Mata

Cerpen Fathur Rochman E.

Mata yang meringis begitu yang dikatakan oleh Juli kepadaku. Angin seperti menerpa mata itu yang berkilatan memandang pesona, semilir meciumi bumi yang rekah merah. Aku semakin tak faham, mata itu menjadi begitu menyeramkan sekaligus mempesonakan, mata itu pernah aku kenal saat menulis cerita cinta yang habis, terbakar kegalauan hati, yang membias saat aku membangunkan kerinduan yang amat menyayat. Juli selalu bilang aku orang yang membabi buta, aku tak peduli sebab aku tak mampu menyembunyikan kebekuan hati ini untuk tak mengagumi mata itu, sungguh tak sekedar untuk menatap bahkan lebih dalam lagi mata itu adalah cuatan permata yang ingin kusentuhnya. Mata itu seperti anggur yang menebarkan aroma kenikmatan yang lama terendap. Seperti sekujur tubuhku yang menggigil memandangi tubuh yang terbungkus beribu cahaya, akan kukutip ayat-ayat kitab suci untuk menceritakan tentang mata itu. Juli selalu tak percaya padaku, ia katakan aku membual.

Ah, kau tak tahu apa-apa juli, kau tak tahu aku sedang menyelam di antara karang yang berserakan. Pada hempasan daun gelombang menerobos palung hati yang terdalam, di sudut ruang teristimewa dari ruang-ruang yang kubangun.

Aku tak akan lelah memandangi mata itu.

Seperti yang ku tulis pada surat-suratku yang terdahulu, aku memberikan seluruh kata yang kupunyai untuk memberikan pengakuan ini. Di sudut kota yang pernah kita jalani, di celah-celah malam yang meninggalkan sepotong bulan kering, aku ingat betul dimana saat itu, sebotol beer tak mampu kusuguhkan karena mata itu telah menjadi telaga yang dalam menebarkan keharuan dan sumber inspirasiku tak habis-habisnya kureguk. Aku memandangi mata itu sepuas hatiku dan kau mengiyakannya.

Akupun hanyut ke negeri angan, kedalam tebaran irama yang aku tak faham, seperti alunan sahdu blues yang melengking dari balik nada gitar, entah aku tak tahu itu. Aku bukan bernyanyi irama pastoral sebagaimana Gide menulis gertrude, bukan pula Hemingway tentang awan kilimanjaro apalagi grunge Kurt cobain yang benci kehidupan, bukan, bukan itu, aku hanya menulis tentang matamu, swear haaya matamu.

Juli tak percaya ceritaku, aku di bilangnya fatalis.

(Aku hanya menganggap Juli tak faham ceritaku)

Separo kota dan berkilo-kilo aku mengejar mata yang kuceritakan itu, lembayung senja yang saat itu sebagai peristiwa zaman tentang aku bersekutu denganmu yang punya mata.Tak pernah berhenti aku mengingat itu sebagai moment yang paling bergengsi dari jengkal hidupku. Seperti pena dalam tanganku aku selalu menulisnya dalam lembar-lembar catatan, itulah irama kitab suci yang kuceritakan tadi. Kalau saja Juli aku ajak saat itu tentu ia akan faham ceritaku tentang pesona mata yang tak hanya seksis tapi sudah menjelma menjadi cerita-cerita yang bersejarah bagi diriku. Cerita tentang cinta.

Cinta menjadi catatan yang sangat abadi. Aku tak muluk menggambarkannya karena cinta itu penggambaran abadi kronik manusia. Sejarah selalu dipertautkan dengan kata cinta, cinta adalah gambaran kasih Tuhan dalam perilaku manusia. Cinta selalu menyertai gelombang sejarah manusia, Seperti dalam Tantrayana, Kamasutra, Mahabarata, Ramayana, Shakespeare, Rubayat-rubayat.

