Kenangan Silam

Cerpen: Farizal Sikumbang (Sumber: Padang Ekspres, Edisi 05/28/2006)

Aku tidak tahu rupa ibu, seperti juga aku tidak tahu rupa ayah. Ayah dan ibu seperti lorong yang panjang, gelap dan sunyi dalam ingatanku. Aku tidak pernah bertemu dengan beliau.

Mereka pergi di saat aku baru berusia beberapa bulan. Dan kini aku mereka-reka sendiri wajah mereka dalam mimpiku. Dulu, jika tak puas, aku akan menuntut nenek untuk melukis wajah ayah serta ibu dalam buku tulisku.

Ayah dan ibu memang telah lama berpusara. Makamnya terletak persis di belakang rumah kami,di bawah pohon flamboyann yang tumbuh tinggi. Bila sendiri, terkadang aku akan duduk di makam itu membayangkan ayah dan ibu melihatku. Sungguh, tujuanku hanya satu, ingin melihat rupa ayah dan ibu.

Kini aku masih rindu ayah dan ibu, juga hari-hari yang lalu. Betapa kegegelapan rupa ayah dan ibu telah menyiksa hari-hariku. Setiap saat aku mereka-reka wajah mereka, namun setiap kali itu juga aku gagal. Dan nenek sampai saat ini juga tak bisa membantuku untuk itu. Penjelasan nenek tentang rupa ayah dan ibu juga tak bisa memuaskan keingintahuanku. Aku tahu nenek menyesal atas semua itu. Juga penyesalan nenek karena tidak mampu menyimpan satu pun potret ayah dan ibu.

“Itu tahun sulit, di masa itu jarang ditemukan alat foto untuk menyimpan kenangan,” begitu kata nenek suatu hari. Tapi yakinlah, ayah dan ibumu adalah manusia pilihan. Orang-orang yang memiliki wajah tampan sama seperti kau, buyung.”

“Tapi aku tidak pernah melihat mereka Nek.”

“He he he, ayahmu memiliki wajah sepertimu. Dia tampan, kau tahu?”

Begitulah ujar nenek, bahwa ayah memiliki wajah tampan, dan ibu memiliki rupa yang menawan. Tapi aku masih sangsi, sebab aku tidak pernah melihat mereka.

“Nenek tahu kau masih tak percaya, tapi yakinlah, begitulah adanya. Bila nenek ceritakan tentang ayah dan ibumu, kau bisa menangis, Buyung, sebab kejadiannya memilukan. Nenek sengaja merahasiakannya kerena tak ingin kau terluka. Cukup nenek saja.” Mata nenek berair.

“Tentang PKI itu nek?”

“Ya, tentang PKI itu. Kau sudah tahu rupanya.”

“Dari omongan orang. Dan, bukankah selama ini kita juga dikucilkan Nek? Aku juga tahu tentang rawang itu nek, tapi aku masih ragu, betulkah ayah dan ibu pernah dipusarakan di sana ?”

Itu pertanyaanku tiga puluh tahun yang silam.

Dan memang, seperti tutur nenek, ibu dan ayah memang pernah dipusarakan di rawang yang terletak di ujung kampung.

Kini usiaku sudah empat puluh satu, rambut ketuaan sudah mulai tumbuh di atas kepalaku. Pandangan mataku mulai agak kabur karena dijajah usia dan dalam derita pencarian wajah ayah dan ibu yang selama ini menyiksaku.

Bertahun-tahun aku menjengguk rawang itu, tempat ayah dan ibu dipusarakan oleh orang sekampung. Aku harap ayah dan ibu menyembul dari permukaan rawang yang tergenang air itu, lalu membawaku ke dalamnya.

Kadang aku mengutuk mereka semua. Mengutuk karena begitu tega membenamkan tubuh ayah dan ibu ke dalam rawang itu.

“Waktu itu nenek tak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyeret tubuh ayah dan ibumu beramai-ramai. Ayahmu sudah berulangkali mengaku bahwa ia bukan seorang PKI. Tapi orang sekampung tak mau peduli.”

“Nenek yakin ini kekurangajaran yang dilakukan Burhanudin. Nenek tahu, laki-laki itu dulu cemburu pada ayahmu karena telah mendapatkan ibumu. Ia memang suka pada ibumu itu. Nenek ingat suatu hari ia datang ke rumah ini, laki-laki itu meminta tanda tangan ayah dan ibumu, katanya untuk persetujuan pembangunan surau. Tapi kau tahu, tanda tangan itu kemudian dijadikan bukti sebagai orang-orang yang ikut PKI.”

