Tentang Hari Ketika Keputusan Itu Dibacakan

Cerpen Ekky Malaky

08.00 WIB

Hari itu adalah hari yang paling menentukan bagi Sang mantan pejabat yang pernah sangat berkuasa. Itu. Pak Fulan, sebut saja namanya begitu. Pak Fulan tidak menduga, selepasnya berkuasa, dia harus berhadapan dengan kasus-kasus lamanya. Padahal kasus itu sudah berhasil dipetieskan. Namun, sayang sekali, para pejabat pengadilan–sosok-sosok kuat yang membela dan menutupi segala kesalahannya–pun turut lengser bersamaan dengan turun tahtanya Pak Fulan.

Hari itu, Pak Fulan yang sudah tua, beruban, dan sakit-sakitan itu, bersama dengan anak dan istrinya di rumah dengan serius mendengarkan sidang kasasi dari Mahkamah Tinggi. Keputusan ini sangat dinanti-nanti tidak hanya oleh Pak Fulan sekeluarga dan juga oleh para pendukung setianya, tetapi oleh seluruh manusia di Indonesia yang ingin mengetahui keadilan jenis apa yang ditawarkan oleh para Hakim Agung itu. Pagi-pagi sekali Pak Fulan sekeluarga bangun dan mendengarkan siaran langsung itu dengan seksama. Para handai taulan dan beberapa wartawan memenuhi rumahnya di bilangan Pondok Harum, Bekasi Barat. Dan sebentar lagi, para Hakim Agung akan membacakan kasasinya–entah apakah dirinya akan dibebaskan, atau malah memperkuat keputusan dua pengadilan terdahulu yang memutuskan Pak Fulan bersalah.

10.50 WIB

Televisi di stasiun kereta itu masih menyaksikan siaran langsung maraton pembacaan kasasi. Maklum, kejadian seperti ini, pembacaan marathon itu, baru sekali-sekalinya diadakan. Tentu saja banyak orang yang ingin tahu, walau tidak sedikit pula yang bosan dan mengantuk. Para calon penumpang tampak hilir mudik di sana. Ada juga yang menunggu di ruang tunggu eksklusif atau duduk di lantai beralaskan koran. Para penjual koran lalu lalang.

Seorang calon penumpang, tampaknya hendak menunggu kereta menuju Bandung, memakai jas merek terkenal dan menenteng laptop di tangan kirinya. Sementara, tangan kanannya asyik bermain SMS. Dia sedang berdiri di depan ruang tunggu eksekutif.

Tiba-tiba, seseorang datang menjambret laptop itu. Kejadian itu begitu singkat dan cepat. Tiba-tiba saja laptop itu sudah berpindah tangan. Dan, segera saja penjambret itu menghilang dengan lincah di antara kerumuman, agaknya sudah terbiasa melakukan hal itu.

Calon penumpang berjas itu tidak tinggal diam. Segera saja dia berteriak sekuat tenaga: “Copeeet! Copeeet! Toloooong!”. Tidak sampai lima detik, para pengunjung langsung mengejar membantu sang korban. Sepertinya, massa merasa ada hiburan yang dahsyat dan gratis, bahkan bisa menyalurkan emosi jiwa, jika ada seseorang yang berprofesi pencopet dan sebangsanya. Tidak sampai 10 menit penjabret itu tertangkap, dan… kita bisa tebak sendiri akhir kisah ini. Hantaman kepalan tangan, tendangan yang bertubi-tubi, segera menghujani si penjabret. Padahal, si penjabret yang masih muda itu sudah minta tolong dan minta ampun bertubi-tubi. Tetapi, massa sepertinya tidak merasa bersalah menggebuginya. Atas nama massa, orang-orang seakan punya hak untuk membunuh.

Tidak sampai 30 menit kejadian itu berlangsung. Petugas keamanan segera melerai mereka. Massa bubar, laptop lenyap entah kemana, dan sang penjabret tergolek tak bergerak bersimbah darah–entah hidup entah mati.