Ah, aku tak tahu tentang cinta dan filsafat-filsafatnya, aku hanya faham bahwa mata itu mengajarkan kepadaku tentang cinta. Aku sering mengatakan begitu pada Juli bahwa mata itu merupakan gugusan-gugusan keindahan yang menampilkan kehausan sekaligus kehampaan. Mata itu tahu aku memburunya untuk kurengkuh dan kusandingkan dalam haribaanku. Mata itu seperti bermil-mil logika yang terputus…

Belum apa-apa Juli sudah mengatakan aku ini absurd !

( Aduh Juli, Juli dengan apa lagi aku bisa menceritakan itu kepadamu )

Hari-haripun semakin dilalui dengan detak waktu yang berpejalan. Jarum angka itu menunjukkan ketakmengertian tentang dimana pertemuan itu di lakukan. Aku pernah bertanya padanya, saat-saat tempo berkejapan dan malam membias omong kosong,

“, Saat waktunya aku pernah bertemu denganmu, aku pernah berharap tak akan melalui pernik-pernik kehampaan, mengalir saja begitu seperti mata sungai yang menyusur berkelindapan. Aku berharap menemukan saat-saat yang menyenangkan, menciumi aroma kebahagiaan di pelupuk matamu bukan sesuatu yang menjemukan dan melelahkan.Aku berharap engkau yang punya mata menjadi sumber imajinasiku yang kekal, bukan pula sebuah keabstrakan.Bagaimana menurutmu ?”

Juli menyelaku dengan tak sabarnya

“Apa yang bisa di jawab oleh yang punya mata itu, pasti ia menguap ngantuk”.

” Sabarlah Juli dengar saja apa yang akan ku omongkan ini. Ia mengatakan kepadaku begini:

Sesuatu itu bukanlah seperti yang kau bayangkan kawanku.Bukankah mata seorang penyair itu seperti menembus batas-batas impian namun adakah aku hidup di dunia impian ? ataukah engkau memandangku selayak engkau memandang sesuatu impian semumu yang kau rakit pelan-pelan. Kawanku aku tahu bahwa mataku telah membuatmu kehilangan kesadaran alamiah kemanusiaanmu hingga aku dalam puncak kesadaran estetikamu yang tinggi. Aku sadar bahwa aku melihatmu bertopeng-topeng yang saat ini entah topeng siapa yang kau pakai di wajahmu? Saat lain aku bisa saja melihat wajahmu sebuah kelicikan, kemesuman, ambisi, neurosis seperti yang kau katakan kepadaku tentang kejemuan dan kelelahan.Ah, siapakah diri kita yang sebenarnya kawanku?”.

Jangan bosan dulu juli mendengar ceritaku ini, aku ingin ceritakan kepadamu bagaimana saat itu aku seperti masuk pada sebuah kisaran yang membetotku pada ketelanjangan. Aku menatap mata itu seperti menantangku, ada sebuah kesinisan di sudut kelembutan itu. Ada kegairahan yang menebari pandangannya, kegairahan yang menusuk sekaligus penindasan. Benarkah aku merasa tertindas olehnya? tak akan ku katakan engkau sebagai l’eksploitation de l’homme par l’homme? adakah aku sekejam itu mengatakan kepadamu? tidak yang punya mata, tidak akan kulakukan itu. Aku begitu ketakutan untuk mengatakan sesuatu kepadamu. Aku sangat takut akan kegairahan ini, aku begitu gamang akan keindahan yang mungkin aku ciptakan sendiri. Begitu malam merangkak tiada berkata-kata, suara bukit kering dan jagung mengkelupas lepas tak bersuara, aku berteriak sekeras-kerasnya:

” Pergilah dari jendela hatiku, pergilah menguap entah kemana…!!!” “Pergilah dari tidurku, dari mimpiku, pergilah dari kehidupanku. Engkau adalah hasis, Engkau heroin yang mencanduiku, Pergilah, semua ini omong kosong dan anggaplah Nonsens !”

