SAMPAN

Oleh AHMAD MUCHLISH AR

Dua tahun yang lalu, Ayah dan Ibuku meninggal di laut; apabila aku kangen padanya, mengharap belaiannya, aku segera berangkat ke laut karena Ayah dan Ibuku adalah laut itu sendiri.* Kudapati angin, udara, camar, ombak dan buih telah mempelajariku hidup dan bergaul. Atau bahkan pernah aku enggan pergi ke laut karena dalam pikiranku muncul bahwa laut adalah kekejaman.

***

Pagi itu, orang-orang pesisir utara pergi ke pantai Legung untuk menjemput kedatangan para nelayan. Anak-anak mereka, wanita-wanita berdandan, istri-istri mereka menjemput kedatangannya di pantai. Aku bersama Ibu juga datang di antara pergumulan mereka, menanti ayah yang melempar sauh ke pulau jauh; harapanku, ayah membawa ikan yang banyak.

Terus kupandangi biru laut bertaut, melihat sampan yang terus berdatangan. Sampan Juhinx (julukan sampan milik Pak Matrak) telah berlabuh di bibir pantai dengan membawa 2 ton ikan, istri-istri mereka tersenyum manis, menyambutnya dengan gembira, sesekali gelak tawa. Juga sampan Konir (julukan sampan milik Nom Sapura) menyusul berlabuh, membawa ikan 1 1/2 ton.

Setelah itu banyak bermunculan sampan-sampan berlabuh. Namun, Ayahku belum juga datang, tak berbunga dalam pandangan, walau tatap tak henti tergilap, camar mencelupkan sayapnya ke laut, senyum-senyum para perempuan semakin tawar setelah suaminya datang dengan perolehan yang mengagumkan.

Namun kami berdiri cemas di bawah pohon cemara pantai itu, bersama Ten Suparmi (istri Shaleh), Suriyani (istri Mahfud), Suhartini (istri Addul) teman-teman Ayahku; bila pagi mereka pulang dan di sore hari mereka bersiap-siap berlayar.
Kecemasan kami lantaran sampan tak kunjung datang, sedangkan sampan-sampan yang lain telah berlabuh di pantai. Kami khawatir, mereka terancam derum ombak dan gelombang, terjungkir atau karam di tengah laut-gemelut.

Matahari sejengkal di atas ubun-ubun dan sampan kami tak juga terpajang di pandangan. kami menghampiri Man Surahbi yang juga nelayan, barangkali di tengah laut ia bertemu sampan Osoy milik ayahku.

“Tidak, aku tidak bertemu!” tandasnya.

Segera kami temui Pak Matrak teman dekat Ayah. Ia sedang duduk bersama keluarganya di gugusan pasir menggunung, ia menjawab sama—tidak bertemu— mata kami berkaca-kaca, rasa cemas semakin menggumpal, air laut semakin asin di darah, getir ombak menerjang dada, angin melerai rambut kusut kami, sesekali menerbangkan kerudung yang tersaung di leher Ten Suparmi. Gundah gulana, gelisah cokelat tua di kening-kening kami, ke mana mereka tak datang hari ini? Akhirnya kami pulang dengan rambut pirang.

**

Menjelang sore, tersiar kabar tentang tenggelamnya sampan Potre Koneng (Milik Massuri). Panik. Keluarganya mengutus lima sampan untuk mencarinya, menjelajah selat Masalembu dan Gili, mereka menyisir lautan. Kelima sampan itu dipimpin oleh Durahmat, seorang nelayan yang terbiasa menyelam dan berenang di laut tanpa alat, dia punya kekuatan insang ikan karena gendang-gendang telinganya terkubang.
Semalaman, Durahmat mencari sampan Potre Koneng di laut Masalembu, berkeliling, memperhatikan setiap benda yang mengapung, patahan-patahan kayu, tiang layar yang terbuat dari bambu. Tak ada. Durahmat melompat ke laut melawan arus, pinggangnya di tali tampar, berenang di antara belahan-belahan ombak yang tersibak. Sebelum menyelam, Durahmat memberi kode—apabila ia sedang panik atau sedang khawatir, ia akan memijit tombol yang menyalakan bunyi ke permukaan–Di atas sampan Matrabi dan Suparmo menjaga dan memegangi tampar itu, keduanya berdiri di samping mesin sampan itu, bersiap-siap; jika terompet melengking kencang berarti tampar harus segera di hambar.

