Wanita Itu Mirip Astuti

Cerpen: Firdaus


Sebuah suara mengagetkan langkah Syarif dan Anggun. ”Maaf. Jika diperkenankan, saya akan menjelaskan seluruh aspek di bangunan tua ini,” suara lembut yang kental logat Jawa menghentikan langkah Syarif dan isterinya. Syarif tersenyum. Di kirinya, Anggun menatap penuh tanya. Ia memandangi suaminya, lalu, beralih pada wanita muda berkulit kuning langsat, persis di depan hidung suaminya. ”Saya hanya ingin memperkenalkan Taman Sari kepada tuan dan nyonya, ” lanjutnya sembari menyeka keringat di dahi jenjangnya. Syarif dan Anggun menjawab dengan senyum. ”Berapa kami harus bayar?” tanya Syarif. Bersamaan pertanyaan itu, wanita berambut kepang itu tersentak. Wajahnya memerah, bak kepiting rebus. ”Maaf, saya tulus. Tak terlintas di benak saya untuk mendapatkan imbalan jasa” ”Kenapa?” Syarif keheranan. ”Saya dan guide di sini lebih senang jika tamunya tahu soal seluk beluk Taman Sari,” ”Meski tak dibayar?” Syarif menimpali. Wanita itu mengangguk. ”Bagi kami, jika orang tahu soal Taman Sari, kami sangat puas. Berarti kami sudah berbuat untuk Keraton Yogjakarta. Apa yang kami berikan belum seberapa jika dibandingkan abdi dalem istana mengabdi kepada keraton” Bagi kami, lanjut pemilik kepang dua itu, dapat mengabdi kepada Sultan adalah sebuah kebanggaan. Mengabdi kepada sultan merupakan bagian dari pengabdian pada tanah kelahiran. Mengabdi kepada tanah kelahiran merupakan bagian dari ibadah yang nilainya tiada terkirakan. Syarif tersentak. Seakan palu besar menghujami kepalanya. Ia merasa malu. ‘ ‘Sorry, saya salah menduga,” katanya. Lalu, tanpa pikir panjang lagi Syarif memberi isyarat kepada isterinya dan wanita berkepang itu untuk segera melangkah, melanjutkan perjalanan. Mereka melangkah, dan langsung memasuki gerbang Taman Sari, seterusnya menapaki anak tangga demi anak tangga. Di gerbang itu, Syarif merasa aneh. Tak satu pun petugas berpakaian seragam di gerbang. Tak seorang pun yang menyodorkan tiket masuk. ”Tanpa tiket?” tanyanya. Wanita berkepang itu menggeleng. Syarif bingung. Pikirannya langsung melayang ke tanah kelahirannya, Bukittinggi. Hampir setiap obyek wisata harus membayar. Masuk bayar, parkir bayar. Ia tak habis pikir. Lalu, entah kenapa, kemudian Ia mengeleng-geleng sendiri. ”Sangat jauh perbedaannya… ” desis Syarif. Ketidakmengertian pun semakin menjadi-jadi dalam benaknya. Tiba-tiba Ia teringat kenangan empat tahun lalu, ketika Ia menikmati nuansa santai sembari menikmati sunset di Pasir Jambak, salah satu obyek wisata pantai di kampung isterinya. Syarif merasakan nuansa yang sangat berbeda. Saat itu, Syarif harus merogoh kantong dalam jumlah besar untuk biaya tak karu-karuan. Di gerbang disambut karcis, bayar per-orang. Sebelum kendaraan berhenti di areal parkir, Ia disodori karcis parkir. Bayar lagi. Setelah merasa dapat tempat, harus bayar lagi. Kemudian seorang pemuda berpostur gemuk menyodorkan tikar. ”Di sini tempat duduknya hanya tikar, lima ribu perjam,” katanya. Semula Syarif menolak. Biarlah di pasir saja. ”Silahkan cari pasir yang tak dijaga!” jawabnya sedikit menggertak. Syarif terpaksa mengalah. Setelah