Hamlet’s Toast

Cerpen: Beni Setia

Sumber: Suara Karya, Edisi 12/23/2006

Aku duduk di meja pojok Armour Cafi, menghadap ke pintu masuk dengan segelas jus melon dan tiga croissant. Menu yang dulu kami pesan dalam kencan di luar rumah pertama dengan Rahim, dan yang spontan aku pesan ketika menunggu Sinsin muncul dan mengajakku pergi ke hotel untuk perselingkuhan pertamaku. Menunggu dengan kantung belanja di kursi utara-baju yang dibeli tergesa sebagai alasan ke luar rumah dan menitipkan Vitro di rumah ibu mertua.

Tapi apa yang dilakukan sepasang orang yang selingkuh setelah mereka selesai bersetubuh? Apakah hanya terlentang dan menggeletak sambil tersenyum puas merasakan sisa kontraksi otot di seluruh tubuh dan terus merasakan keringat terpompa dari pori-pori kulit? Mengawasi lelangit kamar sambil tersenyum dalam di diam-diam dan pelan-pelan melunakkan deburan jantung dan deru darah yang melaju kencang di pipa urat darah – seperti desing banjir selepas hujan dengan ruap keringat dan sperma yang membubung bagai lahan kering disedu hujan kemarau? Rutin seperti persetubuhan dengan suami? Dan bila ya begitu, apa bedanya dengan bercinta dengan yang tercinta di tempat intim di dalam waktu yang luang tanpa takut digeropyok oleh tetangga? Apa bedanya?

Dan pelan-pelan aku membatalkan nomor yang muncul begitu Phonebook HP dibuka dan menampilkan nomor rekaman 63 dengan kode nama Sinsin. Meletakkan HP di meja dan meraih gelas minum, mengoceknya dalam iseng dan menyedotnya sejurusan. Abai untuk menenangkan diri dalam arus waktu yang terasa lambat dan Sinsin tak juga kunjung muncul. Ke mana dia? Bukankah ia yang minta agar aku bergegas ke Armour Cafe? Memilih meja pojok dan memesan jajan sambil menghadap ke pintu masuk supaya bisa segera menandainya? Dan aku mengangkat tangan untuk menandai waktu dan lamanya aku menunggu. Masih harus berapa menit lagi? Apakah sebuah perselingkuhan membutuhkan kesabaran agar kerahasiannya bisa tetap terjaga sehingga bisa melanggengkan pertemuan berikutnya?

Tetapi bila hanya begitu apa bedanya itu dengan kencan-kencan aku dengan Rahim dulu? Yang memuncak jadi semacam keinginan untuk saling percaya serta mempercayakan diri, dan memuncak pada percintaan fisik pertama kami di kamar kos Rahim, dan yang menyebabkan aku percaya bahwa perkawinan akan senantiasa mengekalkan percintaan kami itu? Perasaan lega seusai pendakian yang menyebabkan kami mengobrol lebih intim dan bermimpi lebih intens tentang sebuah perkawinan yang menggejalakan rumah tangga bahagia sempurna. Dan memang, setelah perkawinan yang meriah dan dikunjungi banyak teman, kerabat dan kenalan, kami menyelenggarakan bulan madu yang panjang di Bali. Balik ke rumah sewaan dan bersegera sibuk bekerja untuk mendapatkan rumah impian, sehingga setiap petang kami berkumpul dalam lelah dan di setiap pagi terburu-buru bangun dan bergegas sarapan dan pergi ke kantor. Sampai aku berpikir bahwa romantisme dan kepuasan bercinta hanya ada dalam waktu senggang yang sengaja diluangkan karena sedang kasmaran. Dan setelah itu?

“Dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi,” bisikku sambil meraih croissant dan menggigit ujungnya. Mengunyahnya pelan sambil terpenjam, memenjam menggumpalkan seluruh gambaran rutin rumah tangga yang hanya diisi dengan bekerja dan terus bekerja supaya bisa segera mempunyai rumah sendiri, dan terutama bisa punya banyak waktu senggang untuk romantisme dan percintaan.

Tetapi di mana romantisme itu? Tetapi ke mana percintaan di dalam semesta alpa itu, sehingga sesudahnya kami bisa terlentang lega sambil nyinyir saling bercerita dan terus bercerita. Ya! Aku tahu kini: Kenapa kami tidak lagi bercerita dan berpanjang lebar menceritakan hal sepele, kemarahan kecil, kekonyolan tak sengaja, dan lelucon hambar yang menjadi amat lucu saat diceritakan lagi seusai percintaan yang memicu segala kesal dan pegal dengan energi dibangkitkan dari dalam tubuh. Komunikasi yang terabaikan atau tak lagi ada waktu luang untuk bercinta? Sekaligus kenapa waktu luang, yang selalu diada-adakan di waktu berpacaran itu, menghilang hanya karena kami ingin rumah sendiri? Dan, ketika sudah punya rumah, kenapa tetap kesempatan untuk bercinta tidak sepenuh hati dihayati dan melulu menjadi rutin yang tergesa-gesa hanya karena merasa belum punya persiapan punya anak? Dan setelah punya anak, serta aku memutuskan berhenti bekerja dan menghabiskan waktu untuk Vitro, di waktu luang aku merasa sendiri dan di malam hari aku merasa kalau Rahim itu bagai orang kos yang datang petang, lantas mengeluh lelah dan pusing oleh beban kerja, lalu lelap dan lupa bila aku sebenarnya merindukan momen romantis sepanjang senggang luar kerja seperti di masa berpacaran dulu?

