Akulah Che!
Cerpen: Antoni (Sumber: Jawa Pos, Edisi 09/17/2006)

“MEMBUNUH dia, sama saja dengan “merobek” bendera yang berkibar di negaranya…!” Lelaki itu menghentikan ucapannya. Lalu mengedarkan pandangan, meneliti satu per satu ekspresi orang yang duduk melingkari meja rapat di hadapannya. Ia ingin melihat reaksi lima anggotanya. Mereka terlihat serius memperhatikan.
Di ujung kiri ada pria gendut bertopi sedang memainkan pointer-nya. Sebelahnya, pria berkumis tebal berambut kaku, menyilangkan kedua tangan di atas meja. Tiga lagi lainnya, rata-rata sama. Berpostur atletis dan terlatih. Sorot matanya mengandung kecurigaan. Duduk dalam sikap tegak, kedua tangan dikepalkan di atas paha. Lampu bohlam 10 watt, di bawah kap berwarna cokelat berpijar redup, tidak mampu menerangi ruang rapat yang luasnya hanya sekitar enam meter persegi itu.
“Apakah dia seorang tentara….?” tanya orang bertopi dengan muka sedikit bulat, dengan hati-hati. Lelaki berjas cokelat tua yang duduk di kursi besar itu menggelengkan kepala. Ia mengisap cerutunya dalam-dalam. Lalu dihembuskan perlahan-lahan. Asap tembakau selundupan dari Havana-Kuba itu bergulung-gulung ke atas. Wajah lelaki itu dari samping memang hampir mirip Fidel Castro, presiden Kuba yang sedang sakit keras itu.
“Melukai dia berarti melukai hati masyarakat…,” lanjut lelaki itu datar. Semua terdiam. Merenungi, apakah mungkin ada seseorang yang masih memiliki pengaruh sedemikian besar di zaman sekarang ini, sehingga melukai hatinya, sama dengan melukai perasaan bangsanya. Nelson Mandella, pejuang Afrika Selatan saja, tidak seperti itu. Adolf Hitler, pemimpin Nazi-Jerman yang nasionalismenya sama sekali tidak diragukan, itu pun tidak seperti itu. Mungkin hanya mendiang Panglima Besar Jenderal Soedirman saja yang bisa seperti itu.
Atau boleh juga Che Guevara, panglima laskar rakyat Kuba. Tokoh yang dicintai rakyat. Kharismatik. Dia berhasil menyihir seluruh rakyat Kuba untuk menjatuhkan Fulgencio Batista dan mengalihkan dukungannya untuk Fidel Castro. Sayang, Che akhirnya ditelikung oleh Fidel. Ia pun meninggal. Konon arwahnya masih bergentayangan sampai detik ini.
“Ia punya banyak potensi yang sebetulnya bisa digunakan untuk kepentingan kita. Cakap. Memiliki pengaruh. Omongannya dipercaya dan kharismanya diperhitungkan. Ia pantas dijadikan “tunggangan” untuk perbaikan citra kita. Sayangnya, ia tidak mau bekerja sama,” ujar lelaki itu, sambil mengambil napas dalam-dalam.
Ia menambahkan, “Dia sudah mempelajari kita dan tahu betul seluk-beluk pat gulipat yang kita mainkan di bidang hukum. Ia jadi sangat berbahaya untuk kita. Celakanya lagi, kita sudah melukai hatinya….”
Hampir semua yang ada di ruangan itu tidak begitu memahami arah pembicaraan yang sedang didengarnya. Lelaki bercerutu itu kemudian membuka proyektor di laci mejanya. Meletakkan di atas meja kemudian menyorotkan ke dinding putih di samping kiri, sambil menggerutu. Film pun berjalan.
Terlihat wajah seorang pemuda, 170 sentimeter tingginya. Rambut kolef dan wajah keras tapi tidak sadis. Tatapan matanya sangat tajam. Ia disyuting dalam jarak 50 meteran ketika sedang berjalan di kerumunan orang yang sibuk bertransaksi di lapak-lapak kaki lima, di depan sebuah kampus ternama. Kelima orang itu secara seksama memperhatikan sequel film yang sedang berjalan. Lokasi syuting berpindah-pindah. Rupanya ia memang sudah diawasi sejak lama. Film akhirnya berhenti pada gambar pemuda itu sedang melakukan ritual gaib di tengah malam buta, di sebuah pantai, di antara batu karang. Film jadi tidak terlalu jelas karena tiba-tiba muncul asap putih dan hitam, membungkus tubuh pemuda itu. Gambar menghilang, sementara rol film masih berjalan. “Ia memang orang pintar. Tapi miring,” ujar lelaki itu setengah bersungut.