itu, Ia juga tak bisa mengelak dari pengamen. Begitu pun tempat lain di Padang. ke Taman Siti Nurbaya juga harus bayar. Padahal, kondisi obyek di atas Gunung Padang itu nyaris tak terawat. Di Pantai Padang pun demikian. Di gerbang sudah dihadang sejumlah orang berseragam. Masuk harus membayar. Tapi tak satu pun karcis tanda masuk yang diberikan kepada pengunjung. Memasuki gerbang utama, Syarif merasa berada di ketinggian. Sebahagian sudut kota gudeg terlihat jelas. Begitu pun beberapa bagian ruangan, terlihat polos. Seakan tanpa sekat lagi. Bangunan itu kini hanya tinggal puing-puing. Setelah beberapa langkah, Syarif dan isterinya mengikuti arah telunjuk perempuan di sampingnya. ”Bangunan di sebelah selatan itu merupakan bagian paling pribadi bagi raja dan keluarganya. Konon, dulu bangunan itu berada di tengah-tengah sendang. Untuk sampai ke sana harus naik perahu,” Terlihat ada kerutan di kening Syarif. Seakan lelaki separoh baya itu membayangkan nuansa puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun silam. Bagian yang ditapakinya sekarang hanyalah bahagian kecil dari sendang. Setelah memasuki bangunan tersebut, ketiga anak manusia itu dihadang dua buah kolam yang dipisahkan jalan setapak. Wanita berkepang dua, mengenakan topi untuk menutupi bagian wajahnya dari sengatan matahari, menjelaskan kalau kolam itu dulu merupakan tempat santai dan mandi-mandi keluarga raja. Pada bagian kanan, biasanya digunakan putra-putra raja, sedangkan di sebelah kiri untuk para selir. Pada bagian selatan kolam sebelah kiri, ada bangunan yang agak menjorok ke arah kolam. Meski agak kecil, namun jika berada di dalam bangunan itu, maka akan dapat di lihat seluruh wilayah kolam dengan jelas. Konon, kisah wanita itu sembari membuka topi, dan kemudian menyeka keringat di kening dan wajahnya, tempat itu biasa dipergunakan raja untuk bersenang-senang. Dari tempat itu pula, raja memilih selir yang akan menemaninya, ditandai dengan dilemparkan selendang ke kolam. Siapa yang mendapatkan selendang itu, maka ia yang Berhak menemani raja untuk hari itu. Ketika wanita itu mengibas-ngibaskan topi ke arah wajahnya, Syarif diam-diam mencuri pandang. Saat itu pula darahnya tasirok. Ia seakan mengingat sesuatu. Wajah itu, seakan pernah dikenalnya. Tapi di mana? Mungkinkah? Syarif tak berani berspekulasi. Ia tak mau salah tingkah. Jika itu terjadi, bisa-bisa isterinya salah tanggap, yang kemudian bukan tak mungkin Ia dibelakangi saat tidur. Syarif berpikir, mungkinkah Astuti? Jika benar Astuti? Ayah dua anak itu tak terus meraba-raba. Mungkinkah? Lama Ia berpikir. Syarif meraba-raba. Syarif tahu kalau Astuti, teman satu sekolahan saat SMA dulu berasal dari Yogjakarta. Ia putri seorang tentara. Ketika satu sekolahan bersama Syarif, ayahnya bertugas di Koramil dekat sekolah. Syarif tak tahu apa pangkat ayah Astuti. Yang diketahuinya hanyalah bahwa ayah Astuti seorang tentara, itu diketahui ketika Syarif beberapa kali ke rumah Astuti. Sebenarnya, ketika mengenal Astuti, mereka teman selokal. Syarif sering mencari dan mencuri kesempatan untuk selalu dekat dengan Astuti. Dari berbagai cara