Tapi aku tak bisa berbuat sesuatupun pada engkau yang punya mata. Aku semakin tercekam, semakin tak kusadari semakin terbenamnya aku pada kegemasan akan sesuatumu yang entah apa itu…

Saat itu yang punya mata tak memberi komentar apapun. Ia hanya mendengarkan dan mendengar saja. Sepertinya ia menguyah angin lalu, Ia hanya menatap burung-burung gereja beterbangan kemudian hinggap di para-para. Ia seperti tak tahu apa-apa, Ia polos dan bening. Bagai tak berdosa Ia tinggal dalam diam dan bagai memerankan Padri Agung dalam majelis penyucian dan pemberkatan dimana para pendosa menanti giliran untuk menerima sawabnya. Aku semakin muak dengan sikap seperti itu. Ia seakan membiarkanku semakin terhisap kekuatan eros-nya. Ia semakin menguasaiku dan membelengguku dalam kekuasaan cintanya. Ia memperalat segala pesonanya untuk memperdayaku. Itu adalah semu dan Ia menawarkan bayang-bayang, Ia mimesis, Ia ilusi. Ia mengajakku berduaan dalam katarsis.Ia menjadikanku seperti Shisipus untuk mencintai sesuatu tanpa daya. Ia gila, Ia ajal, Ia bak Izroel yang berteriak:

“, Tutuplah matamu dan bayanganku akan menjemputmu, tenanglah dalam mautmu.”

Aku berteriak sekuat tenagaku “,Tak akan, Tak akan, Tak akan..!!”

Juli terkesiap oleh kehisterisanku, sepertinya ia tak menyangka kejadiannya seperti itu. Tapi ia tak berkomentar apapun maka ku teruskan ceritaku.

Hari-hari berikutnya seperti tak menawarkan perubahan. Aku semakin terasing dengan diriku. Ia yang punya mata semakin membuatku mabuk. Aku mengalami keterbelahan dimana aku mencintai dan membencinya. Keelokannya sekaligus virus mematikan. Ia sama sekali tak menceritakan apa maksudnya. Ia mengajakku untuk kembali membaca kitab-kitab suci baik yang bernama Al-qur’an, Injil, Wedha, Taurat, Zabur dan lain-lainnya. Saat lain ia mengajakku untuk hadir di studyclubnya yang memperkenalkan tentang Machiavellis, Kaisar Nero, Hittler, Dajjal, Lady Macbect, Frankkestein dan lebel-lebel lain yang menyeramkan: yang culas, serakah, licik. Semakin tak kumengerti dan jauh melangkah.

Dunia di bangun dalam harmoni dan keseimbangan. Ada hitam ada putih, ada maya dan fana dan ada kebaikan maupun keburukan. Itu semua ada dalam diri yang punya mata, ia muncul dalam keduanya. Ia muncul dalam dunia kemalaikatan dan keiblisan. Aku semakin sulit untuk menyapanya dalam bentuknya yang sesaat-sesaat itu. Ia mempermainkanku sebagai manusia bodoh dan lemah. Ia mengajariku tentang Tuhan tapi ia juga menjebloskanku dalam kenisbian yang laknat. Aku menggumamkan sepotong syair Hesse yang diajarkan guruku, yang pernah bertemu di celah-celah malam, tentang :

Betapa kau mengeyangkan // Betapa kau mengeyangkan dan melelahkan // Betapa kau memabukkan! // Yang hari ini masih memijar // Akan segera terbenam //Angin akan segera gemerincing segera // Di atas kuburanku yang coklat. Aku selalu mengingatnya dan kadang-kadang menulisnya di buku harian.

Juli kau masih kuat mendengar ceritaku ini, baiklah kalau kau masih kuat mendengar ceritaku ini, akan ku teruskan.

***

Pertemuanku berikutnya dengan yang punya mata di sebuah kafe favoritku, pojok kota yang bening dan muram, pinggiran mainstreet. Ruangan kafe yang tak begitu luas dan hanya ada beberapa meja kursi. Suasana tak seramai kafe kota karena hanya ada beberapa gelintir orang, yang rata-rata sopir truk barang lintas propinsi. Di iringi musik lembut portir menghampiri kami dengan ramah dan selalu menyebut namaku dengan salah ” Hallo Baba!” yang aku sendiri tak tahu siapa Baba itu. Malam berkelindapan, hujan habis sesore dan suara ilalang bergetaran. Di luar beberapa hewan malam menginap di kabel-kabel telefon.

