Tukang Jahit

Cerpen Aris Kurniawan (dimuat di Pikiran Rakyat, 10/29/2005)

DENDAM yang sekian lama kupendam-pendam, tak lama lagi agaknya bakal terlunaskan. Aku telah menyelesaikan halaman terakhir ceritaku. Sungguh perjuangan yang tidak ringan untuk sampai di halaman terakhir. Harus melewati malam-malam penuh penderitaan. Akan langsung kutonjok mukanya bila ia mengatakan bahwa aku hanya seorang tukang jahit; tidak punya ide orisinal dan hanya menjahit cerita-cerita yang ditulis pengarang lain. Ia harus mengakui tak ada pengarang lain yang pernah menggarap cerita yang kutulis kali ini. Aku bertekad benar-benar menggampar mukanya, kalau perlu meludahinya sekalian, bila dia masih berani mengejek karangan ini. Kurasa tak perlu lagi mempertimbangkan perkawanan kami.

Aku tidak perlu mendatangi warung kopi itu, mendengarkan ia memberikan ceramah yang isinya hanya mencela. Tidak ada sedikit pun keinginan memuji kawan seperti tempo hari.

“Ceritamu,” dia bilang, “hanya jahitan 5 cerita karya pengarang lain.” Lantas dia menyebutkan kelima judul karangan yang dimaksud. Kawan-kawan yang lain menyambut dengan cibiran yang membuatku jengkel setengah mati. Mereka mengangguk-angguk. “Sebaiknya kamu jadi pengamen sajalah,” kata mereka. Seandainya pada saat itu aku punya pistol pasti sudah kulubangi kepala mereka satu persatu dengan peluru.

Karakter tokoh Darman, kata dia, aku ambil dari karakter tokoh Rojak dalam cerita “Raja Kelelawar” karya Amuradi, pengarang yang disebutnya sebagai kawan dekatnya. Aku hanya mengganti kebiasaannya ngupil menjadi mengorek tahi kuping. Sedangkan plot aku ambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa” karya pengarang Banu Raudali, juga disebutnya sebagai kawan dekatnya. Seperti pada karya-karyaku yang lain, kata dia, yang kulakukan hanya sedikit memodifikasi supaya agak beda. Tapi jelas, katanya, plot ceritaku diambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa”. Lantas dia menyebutkan bagian-bagian yang aku modifikasi. Dia bilang, aku membuang tiga paragraf pada bagian yang mempertemukan tokoh utama dengan mantan kekasihnya kawin dengan musuhnya.

Tokoh Rojak dalam cerita “Raja Kelelawar” adalah seorang pria homoseksual. Di sana diceritakan dialah tokoh superbaik yang mau mengorbankan diri demi rasa aman masyarakat luas. Dia bertubuh tinggi, berwajah tampan keindoan, dan tentu saja sangat macho. Satu-satunya perilaku buruk yang dimilikinya adalah ngupil. Bila sedang ngupil dia bisa lupa diri. Kebiasaan buruk ini dianggap tidak sepadan dengan pengorbanannya dalam berjuang melindungi rakyat miskin dari cengkraman tuan tanah, maka orang-orang pun memberi pemakluman yang berlebihan. Mereka sama sekali tidak tahu perilaku seksualnya yang tidak biasa, alias menyimpang dari kelaziman. Dalam dialog yang berlangsung dalam batin Rojak disimpulkan, orang-orang tetap menyayangkannya meski perilaku tersebut tidak merugikan mereka.

Sementara Darman adalah laki-laki sehat dengan orientasi seksual yang umum berlaku dalam masyarakat. Dia tidak begitu peduli pada para tetangga. Kesibukannya menjadi wartawan kriminal menjadikan dia tidak sempat akrab dengan mereka. Tapi dia punya idealisme yang menyebabkannya dibenci para pejabat korup. Ia punya waktu luang yang akan terasa rugi bila dilewatkan tanpa mengorek tahi kuping. Darman punya pacar yang berprofesi sebagai penari telanjang. Coba kau sebutkan mana karakter Rojak yang melekat pada karakter Darman? Rojak selalu menyempatkan diri ngupil, bahkan di saat rapat warga. Darman hanya mengorek tahi kupingnya pada waktu luangnya saja. Lagi pula pekerjaan Darman jelas, sementara Rojak hanya disebutkan dalam dua kalimat: Rojak telah menyerahkan catatan semua kegiatannya hari ini pada atasannya dan Rojak harus segera membaca catatan kegiatan kawan-kawannya di ruangan berudara dingin.

Untuk latar dan dialog-dialog dia mengecapku mencuri dari cerita “Rumah Hantu di Ujung Jalan” karya seorang pengarang yang tinggal di masjid, ngurusi anak-anak kecil ngaji dan sampai sekarang belum menikah. Pengarang yang bertubuh jangkung dan kurus ini dibilang gemar masturbasi dekat keranda sebelah tempat wudlu. Sementara ending-nya aku ambil dari cerita “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” karya Cunong Ariandaka. Dan terakhir dia menuduhku, nama-nama tokoh aku curi begitu saja dari cerita sebuah sinetron.

