Plaza dalam Perut Penuh Hantu

Cerpen: Deddy Arsya

Sumber: Riau Pos, Edisi 08/20/2006

IA akan ke Padang. Ongkos jalan-jalan akhir tahun ajaran sudah dibayarkan pada ibu guru Marisa.

Ia membayangkan sebuah bus berjalan pelan di tanjakan. Hutan kanan dan kiri terlihat seperti kain batik terpanjang, semua warna menyatu ke dalam satu bidang yang datar, kadang bergelombang. Ketika bus melesat ke arah penurunan, bunyi rem yang aus mencicit-cicit terdengar. Dan jalan lurus memberikan suasana yang lain, dimana hawa sejuk pepohonan menyusup masuk lewat jendela bus yang terbuka, selalu terbuka. Menyaksikan sawah-sawah kecil berjenjang, dan jalan-jalan yang panjang. Ia memilih duduk di depan, di dekat jendela yang selalu terbuka. Ia suka mual kalau naik bus berlama-lama.

Tetapi Is tidak jadi pergi!

Ayah akan ke Padang membawa kulitmanis, gardamunggu, cengkeh, pinang, dan pala. Ayah akan menjualnya langsung pada incek-incek di sana—toke-toke di sini menawar terlalu murah. Ayah akan membawanya serta, juga ibu, dan kakak perempuannya. Semuanya pergi.

Teman-teman Is telah pulang membawa cerita-cerita menarik, tentang plasa-plasa baru, Pantai Padang yang sudah tak kotor lagi, Jembatan Siti Nurbaya ketika mendekati senja, kapal-kapal kayu di Muara, kota-kota lama, pekuburan Cina ….

Ayah masih menjanji-janjikan juga akan berangkat. Hati Is menjadi lisut. Jalan ke Padang makin berkelok saja terasa.

BAGAIMANA Is akan pulang? Bus yang tersisa telah pergi sebentar ini. Is tidak usah menangis, bus terakhir akan datang sebentar lagi! Hanya kita berdua yang ada di dalamnya, Is, kita berdua. Menuju rumah! Tidak akan berdesak-desakan. Is tidak takut berdesakan! Tentu bagus kalau tidak takut.

Is tidak ingin pulang!

Bagaimana mungkin tidak pulang? Ayah tidak akan kehilangan dan mencari, sekalipun Is tidak pulang-pulang. Tetapi Is harus pulang, ibu tentu menunggu! Ayah telah memutuskan untuk pergi, Is juga harus pergi. Tapi ibu tak pergi ke mana-mana, ibu menunggu dengan setia. Ibu sayang Is! Ia tentu telah menyiapkan makan malam untuk kita, seperti telah menyiapkan sarapan tadi pagi sebelum kita berangkat ke sekolah. Is ingat?

Ayah tidak sayang Is!

Ayah sayang, semua sayang sama Is. Ayah telah menyiapkan sesuatu untuk pergi?! Tidak-tidak, ayah hanya pergi ke ladang, seperti pagi-pagi biasanya. Apa ayah tidak katakan sesuatu tentang liburan akhir sekolah tahun ini? Ayah sudah janji, tidak mungkin bohong, tentu akan pergi. Membawa Is, membawa ibu, semua akan serta.

Is tidak kasihan pada ibu? Ibu akan kehilangan jika Is pergi. Ibu yang menyuruh kakak mencari Is? Ya-ya, ibu khawatir sekali. Hendak ke manakah Is akan pergi? Ke mana saja! Sesore ini tak ada lagi bus yang akan ke Padang, Is akan naik apa ke sana? Ibu tahu Is akan ke Padang? Tentu saja! Bagaimana ibu tahu? Ayah pasti sudah bilang sama ibu, Is dijanjikan dibawa serta ke Padang.

Is belum makan dari pagi … Sudah! Ya-ya, sudah! Kenyangnya tentu telah lama habis. Itu busnya sudah datang. Ayo kita pulang! Tidak! Is tak mau pulang. Is akan ke Padang. Ini bus yang terakhir, Is, setelah ini tak ada lagi. Kita akan berjalan lagi. Apa Is tidak capek? Jangan menangis begitu! Tak ada yang suka melihat orang menangis. Kalau tak suka, kenapa tidak pergi saja? Baiklah, tak apa menangis, asal mau pulang. Semua penumpangnya sudah turun, busnya sudah kosong. Ayo! Cepat kita naik, sebelum kita ketinggalan lagi! Is ingin duduk dekat pak sopir? Ya, kita akan duduk tepat di sebelahnya, paling depan. Tidak, ia tak akan marah. Tapi kita tak bayar? Kita akan bayar kalau nanti diminta. Ibu kasih berapa? Ada, pasti cukup! Berapa?

Tapi Bus terakhir itu telah melesat pergi. Is menangis lebih keras lagi. Ia menyesal juga telah membiarkan bus itu pergi begitu saja. Tak ada lagi bus yang akan mengantarkan mereka menuju simpang jalan-ke-rumahnya. Kalau akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang, ia terpaksa harus berjalan lagi. Berjalan lagi? Lututnya sudah tak kuat, telapak-kakinya terasa sudah menebal beberapa senti, betisnya telah bengkak dan menegang. Apalagi lapar mulai pula menerjang-nerjang. Perutnya berbunyi beberapa kali. Seragamnya terlihat kumal. Tas yang disandangnya terasa makin berat saja.