Lelaki itu kemudian membuka amplop besar berisi dokumentasi tentang pemuda itu. Disebarnya di atas meja secara teratur. Kemudian disusun sesuai urutan tanggal pengambilan. Ada foto pernikahannya, foto bekas istrinya, foto keluarganya, foto di bandara, di mesin ATM, di pinggir desa, menunggu bus kota, di gerbong kereta, bahkan pada saat tertidur. Agaknya segala cara sudah digunakan untuk menghimpun data tentang pemuda itu.
“Istrinya juga sudah kita ganggu, sampai akhirnya mereka bercerai. Kita juga yang mengumpankan wanita itu untuk dinikahinya, lalu kita rusak semuanya. Ada seseorang yang bersedia menanggung seluruh anggaran untuk membiayai kegiatan kita pada waktu itu,” ujarnya sedikit malas.
“Apa kesalahan dia?” tanya si gemuk bulat tadi, penasaran.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia meneruskan kata-katanya,”Kita juga sudah membakar massa, menyebar informan untuk menyiarkan kabar simpang siur, sehingga muncul kesalahpahaman dan membuat dirinya serbasalah. Dia juga hampir dihabisi massa, namun selamat dan berhasil lolos. Dia membalasnya dengan mengintimidasi pelacur-pelacur binaan kita. Sekarang mereka jadi serba ketakutan, bahkan ada beberapa yang jatuh sakit terkena penyakit misterius. Kita sudah sangat kewalahan untuk menghentikan kegiatannya. Seluruh relasinya sudah kita pengaruhi, kita juga sudah menistakan, mencemooh serta menghina apa saja yang dia kerjakan. Bukannya jadi putus asa tapi malah pertahanannya semakin hari semakin kuat. Celakanya, masyarakat tetap saja mencintai dan mengagungkannya.”
“Sebetulnya apa kesalahan dia, sampai harus diciptakan kondisi sedemikian rupa?” pria berkumis tebal berambut kaku itu pun mulai tertarik dengan topik pembicaraan yang terjadi.
“Ia tidak memiliki kesalahan…,” ujarnya pelan. Kelima orang itu seperti tersambar geledek. Alangkah gegabahnya! “Kitalah yang memulai. Kemudian dia membalasnya. Sekarang kita kewalahan. Sistem yang sedang berlaku sekarang ini, juga sudah tidak lagi memihak kita. Tapi berpihak kepada orang-orang berani mati seperti dia,” tambah lelaki itu setengah menggeram.
“Kenapa kita harus memulai?” tanya salah satu dari ketiga orang bertubuh atletis itu.
“Karena ada pesanan. Ada permintaan dari senior yang sudah pensiun, karena dia harus berbakti kepada majikannya. Pemuda itu memegang seluruh kartu truf pelanggaran hukum yang dilakukan majikan itu. Senior kita diminta “mengebiri”, melumat habis dan menghancurkannya. Majikan itu menginginkan penodaan karakter terhadap pemuda itu dan terhadap profesi yang dijalaninya. Bertahun-tahun sudah dilakukan, ternyata kita belum berhasil!” Lelaki itu menghela napas. Cerutu Kuba-nya dilumatkan ke asbak gelas di depannya. Hancur berkeping-keping. Mereka terdiam. Decak cicak yang menggeletar di dinding memecah keheningan.
“Apakah dia akan kita jadikan kambing hitam?” tanya si gemuk bulat, tiba-tiba.
Ruangan semakin sunyi. Lelaki itu mendekapkan kedua tangan ke dada dan menundukkan kepala. Mereka sedang mengalami konflik batin. Bertarung dengan suara hati masing-masing. Mereka harus berhadapan dengan seseorang yang tidak bersalah. Hanya korban keangkaramurkaan seseorang yang ingin menutupi seluruh kebusukan hidupnya. Kegalauan berputar-putar di benak mereka.