” Apa yang ingin kau bicarakan malam ini ?” ia memecah keheninganku.

” Apa saja tentang kita “

” Tentang kita atau kepanikanmu tentang kita.Kenapa kau tak pernah menganggap suatu kewajaran dari apa-apa yang kita lakukan atau lebih tepatnya aku lakukan. Kau menganggapku secara berlebihan, tentang keterpesonaanku yang kau anggap sebuah kesemuan yang juga merupakan kekalahan bagimu.Aku berkuasa atas diriku yang sekaligus menyeretmu dalam kenisbian, ketertindasan.Yang sebenarnya saja kau tak lebih mahluk birahi yang bisa menatapku secara luaran, tentang estetika erotismu. Kau seorang Narsisus yang tak siap menerimaku secara utuh, tentang dua dunia yang harus di satukan, tentang dua kutub wilayahku yang harus bersandingan secara harmoni dan seimbang. Tuhan menciptakan dunia gelap dan dunia putih menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa kita nafikan salah satunya. Itukan yang ingin kita bincangkan malam ini ?”

Aku tak bisa berkata apapun.Ia telah mengeluarkan segalanya yang ada dibenakku dengan retoris. Ia tahu segalanya.Untung Portir datang mengantarkan pesanan kami. Kami makan dan tak berucap apapun. Ini sungguh menolongku untuk menemukan kesadaranku kembali. Setelah selesai makan, ia menatapku dengan mata yang penuh pesona yang pernah aku temukan dulu namun di kerlingnya tak bisa menutupi sebuah kengerian yang dasyat.

” mungkin ada yang masih kau sembunyikan ?” Ia sudah memulai lagi.

” Aku tak akan bicara apapun, kau sudah bicara segalanya, kau sudah mengguliti semuanya dan kau puas bukan ?”

Ia hanya mendengus dan membuang mukanya ke jendela luar. Bintang gemintang berkerlip seperti lampu penjor. Tak ada bulan sepotongpun malam ini. Ia kemudian menyeringai

” Apa kau percaya tuhan ?”

” Ya “

” dan kau dalam iman ?”

” Betul dan demi iman itu pula aku telah memutuskan untuk memilih, aku sudah lelah dengan segala ini .”

” Apa yang kau lakukan dengan pilihanmu itu? aku tak percaya kau mempunyai kekuatan untuk memilih, Kau adalah orang yang mencari bukan orang yang mempercayai. Seberapa jauh kau mempunyai itu Hai fanatikus yang lelah, ha..ha..”

Ia tertawa terbahak-bahak dengan gairahnya, mata yang pernah ku kagumi itu tampak sinis sekali. Seakan-akan diriku ini sampah yang berjejalan di sudut-sudut kota yang seakan-akan di matanya hanyalah seonggok orang yang berteologi basi. Gila, betul-betul gila, ia kembali menunjukkan kuasa kerahibannya, ia menuntunku seperti iblis menuntun Faust untuk mempelajari pelan-pelan kesemburatan hidup dan menumbangkan apa yang ku yakini selama ini. Ini tak boleh terjadi, aku harus menentukan jalan. Jalan yang kupilih walau seperti racun sokrates, untuk kemenangan, untuk sebuah keyakinan, iya..sebuah keyakinan..hm, yang untuk Memilih!

“Aku telah memilihnya dan aku akan memutusi malam ini !” Kataku tegas walau terdengar masih gamang.

” Begitukah ?”

“Iya, memang begitu.” Setengah menggumam aku memandangi malam yang semakin terlingkupi dingin.Tak ada bulan, yang ada gemintang.

Mendung menyelimuti kota kecil ini seperti menyimpan misteri. Malam pekat membusung dan ceceran kabut tipis, akan mengenang tentang kemenangan Faust, akan melatari sebuah altar eksekusi racun Sokrates, di titik kemenangan yang lain. Berikutnya semua seperti diam, bandul jam berhenti, tak ada apa-apa, sebuah Ketiadaan namun peristiwa telah terjadi….

