Percakapan Embun

Cerpen: Anggoro Saronto

Rambutnya yang ikal adalah warisan dariku. Demikian pula matanya yang kecil dan tajam. Namun mata itu lebih dewasa dari anak seusianya hingga terkadang membuat aku takut. Garis wajahnya jelas, dengan sudut-sudut yang kelak akan mengeras seperti punyaku. Tapi ibunya mewarisi kelembutan pada hidung dan bibir. Hingga perpaduan itu menyebabkan wajahnya begitu menawan. Kelembutan tersamar watak keras, atau sebaliknya? Saat ini aku tak dapat menduga apa yang ada di balik diamnya, walau dalam nadinya mengalir darahku.

Kami duduk di bawah sebatang pohon yang umurnya setua ayahku. Pada halaman rumah orangtuaku, tempat Dion kini tinggal. Tempat duduk yang kami duduki dulunya sebatang pohon yang mungkin lebih tua dibanding yang sekarang menaungi kami. Kokoh dan kecoklatan. Di sela kaki kursi panjang itu tumbuh bunga berwarna ungu. Aku melihatnya sedari kecil, namun aku tak pernah tahu apa namanya. Begitu tak pedulinya aku akan segala keindahan yang menemaniku selama ini.

Dion menatap jalanan yang membentang di bawah bukit. Aku membaca gelisah dari gerak tubuhnya. Sesekali ia mengusap pahanya. Begitu paham aku akan dirinya, ternyata. Rambutnya yang ikal sudah mulai panjang, sebagian menutupi dahinya. Pernah aku bilang, aku membencinya dengan rambut panjang. Ia terlihat tak terurus, dan nampak seperti seniman jalanan. Tapi sore ini ternyata ia tetap terlihat menarik dengan rambut tak terurusnya. Tak ada sesuatupun yang sanggup menutupi daya tariknya. Kini aku percaya itu.

Suara sekumpulan burung pulang ke sarang begitu riuh. Seperti anak panah yang lesat menuju tempat bidiknya. Siluet burung dengan latar belakang senja yang jingga adalah potret terindah yang dihasilkan alam. Aku merekamnya sejak kanak. Dan kini anakku merekamnya dalam benak, aku tahu itu. Sekelebat aku lihat ia tersenyum. Cuma setarikan. Tapi aku kecewa karena aku tak tahu pasti, sejak kapan ia merasakan bahwa senja adalah bagian terindah dari siklus waktu?

Ia mengucapkan sesuatu tak jelas, mungkin jenis burung itu. Sekali lagi aku merasa bodoh, karena aku tak tahu jenis burung apa yang melintas baru saja. Atau aku lupa? Betapa aku menyesal tak mengajarkan Dion tentang bunga, senja, dan burung pada hari-hari sebelumnya. Aku hanya menduga bahwa ia tahu akan itu semua. Ia jauh lebih teliti dan penuh perhatian dibanding diriku.

Aku ingat, pernah suatu hari ia memaksa akan memakai sebuah baju berwarna biru. Baju itu penuh kantong, dua pada dada dan dua di sekitar perut. Warnanya telah pudar. Heran, bagaimana Dion begitu suka akan baju itu. Dan ia memaksa akan memakainya pada acara perayaan di kantorku. Memalukan! Baju pudar dengan potongan aneh itu layak dikategorikan baju badut. Entah siapa yang membelikan baju dengan selera rendah seperti itu.

Namun Dion bersikeras tak melepas baju itu. Wajahnya merengut hingga kedua alisnya yang tebal bertaut. Saat itu usianya baru enam tahun, dan kekerasan tabiatnya semakin terbaca. Aku menyumpah-nyumpah karena kesal tak dapat membujuknya. Istriku melerai dengan lebih lembut. Tapi Dion tak bergeming. Dengan kesal tetap aku ijinkan ia ikut. Bila saja tak ingat bahwa perayaan ini sehubungan dengan kenaikan pangkatku, aku tak akan mengajak si baju pudar itu!