Ia membayangkan beratnya medan yang akan ditempuh. Jalan tanah dengan beberapa tanjakan. Di musim penghujan ini jelas-jelas akan digenangi air. Penurunan tak kalah licinnya. Memasuki jalan setapak, kiri-kanan ditumbuhi semak tinggi, lalang-lalang menenggelamkan hampir setengah tubuhnya—dalam gelap tentu telah pula bersarang serangga, semacam agas yang membuat kaki gatal-gatal. Lebih tidak menyenangkan jika terdengar pula bunyi uwi-uwi dari semak-semak, gerutu burung hantu yang bertengger di cabang pohon damar yang banyak tambuh di sekitar jalan setapak itu. Kalau-kalau ada pula kalaluang yang terbang rendah di atas kepala, lepas dari gantungannya di pohon-pohon jambu monyet yang buahnya tampak mulai menguning satu-satu.

Ibu tentu akan sendirian menyiapkan lampu minyak. Petromaks jelas tak akan dinyalakan. Ayah belum akan pulang sesenja ini, mungkin saja tak pulang sama sekali, bermalam di ladang jauh. Monyet-monyet semakin merajalela akhir-akhir ini, apalagi babi-babi telah pula suka dengan mentimun dan labu—padahal dulu nyaris hanya ubi kayu dan ketela rambat yang mereka sukai. Ayah kini harus menjaga ladang. Memasang jerat babi panjang-panjang. Mengusir monyet-monyet dengan palatiang ­—ayah sudah lama ingin membeli senapang angin.

Isna tahu, kakak perempuannya tidak cukup berani untuk melewati jalan pulang itu ketika malam hari. Suara tangisnya perlahan-lahan digantikan isak. Ingusnya meleleh-leleh, cepat-cepat ditariknya kembali, anslup sampai ke dasar lubang hidungnya. Sebentar-sebentar meleleh lagi.

Kakak perempuannya kelihatan mulai cemas. Benar, tidak ada lagi bus yang akan ke mudik, itu bus terakhir. Ia berharap ada sebuah bus lagi yang akan berhenti dan menurunkan penumpangnya di terminal kecil itu. Tapi tidak semua bus melalui simpang-jalan ke rumahnya. Hanya satu-satu: yang akan pulang ke kandangnya, di mudik sana. Dan kini, tidak satupun bus yang tersisa.

Hari berlarut senja. Warna langit mulai bertukar rupa.

Sehabis pulang sekolah, Isna tak pulang ke rumah. Sedari malam ia sudah memutuskan untuk pergi. Tetapi kakak perempuannya sore itu menemukannya. Membuatnya berpikir-pikir lagi untuk benar-benar memutuskan pergi. Keraguan mulai nampak di matanya yang bundar itu kini. Perutnya ikut letih karena lama tak diisi. Kakak perempuannya tak lagi senyinyir tadi membujuknya untuk pulang. Semua sudah terlambat, bus terakhir itu telah pergi. Suara mesinnya yang menderu tak terdengar lagi. Ayah jelas tak akan mencari mereka ke sini. Ibu pasti sudah terlalu letih: pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan untuk mereka, lantas menyiapkan makan siang pula, sebelum kemudian membawa dagangan ke Pasar Hilir dengan berjalan kaki.

Belum ada angkutan umum yang masuk ke sana. Sewa ojek begitu mahal rasanya. Hanya satu-satu tukang ojek yang bersedia mengantar. Itupun hanya sampai ke ujung jalan besar (untuk melewati jalan setapak menuju rumahnya, harus berjalan kaki lagi). Apalagi ketika musim hujan begini, jalan licin dan penuh genangan.

Ibu menjual mentimun, bayam, jahe, lengkuas ….

Ayah seharian di ladang jauh, di puncak bukit lain. Pondok dan ladang ayah terlihat kecil jika dipandang dari rumahnya.

KECEMASAN semakin nampak jelas di wajah keduanya. Sementara, Is masih juga menagis. Kakak perempuannya kembali membujuk. Perempuan seorang itu benar-benar sayang pada Is. Diusapnya mesra rambut bocah kecil itu, dihapusnya airmatanya dengan ujung baju.

Tak apa Is, kita berjalan lagi. Jika tetap menunggu, hari semakin larut juga. Is masih kuat? Sudah, jangan menangis lagi! Ayah dan ibu akan datang menjemput. Baik kita berjalan menghampiri, agar mereka tidak terlalu jauh. Ayah akan datang. Tidak usah takut. Berhentilah menangis. Menangis membuat orang terlihat jelek!

Ayah tidak mungkin datang menjemput kita! Mereka pasti datang. Ibu tak akan membiarkan kita bermalam di jalanan dan kedinginan. Kalau tidak? Is sudah besar, harus berani! Kakak berani?

Kakak tidak takut?

Hantu dalam perut!

Jangan sebut-sebut hantu! Ya-ya, tidak akan. Tapi ibu bilang begitu. Kata ayah hantu tak ada. Kita tak boleh takut pada hantu!

Hantu dalam perut!

DUA bayang-bayang nampak melangkah, meninggalkan terminal kecil itu. Warna jingga perlahan telah berganti gelap. Adzan magrib telah lama tiada. Hari semakin beranjak malam. Sementara itu, dua bayang-bayang lain yang berjarak beberapa puluhmeter, berjalan menghampiri. Tapi sebuah mobil kijang telah mendahului mereka, membawa Is dan kakak perempuannya, entah kemana. Suara tangisan terdengar lagi. Pelan … pelaaan sekali.

***

Padang, 2006

(Kenang-kenangan pada RI)

Iklan