Bisikan Angin Laut

Cerpen Agustinus Wahyono

Angin laut berdesis-desis seolah membisiki sesuatu di liang telingaku. Surya timur menghangatkan perahu-perahu kayu, kapal-kapal besi, bangunan-bangunan warisan kolonial, atap-atap kaki lima, kendaraan, dan kulit orang-orang. Beberapa calon penumpang tengah menanti kapal cepat menuju pulau seberang. Beberapa pedagang kaki lima sedang membuka warung di pinggir dermaga kota ini. Aku tengah duduk di salah satunya. Kulirik arlojiku. Pukul 06.27. Masih ada waktu untuk menikmati suasana di sini, pikirku.

Kubuka lembar koran lokal yang tadi kubeli di kaki lima dekat gerbang dermaga. Halaman pertama berheadnews “Penyelundupan Terjadi Lagi!”. Pada lead-nya tertulis, “Iring-iringan lima belas truk mengangkut hasil tambang sebelum subuh, menuju pelabuhan…”. Busuk, makiku. Tapi masa bodohlah. Aku tidak mau saat pagi sejuk-indah begini pikiranku disumpali berita semacam itu. Mending kubaca nanti siang saja.
Angin laut sesekali berbisik lagi. Kulipat kembali koran itu, lalu kumasukkan ke tas ranselku. Kuseruput kopiku. Sedap. Kopi bikinan pabrik lokal. Aroma empek-empek hangat menggelitik seleraku. Kuambil satu. Kucelupkan pada mangkuk berisi kuah cuka. Kumakan sebagian. Lezat. Sambil mengunyah empek-empek, kuputar posisi dudukku.
Aku menghadap ke perahu-perahu yang hanya berjarak dua puluh meter dariku. Satu-dua sepeda motor atau mobil hilir-mudik. Seumur-umur aku hidup di pulau ini, baru kali ini aku menikmati suasana pagi di Kota Dermaga yang hanya beberapa puluh meter dari bibir darat ini. Kota yang masih dipenuhi bangunan abad ke-19 – baik di kawasan perdagangan utama maupun pinggiran – ini berjarak kira-kira 200 kilometer dari kampung halamanku. Kebetulan sekali aku mendapat kesempatan dari sebuah media kebudayaan, yaitu mencari data-data fisik untuk inventarisasi kasanah budaya nasional. Bangunan para penguasa, yang salah satunya telah menjadi istana walet lengkap dengan ceceran kotorannya karena kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah (mungkin gara-gara tidak memberikan kontribusi berarti bagi kantong aparatur). Dua rumah ibadah yang berdampingan, dipisahkan oleh jalan menuju keabadian. Beberapa rumah kuno milik penduduk. Selama satu minggu aku akan berada di sini, dan sekarang baru masuk hari kedua.

Kulapangkan pandanganku ke arah ujung tanjung. Di sana berdiri sebuah mercu suar warisan kolonial Belanda. Kemarin aku sudah ke sana, pagi-pagi juga. Aku senang sekali bisa secara langsung melihat salah satu bangunan monumental di Kota Dermaga ini, termasuk saksi bisu sejarah perjuangan, yakni sebuah bangkai kapal perang sekutu. Tidak cuma membaca di media massa lokal atau dengar dari mulut kawan-kawanku. Tentu saja kurekam dalam tustel digitalku dan notebook pinjaman. Juga pelabuhan penumpang yang 92% siap pakai. Pelabuhan baru itu akan menggantikan pelabuhan penumpang yang ada di depanku ini. Tapi, sekonyong-konyong lead koran tadi muncul dalam ingatanku, bahwa penyelundupan terjadi di pelabuhan baru itu, dan kemarin pagi. Astaga! Seingatku, dari luar kulihat situasi tenang-tenang saja kemarin pagi.
Lamat-lamat ekor mataku menangkap gambar seseorang memakai helm standar datang dengan motor bebek empat tak, dan berhenti di dekat tempat dudukku. Aku tidak menghiraukannya, sebab wajahnya tertutup kaca helm. Kemudian ia turun untuk memasang kaki motor. Angin laut mendesis di liang telingaku. Ketika orang itu melepaskan helm, aku merasa pernah mengenal orang itu. Aku segera menoleh.
“Ah kau, Wan! Kusangka siapa tadi.”

