Kelambu

Cerpen: Akmal Nasery Basral (Sumber: Nova, Tabloid, Edisi 08/21/2006)

AKU tak menduga hal ini menjadi masalah penting.

“Aku ingin ada kelambu,” ujarnya perlahan.

“Maaf?”

Aku tak yakin benar-benar mendengar kalimat itu.

“Kamu tak salah dengar. Aku ingin ada kelambu.”

“Kelambu?”

“Ya, di malam perkawinan kita.”

Aku terkesiap, lalu tertawa lepas. Menggemaskan sekali calon suamiku ini.

“Ada yang lucu?” Air mukanya serius.

Aku masih tertawa. “Ya, tetapi tidak logis.”

“Di mana tidak logisnya?”

“Sebab kita belum membicarakan bentuk kamar pengantin.”

“Justru itulah mengapa aku ingin membicarakannya sekarang.”

“Oke, kelambu, di hari pernikahan kita. Wow, kamu tidak bermaksud mengatakan bahwa…”

“Persis. Itu maksudku.”

“Maksudmu kelambu itu juga akan digunakan pada malam harinya?”

“Ya.”

“Hamdan!”

“Kenapa kaget?”

“Karena kau laki-laki. Dan ide memakai kelambu di malam pertama perkawinan kita adalah…adalah….” Aku gagal menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan “betapa tidak masuk akalnya ide itu di zaman seperti ini.”

“Kelambu itu bukan cuma kita gunakan di malam pertama, juga di malam-malam

selanjutnya.”

“Apa?”

“Bukankah aku pernah bilang bahwa aku terbiasa tidur memakai kelambu.”

“Aku ingat, tapi aku kira itu hanya sewaktu kau masih SD.”

“Itulah. Kau tetap saja tidak mendengarkan. Sampai kuliah, bahkan setelah bekerja sekarang, aku masih tidur seperti itu.”

“Kau pernah menceritakan itu memang. Kukira kau hanya ingin melucu.”

Hamdan bertahta di hatiku sejak setahun silam. Aku bertemu dengannya di sebuah konter penjualan DVD di sebuah pusat belanja. Saat itu aku sudah berulang kali mengaduk-aduk film di kotak kayu besar bercat cokelat.

“Ada yang bisa kubantu?” Suara seorang lelaki membuyarkan pencarianku. Aku mencari asal suara: sang pemilik konter. “Aku lihat kamu belum menemukan satu pun film?”

“Betul. Ada saran film apa yang sebaiknya aku tonton? Bukan cuma hiburan, tapi yang bisa mengembangkan wawasan.”

“Kamu sedang resah?”

“Entahlah, belakangan ini aku selalu memikirkan orang tuaku.”

“Boleh aku tahu pekerjaan mereka?”

“Keduanya dosen.”

“Sebentar.” Tubuhnya berbalik mencari-cari sesuatu di tumpukan DVD. “Ah, ini

dia.” Ia mengangsurkan sebuah film, Madadayo.

“Tentang apa ini?”

“Film yang menyenangkan hati. Lebih baik kau tonton sendiri.”

“Terima kasih.” Aku membuka dompet dan menjulurkan uang.

“Tidak usah, kamu tonton saja dulu. Kalau bagus, bayar Minggu depan.”

Tak bisa kujelaskan betapa beruntungnya aku bisa menonton film yang luar biasa mengharukan itu. Sebuah film tentang bagaimana seorang dosen yang sudah pensiun masih terus dihormati oleh bekas muridnya, sampai ke anak cucu mereka. Minggu berikutnya, aku sudah di konter itu lagi. Hamdan tersenyum melihatku. “Bagaimana filmnya?”

“Indah sekali. Aku datang dengan tangan hampa, kau memberiku mutiara.”
“Syukurlah.”

“Berapa harganya?”

Hamdan tak mau menerima uangku. Ia malah menjadi konsultan untuk mencari film-film yang bahkan judulnya pun tak kuketahui. Aku hanya berkata, “Aku ingin film seperti ini…” Dan ia akan membawakan film tertentu, yang setelah aku tonton, persis seperti yang aku inginkan.

