Naga Terbang

Cerpen: Avi Basuki

Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 11/12/2006

Ketika naga-naga itu terbang di atas awan biru kelabu, bunga-bunga camelia putih berjatuhan ke bumi tegak dan berdebam di atas tubuhnya yang putih, berpendar halus dan menjadi gambar paling indah di atas kulitnya yang masih mulus. Pertama-tama warnanya hanya hitam dan putih berjalan perlahan meluas dari pergelangan tangannya sampai ke bahu. Ekor naga itu seperti bergerak mengibas, sisiknya tumbuh seperti tanaman menjalar liar yang tak sanggup diam. Kepalanya mencuat di atas bulat salah satu payudaranya, putingnya jadi matanya yang sesekali seperti api yang menyala merah dan terpejam coklat.

Tak lama ketika naga-naga terbang itu menyalak api, kemudian menyemburkan bunga-bunga camelia warna merah pekat yang berpendar di antara awan-awan tebal penuh air, mereka jatuh satu persatu berat dan basah, menetes berwarna di atas tubuh bertato hitam putih kelabu yang kini berjalar warna satu persatu jadi hidup. Ekor naga itu bergerak terkejut, sisiknya jadi penuh dan gemuk berwarna keemasan kemerahan. Menggonggong dan bergerak berwarna-warni indah seperti pelangi. Naga itu merayap hidup, kumisnya bergerak-gerak membelai lembut dada penuh wanita berkulit putih porselen yang masih terbaring di tepi sungai berair deras. Wanita itu mulai merayap perlahan, bergerak mendekat ke air. Tanpa tahu kalau sebuah camelia warna ungu tua jatuh di pergelangan tangan yang masih kosong, merayap berwarna, menggeliat bersisik, melilit perlahan dan menjelma jadi kepala ular bersembunyi di bawah payudaranya yang bundar.

Aku ingin melihat wajahmu, ketiknya di atas layar mungil yang berpendar dari jendela ruang virtual itu.

Ia tak menjawab. Ruangan itu kosong tak bersuara untuk sejenak. Laki-laki itu jadi bertambah penasaran.

Please, ketiknya lagi.

Ruangan itu masih kosong, sunyinya seperti menggema.

Ia mengirim sebuah gambar, sebuah naga yang melilit tubuh, bunga-bunga camelia yang terangkai seperti sebuah ikebana bersih dan linear, menjadi penghias di antara ekor naga yang tampak begitu hidup berkibas.

Tubuh lagi, tubuh lagi. Sepotong demi sepotong gambar-gambar itu datang. Seperti sebuah rebus, sebuah puzzle yang harus ia kira-kira, ia sambung satu persatu, untuk menjadi sebuah cerita. Sebuah kisah legenda berbau zen yang memang jadi topik pembicaraan pertama mereka, tentang naga, tentang ular, tentang cinta yang tak sampai. Ia memandang ke arah lengannya sendiri. Tato tribal yang sudah memudar. Hitam abu-abu tak pekat tak berwarna. Tak seindah naga dan camelia dan warna-warna pelangi yang seperti mencuat di atas horizon setelah hujan deras bertopan.

Kemana wanita itu merayap? Ketiknya lagi. Berusaha agar keingintahuannya tidak jadi terlalu nyata.

Ia bergerak menuju sungai, mencari dan memandang angsa-angsa putih yang berenang perlahan. Ia berdiri, tegap telanjang, tubuhnya panjang dan ringan, lembut halus seperti sayap-sayapnya yang sejenak bergerak-gerak tertiup angin. Bersiap untuk terbang.

Ia bersayap?

Ia mengepak-ngepakkan bulu-bulunya yang putih, membiarkan naga dan ular itu seperti terlena oleh hembusan angin halus yang terdengar sunyi, menggema seperti bisikan nina bobo yang membuat mereka tertidur.

Kemana ia akan pergi?

Mencari cintanya yang sempat hilang, mencari sebuah janji yang sempat terucap walau pada akhirnya tak pernah terkabul. Mencari laki-laki itu.

Janji?

Janji kalau penantiannya tak akan sia-sia, kalau ia akan menunggu di ujung sebuah sungai, sebelum menuju ke laut, di tepinya ia akan diam bersemedi, menunggu hembusan sayapnya yang akan membangunkannya dari meditasi ratusan tahun yang sudah dilaluinya.

Ia ingkar?

Entah berapa ujung sungai ia lewati, tak ada laki-laki bersemedi yang menunggunya, hanya angsa-angsa putih berleher jenjang yang seperti mentertawakan tubuhnya yang telanjang.

Apakah ia naga terbang yang menjatuhkan kembang-kembang itu bersama hujan? Ia bertanya lagi, tak sanggup menahan rasa ingin tahunya. Namun suara ketik di seberang itu tak menjawab pertanyaannya.