***

Juli terhenyak, saat aku diam. Mata Juli yang penuh tanya dan ketakmengertian, ia menunggu sesuatu meluncur dari mulutku.

” Apa yang terjadi berikutnya?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam, mataku nanar menatap Juli yang polos, Ia belum tahu apa-apa, Ia aku bayangkankan sosok putri di negeri peri yang tak bersinggung dengan dunia muram. Namun sesuatu harus di ceritakan kepadanya, Bahwa..

” Mata itu telah menyilaukanku, sejak awal aku diajar tentang cinta, bukan secara kasih tapi keterpesonaan, Aku ingin mata itu tetap menawarkan keindahan hakiki, keindahan yang tak tersentuh oleh dosa-dosa dunia. Mata itu sebuah kuil yang suci dan perawan, sebuah kesucian yang kekal. Aku tak menginginkan Kuil cintaku itu terkotori oleh kebusukan, kebobrokan, pendosaan yang akan mengurangi keabadian kuil cinta itu. Keabadian itu akan terjaga dalam ingatanku, saat aku masih mengenalnya dalam keindahan. Karena itu aku ingin mengekalkannya dengan meruntuhkan dan membinasakannya.” Aku menarik nafas dalam-dalam.

” Juli, malam itu juga, aku tanpa ragu menembaknya, tepat peluru menembus pelipisnya. Ia kulihat dengan damai dan mata itu terpejam dengan tenang. Ia seperti sudah tahu bahwa ajal itu ada padanya bukan terhadapku. Ia sudah menjadi seonggok mayat, sesuatu yang fisik dan lambatlaun akan membusuk digerogoti ulat-ulat, diurai menjadi remah-remah tak bernilai. Keindahan fisik akan habis juga saat itu. Aku tak mau itu Juli, maka yang kulakukan adalah mengabadikannya dalam kremasi, bersama mayatnya di kuil tua akan terbakar bersama menjadi abu, menjadi asap membubung membawanya dalam memori kenangan. Seperti ajaran spiritual akan menjadi sakral jika memitos, jika dalam keabadian absurd Ia akan menjadi sejarah dan tulisan- tulisan abadi dalam lembar-lembarku. Ia telah membebaskanku dalam ketergantungan wadag, fisik. Penebusanku dibui, dikarantina adalah adalah batas fisikku namun fantasi keindahan itu lepas bagai kuda liar. Tapi aku keliru menafsirkan semuanya selama ini, satu hal yang tak kupungkiri kemungkinan apa yang dikatakan yang punya mata adalah benar. Aku menyesal pada saat ini aku belum bisa memilih… “

Juli melongo dan wajahnya timbul guratan tanda tanya besar.

“Jadi, Jadi Selama duapuluh tahun kau di penjara hanya untuk sebuah kekekalan cinta, kekekalan keindahan semu semacam itu. Kau gila, kau syaraf yang akut. Kau sudah teralienasi dari realitas kehidupan ini. Kau tak masuk akal, kau melakoni ini semua dengan resiko tinggi sementara kau belum menyadari apa yang kau lakukan. Lalu apa arti sebenarnya yang kau cari, apa artinya ini semua bagimu, bagiku, bagi orang-orang, tolong jelaskan apa artinya semua ini, semua omong kosongmu, semua bualanmu,jelaskan…?”

Semburan Juli seperti mitraliur, membuat keping-keping tanda tanya baginya. Aku tak peduli lagi, aku tinggalkan juli yang selalu membebaniku dengan perlu mengerti atau tidak orang-orang sekitarku terhadap apa yang kulakukan.

Aku tinggalkan semua ini, aku tinggalkan udara yang membekap. Sementara senjakala membentuk horison di ufuk barat, matahari mulai tenggelam dan suasana beranjak muram. Aku teringat ucapan Juli,

” Iya,..aku memang tidak masuk akal .”

* * *

Malang, September 1998

Iklan