Sampan itu terus berkeliling di Pulau Masalembu, Durahmat mengapung. Ah! tak menemukan bekas. Deram angin semakin keras, ia naik lagi ke sampan.

“Kita menunggu kabar saja” ucap Durahmat.

“Jangan. Harus kita cari sampai ketemu,” bentak Matrabi.

“Mau dicari ke mana? Di dasar laut tak ada puing-puing pertanda ada sampan terselam. Tak juga ada mayat yang mengapung. Mungkin telah dibawa arus, entah ke mana?” tegas Durahmat sembari merogoh botol Kratingdaeng yang masih penuh.

“Ya, Tugas kita bukan untuk menemukan, tapi berusaha. Besok atau lusa pasti sudah ada kabar dan mayat-mayat mereka pasti akan mengapung” tegas Suparmo.

Matrabi diam, matanya berkolong ke laut, menatap buih yang terserai menyebar, ombak mulai lirih, air laut tenang. Akhirnya mereka pulang.

***

Keesokan harinya, kami kembali mencagak di pantai, merapatkan pandang ke laut, hangat dingin badan, Ah! Matahari menelusup di balik laut, bianglala menggantung mengundang desah pantai pagi itu. Mata kami menampakkan garis-garis yang terang; garis ombak melempar sampan dan jejaringnya yang dilepas para nelayan. Kami tak melepaskan mata; mematung, menantinya yang belum pulang dari pulau-pulau yang jauh. Matahari semakin tinggi sampan itu tak juga kelihatan, sesekali kening Ibu mengkerut dan wajahnya tampak semakin cemas.

Satu jam kemudian, seperti ada bayang-bayang sampan di penglihatan, kami terus memperhatikan satu titik sampan di jauh pandang itu, muka Ibu mulai menampakkan gembira, Ibu meyakinkan bahwa satu titik yang jauh dalam penglihatannya adalah sampan kami–Kami pun mencoba meyakinkan bahwa sampan kami segera datang, kibar layar mulai terlihat di titik kecil itu. Senyum Ibu semakin lebar, juga ten Suparmi, Suriyani, Suhartini, degup dadanya semakin berhambur ke permukaan. Kami nyanyikan lagu laut:

Bila layar berkibar

Angin sepoi memberi kabar

Sauh sudah selesai dilempar

Bila layar berkibar

Suara parau samar terdengar

Sauh diangkat jejaring penuh ikan

Bila layar berkibar

Isteri mematung di bibir pantai

Nelayan pulang hatinya berdebar

Nyanyi kami berkumandang, sampan itu lambat laun mulai mendekat dan kelihatan semakin besar, tiba-tiba Ibu berteriak histeris memutuskan nyanyi sunyi kami di pantai, kami belum mengerti, mengapa ibu tiba-tiba begitu? Ibu menatap sampan yang terus mendekat, Ibu menohokkan pandang. Ya, bendera sampan kami—terbalik—
Mata kami berkaca-kaca melihat Mahfud, juru mudi sampan itu melempar tampar ke pasir; mau berlabuh. Sementara Addul membopong seorang yang telah lemas, kulitnya pirang, kerut kening Addul menyapa kami seolah-olah memberi tahu “telah tiada”.
Teriakan histeris kami semakin keras, ombak membanting sampan yang kandas, Addul segera membawa seorang yang dibopongnya ke pinggir. Siapakah di antara empat orang
itu yang “telah tiada”? Addul turun dari sampan, menyusul Shaleh, kemudian Mahfud, ketiganya meletakkan mayat itu di atas pasir, siapakah yang dibopong Addul? Ayahku? Aku segera mendekat, melongok pada mayat yang mengembang, putih seperti kapur, mukanya tak jelas. Ibuku tersedu di samping mayat Itu. Ke mana Ayahku tak kunjung kelihatan? Ternyata orang itu adalah teman Ayahku seorang juru mudi sampan Potre Koneng.

