Jangan Menulis Nama di Pepohonan
Cerpen Dwicipta  (Sumber: Media Indonesia,  Edisi 09/03/2006)

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:EN-GB;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:113.4pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

ORANG-ORANG gila menggoreskan namanya sendiri di kulit-kulit pepohonan atau di dinding-dinding tembok. Hal itu dipercayai orang akan membuat mereka sembuh dan kembali normal. Orang-orang di kota kami membicarakan mitos itu sebagai sebuah harapan atau lelucon ketika tidak ada sesuatu bahan pun yang bisa dijadikan obrolan menarik. Maklum saja, selepas bumi diguncang dan rumah serta bangunan dirobohkan oleh murka alam, dalam sekejap saja semua orang menjadi miskin. Banyak di antara mereka tak memiliki sedikit pun harta benda, melata di jalan-jalan menjadi pengemis dengan nista di raut muka. Mereka yang tak kuat menahan beban hidup menjerumuskan diri ke dalam sumur di belakang rumahnya dan menemui kematian secara mengenaskan, atau berubah jadi gila baik di sengaja ataupun tidak disengaja. Bukankah akan lebih baik membuang pikiran atau akal sehat daripada tidak memangsa sedikit pun makanan? Begitulah kepercayaan yang menyebar begitu saja setahun setelah bencana terjadi. Lelaki dan perempuan, baik anak-anak maupun orang tua, dengan pikiran tak waras banyak yang berkeliaran di jalanan dengan berbagai macam keanehan mereka masing-masing. Menggores nama sendiri di pepohonan dan dinding tembok adalah perilaku umum yang mereka lakukan.

Orang-orang di kota kami sering mempermainkan mereka. Seorang lelaki setengah baya bernama Wardi, misalnya, harus berulang-ulang kali menuliskan namanya di dinding tembok luar kota karena orang-orang yang mengerjainya akan membaca tulisan namanya dengan nama lain. Entah dari mana ia mendapatkan arang atau dedaunan pohon untuk menggoreskan namanya. Insting seolah telah menuntunnya mencari bahan-bahan yang bisa membekaskan sesuatu di dinding tembok atau pepohonan. Tapi setiap kali selesai ditulis dan kemudian dibacanya, ia merasa tak puas, apalagi bila orang yang membacanya akan bersuara lain seperti dirinya.

“Oh, jadi namamu Margono?” ledek orang-orang yang mengerjainya.

Matanya berputar-putar jenaka dan kepalanya akan menggeleng-geleng tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian dia menuliskan kembali namanya dan membaca keras-keras. Orang-orang semakin senang mengerjainya. Ia menjadi hiburan tersendiri dari mereka yang masih waras dan berkutat dengan hidup yang semakin pelik di kota kami.

Pernah kami dengar pendapat seorang psikolog dari Jakarta yang didatangkan di kota kami untuk meneliti perihal orang gila yang suka menuliskan namanya itu bahwa kegilaan tersebut disebabkan karena trauma besar yang menimpa mereka.

“Tapi kenapa pelampiasannya dengan menuliskan nama mereka di tembok atau kulit-kulit pohon?” tanya orang-orang.

“Karena hanya dengan itulah mereka menemukan ungkapan akan kesedihan dan duka cita yang mereka alami.”

“Tidakkah itu disebabkan oleh guncangan keras yang sama di kepala mereka?”

“Barangkali, dan guncangan itu menciptakan efek yang sama pada keseimbangan jiwa mereka, sehingga perilaku mereka hampir sama juga. Ada sesuatu rahasia dibalik bencana ini yang membuat orang-orang gila itu melakukan perbuatan seragam,” kata psikolog yang tak kami ketahui namanya itu menjelaskan pada kami.

Tentu saja kami tak paham dengan penjelasannya yang berputar-putar itu. Namun, kami percaya ia berusaha mengungkapkan misteri besar dalam kota kami yang tak kunjung hilang setahun setelah rumah-rumah kami runtuh dan belum juga pemerintah membantu mendirikan rumah.

***

Di antara mereka, terdapat beberapa orang gila yang perilakunya berbeda dengan sebagian besar orang gila di kota kami. Sukamiskin, seorang lelaki tua yang selamat dan kehilangan sebelah kakinya karena tertindih tembok rumah, tiba-tiba berlaku seperti seorang ulama besar dan kondang. Setiap hari, ia mendalilkan khotbah-khotbah agama, azab besar yang akan ditimpakan Tuhan pada manusia yang telah berlaku laknat dan menyalahi zamannya. Dengan topi haji putih kumal dan berwarna hampir kehitaman, ia berdiri di depan puing-puing rumahnya, terus meluncurkan kata-kata religius. Di sela-sela khotbahnya, ia sering menangis tersedu-sedu atau tiba-tiba saja meminta disediakan air karena tenggorokannya kering. Oleh anak-anak di kota kami ia sering diberi air dari got yang berwarna keruh. Dan ketika ia meminumnya, anak-anak bersorak senang. Mereka tertawa terpingkal-pingkal membuat Sukamiskin tertegun sesaat.

