Seperti Tanesia

Cerpen: Andre Syahreza

Sumber: Kompas, Edisi 01/06/2002

MAKA duduklah kami berdua berhadap-hadapan setelah perkenalan yang begitu singkat. Namanya Tanesia. Bibirnya yang dilapisi gincu ungu muda beraroma Vodka menyemburkan kalimat-kalimat itu: “Anthony, tahukah kau bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu tempat yang sama? Orang asing, atau orang kita sendiri semua sama saja. Apa lagi yang mereka inginkan dari perempuan seperti saya?”. Tentu aku tidak perlu menjawab. Lagi pula ia sudah mulai mabuk. Suara-suara yang keluar dari bibir yang sebenarnya indah itu sudah kurang terjaga. Di kedalaman matanya ada penuh bekas luka yang panjang dan mendalam sehingga selalu nampak sembab. Meski ia tertawa, meski ia tersenyum, meski ia berusaha menahan tangis namun selalu saja nampak misteri sembab pada matanya. Dagunya lunglai, persis seperti nada-nada blues yang merambat ke segala penjuru kafe tempat kami bertemu.

Kuta sudah jam satu pagi. Tamu-tamu asing nampak lalu-lalang sambil mencekik botol bir dan menggandeng pacar perempuannya atau pacarnya sesama laki-laki. Tanesia tidak sedikit pun tertarik. Bukankah ia yang mengatakan semua sama saja? Bule atau orang kita sendiri. Dan ia menyebut perempuan seperti saya. Merasa asing dengan maksudnya di awal perkenalan itu, akhirnya aku mengungkapkan ketidakmengertianku. Maka ia bercerita: Tubuhnya didorong tangan-tangan kuat dua orang pria hingga terjerembab di atas kasur mewah berselimut gambar kembang jepun. Pakaiannya dilucuti tanpa sedikit pun pemaksaan dan ia tidak mampu menghalau bahkan dengan sehelai tenaga, bahkan dengan sepatah kata meski jiwanya berontak. Badan dan mulutnya sudah lebih dulu dibungkam lewat suntikan di tengah pergelangan tangannya…

Mulanya ia menolak, tapi dua orang pria yang dikenalnya itu merayu dan menjanjikan surga setelah suntikan itu. Maka jarum sudah telanjur ditusuk. Darahnya bolak-balik dipompa sebanyak lima kali. Seketika semua persoalan redup dari mata dan hatinya. Kemudian gambar-gambar buram menggelayut di matanya. Selebihnya hanya hampa dan tiada daya. Sampai dua pasang tangan itu mendorongnya terjerembab di atas kasur dan melucuti pakaiannya. Surga yang dijanjikan ternyata berwajah maksiat. Tanpa gairah maupun penolakan.

“Apa yang terjadi setelah kamu sadar?” tanyaku menggugat. Tanesia menatap tanpa sepenuh tenaga akibat butir-butir alkohol yang melemahkan kesadarannya. Tapi ia berusaha menanggapi pertanyaanku sebelum meneruskan ceritanya dengan alur yang tidak menentu.

“Apakah penting apa yang terjadi setelah itu?” ia malah bertanya. Pertanyaan itu tidak sepenuhnya berupa pertanyaan, namun setengahnya malah berupa pernyataan. Ia menunggu respons, tapi aku sengaja diam saja. Beberapa saat ia menunggu respons, tapi aku tetap diam saja. Ia menganggap itu sebagai respons. Sebetulnya ia wanita yang cerdas. Maka ia meneruskan ceritanya: Kira-kira dua tahun sebelum kejadian itu ia terpaksa memutuskan untuk pindah ke Bali. Tidak ada masalah di kota asalnya. Keluarganya baik-baik saja dan juga tidak ada masalah dengan teman-temannya. Semuanya berjalan normal dan biasa-biasa saja. Tapi beberapa orang untuk suatu alasan harus pergi meninggalkan kebiasaan yang cenderung monoton dan tanpa gairah. Bukan suatu kebetulan Tanesia memilih Kuta. Ia ingin mencoba sertifikat diploma pariwisatanya yang selama satu tahun belum digunakan. Lalu bertemulah ia dengan seorang pria setengah baya berperilaku santun yang membawanya bekerja di sebuah hotel bintang tiga. Berdasarkan ceritanya, pada pria ini sejuta harapan perempuan bisa ditangguhkan, semua impian perempuan yang terbuat dari hati yang bersuka dapat ditampungnya, dan semua itu dapat tergambar jelas hanya dengan menatap sepasang matanya. Tanesia takluk. Diciuminya setiap malam pria itu seraya menggenangi seluruh isi hatinya dengan suka cita dan harapan dan impian dan ketulusan setiap wanita yang menemukan naungan kasih sayangnya. Jika malam tiba, semakin bersatulah mereka berdua dalam peluk-cium dan gairah yang melayangkan keduanya ke sepanjang zaman. Dengan gairah semacam itu tiada bedanya malam tanpa rembulan, malam dengan rembulan, malam-malam tanpa atau dengan bintang-bintang dihampirinya dan dijelajahinya hanya untuk mereka berdua. Hanya untuk berdua. Sampai suatu hari gugusan malam-malam dan bintang-bintang itu lenyap tanpa jejak dan bekas, luruh ke seluruh hatinya, melongsorkan pedalaman jiwanya dan seketika duka lara menggantikan suka cita ke setiap sudut perasaannya. Setelah laki-laki itu akhirnya pergi.