Sampai ia tiba di sebuah sungai, tak jauh dari sebuah danau penuh dengan angsa putih dan angsa berwarna pelangi. Ia duduk di tepinya dan meminta dengan sepenuh hati. Ia berharap kalau seseorang bisa mendengarkannya. Sampai ia tertidur dan tergeletak di tepi danau. Membiarkan tubuhnya yang telanjang termakan lagi oleh hujan basah bunga camelia, membiarkan tubuhnya jadi tempat bersemayam sebuah seni paling indah. Ia biarkan naga dan ular itu bersemayam, karena ia sempat mendengar bisikan hening dari bunga camelia yang sempat mendesis ketika ia jatuh terkapar di atas kulit porselen untuk menyuruhnya mencari lagi, kalau kali ini ia akan menemukannya.

Jadi ia pergi mencari lagi? Mencari laki-laki itu? Seperti bisikan bunga Camelia?

Ia terbang, mengepak-ngepakkan sayapnya yang basah mencari dari satu ujung ke ujung sungai yang lain, dari satu muara sampai hampir ke laut.

Kapan aku bisa melihatmu? Ketiknya penasaran.

Ia tak sabar lagi, ingin melihatnya. Kisah-kisahnya seperti membuatnya gatal. Potongan-potongan tubuhya seperti membuatnya bergairah. Membuatnya jadi lebih ingin.

Gadis zenku, aku ingin melihatmu, apakah kau lebih suka kalau kita ber-temu?

Layar itu kosong. Tak ada jawaban. Ia menunggu. Gema pendar biru dari layar yang jadi penerangan satu-satunya di dalam kamar itu.

Halo? Ketiknya lagi, setengah putus asa.

Masih di situ?

Seorang dewi tak pernah jadi nyata.

Tiba-tiba ia menjawab. Membuat laki-laki itu sebentar terkejut. Sebelum ia kemudian sadar kalau ia harus cepat bereaksi, sebelum ia pergi lagi. Tangan-tangannya ternyata kalah cepat. Suara di seberang itu tiba-tiba saja menghilang. Tak ada lagi, jendela itu tertutup, menyisakan jendela-jendela lain yang tak ia pedulikan. Ia mencari, membuka dan menutup jendela-jendela di dunia virtualnya, menunggu, menanti. Namun hanya biru pendar yang seperti bergema mengiang-iang sinarnya di atas permukaan wajahnya. Ia menggaruk kepalanya yang sengaja tak ia buat berambut. Ia mendengus kemudian menarik napas panjang dan beranjak dari tempatnya duduk.

Ia melihat ke arah jam tangannya dan memandang bayangannya sendiri ke arah cermin yang berada tak jauh dari meja kerjanya. Seorang laki-laki muda berkepala plontos licin, lengannya penuh gambar hitam tato tradisional, tubuhnya yang tegap terbalut kaus dan celana hitam. Ia bersiap untuk pergi bekerja, melengkapi DJ set dan peralatan elektronik yang harus di bawanya. Ia tinggalkan komputer itu berpendar menyala sendirian, sambil berharap kalau-kalau suara di seberang itu kembali menyapa.

u

Malam itu diskotik tampak penuh sesak, bahkan para pelayan menemui kesulitan untuk bisa merayap masuk dari satu sudut ke sudut yang lain dengan berbotol-botol minuman di atas baki yang seperti melayang di atas kepala manusia-manusia yang mabuk kepayang bergoyang. Pengunjung tempat itu seperti kesurupan terbawa oleh musik tekno yang dikumandangkan oleh laki-laki itu dari speaker-speaker raksasa yang berteriak ingar-bingar. Sebuah layar besar di belakang meja DJ tampak memproyeksikan gambar-gambar abstrak pusing bercampur foto-foto gelap dari bagian-bagian tubuh yang bertato meriah.

Musik yang ingar-bingar itu perlahan berubah menjadi satu suara saja, sebuah terompet ribut yang melengking, membuat pengunjung berhenti berputar dan melompat dari rave acak yang mereka lakukan dan bergerak ke pinggir lantai dansa.

Beberapa orang penari tampak berjalan dari kejauhan, di tangan-tangan mereka terlihat obor merah yang menyala terang. Wajah-wajah mereka tertutup oleh sebuah topeng Jepang yang tampak seperti iblis bertanduk. Mereka tampak berdiri diam bermeditasi, suara lengkingan itu kini berubah menjadi suara tabuh yang bertalu-talu. Ruangan yang tampak gelap itu kini hanya di dominasi oleh warna merah dari bara api dan dari pakaian para penari obor yang tampak seperti memiliki nyawa. Lidah-lidah api seperti hendak menjilat langit-langit disko begitu obor-obor itu berlari dilempar kesana-kemari oleh para penari yang mahir, membiarkannya kembali jatuh ke atas tangan-tangan mereka yang gemulai. Laki-laki itu bergerak-gerak sesuai irama tabuhan Jepang yang bersuara lantang dari pengeras suara, sesekali kepalanya menunduk memperhatikan piringan hitam yang berjalan. Sesekali matanya menengok ke arah pertunjukan yang berjalan. Penari-penari bertopeng itu terus bergerak, membuat jubah mereka yang juga berwarna merah menyala mirip lidah-lidah api yang sesungguhnya. Lengan dan tubuh mereka sesekali tersingkap dari balik jubah, tubuh-tubuh mereka yang mulus menandakan kalau mereka perempuan.