Hamdan hanya menjaga konter DVD di hari Minggu. Di hari lain, ia pengajar pascasarjana di sebuah sekolah ekonomi swasta. Ia bilang, hobinya terhadap film baru muncul ketika bersekolah di Chicago. “Di sana ada festival yang diselenggarakan kritikus film Roger Ebert terhadap film-film yang diabaikan orang. Overlooked film. Aku tak pernah sekali pun absen menonton,” katanya satu ketika.

Aku mengerti sekarang mengapa ia menginginkan kelambu di hari pernikahan kami. “Hamdan, ide kelambu ini kau dapat dari sebuah film bukan?”

“Tidak. Itu bagian dari diriku yang harus kamu ketahui.”

“Bukankah setelah menikah, seharusnya aku menjadi kita?”

Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya harus tidur berkelambu. Itu hanya pernah aku jalani sampai kelas 2 SD. Hamdan menatapku lembut. “Menjadi kita, bukan berarti semua harus seragam. Keunikan yang menjadi identitasmu dan aku sebelum menikah biar saja seperti apa adanya.”

“Aku mengerti. Begini saja, kelambu itu ada pada siang hari perkawinan, pada saat keluarga melihat bentuk kamar pengantin. Tapi setelah malam turun, aku tak ingin kelambu itu digunakan.”

“Itu tidak baik. Aku ingin semua dimulai dengan kejujuran.”

“Kalau begitu aku jujur. Aku tak bisa tidur dengan kelambu, Hamdan. Aku merasa seperti ikan yang terperangkap jaring nelayan. Perasaan itu bahkan sudah aku ketahui sejak kelas 2 SD, ketika aku menolak menggunakan kelambu yang dipasang orang tuaku.”

“Aku tak bisa tidur tanpa kelambu. Kau harus tahu itu.”

“Termasuk ketika kau kuliah di Chicago?”

Hamdan mengangguk.

“Di asrama? Teman-temanmu tahu itu?”

Tetap mengangguk.

“Apakah tak ada yang merasa aneh karena itu atau, maaf, malah meledekmu?”

Hamdan menggeleng. Astaga!

***

AKU tak menduga hal ini menjadi masalah penting.

“Aku ingin ada kelambu,” ujarku perlahan.

“Maaf?” Ia seperti tak yakin benar-benar mendengar kalimatku.

“Kamu tidak salah dengar. Aku ingin ada kelambu.”

“Kelambu?”

“Ya, di malam perkawinan kita.”

Ia terlihat terkesiap, lalu tertawa lepas. Menggemaskan sekali calon istriku ini.

“Ada yang lucu?” Air mukaku serius.

Ia masih tertawa. “Ya, tetapi tidak logis.”

“Di mana tidak logisnya?”

“Sebab kita belum membicarakan bentuk kamar pengantin.”

“Justru itulah mengapa aku ingin membicarakannya sekarang.”

“Oke, kelambu, di hari pernikahan kita. Wow, wow, kamu tidak bermaksud mengatakan bahwa…”

“Persis. Itu maksudku.”

“Maksudmu kau ingin kelambu itu juga digunakan pada malam harinya?”

“Ya.”

“Hamdan!”

“Kenapa kaget?”

“Karena kau laki-laki. Dan ide memakai kelambu di malam pertama perkawinan kita adalah…adalah….”

Anjali tak melanjutkan kata-katanya. Aku selalu suka melihatnya dalam kondisi ini, ketika legam matanya berpendar seperti danau jernih yang memanggil penduduk hutan untuk berkumpul di tepinya.

Anjali bertahta di hatiku sejak setahun silam, ketika ia sedang mengaduk-aduk koleksi konter DVD milikku. Wajahnya gundah. Biasanya aku sebal melihat calon pembeli hanya mengaduk-aduk serampangan. Tapi kali ini aku tak bisa kesal melihat mata kelinci di depanku yang pikirannya sedang mengembara itu. Wajahnya mirip pemeran utama film Monsoon Wedding karya Mira Nair. Pipinya padat lembut berwarna cokelat martabak dan menyebarkan harum meruap. Aku mendekatinya. “Ada yang bisa kubantu?”