Di stasiun kereta itu, siaran langsung maraton pembacaan keputusan kasasi Mahkamah Tinggi terus dibacakan. Sesekali tampak siaran langsung dari kediaman sang mantan pejabat yang tua renta itu sedang harap harap cemas menantikan keputusan. Dan, seorang kriminal kelas teri tak berdaya melawan amukan massa, sementara hasil curiannya ketlingsut entah ke mana…

12.29 WIB

Akhirnya jam makan siang tiba! Deny, supir taksi, baru saja masuk ke warung padang “Siang Malam”. Sebuah hari yang melelahkan. Ia baru saja mengantarkan seorang warga negara Amerika Serikat ke bandara Soekarno-Hatta dan mendapatkan tip yang lumayan besar. Alhamdulillah, akhirnya dia bisa membelikan si kecil hadiah ulang tahun, walau telat tujuh bulan. Sambil menunggu pesanannya–nasi sayur dengan lauk perkedel dan rendang–dia menonton televisi. Saat itu, semua mata yang ada di sana, apakah penjual atau pembeli–sedang menyaksikan siaran langsung pembacaan keputusan kasasi Mahkamah Tinggi tentang kasus korupsi Anggaran Belanja Komisi Pendidikan dan Kebudayaan yang menimpa sang mantan pejabat.

Tetapi, tentu saja Deny tidak bisa berlama-lama. Dia harus kembali mencari rezeki dengan taksinya, sesaat setelah dia habis menyantap makan siang itu. Maka, dengan penuh semangat–karena akan membelikan si kecil oleh-oleh hadiah ulang tahunnya yang telat tujuh bulan–dia segera berangkat. Terik matahari yang meradang dan panas hawa yang menyerang tak membuat Deny menyerah. Kemacetan yang menjadi kesehariannya juga tak digubrisnya. Untunglah ada radio yang menjadi hiburan satu-satunya. Deny menyetel radio itu untuk melanjutkan mendengarkan sidang kasasi Sang mantan pejabat.

Alhamdulillah, akhirnya ada seseorang yang menyetop taksinya. Dua orang pria, satu berambut gondrong dan penuh tato, satu lagi berambut cepak dan berdasi. Mungkin, penyanyi rock dan managernya, pikir Deny.

“Bekasi, Bang!” jelas si gondrong singkat.

“Baik, Pak,” jawab Deny sedikit kaku.

“Naik tol saja, Bang,” sambung si cepak.

“Baik,” ujar Deny sambil membelokkan taksinya ke pintu gerbang tol terdekat.

Radio di dalam taksi itu masih menyiarkan siaran langsung. Dan, di sebuah sudut ring road jalan tol itu, kedua penumpang itu meminta Deny untuk meminggirkan mobilnya.

“Minggir, Pak?”

“Sudah ikuti saja kemauan kami…” kali ini si gondrong berkaos lengan buntung yang angkat bicara.

“Tapi, Pak…”

Belum sempat habis rasa keheranan Deny, tiba-tiba, sebuah benda dingin dan terasa tajam menempel di lehernya.

“Mana uang-uang lu. Kasih ke gue! Cepat!” kali ini si cepak menggertak

“Ayo cepat. Apa mau gue gorok leher lu ini! Heh!” tambah si gondrong, galak

“Tap…tapi…uang itu buat kado anak saya, Pak,” ujar Deny, mencari belas kasihan.

“Bodo amat, emangnya lu doang yang punya anak!” kata si gondrong sambil mengeplak kepala Deny.

“Cepat, kasih ke gue! Semuanya! Ayo, yang ada di dompet, di kantong! Semuanya!” agaknya si cepak tidak sabaran.

Mau tidak mau, Deny mengeluarkan semua harta yang ada di dalam saku dan dompetnya.

“Arloji lu juga! Buruan! Lepas!” teriak si gondrong, tepat di gendang telinga kiri Deny.