“Sekitar Jam 12.00 kemaren, Kak Sahnawi hilang ketika menolong Martaji, di laut Masalembu. Saat itu, Sampan Potre Koneng menabrak karang dan ketepatan kami bersamaan. Setelah sampan itu bocor, ombak menerjang sekeras-kerasnya bahkan saat itu sampan kami sempat oleng. Akhirnya kami menarik lagi sauh yang telah kami lempar. Shaleh, Mahfud juga sempat turun untuk membantu mereka, namun kelihatan arus sumur bersiap mengubur, shaleh dan Mahfud naik lagi ke sampan, demi menjaga keselamatannya” jelas Addul sembari menatap gugusan buih yang terlmpar, orang-orang
berdatangan

“Mayat ini mengapung ketika kami mencari kak Sahnawi,”

Orang-orang yang berkerumun mengangkat mayat Martaji, sebagian diantara mereka mengelilingi Addul, bertanya tentang kehilangan Ayahku, terselamnya sampan Potre Koneng.

Hah! Ayahku hilang, tak lagi terpajang dalam pandang. Ke mana? Ke mana aku akan mencari ayahku? Mengapa Addul, Shaleh dan Mahfud pulang jika ayah tak jua datang? bukankah satu hilang yang lain juga hilang?

Ibu pun bertungku disamping Addul, matanya bergerimis, bau amis berserai di dadanya, aroma ayah terhisap Ibu ketika angin melerai rambutnya dan ombak menakar buih ke pantai. Ia tidak tahu, Ayah akan di cari ke mana? telah dimakan ikan? Tubuhnya terkeping-keping atau bahkan hancur berantakan? Tidak tahu. Addul terus menceritakan kejadian itu hingga jerit dan tangis histeris berkelindan di pantai; riuh. Lebih riuh dari derum ombak.

Ibu tidak tega mendengar cerita Addul, rasa meringis di dadanya menggemuk, kemudian Ibu lari ke Sampan, ia menghidupkan mesin, aku mengejarnya, menghalanginya; namun Ibu tetap mengoperasikan sampan itu, menjalankannya, Ibu mau berlayar ke mana? Ke pulau yang jauh? Entah! Orang-orang di pantai semuanya berdiri; kaget. Addul dan Shaleh lari menghampiri kami, sampan itu berangkat dengan cepat. Kami berlayar bersama Ibu ke pulau yang jauh. Butiran demi butiran terus mengalir dari mata Ibu, ia berdiri di dekat tiang, sembari memegang Pancer.
Aku menoleh ke belakang, kulihat sampan. Addul, Shaleh, Durahmat mengejar kami, setelah sampan mereka mendekati sampan kami–tiba-tiba di tengah laut yang luas itu, Ibu melompat.

“Toloong! Toloooooong!” aku berteriak.

Dengan cepat ketiga orang di atas sampan itu melayangkan badannya, suara debur melolong.

“Cepat tolong! Ibu”

Ketiga orang itu mencoba membopong Ibu dalam laut, ia terus berusaha melepaskan dari pangkuan ketiga lelaki kekar itu; lepas. Ibu bergusar dalam air. Aku mengikat kedua sampan itu, ombak raksasa datang tiba-tiba, Durahmat, Addul, Shaleh membopong Ibu ke atas sampan, Ibu lemas, matanya terpejam, perutnya mengembung, nyawa di kerongkongan; Ibu telah memberanikan diri melompat ke laut, ia akan menghabiskan sisa hidupnya di laut. Ah! Karena ayah telah hilang, ia ingin menjumpainya, ingin berbulan madu lagi di antara gugusan karang dan rumput-rumput di dasar. Ia berwasiat, aku menunduk; ia mengungkapkan kalimat terakhir di sampan

“Tidak Bu! Jangan. Jangan tinggalkan Ridwan” aku mencium wajah Ibu.
Karena takdir sudah berkehendak untuk memberangkatkannya ke gorong-gorong yang terakhir, tak dapat dipinta, Ibu berangkat.

***

Itulah yang terjadi dua tahun yang lalu, Ayah dan Ibu meninggalkanku di laut. Dan apabila aku kangen padanya, mengharap belaiannya, aku segera berangkat ke laut karena Ayah dan Ibuku adalah laut itu sendiri.

Kudapati angin, udara, camar, ombak dan buih telah mempelajariku hidup dan bergaul. Atau bahkan pernah aku enggan pergi ke laut karena dalam pikiranku muncul bahwa laut adalah kekejaman. Wallahu A’lam

Catatan:
*
Ungkapan ini terinspirasi dari ungkapan Drum dalam film Novel Tanpa Huruf R

Yogyakarta, Mei 2005