Aku ingat teman-teman memuji anakku dengan baju badutnya. Menurut mereka Dion lucu, padahal menurutku itu menggelikan. Apalagi saat ia memenuhi kantongnya dengan permen dan coklat! Betapa menyebalkan ia. Seharusnya ia bisa lebih bagus dengan kemeja kotak-kotak warna merah dan overall jeans yang baru dibeli istriku. Namun itulah Dion, dengan baju pudarpun ia sanggup menarik perhatian orang-orang.

Esoknya aku bertanya padanya mengapa ia bersikeras memakai baju pudar itu. Awalnya ia menatapku dengan pandangan menyelidik, seakan ia ingin membaca apa yang aku inginkan darinya. Benar-benar cerdik. Aku meramahkan mataku agar ia membacanya. Ia berkata dengan intonasi cukup keras, bahwa baju itu akulah yang membelikannya bukan ibunya. Ia ingin menghormati perayaanku dengan baju yang dulu aku sendiri yang membelikannya di toko! Betapa anak-anak merekam dengan jelas perilaku orang-tuanya. Aku mengingat peristiwa itu, sampai detik ini.

* * *

Matahari membenam pada garis lurus tak berbatas. Setarikan garis sekilatan warna merah yang tak rela meninggalkan langit tanpa kesan. Hingga garisnya yang jingga dengan selubung hitam adalah sesuatu pesan yang ingin ditinggalkan. Tak akan pernah pergi dari perbatasan langit. Agar orang-orang akan selalu menantinya seperti aku, seperti Dion?

Anak itu menatap garis yang nyaris habis terlindas malam yang datang perlahan. Matanya menyipit. Entah apa yang dipikirnya. Apa ia sedang bergaya berpikir, karena tahu aku memandangnya diam-diam? Betapa senangnya aku menatap ia telah tumbuh sedemikian. Tak pernah kubayangkan waktu beranjak secepat ini. Seakan jarum jam berputar bukan dalam hitungan detik, tetapi hari atau mungkin minggu.

Dion lahir pada hari Minggu, maka sesuai dengan wuku jawa aku menamakannya Radite. Radite Pangarso. Pangarso adalah pemberian kakeknya, karena Dion merupakan anak pertama. Aku juga tak tahu siapa yang pertama memanggilnya dengan panggilan Dion. Mungkin dari keluarga istriku yang menganggap nama Radite terlalu kuno. Mungkin juga karena nama Dion terdengar lebih modern. Aku sendiri terkadang memanggilnya dengan panggilan kesayangan, Jipang. Entah mengapa, namun menurutku nama itu terdengar sangat Jawa dan lelaki.

Sewaktu bayi kulitnya begitu bersih. Namun menurut kata orang, bayi yang dilahirkan berkulit terang kelak besarnya akan kecoklatan. Sejak dulu aku percaya apa kata orang-orang tua, dan kini terbukti pada Dion yang kulitnya kecoklatan. Namun rupanya ia merasa kurang hitam hingga kegiatannya selalu dilakukan pada saat matahari siang menyinari bumi. Ia betul-betul penantang matahari. Tapi jangan sampai ia menantangku. Dan itu pernah terjadi.

Aku tak melarang Dion apapun kegiatannya asalkan ia mampu mengontrol dirinya dengan baik. Aku percaya bahwa ia patut untuk mendapatkan kepercayaan dariku. Namun suatu hari ia menantangku dengan pembangkangannya. Berulangkali aku nasehati untuk tidak ikut kegiatan pencinta alam, apalagi menerobos hutan. Entahlah aku masih percaya akan nasehat jawa kuno bahwa bayi yang lahir saat matahari tenggelam sebaiknya berhati-hati bila ke hutan. Menurut cerita, bayi yang dilahirkan pada saat itu akan terlihat seperti kijang saat berada di hutan pada malam hari. Harimau tidak lagi melihat sosoknya sebagai manusia, namun kijang buruan. Tapi ada juga yang bilang kepercayaan ini diartikan sebagai kesialan bila berada di hutan.