“Arloji ini, Pak? Jangan dong, Pak… Ini hadiah ulang tahun istri saya,” kata Deny. Ada sedikit getar dalam suaranya.

Kepala Deny terasa ada yang memukul. Keras.

“Lu ngelawan, ya! Gue bilangin, nurut aja kenapa sih!” si cepak kembali ringan tangan.

Mau tak mau, sekali lagi, sambil menahan geram dan takut, Deny mencopot arloji penuh kenangan itu.

“Sudah semua?”

“Sudah, Pak.”

“Jangan panggil bapak, emangnya gue bapak lu!”

“Iya, Bang… sudah… sudah!”

“Ya sudah. Sekarang kamu keluar!”

“Keluar, Pak, eh, Bang?”

“Iya! Lu budek, ya?”

“Tapi, ini bukan taksi saya, Bang.”

“Gue kagak mau tau… lu mau taksi ini dikasih apa leher lu gue gorok!” teriak si gondrong.

“Mau yang mana? Jawab!” tukas si cepak menimpali.

“Iya, iya… saya keluar…”

Deny keluar dari taksi itu. Si gondrong segera keluar dan mengambil alih kemudinya.

“Terima kasih, Bos. Nih goceng buat lu balik! Gue baek, kan?” ujar si gondrong sambil memasukkan selembar uang ke saku baju Deny. Deny tak berdaya dalam ancaman golok.

Mobil itu langsung melesat dan tak sampai lima menit sudah menghilang dari penglihatan. Di Taksi itu, kedua kriminil tadi tertawa terbahak-bahak.

“Akhirnya, kita berhasil. Bini gue bisa setop nyapnyapnya.”

“Iye, bang. Anak gue juga bisa diobatin muntabernya.”

Mobil taksi itu melesat kencang. Siaran langsung pembacaan keputusan Mahkamah Tinggi seputar kasus sang mantan pejabat masih saja terdengar di radio mobil itu.

15.43 WIB

Di bilangan Pondok Indah itu, suasana lumayan lancar. Satu dua mobil mewah hilir mudik melintasi perempatan lampu merah itu. BMW seri terakhir warna biru, VW Beetle merah muda, dan Ferrari kuning tampak menonjol dalam kerumunan itu.

Seperti biasa, ketika lampu menunjukkan warna merah, dan mobil-mobil mulai berhenti, banyak orang yang berjualan–mulai rokok hingga koran–yang mengerubungi. Tak ketinggalan pengamen dan pengemis, termasuk Dini dan Dina, pengamen anak-anak yang sibuk dengan krecekan dan suara seadanya.

Setelah ditolak beberapa mobil, Dini dan Dina mendatangi sebuah mobil Jaguar berwarna hitam di deretan kelima. Di dalam Jaguar itu, sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang-bincang. Di kaca spion ada tasbih yang bergelayut. Sementara, di tengah-tengah mereka tampak ada televisi mini. Hmm… alangkah nyamannya, di Jakarta yang panas dan sumpek ini ada televisi yang siap menghibur kita kapan saja–tapi apa tidak takut risiko tinggi, ya?. Televisi itu sedang menyiarkan pembacaan kasasi Mahkamah Tinggi kasus Korupsi Anggaran Belanja Komisi Pendidikan dan Kebudayaan sang mantan pejabat, sebuah kasus lama yang nyaris terlupakan tapi berdampak besar bagi perekonomian negeri ini. Sesekali kesibukan dan kecemasan di kediaman Pak Fulan terlihat di sana.

Melihat sepasang pengamen cilik di samping kaca mereka, sang istri yang tampak sedang hamil tua itu sontak memberikan uang Rp 5.000. Dini dan Dina tampaknya senang, dari mulut mereka terdengar ucapan terima kasih berkali-kali. Tetapi, tidak dengan sang suami. Sang suami merengut, sepertinya BT.

“Lho, kok merengut, Mas? Jangan gitu, Mas. Aku lagi hamil tua nih, ntar ngaruh ke anak, lho.”