“Dia tidak akan kita jadikan kambing hitam. Tapi dia akan kita jadikan….setan,” wajah lelaki itu terlihat puas. Lalu ia membubuhkan tulisan Che di notesnya dan membubarkan rapat gelap yang terjadi pada malam itu.
Aroma kemenyan, ratus, minyak, dan bunga-bungaan aneka rupa merebak ke segala penjuru mata angin. Hembusan angin yang melingkar-lingkar di pantai semakin mempertajam bau ritual magis yang dilakukan beberapa orang di tepi Samudra Indonesia itu. Langit sangat kelam. Gelombang laut pun terlihat berwarna hijau, tidak keperak-perakan seperti hari-hari biasa.
Malam tanpa bintang. Lelaki berjaket coklat tua itu mengangkat tiga batang dupa yang menyala ke atas kepalanya. Syair-syair bermantera ia lantunkan, panjang-panjang. Empat orang duduk berjajar di belakangnya. “Wahai engkau supersinis, yang menguasai seluruh rasa benci dan dendam di seluruh muka bumi ini, dan engkau kegelapan yang menguasai malam, kami bersyair untukmu, bernyanyi untukmu, mengalirlah dalam darahku, darahmu dan darah mereka. Mewujudlah, berkuasalah, dan bangunlah dari lelap tidurmu yang berkepanjangan…,” ia mengulang-ulang kalimat itu sampai puluhan kali.
Malam bertambah kelam. Ia sawurkan bunga-bungaan ke kepala empat orang di belakangnya, juga minyak mistik sinyongnyong ke ubun-ubun mereka. Keempat orang itu langsung trance seperti terhipnotis. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti rapat gelap beberapa malam lalu. Hanya satu yang tidak terlihat. Lelaki bertopi dengan muka agak bulat. Ritual itu pun berhenti. Mereka duduk melingkar. Lelaki itu menjelaskan rencananya, panjang lebar, sambil sesekali mengangkat-angkat tangan ke kanan ke kiri. Pasir beterbangan, terasa menusuk-tusuk kulit ari.
“Malam ini kita akan melakukan simulasi. Rekan kita yang satu sudah bersiap untuk berpura-pura jadi setan. Ia sedang bersembunyi di balik dangau dari bambu di sisi tenggara itu. Menunggu kode dari kita, lalu dia akan muncul. Berlari seolah terbang dari bukit pasir di atas sana. Ketika melintas di hadapan kita, maka dua orang dari kita harus langsung memburunya dengan pedang. Dua lainnya berjaga di sisi selatan dan utara agar dia tidak bisa meloloskan diri,” lelaki itu berbicara dengan sorot mata menyala-nyala. Keempat orang yang terhipnotis itu mengangguk-angguk. Mereka tidak mampu berkata-kata. “Jika sudah dekat sabetlah dengan pedang. Ia pasti kebal, karena ia setan,” tegas lelaki itu lagi.
Mereka mulai menunggu. Lelaki itu membakar kemenyan lagi. Asapnya membubung ke atas, lalu dia mengeluarkan pistol yang terselip di ketiak kirinya. Diletakkan di samping kanan pahanya. Ia sedikit memperbaiki duduknya. Kedua orang dari mereka sudah memisahkan diri, berjaga di utara dan selatan. Beberapa menit kemudian, lelaki itu membakar ophium, semerbak wangi candu beredar ke mana-mana. Ia juga membakar kelapa kering yang lalu dilemparkan ke dangau, sekitar 15 meter dari duduknya.
Langit yang memantulkan cahaya laut membuat dangau itu jadi terlihat cukup jelas. Samar-samar di atas atap terlihat sosok manusia sedang meloncat sangat tinggi, lalu berhenti untuk beberapa detik dengan kedua tangan diangkat lurus sejajar kanan kiri. Ia seperti huruf T di udara. Semua yang melihat terpana. Kedua orang yang bertugas menyabetkan pedang, tidak menyangka rekan kerjanya ternyata bisa terbang seperti di film-film laga. Lelaki itu tersenyum sinis. “Engkau muncul juga, si pintar tapi miring,” gumamnya.