HP berbunyi. Aku meraih dan membukanya. Sinsin yang mengirim pesan – SMS. “Aku dalam perjalanan. Macet. Agak sukar ke luar kantor. Belum waktu makan siang” – katanya. Aku tidak bereaksi. Aku menimang-nimang akan membalas, tapi terpikirkan untuk apa bila yang akan dilakukan itu hanya laku iseng mengisi waktu. Ya! Menunggu itu kutukan, karena itu menggelisahkan – terutama bagi orang yang mau berselingkuh. Ya! Tetapi mungkin juga semacam kesempatan untuk merenungkan segalanya sekali lagi, sebelum benar-benar melakukan semacam tindakan salto mortale. “Apakah aku memang setolol itu?” desisku, pelan.

Segalanya mungkin akan jadi rutin, segalanya mungkin akan diterima sebagai bagian yang tidak memliki rahasia lagi sehingga tidak perlu ada komunikasi dalam taraf curahan hati paling murni dan paling ekstrim sampai di pojok yang terdalam, dan karenanya aku akan terlahir dan tampil sebagai si aku yang sejati, yang ingin terus dihargai dan dijaga sebagai aku yang paling murni. Dan adakah komunikasi di antara aku dan Rahim di tahun-tahun terakhir itu sampai ke tahap itu? Ataukah aku selalu menganggap Rahim seperti Rahim yang ditampilkannya di dalam romantisme masa berpacaran serta berbulan madu, padahal ia dijebak dan diseret oleh realitas untuk menjadi si seseorang yang bertanggungjawab mencukupi kebutuhan keluarga? Sama seperti Rahim yang tetap menganggap aku sebagai sang kekasih dari masa berpacaran dan istri di masa bulan madu, sementara aku membutuhkan pengertian dan pemahaman yang lebih dalam sesuai dengan pergeseran waktu, padahal aku tak lagi sempat dan bisa bermanja dan membuka diri kepada Rahim? Apa yang salah dengan pernikahan kami selain semakin hilangnya waktu luang disita oleh tugas rutin keseharian dan semakin dangkalnya komunikasi, hingga kami tidak bisa membuka diri dan menampilkan diri kami yang paling murni, yang sejati?

Dan bila hasnya itu masalahnya: Apakah percintaan aku dengan Sinsin tidak akan terjebak di dalam perselingkuhan model tragedi rumah tangga yang mengelucakkanku? Menjadi rutin, menjadi yang cuma berupaya menggesek-gesekkan kulit karena resah dan gatal, lalu selesai dan tidak ada waktu untuk sekedar berbincang atau menceritakan hal-hal kecil dengan intensitas kesalingmengertian kalbu, sehingga segalan menjadi indah? Momen yang sesaat diketemukan lagi setelah aku tidak sengaja bertemu dengannya. Di Mal – yang disusul dengan makan siang, saling menelepon, lantas curhat, dan beberapa janji pertemuan sebelum kami memu-tuskan harus bablas-tuntas seusai terbuai beberapa persentuhan dan persinggungan tak sengaja dan setengah sengaja? Menjadi dangkal dan dikalahkan oleh realitas waktu di kota, yang selalu memaksa orang untuk selalu bersibuk dan suntuk bekerja? Atau, sejak awal, persetubuhan kami itu hanya akan menjadi sebuah momen transaksional dari seorang perempuan yang dahaga membutuh romantisme dan lelaki lasak yang terlatih menyalurkan kebutuhan orgasmenya secara profesional. Orang-orang yang bergegas mencari kesempatan di dalam kesempitan dan segera bertubrukan bagai dua kereta api yang frontal bertabrakan, dan karenanya bergegas pula meninggalkan rasa puas bersanggama dengan keharusan bergegas kembali ke tengah realitas sebagai ibu seorang anak berumur dua tahun dan si manajer yang harus memeriksa beberapa laporan dan menandatangi proposal. Efisien seperti di rumah border.

“Lantas apa yang aku peroleh dari perselingkuhan itu?” desahku. Aku meng-geleng-gelengkan kepala, meraih kantung belanja sambil bergegas bangkit. Jalan ke kasir dan membayar dengan uang kontan – aku tak mau Rahim bisa mengeceknya

* * *

Iklan