“Kenapa dia pergi?” kembali aku menggugat. Ia tidak menjawab dan nampak kecewa pada pertanyaanku. Ia sengaja menenggelamkan aku pada pertanyaanku sendiri dan seperti mencoba mengingatkan aku pada pertanyaanku sebelumnya. Kali ini semakin nampak sisa-sisa kecerdasannya. Ia mengembuskan asap rokoknya seolah hendak meledek pertanyaanku. Saat itu wajahnya menggambarkan dosa-dosanya yang merefleksikan dosa-dosaku. Hanya dengan begitu ia telah menggubah pertanyaanku menjadi jawabannya sendiri. Saat itu pula musik blues berganti dari satu lagu sendu ke lagu sendu lain yang tiada ampun mematahkan perasaan.

Ia terus melanjutkan ceritanya: Sekiranya dua kali kemeriahan malam Tahun Baru telah dilewatinya dalam kebekuan hati setelah peristiwa buram di atas kasur bergambar kembang jepun. Tapi ia seperti mati rasa dan tidak pernah merasa melewati tahun-tahun itu. Sebab hari-hari yang dilaluinya setelah kejadian itu adalah barisan hari-hari yang itu-itu juga. Ia menjadi terbiasa dengan suntikan di pergelangan tangannya dan kehilangan trauma pada gambar kembang jepun. Satu orang laki-laki, dua orang, atau tiga, apa bedanya? Orang asing, orang kita sendiri, semua sama saja. Semua berakhir pada tempat yang sama, lalu pergi. Sampai sepasang mata itu kembali lagi dari sebuah negeri di mana bintang-bintang dan rembulan bertaburan.

Tanesia seperti terbangun dari mimpi buruknya, dari sekian lama mati. Darahnya kembali mengalir hangat mengitari jantung dan hatinya. Pipinya memerah kembali seperti sediakala. Mata redupnya perlahan hidup kembali dan ada gejolak yang luar biasa hangat di kedalamannya. Pria dari negeri bintang-bintang dan rembulan seperti telah mencabut sihir dengan segala maksud jahat yang selama ini menjauhkan dirinya dari segala macam kebaikan.