“Bidadari Buta yang Diperkosa” menggunakan plot yang runut dan datar. Ia bergerak melalui tokoh-tokohnya. Hampir semua riwayat tokoh dipaparkan dengan cara bertele-tele dan bahasa terlampau lazim dan membosankan. Kau tak akan menemukan kejutan di sana. Sementara ceritaku penuh kejutan dengan plot yang melompat-lompat, kadang zigzag, dan penuh liukan tajam tak terduga. Aku banyak menggunakan teknik flash back yang sepintas tampak ruwet namun tetap dalam struktur yang ketat, dan di atas semua itu, menawarkan kesegaran yang tak mudah dilupakan. Mengherankan sekali dia bisa menuding plot ceritaku mengambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa”. Sungguh mulut yang pantas dirobek.

Ceritaku mengambil latar kehidupan hedonis masyarakat Kota Jakarta antara tahun 1998-2000. Tahun yang penuh gejolak. Bentrokan antar-pendukung parpol terjadi hampir tiap hari. Begitu juga unjuk rasa, tiba-tiba menjadi gaya hidup baru masyarakat perkotaan. Para pedagang gorengan kesulitan mendapatkan minyak dan terigu. Sehingga mereka harus menggoreng menggunakan malam*) supaya harga gorengan tetap murah. Latar digambarkan antara lain dalam dialog Darman dengan seorang pelacur jalanan, seperti ini:

“Hai Bung, mencari siapa?” seru seorang perempuan mengejutkan Darman.

“Nirmala,” sahut Darman.

“Dia sedang ada yang pake. Dengan saya saja.” Perempuan itu merayu.

“Siapa yang pake?”

“Mana saya tahu. Ayolah, Bung dengan saya. Buat makan besok.” Perempuan itu terus merayu dengan suara dan raut memelas. Darman mendekat.

“Hmm, sudah lama melacur?”

“Saya masih baru. Sejak orang-orang membakar kota ini. Dagangan ibu saya bangkrut. Minyak, terigu… mahal semua.”

“Hmm, nih kamu saya kasih uang saja,

tapi tolong cari tahu siapa siapa laki-laki yang memake Nirmala….”

“Sorry, saya dibayar bukan untuk itu.”

“Hei, jangan tersinggung. Okelah, mari kita makan. Di mana warung makan yang bagus? Aku tidak mau kena kanker gara-gara makan gorengan.”

Dialog ini dia bilang tak bukan merupakan versi lain dialog dua tokoh dalam cerita “Rumah Hantu di Ujung Jalan” berikut ini.

“Siapa yang kamu cari, Rangga?” seru Kinarsih.

“Kamu melihat Sinta, Kinarsih?” sahut Rangga, senang melihat Kinarsih.

“Dia pergi dengan Yonathan.”

“Siapa dia?”

“Pacar Sinta. Dia memang perempuan yang tidak bisa setia, Rangga.”

“Kamu tahu sudah berapa lama mereka berhubungan?”

“Tentu saja aku tahu. Sudahlah lupakan saja dia, aku toh tidak keberatan pacaran denganmu. Bahkan besok kita bisa kawin.”

“Hmm, sudah tak tahan ingin kawin?”

“Aku tak akan menahan-nahan kalau ingin kawin. Aku bisa melakukan apa saja sejak papa dan mamaku cerai.”

“Hm, nih kamu aku kasih uang untuk mencari tahu siapa Yonathan.”

“Sorry, Rangga, aku nggak mau dibayar untuk pekerjaan seperti itu.”

“Kamu marah, Kinarsih?”

Coba kau simak baik-baik, kedua dialog di atas jelas sekali berbeda. Antara Darman dengan pelacur tidak saling mengenal. Sebaliknya, Rangga tampak kenal betul dengan Kinarsih. Kukira dia memang hanya ingin melampiaskan dendam. Dia kesal gara-gara aku tak memberinya utangan sehingga dia gagal memenuhi janji mengajak nonton pacarnya. Hal ini berlanjut pada pemutusan sepihak oleh pacarnya itu. Ditambah lagi kemudian dia tahu, pacarnya itu diam-diam pernah menginap di kamar kontrakanku.

Kalau bukan motivasi dendam tidak mungkin dia mengatakan ending ceritaku kuambil dari cerita “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” karya pengarang Cunong Ariandaka. Ending ceritaku menggantung dan meninggalkan beragam penafsiran bagi pembaca: siapakah yang membuka pakaian dalam Nirmala? Pada “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” ending-nya tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Selesai. Meski memang sama-sama tragik ending: kamar temaram itu menjadi saksi robeknya keperawanan Artika oleh Samsul, sebelum laki-laki itu secara kejam membakar tubuh Artika.