Sosok berpakaian hitam-hitam seperti sais bendi itu merebahkan tubuh di depan, lalu melesat terbang dalam ketinggian 2,5 meter. Melintas di depan mereka menuju batu karang. Secara otomatis, kedua orang yang membawa pedang segera memburunya. Mereka menyabet-nyabetkan pedang, mengenai kaki, badan, kepala, namun sosok itu tetap terbang rendah. Malah kemudian berbalik. Terlihat wajah tirusnya, rambut panjangnya tergerai dan amulet emas bersinar menyilaukan di lehernya. Kedua orang itu hampir tersadar ketika mereka terkena kilauan amulet. Mereka tahu rekannya yang gemuk tidak memiliki barang ajaib itu.
Tiba-tiba terdengar suara pistol menyalak. Satu dari kedua orang itu mengerang kesakitan. Lengan tangan kanannya terserempet peluru. Sosok manusia yang masih dalam keadaan terbang itu tertembak tepat di leher. Sinar berkilauan memancar dari kepalanya. Ombak laut berdebur-debur seolah mengambil alih rasa sakit yang diderita. Sosok itu menegakkan tubuhnya. Berdiri di udara, lalu berjalan pelan-pelan ke arah lelaki yang membawa pistol. Langkahnya terlihat jelas, menapaki angin dua meter di atas tanah. Kedua orang yang membawa pedang itu terduduk lemas.
“Akulah Che! Orang yang mengganggu tidurmu. Yang merobek jiwamu, merusak pikiranmu, dan menghantuimu dengan seluruh perasaan berdosa atas segala hal yang telah kamu perbuat. Akulah hukum! Ketika hukum sudah tidak bisa engkau tegakkan,” seru sosok bertinggi 170 sentimeter itu sambil menunjukkan jarinya ke wajah lelaki berpistol di depannya. Jarak mereka tinggal tiga meter. Lelaki itu buru-buru menyalakkan pistolnya lagi. Peluru meluncur menembus jantung Che. Pemuda itu meregangkan seluruh tangan dan kakinya, ia berteriak keras sekali.
“Wahai Engkau, kekuatan Yang Maha Dahsyat. Yang mengatur seluruh orang hidup dan mati, tunjukkan pedang keadilan-Mu. Hentikan rotasi bumi dan buatlah gelisah seluruh gelombang lautan. Jejakkan kaki-Mu sekarang juga,” pemuda itu berdiri dengan gagah. Tangannya menunjuk ke langit lalu diturunkan menuding bumi. Tanah bergetar. Terdengar suara menderu seperti kereta api sedang lewat. Muncul aurora berwarna hijau di angkasa. Bumi bengkah. Tanah dan bebatuan meloncat-loncat. Gempa bumi terjadi.
Kedua orang yang membawa pedang berlari menuju rekannya yang lain. Mereka segera beranjak pergi dari pantai yang angker itu. “Ini bukan simulasi. Ini fakta! Orang itulah yang jadi sasaran kita pada besok malam,” seru salah satu dari mereka dengan tergopoh-gopoh.
Mereka berlarian meninggalkan lelaki dan pemuda itu sendirian. Aurora di langit berpendar-pendar. Dari jauh terdengar suara pemuda itu tertawa terbahak-bahak tanpa berhenti.
“Engkau menginginkan simulasi, seperti yang dilakukan Mossad, dinas rahasia Israel dalam operasi-operasi intelijennya? Engkau berpikir, dengan kode simulasi mental anggotamu bisa bertahan dalam keadaan tetap berani dan bersemangat? Huahahahahaha akulah simulasi itu!” pemuda itu berteriak lantang sekali.
Lelaki itu menembakkan lagi pistolnya. Tepat di tengah kening pemuda itu. Darah menetes dari tubuhnya. Namun ia tetap berdiri di udara. Ia menelangkupkan kedua telapak tangan, menghimpun seluruh kekuatan magisnya. Dari atas langit, turun awan putih dan hitam membungkus tubuh pemuda tadi. Seketika seluruh tetesan darah berhenti mengucur. Lubang-lubang peluru pun menutup kembali.
“Tidak ada setan di sini!” serunya. “Pada setiap zaman selalu ada utusan yang akan menghakimi kesewenang-wenangan dan kebatilan. Engkau orang dholim terbakarlah dalam api neraka!” pemuda itu berseru sambil menudingkan jari telunjuk tepat di jidat lelaki berpistol. Dia lalu jatuh berdebam. Perlahan keluar api dari ujung rambutnya, lalu merembet ke kakinya. Pemuda itu terbang, kembali ke dangaunya, sebelum tubuh lelaki tersebut terbakar dengan sempurna.
***