka, Bang Edwin melongok dan memberikan tanda 1 lagu terakhir. Tanpa menyelesaikan satu lagu terakhir atau lanjut mengajar Geri, Edo yang sudah meluap-luap ketidaksabarannya segera mengakhiri jam main mereka tersebut. Hanya dengan menaruh gitar, tanpa berkata sepatah kata pun.

“Kok sepi sih? Biasanya kalian seru kalo lagi dan habis nge-band” tanya Bang Edwin yang berada di pintu luar studio.

“Yah, gara-gara ga ada Kid bang” jawab Martin menjawab menutupi kedua rekannya.

Sesampainya di parkiran NVU, Geri dan Edo masih saling berdiam diri, sampai dengan Edo menytarter motornya.

“Permainan lo bener-bener kaya mesin… Iya Keren… tapi mesti diinstal dulu, lama…” ucap Edo bernada menyindir. Setelah itu berlalulah Edo bersama Martin meninggalkan Geri dengan perasaan yang campur aduk.

Mekanisme pemikirannya Melankolis Geri, mengunci perkataan tajam Edo di dalam hatinya, sehingga kata-kata Edo menjadi anak panah yang terus memantul ke dinding-dinding jiwanya, melukai dan terus melukainya.

Dunia dimana ia sebelumnya dipuji dan disanjung, kini dicemari oleh cercaan dari kawan seperjuangannya sendiri. Perasaan dirinya bercampur-campur antara sakit hati, marah dan merasa bersalah. Semua rasa getir itu menyebabkan bayangan ‘sosok tak bertalenta’ dari masa lalu kembali menghantuinya.

Malamnya ia meng-SMS sobat karibnya dengan harapan bisa mendapatkan penawar sakit hati darinya.

“Kid lu dimana? Gw lagi ada masalah ama band kita nih, gw butuh bantuan dari lu”

Namun report menunjukkan bahwa SMS yang ditujukkan kepada sang Vokalis tersebut pending.

***

Hari seninnya disekolah, tepatnya di lapangan Upacara – Di antara Ribuan Siswa SMUN 99 yang berbaris untuk Upacara, Geri mencoba menyembunyikan keberadaannya dari rekan satu bandnya. Hatinya yang tersayat-sayat oleh perkataan Edo masih belum sembuh ‘satu sel’ pun.

Ketika waktu menunjukkan pukul 10 waktu istirahat, segera Geri pergi ke kelas IPS 1. Setelah muak dengan pergumulan yang dialaminya selama 3 hari ini, ia berharap Edo sang penyebab dapat juga menjadi jawaban dari kontemplasinya ini.

“Edo!!!” Serunya ketika ia menemukan Edo hendak meninggalkan kelasnya.
Edo menyahut

“Apa?” Ia menoleh, dan cukup terkejut ketika ia

“Oh iya, sori kemaren gw dah ngata-ngatain lu… Biasa’lah kemaren gw laper plus BT lagi gara-gara Kid kaga dateng.”

Beberapa patah kata dari Edo barusan memberikan angin segar sekaligus menyembuhkan sakit hati Geri. Setelah mendapatkan kesembuhannya, Geri berkata.

“Yo, ngga papa koq, tapi Sabtu depan gimane? Gw kaga mo kaya kemaren lagi.”

“Ya udah… Besok mungkin gw bawain lu MP3 lagu-lagu yang Sabtu ini kita maenin”

“Ya, ya…” Jawab geri sambil mengangguk-angguk kecil.

“Ya udah… Baek-baek ya lu, gw mo ke kantin dulu neh!”

“Gw ikut!!!”

***

Tibalah hari sabtu dimana Artet seharusnya latihan untuk Selasa depan. Namun tepat jam 1 siang Geri masih berada di rumah tergeletak bengong diatas kasur rumahnya.
Sehari sebelumnya, ia mengirimkan SMS kepada kedua kawannya, yang bertuliskan:
“Woi, kaya’nya besok kita kaga nge-Band deh, soalnya Kid masih belom ada kabar nih.”
Keduanya pun me-replynya dengan jawaban positif.

Jam menunjukkan pukul 1 lewat 10 menit, Geri yang rutinnya sedang berada di studio mendentum-dentumkan senar bass kini hanya tergeletak diam tanpa kegiatan yang berarti. Tiba-tiba saja kekosongan tersebut memunculkan keinginan di benak Geri untuk menelpon studio NVU, memastikan bahwa jadwal mereka yang biasanya dibatalkan dan mungkin sediki memenuhi rutinitasnya dalam skala kecil.

“Halo… Studio NVU?”