yang pernah ditempuhnya, meminjam catatan merupakan alasan paling ampuh. Bahkan pernah beberapa kali Syarif menyempatkan menulis kata-kata mutiara atau puisi pada buku Astuti. Tapi, sepanjang itu pula tak ditanggapi. Syarif yakin kalau Astuti tahu dengan tulisan itu. Tapi Ia juga tak habis mengerti kenapa tak pernah ada tanggapan. Seakan Astuti tak pernah tahu dengan tulisan-tulisan itu. Dilain pihak Syarif juga tak mau berterus-terang. Ia takut Astuti marah. Jika marah, Syarif takut kehilangan Astuti. Syarif takut kalau Astuti tak mau berteman dengan dirinya lagi. Pertemanan itu terputus sejak menyelesaikan SMA. Dua semester setelah kualiah, rumah dinas yang ditempati Astuti dan keluarganya sudah diisi orang lain. Orang tua Astuti pindah tugas. Tapi tak ada yang tahu ke mana persisnya Ia pindah. Astuti pergi bersama orang tuanya, dan mungkin dengan gelang besi putih yang dibagian dalamnya Tertulis nama mereka berdua. Sejak saat itu, Ia tak lagi pernah mendapatkan kabar tentang Astuti. Meski pernah empat kali Ia bermimpi jumpa Astuti, namun selama ini pula Ia hanya bisa melepaskan kerinduan sesaat. Dalam penjelajahannya ke masa silam, Syarif tetap berupaya mencuri pandang kepada wanita di sampingnya. Ketika wanita itu menunjukkan sebuah lorong, dan menceritakan bahwa konon dulu lorong tersebut dulunya langsung menuju laut selatan, sehingga memudahkan untuk mengantarkan sesajen kepada Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Syarif terkejut, ”mungkinkah…?” tanyanya sembari mempercepat langkahnya, dan memutar tubuh ke kanan, persis berhadapan dengan wanita itu. Sebab, dengan menatap kondisi sekarang, rasanya tak mungkin. Begitu panjang lorong yang harus dilalui dari Yogjakarta ke laut selatan. * * * ”Besok pagi kita chek out, kembali ke Padang,” suara keras Syarif tiba-tiba. Anggun tersentak. Ia bingung bercampur heran. Tadi pagi, sebelum suaminya meninggalkan losmen di kawasan Malioboro, Ia bersikeras untuk menunda dua atau tiga hari lagi kepulangan, walau sebenarnya sudah molor sehari dari jadwal semula. Anggun tak banyak bicara. Wanita penyabar dan santun itu tak banyak membantah. Ia menyodorkan segelas air putih dingin yang diambilkan dari minibar. Syarif menerima acuh. Setelah diteguk, wajahnya masih terlihat tegang. Sebatang rokok putih disulutnya. Ketegangan di wajahnya belum pudua. Ia menatap kosong. Seakan ada yang dipikirkan. ”Uda sakit? ” tanya Anggun. Syarif tak menjawab. Ia seakan tak mampu menahan gemuruh di dadanya. Wanita yang mirip Astuti itu masih menjadi pikiran dalam benaknya. Setelah pertemuan di Taman Sari, dua hari lalu, Syarif memutuskan untuk menunda kepulangannya. Kepada Anggun, Syarif berbohong. Penundaan itu karena urusan dengan kantor cabang di Yogjakarta belum tuntas. Dari pembohongan itu, Anggun percaya. Makanya, selama dua hari Ia pergi tanpa Anggun. Syarif seakan tak percaya dengan kejadian yang dialaminya barusan. Setelah bertemu lagi wanita mirip Astuti, di Taman Sari, Syarif menawarkan untuk rehat sejenak di sebuah cafe tak jauh dari obyek wisata peninggalan masa lalu itu. Semula wanita mirip Astuti itu menolak. Tapi