“Inilah azab Tuhan yang paling besar untuk kita. Bahkan air yang kita minum ini pun mengandung racun. Dan kita akan meninggal bersama-sama, menghadapi kenyataan di neraka yang mengerikan. Apakah kalian tidak akan bertobat dengan keterangan paling gamblang yang sudah Tuhan tunjukkan pada kita?,” katanya seperti layaknya orang-orang waras yang telah paham ilmu agama.

Sebelum gila, dia adalah petugas khotbah Jumat di kampungnya. Karena kepiawaiannya dalam berolah kata-kata, ia dikenal di sekitar kampungnya dan sering mendapatkan undangan untuk memberi ceramah agama baik untuk acara-acara keagamaan maupun hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Pembawaannya bila berkhotbah selalu serius dan berapi-api, memancarkan betapa mulianya keyakinan agama yang ia pegang. Namun sayang, ketika ujian atas keyakinannya itu sedang ditimpakan, ia oleng dan tak bisa menerima kenyataan pahit. Seluruh keluarganya yang saat itu tinggal di dalam rumah meninggal terkena reruntuhan bangunan, termasuk kedua cucunya yang sedang berlibur dan menginap di rumahnya. Memang masih ada dua anak lelakinya dan istri mereka yang selamat, meskipun mengalami luka-luka dan rumah mereka sama hancur. Namun kepedihan hati tak dapat dihilangkannya, dan ia menanggung kesalahan karena tak mampu menyelamatkan mereka dari bencana.

Lain Sukamiskin, lain pula Zarkawi. Ia seorang lelaki berperawakan tinggi besar dan menyiratkan kekuatan besar dalam raganya. Namun sayang, tampilan luar itu tak dibarengi dengan kekuatan jiwa. Karena ditinggal perempuan yang akan dinikahinya, ia kehilangan akal sehatnya. Berkali-kali ia berusaha membunuh diri dengan menceburkan tubuhnya yang besar ke dalam sumur. Beruntung beberapa orang berhasil mencegahnya. Sekali ia berhasil tercebur ke dalam sumur, namun beruntung nyawanya bisa diselamatkan. Benturan keras di kepala pada salah satu dinding sumur membuat pikirannya tak waras. Pada siang hari, ia termenung di halaman rumahnya yang kini terbuat dari bambu. Pada saatnya sarapan pagi dan makan siang, orang tuanya memberikan sepiring nasi dan lauk di depannya, lengkap dengan segelas air putih. Ia makan dengan sinar mata menerawang. Tak terlihat sedikit pun pancaran sedih atau gembira dalam dirinya. Seperti robot, ia mengunyah makanan dan menenggak minuman yang terhidang di depannya secara mekanis. Suara sendawanya yang keras selesai makan sering ditunggu oleh anak-anak sepulang sekolah siang.

Tapi pada malam hari, kegilaannya kelihatan. Ia suka berkeliling kampungnya dan bertanya pada setiap orang yang ditemuinya di jalan apakah mereka melihat Maemunah, almarhum calon istrinya. Satu dua pemuda dan orang tua yang nakal menunjukkan kuburan Maemunah. Ia pergi sesuai petunjuk orang itu, dan bersimpuh di kuburan itu, bercakap-cakap dengan nisan tegak sampai tengah malam atau dini hari.

***

Tak ada yang lebih menarik perihal orang-orang gila di kota kami selain Halimah. Perempuan itu belum berusia tiga puluh tahun. Parasnya masih kelihatan cantik, terutama karena ketebalan alisnya yang berbentuk seperti golok dan bola matanya yang amat jernih. Dulu ia adalah kembang desa, namun karena kekenesannya, ia keburu hamil dan menikah sebelum menyelesaikan kuliahnya. Desas-desus yang beredar di seluruh kampung, ia seorang istri yang tak begitu setia pada suaminya. Itulah sebabnya meskipun telah berkeluarga, ia sering dimusuhi oleh perempuan-perempuan di kampungnya. Tak jarang mereka datang ke rumah Halimah dan mendamprat kegenitannya.

Ketika bencana terjadi, suami dan kedua anaknya meninggal dalam satu pelukan di atas ambin. Ia yang berada di dalam dapur berhasil menghambur keluar dan memeluk sebuah pohon mangga di belakang rumah. Rumah orang tuanya yang berdampingan dengan rumahnya juga ambruk, menindih tubuh mereka. Ia masih bisa menanggung beban itu. Seperti kebanyakan orang, ditinggalkan sanak keluarga dan orang-orang yang dicintainya tak harus membuat dia kehilangan harapan hidup. Ia pasrah dan hanya bisa berharap peristiwa itu segera berlalu dari dirinya, tak menjadi momok yang menghantuinya selamanya.