“Ya..?” jawab Bang Edwin.

“Ini, saya dari Artet… Mau mastiin, jadwal kita yang jam 1 dah dibatalin belom?”
“Geri ya?!!?” Seru bang Edwin keheranan “Kok kamu nggak ikut ngeband sih?”

“Apa maksud abang?” tanya Geri keheranan.

“Ini Edo ama Martin lagi maen, ngbawa dua orang temennya yang laen.”

Luka hatinya yang telah terobati kini terkuak kembali, dan yang lebih menyakitkan lagi, ‘pengkhianatan’ kedua orang rekannya menjadi anak panah tambahan yang memperlebar lukanya.

“Mereka maenin apaan?” tanya Geri berlagak tenang menutupi emosinya yang sedang labil.

“Klo gw denger sih kayanya sih alternative rock gitu…”

“Eeee…ya udah deh bang. Makasih ya!”

Tidak tahan membohongi perasaannya sendiri, Geri memukul-mukul kasurnya dan memegangi rambutnya, mencabik-cabik wajahnya sendiri dan nyaris ia melempar bassnya, sepertinya fase orang yang baru divonis kanker oleh dokter dialami oleh dirinya saat ini.

Kehilangan posisinya di Artet baginya berarti kehilangan posisinya yang diakui oleh dunia, kehilangan eksistensialnya di dunia, kehilangan makna dirinya, kehilangan fungsinya sebagai seorang manusia.

***

Malam minggu akhirnya menjadi puncak pergumulan Geri dengan jiwanya sendiri.

Pernyataan “Apakah ia sudah tidak diakui lagi sebagai seorang bassis di Artet oleh karena kepayahannya…” terus bergumam menyakiti tubuhnya sendiri.

Pada malam itu juga Geri akhirnya memutuskan untuk menelpon ke rumah Kid. Ini menjadi yang kedua puluh kalinya Geri mencoba untuk menelpon ke rumah Kid selama seminggu ini dan tidak pernah ada yang mengangkatnya.

“Halo..?” ujar seorang ibu-ibu yang mengangkat panggilan Geri tersebut.
Sekejap hati Geri seperti dihembus angin sejuk karena ‘panggilannya yang terjawab’. Geri lalu bertanya.

“Malam… Kitwansyahnya ada tante?”

“Oh!!! Geri ya?? Apa kabar?” tanya ibu Kid dengan ramah

“Baik-baik aja tante… Kitwansyahnya tante?”

“Kid masih belum pulang. Kamu tau kan seminggu ini… Bla-bla-bla-bla… “

Panjang lebar diceritakan oleh ibunya Kid bahwa selama seminggu ini Kid sekeluarga pergi ke rumah pamannya di Bandung. Namun bagian cerita yang menyakitkannya adalah 56K, grup band ‘Indie’ asal Bandung yang sedang naik daun menarik Kid untuk rekaman album mereka yang disponsori oleh BMG Music, kebetulan Pamannya Kid adalah promotor dari 56K.

Esensi dari cerita tersebut memacu ‘kanker’ yang telah tumbuh sebelumnya dan menggerogoti sosok Artet di dalam hatinya. Ia merasa telah dibunuh oleh teman-temannya di benteng kehidupannya yang bernama Artet dan telah sampai kepada anti-klimaks cerita yang berakhir dengan bad ending.

***
Hari Selasa, yakni hari-H Coca Cola goes to school, Artet tetap manggung dengan beranggotakan Edo, Martin dan dua orang kawannya dari IPS 1 yang menggantikan posisi Kid dan Geri.

Walau sakitnya hati membuat Geri tidak ingin menontonnya namun, Intro lagu Alter Bridge, Open Your Eyes yang dimainkan Artet sebagai pembuka acara Coca Cola goes to school menarik tubuhnya untuk bergabung ke dalam kerumunan murid-murid yang menontonnya.

Mata dan telinganya terpaku kepada penampilan mereka diatas panggung besar Coca Cola. Simfoni baru yang dimainkan dengan terdengar sangat indah, menyerap perhatian segenap siswa SMUN 99 yang mengerumuninya; Di sisi lain menembakkan ribuan anak panah yang tertancap Geri. Saat ini cemburunya meluap karena ia tak pernah mendengar keindahan permainan Artet seperti sekarang ini.