“Kau, tahu, bukan hanya kedua orangtuamu saja yang menjadi korban saat itu, juga orang-orang lain yang tak berdosa, dan juga yang tak tahu apa-apa. Kebetulan ibu dan ayahmu tidak disukai seseorang maka ia juga ikut menjadi korban.”

“Nenek dan mamakmu, akhirnya mencari tubuh ayah dan ibumu di dalam rawang itu, kami kemudian menguburkan tubuh mereka di belakang rumah ini,” begitu tutur nenek.

Dan tentang nenek, kini beliau memang sudah tiada. Beliau juga dimakamkan di belakang rumah, di samping makam ayah dan ibu. Sejak kepergian nenek, aku semakin gagal untuk merekontruksi wajah ayah dan ibu. Aku semakin terasing, sunyi. Sama seperti keterasingan rumah yang kuhuni.

Dalam usia ketuaan, kini aku semakin sunyi. Separuh hari kuberikan waktuku untuk mengenang mereka semua.

Kini aku berlutut tidak jauh berada dari rawang itu. Aku membayangkan betapa menderitanya ayah dan ibu saat tubuhnya dibenamkan di sana. Tentu mereka sangat tersiksa dan menderita. Lalu orang-orang kampung itu dulu, tentu bersorak-sorai penuh kemenangan. Tentu mereka tak mendengarkan jerit ibu. ibu, aku gagal menjadi penolongmu, ah.

Aku sedih. Setetes air jatuh dari dua mataku. Aku tak tahu ini airmata yang entah keberapa. Mungkin yang kesejuta kalinya. Diantara pandangan mataku yang mulai kabur, sampai saat ini aku masih sering menangis.

Ayah dan ibu, maafkan aku bila menjadi cengeng, tapi aku tak bisa melupakanmu. Aku ingin melihat wajah kalian. Tidakkah kalian mengerti derita yang kualami?

Aku masih berlutut tidak jauh dari rawang itu. Dan, aneh, entah mengapa belakangan ini aku mencium aroma wewangian dari sana. Seperti ada sesuatu aroma yang bergegas berlari ke hidungku. Aku tidak mengerti tentang itu. Dulu rawang itu terasa berbau aneh yang membuat hidungku sakit dan perutku mual.

Lalu satu hari yang lampau kukabarkan pada orang sekampung, bahwa aroma wewangian menyembul dari rawang itu, tapi apa daya, mereka semakin menuduhku gila dan lupa ingatan. Mereka semua memang keterlaluan.

“Gila, semakin lama dia semakin gila.”

“Kerjanya saban hari hanya mondar-mandir pergi ke rawang yang dulu kata orang tempat kedua orang tuanya dibenamkan karena dituduh PKI.”

“Begitulah nasib anak seorang PKI. Dulu, tujuh turunan mereka akan merasa dikucilkan. Dan itu keputusan dari presiden kedua kita. Tapi kini tidak seperti itu lagi.”

“Namun kita tetap harus waspada, kan?”

“Ya sih.”

Duh.., tapi biarlah, memang beginilah nasib anak seorang yang dituduh PKI, terasing dan dikucilkan.

Aroma wewangian itu kembali menyerang hidungku. Aku berlutut menikmatinya. Aku seakan dibawanya entah ke alam mana. Ada sesuatu yang aneh.

Aku tak tahu, apa kedua mataku semakin kabur dan parah saja. Kini dari rawang itu kulihat berbagai bayangan ke luar dari sana. Tak henti-henti aku mengusap mata. Aku harap mataku yang salah. Bayangan itu terus silih berganti ke luar dari rawang itu dan terbang melewati pohon-pohon di sekitar dan menghilang entah ke mana.

Kembali kuusap mata. Aku tak percaya. Aku kembali berharap mataku yang salah.

Aku merasakan tubuhku mulai ringan, aroma dan bayangan itu masih berkeliaran di pelupuk mata. Wahai, ada seperti yang mengangkat tubuhku. Aku semakin mendekat, dan bergerak ke arah rawang itu. Aku tak percaya. Aku merasa tubuhku memang bergerak ke sana. Perlahan aku beridiri di atas rawang itu. Dan dua bayangan, yang entah siapa menjulurkan tangannya untukku. Siapa mereka?

Aku termangu.

Kulihat, sesosok tubuh masih duduk berlutut ke arah rawang ini. Ah, kurasa kali ini bukan pandangan mataku yang salah. Itu adalah tubuhku. Ku yakin, mereka yang menjulurkan tangan itu adalah wajah yang kureka-reka selama ini. Kurasakan tubuhku semakin ringan. Melayang, menyusup ke rawang itu.

***

Padang, Mei 2006

Iklan