Dipeluknya dan diciuminya pria itu seperti masa sebelumnya dan ditumpahkannya seluruh isak tangis yang menggumpal di dadanya setelah sekian lama kehilangan tempat mengalirnya. Malam-malam tanpa atau dengan bintang-bintang dan rembulan kembali menghiasi semesta hatinya. Meski tidak seindah dulu. Tiada ingin ia melepaskan pria itu lagi. Dipeluknya pria itu erat-erat dan ia benamkan wajahnya pada dada pangeran bintang dan rembulan. Jika ia terbangun di pertengahan dini akibat raungan suara-suara jahat, cepat-cepat diperiksanya kembali dada dan sepasang mata yang dicintainya lalu ia dekatkan ujung-ujung jari manisnya pada hidung sang pangeran hanya untuk memastikan semuanya masih baik-baik saja. Lalu dilindunginya lagi sang pangeran dari kehendak suara-suara jahat yang entah datang dari alam luar sana atau alam bawah sadarnya sendiri. Setiap pagi dihadapinya dengan suka dan cita. Dilewati hari-harinya yang telah sekian lama padam dengan segenap api jiwa dan raganya. Tanesia sempat kembali seperti sediakala. Hingga di suatu malam yang tiada terduga ia kehilangan untuk kedua kalinya. Suara-suara jahat dari alam yang entah di mana tanpa sepengetahuannya berhasil merenggut sepasang mata itu dari hidupnya yang baru saja hidup kembali. Sampai di sana ia menghentikan ceritanya. Aku tidak mau mencobanya dengan sesuatu pertanyaan yang akan mengusik kecerdasannya. Saat itu aku perhatikan kulitnya yang kuning bersih dihiasi butir-butir halus keringat akibat sorotan lampu kafe yang sebentar lagi tutup. Kasihan, perempuan semacam dia harusnya tidak berada di kafe semacam ini di pagi sepagi ini pula. Seharusnya ia masih duduk menggarap skripsi atau jika pun dunia glamor yang dipilihnya, tentu ia sangat serasi berdiri di atas catwalk atau menjadi model iklan sabun atau lotion pemutih kulit. Aku tidak tahu pasti apakah itu lebih baik baginya. Tapi toh ia duduk di sana sambil menghisap dan menghembuskan asap-asapnya, menggantikan aroma parfumnya dengan sengat Russian Vodka. Sudah sejak tadi minuman itu dituangkan lagi setiap kali habis. Persis seperti rangkaian kisah hidupnya yang datang segelas demi segelas, memabukkan, dan setelah habis dituangkan lagi dan dituangkan lagi.

“Hidup ini hanya deretan botol-botol minuman keras yang disuguhkan kepada kita tanpa kita tahu bagaimana akhirnya,” setelah mengucapkan itu Tanesia mengangkat gelas, sejenak menyelidik ekspresiku, lalu menenggaknya sampai setengah habis. Kali ini pernyataannya mulai cengeng. Mungkin karena sudah terlalu Vodka. Hidup ini hanya deretan minuman keras? Perumpamaan yang kurang menarik, terlalu biasa. Metafornya kurang dalam. Semua cewek cantik yang sedang putus asa bisa saja mengucapkan itu di sebuah kafe yang penuh asap. Tapi bahwa, tanpa kita tahu bagaimana akhirnya, adalah persoalan kenapa aku masih duduk di sana menunggui ceritanya. Tanpa berani bertanya. Lagi pula nampaknya ia sudah mengakhiri ceritanya. Maka sebuah pertanyaan di akhir cerita hanya akan membuat keseluruhan cerita itu terganggu. Atau justru akan melengkapi keseluruhan cerita.

“Kenapa kamu tidak bertanya lagi?” ia malah memancing pertanyaan.

“Apa perlu aku bertanya lagi?” aku membalas gaya bahasanya tanpa sepenuhnya mengerti apa yang baru saja kunyatakan. Atau apa saja yang akan kutanyakan. Mungkin aku memang sudah tidak punya pertanyaan lagi. Seluruh pertanyaan melebur ke dalam irama dan nuansa ceritanya. Pertanyaan-pertanyaan yang membuahkan teka-teki kubiarkan saja berupa pertanyaan biar bisa menghidupi ceritanya dan mengurangi kecengengannya. Mungkin dia benar, tidak ada perlunya bertanya. Sebab jawaban hanya akan mematikan kegairahan ceritanya.Sudah jam tiga pagi. Blues bubar setengah jam yang lalu. Tanesia menghabiskan setengah tenggakan terakhirnya. Kami beranjak dan pergi ke sebuah hotel, seperti yang telah kami sepakati siang tadi melalui telepon yang aku dapatkan nomornya dari seorang teman. Di telepon kami sepakat untuk bertemu setelah jam dua belas malam di sebuah kafe untuk berkenalan sebelum kencan dengan tarif tertentu. Suaranya sungguh menggoda, membuatku penasaran sehingga ingin cepat-cepat bertemu dengan wujud aslinya. Maka duduklah kami berdua berhadap-hadapan setelah perkenalan yang begitu singkat. Namanya Tanesia. Bibirnya yang dilapisi gincu ungu muda beraroma Vodka menyemburkan kalimat-kalimat itu.

***