Setelah ‘Artet baru’ menyelesaikan lagu pertamanya, Geri tidak tahan lagi. Ia menutup telinganya dan bergegas keluar lingkungan sekolah dengan mulut yang membisu, serta hati yang menjerit. Hari itu menjadi hari dimana Geri mencapai titik kemuakkan atas segala kepedihan yang dialaminya dan ia memutuskan untuk memusnahkan yang dianggap sumber dari kanker tersebut, yakni Artet. Selasa malam, Artet musnah sepenuhnya dari sisi kehidupannya bersamaan dengan ia mengubur talentanya bermain Bass yang ia vonis ‘sangat payah’.

***

Beberapa hari ke depan setelah hari itu, niatnya untuk memulihkan hidupnya tanpa Artet malah menjadi neraka kekosongan bagi dirinya…

Sekolah ya hanya sekolah…

Makan ya hanya makan…

Dan tidur ya hanya tidur…

Sosok tanpa talenta itu menjadi lagi…

Rabu malam, tiba-tiba harmoni lagu Red Hot Chili Pepers menghampiri telinganya. Segera, tubuhnya terbawa dan ia menghampiri televisi di ruang tamunya yang menjadi sumber dari lagu yang didengarnya itu. Dikotak ajaib itu, ia melihat 20 detik potongan penampilannya bersama Artet di Bulungan yang disiarkan oleh “Dunia Muda” yang meliput pensi SMUN 99. Walaupun hanya sebentar, namun cuplikan itu membuat dirinya terpana keindahan Artet yang beraliran Red-hot. Ia melihat dirinya berdiri di atas panggung mampu menandingi sosok idolanya Flea yang dilihatnya dari VCD, ia juga melihat penampilan Artet yang seperti Red Hot beneran. Entah mengapa saat ini tiada rasa derita di hatinya walau ia mengingat Artet, ia merasa menemukan pencerahan yang bisa menjawab penderitaan jiwanya.

Segera setelah ‘dirinya’ dibangunkan oleh siaran ‘Dunia Muda’, Geri sekali lagi mencoba untuk menelpon ke rumah Kid untuk mencari ‘kebenaran’ untuk Artet dan dirinya.

“Halo?” ujar seorang anak muda yang menjawab panggilan Geri.

“Kid!!!” Serunya gembira ketika ia mendengar suara Kid.

“Geri ye? Sori banget gw ngga pernah nghubungin!!! HP gw disita nyokap, terus disono bener-bener dah, gw di-KARANTINA!”

“Ooow… Lu pulang dari kapan?” tanya Geri.

“Kemaren sih, tapi kemaren gw capek banget.” Jawab Kid.

Geri yang gundah gulana kemudian mengajukan satu pertanyaan yang diharap akan menjawab prasangkanya terhadap Kid.

“Kid lu masih mo nge-band ama Artet ngga?”

“???” “Bicara apa sih lu? Ya masih’lah!”

“Tapi kan lu…”

Kemudian Geri menjelaskan apa yang ditariknya dari cerita Ibunya Kid.

“Yeee… kaya gitu bukan berarti gw ditarik ama 56 K kali! Gw disono cuma disuruh ngebantu backing vokalnya doang…”

“Tapi nyokap lu bilang…”

“Yeee… Lu tau kan nyokap gw kaya gimana…”

“Oh iya, gimana bocah-bocah? Edo ama Martin? Gimana Coca Cola goes to schoolnya?”

Akhirnya Geri menemukan momen untuk mencurahkan segala perasaannya mengenai Artet. Tanpa membendung perasaannya lagi, ia mencurahkan semuanya kepada Kid. Ceritanya yang bercampur aduk dengan rintihan nada-nada sendu membungkam Kid untuk beberapa saat. Setelah kisah ‘Geri & Artet’ berakhir diceritakannya, Kid masih diam mencerna cerita tersebut. Beberapa saat kemudian barulah ia mulai berkata-kata.

“Dari nada bercerita lu, lu ngga percaya ama band lu’kan? Ngga percaya ama Edo… Ngga percaya ama Martin… Dan juga ama gw…” Kid menarik napas sebentar lalu meneruskan perkataannya.

“Band itu dibangun atas dasar saling mempercayai. Tidak bisa sekedar band saja yang dapat mengerti dan mempercayai lu, namun juga bagaimana elu bisa mengerti dan mempercayai band lu. Inget Ger, pas pertama kali mendirikan Artet kita berempat commit untuk menjadikan band ini bukan sekedar band-band’an.” Sela. Kid lalu melanjutkan. “Dengan commit itu… Percayalah ama Edo yang merupakan bagian dari Artet… Biar’pun dia orangnya blak-blakan, tapi dia ngga kaya yang lu bayangkan saat ini. Buat permasalahan kemaren lu coba ngomong ama Edo deh! Pasti ada penjelasannya…”
Petuah panjang lebar dari Kid tidak memunculkan reaksi verbal dari Geri, namun telah memicu Geri untuk berpikir positif. Kid yang bisa memengerti keadaan Geri kemudian menambah beberapa kata.