Syarif yang semakin penasaran tak mau kehilangan momentum. Setelah Syarif setengah memaksa, akhirnya wanita mirip Astuti itu tak bisa menolak. Belum lagi pesanan sampai, wanita mirip Astuti itu minta izin ke toilet. Syarif mengizinkan. Namun, setelah lama ditunggu, dan setelah minuman Syarif ludes, wanita mirip Astuti itu tak jua muncul. Rasa penasaran Syarif makin menjadi-jadi. Kemudian ia memberanikan ke toilet wanita. Tak ada apa-apa. Syarif kian penasaran. Hati kecilnya yakin, wanita berkepang itu pasti Astuti. Rasa penasaran itu semakin menjadi-jadi. Ia belum sempat kenal lebih jauh dengan wanita itu. Kemana gerangan? Setelah yakin wanita mirip Astuti tak ada di cafe, Syarif kembali ke Taman Sari. Persis langkahnya di pintu masuk café itu, sebuah suara memanggilnya. ”Maaf, barang bapak ketinggalan di meja,” seorang pelayan menghampirinya. ”Bukan. Saya tidak membawa apapun,” elaknya. Namun pelayan itu tetap ngotot. Katanya barang itu ditemukan persis di kursi yang tadi di duduki Syarif. Setengah terpaksa, pria itu menerimanya. Lalu itu kembali mengelilingi Taman Sari. Tapi usahanya sia-sia. Setelah mengelilingi Taman Sari beberapa kali, yang dicari tak juga ditemui. Penasaran bercampur kesal membuncah di dadanya. Ketika kepenasaran itu tak mampu dibendung, Syarif memberanikan menanyakan kepada sejumlah guide yang mencari hidup di puing-puing bangunan itu. Tapi tak ada jawaban mengembirakan. Malahan semua guide yang ditanya justru balik bertanya, dan malah menuduh Syarif mengada-ada. ”Barangkali Anda lagi mimpi…” simpul mereka. Syarif bingung. Ia tak habis mengerti dengan kesimpulan itu. Syarif kembali ke hotel dengan perasaan gundah. Secara kebetulan Ia sempat membuka cerita dengan penarik andong yang hendak membawanya dari Taman Sari ke Malioboro. Penarik andong bercerita tentang banyak hal seputar Yogjakarta. Bahkan, cerita penarik andong yang kira-kira berusia 60-an itu, sebatas yang diketahuinya, tak pernah ada guide wanita di Taman Sari. Di daerah itu, juga tak pernah ada kejadian macam-macam, kecuali lima tahun silam, ditemukan mayat seorang wanita tanpa identitas. Sampai saat ini, setahunya tak pernah terbetik kabar tentang keluarganya. Dalam ketidakmengertian itu, dikeluarkannya kotak kecil yang tadi diberikan pelayan cafe. Syarif tersentak. Di dalam kotak ditemukan sebuah gelang yang grafernya sudah mulai kabur. * * * (Padang, 17 Maret 2003. Teruntuk sahabatku, Ode Barta Ananda) Catatan: tasirok = bergemuruh/berdetak keras Pudua= mati/reda Firdaus. Memulai menulis puisi dan cerpen sejak masih duduk di bangku SMA Negeri 4 Padang berkat dorongan dan motivasi orang tua, saudara-saudaranya, mau pun guru dan teman-teman sekolahnya. Karyanya pernah dimuat di Harian Singgalang, Harian Semangat, Harian Haluan, Mingguan Canang, Muatiara Jakarta, Harian Pagi Padang Ekspres. Malahan pernah selama dua tahun berturut, 1989 dan 1990, menjadi penulis terproduktif di Radio Dirgan Bravo Padang. Anak Padang kelahiran 8 Desember 1971 ini, kini, bekerja di Harian Pagi Padang Ekspres. Selain lebih menyukai dunia olahraga, juga ingin tetap menekuni dunia sastra.

Iklan