Lantas dengan kesombongan yang bikin perutku mulas dia katakan tiga cerita yang ditulis pengarang kawan dekatnya itu bersumber dari idenya. Namun mereka mengembangkannya dengan keterampilan bahasa yang sangat cerdas, ucapnya. Kecerdasan yang sama sekali tak aku miliki, katanya.

Dari semua itu yang paling menjengkelkan adalah tuduhan terakhir, bahwa nama-nama tokoh aku curi begitu saja dari cerita sebuah sinetron. Yang ini sama sekali tanpa bukti. Tapi dengan begitu meyakinkan dia menyebutkan judul sinetron yang dimaksud. Mereka begitu saja percaya dengan mulut busuknya. Tampak mata mereka melirikku dengan cara sangat menghina. Padahal, berani sumpah sebelumnya, aku tidak pernah membaca kelima cerita yang dia sebutkan. Apalagi menonton sinetron. Jadi, seperti yang sudah kukatakan, semua tuduhannya semata ingin melampiaskan dendamnya dengan cara menjatuhkan nama baikku di depan kawan-kawan lain.

Kejadian itu sungguh meluluhlantakkan semangat hidupku. Dia bilang imajiansiku tidak liar, bahasaku kurang lancar. Pikiran untuk bunuh diri berkali-kali mendatangi kepalaku. Aku juga berniat mencari dukun untuk menyantet mereka. Mereka beruntung, sebelum menemukan dukun itu aku berjumpa dengan seorang pengarang yang mengembalikan semangat hidupku yang hampir saja kuserahkan pada jarum suntik.

Pengarang cerita-cerita cabul inilah yang memuji ketangkasanku menulis. Kamu punya bakat besar, katanya bikin aku melambung. Menurutnya tuduhan-tuduhan dia keliru. Lagi pula, katanya, jahit-menjahit itu sah-sah saja. Kalimat yang terakhir sebetulnya membuatku sedikit tak nyaman. Karena sama artinya membenarkan omongan dia. Kami bertemu di kompleks permakaman. Dia sedang berziarah ke kuburan seorang pengarang yang juga menulis cerita cerita cabul yang sangat dikaguminya. Cerita-cerita cabul pengarang inilah yang diakui memberinya ilham dalam menulis cerita-cerita cabul pula. Dengan bangga ia mengatakan dirinya kini telah mengganti posisinya yang kokoh sebagai pengarang cerita cabul. Dia mengajakku ke warung indomi rebus pinggir kompleks permakaman, dan kami ngobrol di sana. Kukira kamu mengenal nama pengarang ini dengan baik. Aku sudah membaca beberapa novelnya yang kucuri dari perpustakaan, dan sebagian kubeli di pasar loak dengan uang hasil menjual novel curian dari perpustakaan itu.

Berbekal semangat yang dipompakan pengarang cabul ini, aku menulis cerita tentang upaya keras seorang pangeran dalam mengalihkan arah aliran sungai demi memenuhi permintaan perempuan yang dicintainya. Cerita ini telah kurevisi untuk kesepuluh kalinya.

Aku lega akhirnya menyelesaikan revisi halaman terakhir. Inilah halaman menentukan dari berlembar halaman yang kutulis malam-malam panjang sebelumnya. Halaman yang menjadi pertaruhan. Dia harus membaca cerita ini. Aku menulis cerita ini dengan riset mendalam, dengan gagasan orisinal, baik bentuk maupun ide dan pengucapan. Aku yakin setengah mati ketika membaca ceritaku orang tidak akan ingat cerita dari pengarang manapun.

Aku sudah membakar ingatanku dari semua buku-buku cerita yang pernah kubaca. Termasuk cerita yang ada tokoh Darmannya, dan cerita-cerita yang kutulis sebelumnya. Bahkan juga cerita-cerita cabul yang disodorkan pengarang cabul yang kutemui di permakaman itu. Cerita ini kuberi judul “Ada Apa denganmu, Pangeran?” Aku menyisipkan banyak pesan dalam cerita ini. Antara lain, jangan sembarangan membuang kulit pisang, jangan suka menganggu orang pacaran, dan sayangilah anjing tetanggamu sebagai sesama mahkluk ciptaan Tuhan.

Terus terang pesan-pesan tersebut kudapatkan dari seorang gembel yang saban pagi mengorek-ngorek sisa makanan di tong sampah rumah makan sebelah rumahku, dan saat malam dia tidur di emper toserba ujung jalan. Tapi aku tak mau kau tahu dulu ceritaku ini. Aku ingin membuatmu penasaran menunggu cerita ini diterbitkan. Dan kupikir sekarang adalah bagaimana cerita ini sampai di tangannya supaya dia ternganga-nganga.***

10 September 2005

*) malam, bahan dasar membuat lilin

Iklan