Laki-laki itu memandang sejenak. Seperti ia melihat sesuatu yang sempat dikenalnya walau hanya sekejap.

Salah satu dari lengan itu seperti dikenalnya.

Bunga camelia. Naga-naga terbang dan ekor ular yang merayap. Walau gelap ia terus berusaha melihat. Walau jauh matanya berusaha berteriak. Namun mereka bergerak terlalu cepat, bayangan obor dan lampu laser yang sesekali menembak membuatnya semakin pusing.

“Camelia!”

Ia berusaha berteriak, tertelan oleh bising tabuh yang jadi semakin melengking. Ia bahkan tak pasti kalau nama yang dipanggilnya akan menengok, tak tahu kalau itu adalah nama yang sebenarnya.

Ia berteriak dan memanggil lagi tanpa putus asa. Tarian api itu sudah hampir selesai dan ia masih berteriak tanpa hasil. Bergegas ia mempersiapkan lagu berikutnya dan bergerak secepat mungkin untuk berlari mengejar salah satu penari dengan lengan yang penuh gambar itu.

Kakinya berusaha cepat melangkah menerjang manusia yang sudah mulai pusing bergerak tak henti memenuhi lantai dansa yang sudah hiruk-pikuk lagi.

Penari itu bergerak hilang dan muncul di antara kepala-kepala yang tersembul. Laki-laki itu bergerak secepat yang ia bisa, beberapa kali hampir terjatuh di antara manusia yang juga tak perduli.

Ia merenggut lengan bergambar penari itu.

“Camelia!”

Ia berteriak. Walau sudah pasti suaranya lebih terdengar sekarang. Penari itu berhenti. Obornya masih setengah menyala. Wajahnya masih tertutup topeng mengerikan dan bertanduk. Mereka saling memandang.

“khirnya aku menemukanmu di sini.”

Penari itu bergeming, bahkan tak menarik lengannya yang masih tergenggam.

“Gadis zenku,” kata laki-laki itu.

Penari itu menarik lengannya. Mereka berdiri diam. Hening di antara lengking suara lagu yang seperti berdebam dan menusuk. Laki-laki itu menggerakkan tangannya berusaha menyentuh topeng yang menutup wajah sang penari yang masih bergeming, membiarkannya meraih dan membuka topeng itu perlahan. Membuka sebuah tabir yang selama ini membuatnya senantiasa ingin tahu. Ia melihat sepasang mata tajam yang seperti memandangnya tak berkedip seperti masih bersembunyi di balik topeng yang masih separuh menutup wajah.

Perlahan ia melihat wajah seorang laki-laki cantik yang penuh lukisan dari bawah matanya sampai ke leher yang tak mulus dan tak lurus, bergerunjal seperti layaknya leher seorang laki-laki tulen. Sepasang mata yang sama masih memandang dengan tajam.

Ia terhenyak. Mundur selangkah dan menjauh. Penari itu masih memandangnya, bibirnya tampak tersenyum jahat, kepalanya menggeleng pelan.

Di kepala laki-laki itu terbayang, kepala naga dan kepala ular yang berada di dua buah payudara yang terpisah, yang tak pernah ditunjukkannya. Tak pernah dilihatnya, karena sesungguhnya mereka tak pernah bersembunyi. Tubuhnya yang halus dan lembut itu hanya sebuah janji virtual yang tak pernah terkabul. Wajahnya sementara menjadi kenyataan yang pahit yang tak pernah dibayangkannya.

Musik tekno itu terdengar semakin nyaring, menusuk dan membuat telinganya jadi tuli. Ia berlari menuju meja console, menjatuhkan topeng itu di atas lantai dansa.

Ia berlari pulang, jantungnya terus berdegup kencang, telinganya seperti pekak tak mendengar walau hampir setiap hari ia bekerja dengan musik yang hingar-bingar. Layar komputernya masih berpendar sendirian di ruang kerjanya. Dengan setengah takut ia berusaha memandang dan membaca.

Tak seharusnya engkau tak mempercayai seorang Dewi.

Sebuah pesan tertinggal. Ia duduk di hadapan layar itu dan berusaha mencari. Tak seharusnya dunia virtualnya jadi nyata. Tak seharusnya ia mencari. Ia tertidur sampai pagi, menanti sebuah pesan, sebuah cinta yang tak kunjung nyata sampai naga-naga itu tidak terbang lagi.

***

Milano. 02.10.06

Untuk temanku Jigoku, ketika kosmos mempertemukan kita ia pun memisahkan kita.