“Lu coba dengerin Nirvana deh… Yang smells like teen spirit, terus lu catet liriknya…”

“Thank’s banget ya… Kid…” Ucap Geri, sekaligus menjadi reaksi verbal pertamanya.

“Ya udah, gw sekarang mo nelpon bocah-bocah dulu ye… Lu dah ga papa’kan?”
“Yup, ga papa’kok” jawab Geri dengan nada datar.

“Oke, see you tommorow!” ucap Kid untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
“Bye!”

Mengikuti suruhan Kid, sebelum ia tidur, ia menyetel CD MP3 yang diberikan oleh Edo. Ia kemudian memilih album Nevermind dan menyetel track yang adalah hits dari Nirvana tersebut. Pada kertas yang disiapkan ia menuliskan satu persatu kata-kata yang dinyanyikan oleh Kurt Cobain dengan berkali-kali rewind-stop-play, rewind-stop-play.

Sampai kepada liriknya yang berbunyi…

I’m worse at what I do best

And for this gift I feel blessed

Our little group has always been

And always will until the end

Nirvana, Smells Like Teen Spirit-

Rangkaian kata-kata puitis tersebut kemudian mengajaknya untuk menerawang kembali ke masa lampau…

Ia mengingat betapa bahagianya ketika pertama kali ia diakui sebagai seseorang yang memiliki talenta bermain bass…

Betapa bahagianya ketika ia diajak Kid untuk membentuk suatu band…
Kegembiraan di saat ada grup bernama Artet yang bisa menerimanya apa adanya…
Betapa bahagianya ketika ia bersama Artet pertama kali mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari publik… Dunia yang sebelumnya tidak pernah menganggapnya ada…

Kilas balik tersebut membuat ia menitikkan air mata atas keindahan yang sebelumnya tertutup oleh getir pahit. Isak tangis menemaninya tidur pada malam itu…

Pagi hari, ia memulai hari yang baru dengan membaca SMS dari Kid.

“Edo bilang dia tetep manggung soalnya ga enak ama anak-anak Osis, dia dah janji pake sumpah samber geledek pula. Dia dah pengen bilangin lu soal itu, tapi dia ga ada pulsa dan ga pernah ketemu ama lu disekolah (katanya dia lu kaya ngumpet-ngumpet gitu). Trus dia orangnya kan malu’an kalo nelpon ke rumah lu, hehe…(heran padahal cowo’ juga)… Kesimpulannya… Tuh’kan lu salah paham Ger! Hehe…”

Setelah membaca SMS dari Kid, matahari pagi kini dapat menembus hatinya yang sebelumnya tertutup kepedihan. Senyum kembali menghiasi wajah dan hati Geri.

***

Beberapa minggu kemudian, harmoni yang diciptakan oleh artet kembali berkumandang di studio NVU. Dan Sabtu itu, Artet melakukan rekaman indie di NVU.

“Barusan lagu buatan lu’kan Ger? Walaupun gw dah maenin beberapa kali tapi tetep aja… Sumpah keren banget lagunya!!!” ujar Edo setelah memainkan instrumen gitar lagu ‘Believe’ ciptaan Geri.

“Lu jago bahasa Inggris yak, bikin lagu aja pake bahasa Inggris.” Ucap Edo kepada Geri.

“Ya iya’lah! Emangnya elu, terancam punah di mata pelajaran Bahasa Inggris.” Celetuk Martin. Di tengah suasana canda tersebut, Bang Edwin melongok mereka dan bertanya.

“Masih ada sisa waktu buat ngErekam satu track lagi neh! Masih mo ngrekam kaga?”

“Lagu kita dah abis neh…” kata Edo.

“Around the World’lah!!!” ucap Kid kepada ketiga kawannya.

Ketiganya melirik satu sama lain dengan senyum tersimpul di wajah mereka. Terutama Geri yang senyumnya juga tersimpul lebar di dalam hati.

“Mainkan Ger!!!”

***

I’m autist, but when i remember

Cobain mention about my group

That always been for time

I’m a free soul, that believe

They believe, i believe….

-Geri, Believe-

GEGER RIYANTO , seorang mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Indonesia.
Ia juga ketua dari FORKRISMA (Forum Kritis Marxist Muda) Universitas Indonesia. Sekarang berdomisili di Cimanggis, Depok – Jakarta.

Iklan