Akhirnya Aku Pulang
Oleh: Beri Hermawati


Kekerasan hidup telah menempaku untuk senantiasa tabah dan ikhlas tuk jalani berbagai kemelut. Tak terkecuali yang terjadi saat ini. Sudah hampir enam bulan aku menganggur, sejak mengundurkan diri dari pekerjaanku di Batam namun tak jua kuperoleh pekerjaan yang layak. Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi.

***

“Pergi dari rumah ini! Kalau kamu sudah tidak mau mendengar Bapak lagi!”

Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari mulut bapak, kala aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tempat selama ini aku dibesarkan, meski sejujurnya berbagai bentuk ketidak adilan sering kurasakan.

Hari ini kata-kata itu kembali mengiang ditelinga. Tapi tidak seperti waktu lalu, kenangan itu terlintas manakala kerinduan akan keluarga menyergap. Setelah berbagai kegagalan, aku berhasil memperoleh pekerjaan tanpa campur tangan orang tua. Aku mengajar disalah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN). Menjadi guru bukanlah cita-citaku, namun tuntutan hidup agaknya memaksaku untuk menjalaninya.

“Teacher, tugasnya dikumpul besok ya?,”suara Ibnu salah seorang murid kelas VI menyentakkanku dari lamunan sesaat.

“Ehh..iya, selesaikan dirumah. Minggu depan kita ketemu lagi dan ingat akan ada sedikit latihan.”

“Ok miss, see you next week,”koor muridku serempak.

“Ok! We meet again, next week. Good day,”ujarku sambil keluar dari ruang kelas VI SDN 197 Kota Jambi dengan berbagai perasaan berkecamuk dibenakku.

Yah.. sudah seminggu ini, ingatanku kembali kepada peristiwa 3 bulan lalu. Pertengkaran terakhirku dengan Bapak yang memang sudah sering terjadi, apalagi saat aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan Pelayaran di Batam, tempat dimana Bapak juga bekerja.

“Cari kerja itu sulit, eh kamu dah dapat kerja enak malah berhenti,”lagi-lagi Bapak menyesalkan tindakanku.

“Tapi pak, aku dah dak kuat kerja disana. Aku capek ngadapin orang-orang yang munafik, penjilat dan sejenisnya,”belaku saat itu.

“Kalau memang itu maumu, mulai sekarang Bapak dak mau ikut campur lagi,”tegas Bapak dengan kemarahan yang tertahan.

Setelah peristiwa itu, hubunganku dengan Bapak semakin memburuk. Hingga puncaknya malam itu, Bapak mengusirku hanya karena bantahan dariku.

“Pak, aku pasti dapat kerja. Tapi tolong jangan paksa aku kembali pada pekerjaanku semula. Aku dakkan kuat.”kataku dengan air mata yang mulai mengambang di pelupuk mataku.

“Kamu dak mau balek kesana, biar bebas main teater sama teman-temanmu. Bebas kesana-kesini seperti sekarang,”kata-kata Bapak mulai meninggi. Sejenak suasana ruang tengah hening, Ibu yang menyaksikan pertengkaran kami hanya diam membisu. Sampai akhirnya keberanian menghinggapiku. Maka keluarlah kata-kata luapan perasaanku selama ini.

“Bapak cuma bisa menyalahkan aku dan teater. Padahal selama ini prestasiku dikampus tidak pernah terganggu dengan teater, bahkan aku bisa kemana-mana karena teater. Ngapo aku belum bekerja juga dikaitkan dengan teater dan teman-teman.”kata-kata itu meluncur dari mulutku.

Dan mendengar itu, Bapak yang selama ini memang tidak mau ditentang menjadi amat marah. Sambil berdiri dan mengacungkan telapak tangan hendak menampar keluarlah ultimatum darinya. “Pergi dari rumah ini! Kalau kamu sudah tidak mau mendengar Bapak lagi! Seketika darah mudaku bergolak, aku tidak terima dengan perlakuan Bapak yang otoriter. Tubuhku menegang dan kutatap sosok yang selama ini begitu dekat denganku. Dengan air mata yang mulai membanjir dipipiku, keluarlah kata-kata itu.