Namun harapannya tak seperti kenyataan. Karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya, ia menjadi sumber kebencian tetangganya yang bersama-sama dengannya tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sampai satu minggu setelah bencana, tak terjadi apa-apa. Tapi setelah hari itu, seperti lalat-lalat yang makin banyak dan merubung orang-orang di tenda pengungsian, begitu pula desas-desus tentang dirinya terus berputaran di seluruh kampung. Ibu-ibu pengungsi memandangnya agak lain, dengan senyum masam yang menjengkelkannya. Orang-orang bercakap dengan suara lirih bahwa tubuhnya telah digilir oleh beberapa laki-laki yang kehilangan istrinya dan tak tahan memenuhi kebutuhan biologisnya. Diam-diam, di tenda pengungsian yang ia tempati, mereka semua bersepakat untuk mengucilkannya. Seiring berjalannya waktu, tak ada percakapan sedikit pun antara dirinya dengan ibu-ibu pengungsi. Ia masih bisa menerima keadaan itu. Begitu pula ketika satu persatu mulai menyindir dirinya secara halus maupun kasar, ia mencoba bertahan. Tapi tak puas dengan tindakan sindiran, mereka kemudian mulai berani membuat perkara dengannya. Ia bertahan dengan semua tuduhan-tuduhan itu.

Sampai pada suatu malam ia ditemukan oleh beberapa peronda yang menjaga keamanan kampung yang masih gelap gulita tanpa penerangan itu tanpa sehelai benang pun. Ia tak sadarkan diri. Beberapa orang membawa ke tenda pengungsian. Orang-orang geger, dan desas-desus dirinya diperkosa ditanggapi secara beragam. Ketika ia sadar, ucapannya tak pernah lagi bersambungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan beberapa orang. Ia tak pernah menyebutkan siapa yang telah berlaku kejam memerkosanya.

Seperti kebanyakan orang gila di kota kami, ia suka menuliskan namanya di kulit-kulit pohon dengan benda tajam atau menggoreskan arang ke dinding tembok. Tapi bukan hanya namanya saja yang dituliskan di dinding tembok. Ia juga menuliskan nama orang lain. Orang-orang di kota kami menduga nama-nama lain yang dituliskan itu adalah orang-orang yang memerkosanya. Tapi siapa yang mempercayai orang gila? Sekalipun percekcokan dalam rumah tangga para pengungsi terjadi, mereka tak pernah punya bukti kuat kalau suami-suami para perempuan di tenda pengungsian itu telah mencicipi tubuh Halimah.

Yang meringankan para laki-laki di tenda pengungsian itu adalah karena jumlah nama-nama yang dituliskan Halimah kini telah melampaui seratus buah. Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa tidur dengan lebih dari seratus orang kecuali dia pelacur? Hanya para perempuan yang terlalu pencemburu yang meyakini perkiraan itu.

Setahun setelah Halimah gila, orang-orang di kota kami dibuat gempar. Ia tidak sekedar menuliskan nama dirinya dan nama laki-laki di dinding tembok atau kulit pohon. Ia juga mulai meracau tak karuan.

“Mereka telah tidur denganku. Mereka telah memerkosaku. Mereka membuatku menjadi binal,” katanya berulang-ulang. Sontak kegemparan baru terjadi. Mereka yang mendengarkan racauan perempuan itu mengira-ira apakah seluruh nama laki-laki yang dituliskan Halimah itu benar-benar telah menidurinya. Orang-orang berusaha mengenali tulisan Halimah dan mencari goresan-goresannya, untuk mengetahui siapa saja yang telah berlaku kejam sampai perempuan itu gila.

Tapi setelah isu itu berhembus makin kencang dan banyak orang mencari-cari tulisan Halimah, pada suatu pagi, semua tembok di sekitar kampung dan kulit pohon tiba-tiba saja telah bersih. Bukan itu saja, di beberapa tempat dipasang pengumuman cukup besar. “Jangan mencoret-coret tembok atau dinding bangunan.” Orang-orang di kota kami tak tahu siapa yang melakukan aksi pembersihan diam-diam itu. Dan tak lama setelah pengumuman itu dipasang, pemerintah daerah di kota kami mulai melakukan aksi pembersihan terhadap orang-orang gila yang suka berkeluyuran di tepi jalan. Oleh pemerintah daerah, keluarga orang gila itu dihimbau supaya memelihara mereka di rumahnya sendiri. Jika tetap membiarkan keluarganya yang gila itu di jalanan, mereka akan dikenai denda.

Halimah, perempuan gila yang telah menyebarkan desas-desus heboh itu diikat di sebuah pohon di bekas rumahnya. Beberapa tetangga yang iba hati memberinya makan dan minum. Selebihnya hanya menggumam, “kasihan.”

***

Astacala, Juni 2006

Iklan