Wajahnya terangkat mencari asal suara, sebelum menatap lurus kepadaku. Detik itu aku yakin perempuan ini akan menjadi ibu dari anak-anakku. Jangan tanya bagaimana aku bisa tahu, apalagi mengaitkan dengan profesiku sebagai dosen Ekonomi Internasional.

Anjali adalah peranakan dari ayah berdarah Iran dan ibu India, yang sudah tinggal dua generasi di Indonesia. Seperti kebanyakan peranakan, kecantikannya muncul secara khas. Namun, yang lebih menyenangkan adalah ia seorang pendengar yang baik, dan pembicara yang hebat. Ia penyeimbang sempurna dari sikapku yang kaku.

Sekarang aku tak mengerti, mengapa Anjali yang pandai dan selalu bisa menemukan sisi baik dari setiap hal merasa heran dengan ihwal kelambu ini. Aku bahkan merasakan ia agak tertekan.

“Aku tak bisa tidur tanpa kelambu,” kataku. Aku harus mengatakan hal ini sejujurnya sejak hari pertama perkawinan kami. Aku selalu tenteram melihat jaring-jaring lembut berwarna putih itu menjelang hilangnya kesadaranku memasuki alam tidur. Aku selalu menyisakan sedikitnya 10 menit untuk menatap lubang-lubang kecil kelambu sebelum terlelap. Aku membayangkannya seperti jaringan sel yang melindungi janin di rahim. Itulah saat-saat pendek yang membuatku merasa dalam kandungan ibu, wanita tercinta yang tak pernah kurasakan belai dan kecupnya karena beliau wafat saat melahirkanku.

Suara Anjali menyadarkanku.

“Termasuk ketika kau kuliah di Chicago?”

Aku mengangguk.

“Di asrama? Teman-temanmu tahu itu?”

Tetap mengangguk.

“Apakah tak ada yang merasa aneh karena itu atau, maaf, malah meledekmu?”

Aku menggeleng.

* * *

AKU tak menduga hal seperti ini menjadi masalah penting. Mereka berdua berbisik. “Maadha kai*?” Kudengar Anjali mendesis. Entah apa persisnya, telinga tuaku sulit mendengar dengan jelas.

“Madadayo

**.

” Hamdan menjawab tak kalah lirih. Paling tidak kata seperti itulah yang kudengar. Wajah Hamdan terlihat serius. Bibirnya hampir tak bergerak saat menyebutkan kalimat itu.

“Jadi begini Bunda,” Anjali meremas tanganku, tampaknya ia sedang berusaha agar aku tak khawatir. “Kami sudah siap menikah, hanya saja …” Anjali memandang Hamdan. Yang ditatap berkomentar pendek. “Masih ada satu hal yang harus kami diskusikan lagi, Bunda.”

Yang aku sukai dari pemuda ini adalah ketulusan suaranya saat memanggilku Bunda. Aku tahu ibunya meninggal saat ia dilahirkan. Tapi Hamdan sungguh-sungguh memperlakukanku sebagai seorang ibu, yang dalam beberapa hal, bahkan lebih intens ketimbang yang ditunjukkan Anjali.

“Boleh Bunda tahu masalah kalian?”

Mereka terdiam. Aku tak mendesak. Segala sesuatu ada waktunya. Termasuk untuk memberikan sebuah jawaban.

“Kami … ” Anjali meremas tangannya. “Kami masih belum sepakat soal kelambu, Bunda.”

Seribu pertanyaan muncul di ujung mulutku mencari jalan keluar. Tiba-tiba aku merasa begitu renta, tak mengerti anak-anak sekarang. Kubiarkan bibirku terkunci. Ini hidup mereka, ini perahu yang sedang mereka persiapkan untuk mengarungi samudera kehidupan. Biarlah mereka sendiri yang memutuskan bentuk biduk yang mereka inginkan.

“Bunda tidak marah?” Suara Hamdan terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang belajar menggenggam sebutir telur.

Aku menggeleng, mencoba tersenyum. Namun di dalam hati, tetap saja aku bingung. Aku tak menduga hal seperti ini bisa menjadi masalah penting. Begitu penting.

* * *

Keterangan:

* Maadha kai

** Madadayo

Dua kata ini muncul beberapa kali, dan menjadi esensi film Madadayo (Akira Kurosawa).

= Belum? = Sudah siap?

* * *