“Abisnya, kamu ngasih tuh dua orang pengamen itu…”

“Aduh, cuma serebong dua rebong. Sedekah, mas. Siapa tahu kita dapat pahala, dan si kecil bisa lahir dengan selamat…”

“Iya sih. Tapi kalau mau sedekah, ke yayasan mami saja. Lebih terjamin.”

“Ya, sudahlah. Memangnya, terjamin gimana?”

“Terjamin pasti akan sampai pada orang yang berhak.”

“Memangnya?”

“Ah, masak kamu lupa. Aku pernah ngasih ke pengemis di pinggir jalan. Eh tidak tahunya, mereka ada mafianya. Para pengamen dan pengemis itu diorganisir oleh para preman. Uang hasil kerja mereka diserahkan kepada si preman itu. Jadi, percuma, kan kita kasih ke mereka, toh mereka tidak menikmatinya.”

“Tai, Mas, itu kan sudah lama kejadiannya, 10 tahun lalu, dan di Surabaya.”

“Ah, sama saja. Aku terlanjur tidak percaya.”

“Tapi, Mas, kalau semua orang berpikiran seperti itu, siapa yang akan menolong mereka, anak jalanan itu, mas?”

“Bukan urusan kita. Kalau mau beramal, jangan tanggung-tanggung.”

“Tapi, Mas, bukankah yang penting niatnya. Urusan mengalir ke mana, jangan dipikirkanlah.”

“Gimana sih kamu. Ya kepikiran, dong. Kasihan anak-anak itu, kita kasih malah direbut para preman.”

“Lho, bukannya kasihan kalau mereka sama sekali tidak dikasih. Siapa tahu preman-preman itu malah menyiksa mereka.”

“Ah sudahlah, sekarang konsentrasi ke perut kamu sajalah. Sebentar lagi sampai rumah sakit.”

“Tapi, Mas.”

“Sudah. Jangan tapi-tapi.”

Lampu beralih ke warna hijau. Dan Jaguar hitam itu pun melesat kencang. Di dalam, sepasang suami istri tengah sibuk menyaksikan siaran langsung maraton Kasasi kasus Pak Fulan dari televisi mini yang terpasang di Jaguar mereka.

19.17 WIB

Akhirnya keputusan Kasasi yang dibacakan secara maraton oleh para Hakim Agung itu usai sudah. Sang mantan pejabat bebas! Wah, sepertinya akan ada pro dan kontra seputar hal ini. Wallahua’lam. Tetapi, sepertinya banyak sekali warga yang membicarakan hal ini. Di warung, rumah, pos ronda, dalam busway, kantor-kantor, mal, di mana-mana. Termasuk juga di rumah Utami dan Joko di sebuah kawasan kumuh sekitar Manggarai.

Joko, sang suami, asyik bercengkerama di rumah tetangga dengan beberapa teman sejawatnya. Mereka asyik ngerumpi seputar keputusan kasus sang mantan pejabat. Terkadang tawa yang terbahak-bahak membahana seisi ruangan, terkadang juga gumamam serius tentang betapa tidak seriusnya sistem pengadilan di negeri ini. Perdebatan tentang keputusan yang tidak adil dan keputusan Mahkamah Tinggi yang harus dihormati menyeruak. Walaupun pengangguran, Joko adalah lulusan SMU yang rajin baca koran. Boleh jadi, di lingkungan itu, pria berusia 35 tahun itu termasuk yang paling cerdas dan sering dimintai komentarnya.

Tiba-tiba dari rumah sebelah, rumah Joko, terdengar teriakan.

“Jokoooo! Enak aja lu asyik-asyik di sana! Emangnya gue pembantu elu! Balik ke sini! Cuci baju!” terdengar suara Utami menjerit memanggil suaminya.

Di rumah sebelah. Tampak ada beberapa cekikikan kecil. “Joko takut istri,” bisik sebuah suara. “Joko jadi kacung,” bisik suara lainnya.