Saat itu Dion masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tanpa ijin dan sepengetahuanku, ia pergi naik gunung dengan beberapa orang temannya. Ia hanya bilang menginap di rumah teman untuk keperluan acara perlombaan antar kelas. Ternyata ia diam-diam pergi naik gunung. Betapa beraninya ia membangkangku, pertama atas laranganku, dan kedua atas tipuan kecilnya yang menyebalkan!

Betapa marahnya aku melihatnya sepulang dari naik gunung. Masih kuingat cara ia berjalan, mencoba tegap namun matanya tersirat rasa bersalah. Sebuah tamparan kulayangkan ke pipinya, untuk kesalahan pertama dan pipi satunya lagi untuk kesalahan kedua. Aku tidak berkata-kata atau meminta penjelasan. Ia juga mengunci bibirnya rapat, namun matanya menyimpan rasa pedih. Yang kusimpan hingga kini.

* * *

Malam telah datang, kami masih duduk membisu di kursi kayu. Cahaya bulan memerciki daun-daun yang bergelimang kemurahan hatinya. Lengkung pipinya nampak bercahaya, tak ada bekas telapak tangan di sana. Namun hatinya, dapatkah aku menduga apa yang ada di benaknya?

Wajahnya yang agak tirus memperlihatkan jejak kedewasaan yang akan ditapakinya. Usianya 18 tahun dua bulan yang lalu. Aku membayangkan apakah aku serupa dengannya pada usia yang sama?

Mungkin tidak. Aku mungkin jauh lebih menderita karena orangtuaku bukanlah orang berada. Aku ingat kendati rumah dan halaman ayahku cukup luas, itu hasil warisan. Ayahku sendiri adalah guru, sedang ibuku ibu rumah tangga. Di halaman belakang, kami berkebun sekaligus memelihara itik dan ayam. Aku dan adikku sering menjajakan telur keluar masuk kampung. Dalam ingatanku, aku begitu kumuh dengan hem tipis yang ditisik. Sungguh berbeda dengan Dion, ia memakai turtle neck hijau lumut dan jaket parasut biru doker. Betapa tampan dan terpeliharanya ia. Namun untuk urusan bahagia, apa yang aku tahu apa yang ada di benaknya?

Dion kini menatap langit, pandangannya masih seperti tadi, begitu jauh. Seakan menembus segala batas. Sampai di mana ia kini, dalam galaksi yang mana, engkau nak? Aku mencoba menggapainya. Dalam bentuk apapun. Namun aku merasa ia menjauh. Pada matanya aku melihat bintang. Tidak lagi sesederhana lagu anak-anak tentang bintang. Ia memandang bintang dengan takjub, seakan ada sejuta keramaian yang tak tergapai olehku. Dan ia mulai berbicara tentang bintang, jajarannya, galaksi. Aku menatapnya penuh takjub, seperti aku bilang sejak awal ia pemerhati alam. Jauh melebihi diriku.

Seharusnya aku tak terkejut atas kecintaannya pada langit. Sesuatu yang seharusnya belum layak untuk didengarnya terdengar karena kecintaannya memandang langit. Aku masih ingat peristiwa itu sekitar dua tahun yang lalu. Aku memang sering berbicara hal yang penting dengan istriku pada halaman belakang rumah, saat malam tiba. Saat itu pembicaraannya sangat penting. Istriku menuduhku selingkuh. Aku mencoba mengelak. Namun semua bukti telah berada di tangannya. Ia menangis.

Aku meminta maaf dan berjanji untuk meninggalkan perempuan itu. Namun istriku histeris dan mengatakan bahwa ini bukan yang pertama. Tak ada kesempatan berikutnya bagiku. Beruntung halaman rumah kami cukup luas dengan tembok yang tinggi, hingga aku tidak takut ada yang mencuri dengar. Namun saat itu terdengar bunyi sesuatu yang mencurigakan dari arah balkon. Ternyata Dion, lengkap dengan teleskopnya atau semacam itu. Ia berkata dengan polos, sedang memandang langit. Aku dan istriku terdiam. Sejak malam itu aku tak lagi sekamar dengan istriku.