“Baik kalau memang itu mau Bapak, aku pergi!” Peristiwa itu begitu cepat, tanpa sadar aku sudah berada di kamarku. Kubenahi semua pakaianku dan malam itu juga tanpa dapat dicegah oleh Ibu yang menangis melarang aku pergi, aku meninggalkan rumah menuju rumah tanteku di Thehok.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu, aku pergi dari rumah yang belakangan terasa bagai neraka. Dan hari ini kesemuanya bagai tergambar kembali, apalagi saat aku dengar khabar bahwa keadaan keluargaku sekarang memprihatinkan. Hal itulah yang membuat aku tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaanku sebagai guru. Dengan langkah lesu kutinggalkan SD tersebut. Aku bingung, kembali ke kost-an atau pulang kerumah setelah sekian lama aku tak pulang.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Aku naik angkot jurusan Talang Banjar dan berhenti di lorong Bukit Baling. Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, pelan tapi pasti langkah kakiku menuju rumah bercat putih itu semakin dekat. Ada debaran aneh yang sulit kumengerti, antara rindu, bingung dan sedih melebur jadi satu. Tak terasa kakiku sudah menginjak teras rumah, suasana rumah kelihatan sepi dengan pintu tertutup.

“Assalamu alaikum,”suaraku seolah tak terdengar namun ada sahutan dari dalam.

“Waalaikum salam,”dan terbukalah pintu berwarna coklat itu. Satu sosok yang udah 3 bulan tidak kutemui. Perempuan yang masih terlihat muda yang tak lain adalah ibuku, tegak terpaku diambang pintu. Beberapa saat terpaku, perlahan dengan air mata yang mulai menetes ibu memelukku. Sementara aku hanya terpaku, namun air mata juga mengalir deras dipipiku.

“Bu, maafkan aku sudah buat susah. Ibu baek-baek bae khan,”kataku sambil melepaskan pelukan ibu.

“Baek, masuk lah nak. Kita bicara didalam,”ajak ibu sambil menuntunku masuk menuju ruang tengah. Lama kami terdiam, menambah sepi suasana. Siang itu memang hanya ibu yang dirumah, sementara Bapak aku tidak melihatnya. Akhirnya ibu mulai bicara. “Kemana saja kamu selama ini, ibu sudah pesan kepada teman-temanmu untuk menyuruhmu pulang. Bapakmu sudah tidak marah lagi dan menyesal dengan tindakannya,”jelas ibu yang sudah bisa menguasai perasaannya.

“Aku kost di Telanai, sekarang aku sudah kerja bu. Ngajar di SD, gajinya kecil tapi alhamdulillah cukup untuk biaya hidupku tiap bulan,”jelasku pada ibu.

Kami berbicara panjang lebar, ibu cerita tentang kondisi rumah semenjak aku pergi sampai pada penyesalan Bapak atas tindakannya 3 bulan lalu. Pada saat itulah terdengar bunyi motor berhenti didepan rumah. Reflek ibu berdiri dan terdengar suara yang tak asing lagi bagiku. “Sama siapa kamu didalam,”suara Bapak bertanya pada Ibu.

“Rima balek, sekarang dia ada di ruang tengah,”jawab Ibu. Selang beberapa detik, Bapak sudah berada dihadapanku. Tidak seperti 3 bulan yang lalu, yang kulihat saat ini adalah wajah letih Bapak. Ada pancaran kesedihan disana. Dan tanpa kusadari, aku menghambur kearah Bapak. Kupeluk Bapak dengan air mata yang deras mengalir.

“Maafkan Rima, Pak.”

“Sudahlah, nak. Bapak yang salah. Kembalilah kerumah ini, adek-adekmu rindu dan butuh perhatian darimu,” ujar Bapak sambil melepaskan pelukannya.

“Iya pak, aku juga minta maaf,”kataku. Saat itulah terdengar azan dari Mesjid yang terletak dibelakang rumah. Rupanya telah masuk waktu Ashar. Dan rasanya sholat Ashar kali ini adalah yang terindah dari hari-hari sebelumnya. Aku sudah berkumpul lagi dengan keluargaku. Setelah proses pencarian jati diri yang panjang, pada akhirnya aku dan orang tuaku sadar bahwa kami saling membutuhkan. Bahwa orang tua sudah sepantasnya mengerti hak dan kewajibannya. Begitu juga dengan anak.

***

BERI HERMAWATI, menulis adalah kegemarannya apalagi didukung profesinya yang selaku wartawan salah satu harian pagi di Jambi. Aktif dalam berbagai kegiatan budaya maupun kesenian, kini ia tengah menggarap sebuah antologi cerpen.

Iklan