Langit Bertabur Nguyen
Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar
Sumber: Kompas, Edisi 12/18/2005

Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat Vietkong, Rambo, penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh, gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu.

Aku tahu, Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Tapi, surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami, penuh cerita pilu. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Antara suka dan tiada, aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Tapi, di bilik hatiku yang lain berucap gemulai, kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Nguyen telanjur segalanya bagiku.

Aku jadi ragu berterus terang, kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Siapa duga, aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning, Batam, menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Tuan Chew Song Kit, pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri.

Atas nama kemandirian itu pula, aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Sekali lagi, bila ditanya, manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab, aku berbelah-pihak pada Nguyen. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Tapi, menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur, pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula.

Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Tapi aku tak begitu hirau. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah.

Padahal, beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang, bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Tapi, tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. Atas keteguhan sikapku ini, sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun, Wan Syariful, telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa.

Aku kehilangan jejak Nguyen. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku.

Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. Mana tahu, Nguyen muncul tiba-tiba. Wan Syariful, teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati, mulai melihat isyarat buruk dalam diriku.

Dari mana asalnya kapas, dari benang menjadi kain. Sesiapa yang sudah dilepas, dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Tapi, jujur, aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah.

Tak usahlah dicari barang yang tak jelas, sambung Wan berhujjah.

Aku tertunduk lemas. Tapi, di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama, aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Apalagi, doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi, tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Meski, terus terang, aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan.

Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful, teman setiaku sejak dulu. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu, seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun, lewat di depan stand kami. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku.

I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. Sungguh, hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru.

What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya.

I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami, aku bagai melompat menuju buku tamu. Tak salah lagi, nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan.

Nguyen.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. Kami bersitatap tegang. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Dan perempuan itu langsung memelukku.

Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Saat itu, sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Semua bisu. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua.

Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya, perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku, Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami.

Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu.

Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Aku memeluknya sepenuh-mesra.

Hampir setahun ini, kami sudah pisah ranjang. Aku telah keliru memilih jodoh, sahut Nguyen pelan. Aku makin memperkuat pelukan. Nguyen pasrah.

Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Dalam perjalanan naik taksi itu, Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Dua adiknya, San Nam dan San Nangh, sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Mereka sudah jarang bertemu. Begitu pula kampung halamannya, Sing Anh, yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana.

Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya, airmatanya tak henti mengalir. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Sebab, setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai, selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.

Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Pembantunya, seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami, sudah kembali beristirahat di kamarnya. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Nguyen masih duduk menyandar didadaku. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. Sungguh, tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda.

Nguyen meraih jemariku. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Lampu temaram. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam.

Inilah saatnya, Bang Rajab. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen.

Maaf, Nguyen, aku tak bisa. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku.

Maksudmu?, suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap.

Aku terdiam dan ternganga.

Kamu tidak mencintaiku lagi. Memang, aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.

Iya… kamu masih menjadi istri orang lain. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu.

Tapi, kami sudah pisah ranjang cukup lama.

Pisah ranjang bukan bermakna bercerai, bukan?

Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Menelepon pun tidak. Lagi pula, kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain..

Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Selalu, dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Andai saja, dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu.

Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Tapi, bagiku, pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi.

Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya, memang bukan akhir segalanya. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman.

Langit masih bertabur Nguyen, saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center, selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. Sungguh, aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka.

Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum.

Nguyen, langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Langit Hanoi terasa merah jambu, Nguyen, pulaskah tidurmu malam ini

***

Pangkalan Kerinci,

Oktober 2005.