Selalu Dion yang menyita perhatianku. Mungkin karena ia anak pertama. Namun entah mengapa aku menganggap ia sedikit berbeda dengan dua adiknya. Ia pewaris kekerasanku, penantang. Cuma kadang ia terlihat begitu lembut dan tertutup. Ia begitu complicated. Ia penyimpan segala pertengkaran ayah dan ibunya. Ia juga peneduh, karena pernah sehabis aku bertengkar dengan istriku, aku melihat ia memeluk ibunya.

Aku tak tahu apa yang ada di benaknya tentang aku. Ayah yang tak pernah mengajarkan tentang alam. Tidak mengenalkan senja pun menciumi langit malam. Ayah yang mengakhiri hari dengan pertengkaran, dan mengawalinya dengan bentakan. Ayah yang tak lagi utuh menjadi seorang ayah sejak dua tahun terakhir. Aku tak tahu apa yang ada dibenaknya.

* * *

Dion masih menatap langit, kekaguman tersisa pada bibirnya. Betapa rautnya hadiah langit yang dipersembahkan untukku. Matanya jendela yang tak pernah ia buka selebarnya, ada yang tersimpan. Kadang matanya membuat aku takut. Aku seperti membaca nada cela di matanya saat aku alpa. Aku ingin ia berbicara tentang diriku. Sebelum aku berbicara tentang rencanaku untuk bercerai dengan ibunya. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Sebuah daun yang masih kehijauan dipegangnya penuh perasaan. Pada permukaannya yang lembut terdapat embun. Ia meneteskan embun itu pada punggung tapak tangannya. Kemudian ia mengambil daun yang lain. Sebuah daun tua yang kekuningan. Pada kasapnya juga terdapat butiran embun. Masih dengan sikap kehati-hatian ia memegangnya. Kemudian ditariknya jemariku, dan diteteskannya embun dari daun tua itu. Ia tersenyum. Begitu kanak.

Bibirku terkunci. Aku tak kuasa berbicara apa. Udara pagi menerpa wajah kami berdua. Langit masih agak gelap. Aku seperti diburu waktu untuk berbicara padanya sebelum pagi benar-benar datang. Ada yang mendesak hingga sesak dadaku. Aku mencengkram rumput yang iba memandang ketakberdayaanku. Haruskah aku berkata, Dion, ayahmu tak lagi mencintai ibumu. Dion, ayahmu tak lagi dapat terikat dalam lembaga pernikahan dengan ibumu. Dion, kau tak akan mengerti. Dion, maafkan ayah. Hingga, “Dion…ayah…” ucapku tercekat.

“Yah, bila ayah merasa itu yang paling baik, lakukanlah.”

Ia berkata dengan mata tanpa kerjab. Dalam hitungan detik aku melihat sisi kanak-kanaknya menghilang berganti dengan kedewasaan, begitu pribadi yang lengkap. Wajahnya yang tabah adalah tamparan pertama, dan cara ia membacaku dengan tepat adalah tamparan kedua. Setelah berkata begitu, ia membuang muka. Tak ia biarkan aku membaca matanya kali ini. Pagi datang secara utuh. Namun aku merasa ada yang hilang, hingga sisi tubuhku tak lagi sempurna. Bagian yang diambil tanpa paksa, namun membuat sesak dada. Ada hal-hal yang kadang tak terlintas dalam pikiran kanak-kanak tentang dunia orang dewasa. Atau terlampau banyak tuntutan yang tak pernah terjangkau oleh alam pikiran kanak mereka? Begitu hidup mungkin sesungguhnya sederhana. Seperti pagi yang terlewat di atas kepala kami berdua.

Muria Ujung, Oktober 2002

Iklan