Dengan agak malas, Joko turuti juga kemauan istrinya itu. Sesampainya di rumahnya, kembali Joko disambut dengan petuah-petuah kekesalan.

“Eh, memang sih lu pemimpin rumah tangga di sini, tapi bukan berarti lu bisa ongkang-ongkang kaki. Bantuin gue dong. Banyak kerjaan nih. Cuci motor lu, kek! Cuci baju, kek! Abis itu lu ngojek dah. Lumayan, pan buat nambah-nambah susu anak lu. Daripada ngerumpi melulu. Lu mau maki-maki kek, ngegosip semalam suntuk kek, tuh si fulan tetep aje bebas, omongan lu ngak ngaruh…”

“Iya, iya. Gue cuci baju. Tapi jangan malu-maluin gue di depan tetangga, dong…”

Utami bukannya terdiam, makin garang.

“Alah, malu, malu. Malu apaan. Lu sendiri nganggur, gak malu tuh ama tetangga? Kerjaannya nonton tipi, minta duit ama bininya. Boro-boro, mau bantuin gue jualan gado-gado, atau ngojek…”

“Gue kan sudah usaha, cari kerja ke mana-mana. Kalau gak usaha, lu baru boleh marah…”

“Alah, usaha apaan! Udah sana cuci piring…”

Joko segera masuk ke dapur. Dia sadar, istrinya susah distop kalau sedang ngomel. Dia sendiri memang punya andil, kesalahan. Sudah hampir enam bulan Joko tidak memberikan nafkah kepada sang istri, kecuali beberapa rupiah saja karena murah hati orang tuanya atau rezekinya hasil dari ojek motor.

Tak lama kemudian, Joko datang lagi ke berada depan, menemui Utami.

“Say, sabun cucinya abis, tuh…”

“Terus?”

“Ya, minta duit, mau beli…”

“Duit, duit. Sekali-kali pakai duit lu kenapa sih? Lu kan bisa minta orang tua lu! Kemana tuh? Atau ngojek, gitu kek. Emangnya gue bank apa dimintain duit melulu. Makanya jangan ngelayap terus. Kerja tiap hari nongkrong, gak jelas juntrungannya. Mau jadi apaan sih, lu? Anak lu tuh kasih makan….”

Waduh. Kok gara-gara sabun cuci yang murah saja kok nyerempet ke masalah tanggung jawabnya sebagai suami atau ayah? Dan di depan, para tetangga sibuk mengintip dan melihat apa yang tengah terjadi. Maklum, suara Utami menggelegar bak halilintar.

Joko tidak tahan lagi. Andai ia punya uang, Joko pasti akan membeli sabun cuci itu tanpa harus mengadu ke Utami. Tetapi, masalahnya bukan sekadar dia tidak punya uang. Tetapi sudah ke arah harga diri, rasa menghormati dan menghargai sesama pasangan yang sudah tidak ada. Dan perlakuannya yang acap mempermalukannya di depan umum.

Tanpa pikir panjang, diambilnya bensin yang ada di dekat sepeda motornya, tak sampai lima menit, disiramnya tubuh istrinya yang sedang menyapu halaman depan. Tak sampai 10 menit, api sudah melalap tubuh sang istri yang melolong minta tolong.

Joko segera ke tetangga sebelah. “Tolong, istri saya terbakar. Saya melapor dulu ke kantor polisi,” demikian ucapan singkat Joko, santai dan tanpa beban.

Saat ditinggalkan, tubuh Utami masih berbalut api. Dia berteriak minta tolong. Segera para tetangga berdatangan menolong. Tak jauh dari situ, sebuah televisi menyiarkan siaran langsung debat seputar keputusan bebas Sang mantan pejabat yang dibacakan secara maraton lebih dari 10 jam itu.

Demikianlah kasus-kasus “kecil” di hari pembebasan sang mantan pejabat. Demikian sekilat info.

Iklan