Orang yang kukenal bernama Ridwan itu cengengesan. (Ridwan adalah kawanku sewaktu berkuliah di Bandung. Kos kami bertetangga, kendati beda kampus.) Setelah ia meletakkan helmnya di sadel, ia berjalan ke arahku. Spontan aku bangkit setelah kulap tanganku dari bekas minyak empek-empek goreng. Angin laut berdesis perlahan.

“Apa kabar, Wan? Kok kini pindah kemari?”

“Baik, Ji. Kau juga, ngapain kemari? Kapan pulang? Jauh sekali plesirmu.”

“He he he… Aku kini menetap di kampungku sekaligus jadi koresponden tetap di

provinsi kita untuk media budaya di Bali. Aku kemari dalam rangka tugas khusus. Yaaah, begitulah, nasib penulis lepas, Wan. Lha kau sendiri?”

“Kini aku ditugaskan di sini. Belum satu bulan. Rotasi, Ji. Maklum, wartawan koran lokal,” sahutnya sambil mengambil posisi duduk di sebelahku.

Ingatanku langsung tertuju pada headnews koran tadi. Hasil investigasi Ridwan rupanya. Biarinlah. Kapan-kapan bisa kutanyakan apa saja temuan wartawan bergelar sarjana teknik itu. Barangkali bisa kudapat “off the record” di balik beritanya.

“Ayo ngupi-ngupi dulu, Wan.”

“Aku baru saja ngupi di rumah. Aku ke sini cuma sebentar. Mau lihat-lihat situasi.

Eh, kau nginep di mana? Kalo sempet, mainlah ke rumahku, rumah sekaligus kantor biro koranku. Oh ya, ini kartu nama baruku.”

“Aku numpang di rumah kawan ayahku. Kapan-kapanlah aku main, kalo sempet.”

“Wah, tumben, rajin bener bos ini, pagi-pagi sudah datang!” sela Ridwan seraya

menggerakkan dagu.

Aku menoleh ke arah gerakan dagu Ridwan. Sekitar sepuluh meter dari kami tampak seorang pria berambut cepak, berkacamata redup, berbadan tegap dan berkemeja safari tengah duduk di motor besarnya.

“Siapa, Wan?”

“Kepala keamanan sini.”


***


Matahari agak miring dari poros atap bangunan penjara kota di depan sebuah warung bakso – tempat aku mengaso sejenak. Angin laut menggoyang-goyangkan dedaunan, meratakan hawa panas di luar, menghangatkan kulit orang-orang yang telah tersiram panas sinar matahari di jalan. Kuteguk es parutku, supaya tenggorokanku segar kembali. Sedap.
Sambil menunggu kesegaranku pulih dan mengingat-ingat pertemuanku dengan Ridwan tadi pagi, kubuka kembali koranku. Aku penasaran pada headnews koran lokal hari ini. Kulihat lagi judulnya, “Penyelundupan Terjadi Lagi !” dan lead-nya. Tapi sayangnya berita tersebut tidak dibarengi dengan foto aksi-aksi penyelundupan. Mungkin Ridwan menyimpannya dalam kamera digital. Ya sudah, aku baca apa adanya saja.
Rembulan telah bersiap-siap undur dari tahta angkasa. Bintang gemintang masih setia menghiasi layar kelam. Udara laut semakin menggigilkan pepohonan kelapa dan perahu-perahu tak bertuan. Orang-orang semakin menaikkan selimut di ranjang mereka. Serangga-serangga hutan menggerutu sejak semalam. Ayam-ayam jantan belum juga terjaga. Namun di jalan aspal mulus menuju pelabuhan baru, lima belas truk berderet-deret dengan laju tidak terlalu kencang. Pada bak belakang truk-truk itu terbungkus terpal legam. Deru mesinnya halus, tak menembus dinding-dinding rumah penduduk di tepi-tepi jalan yang dilewatinya.

Menjelang gerbang pelabuhan baru, truk terdepan menghidupkan lampu sign belok kiri. Truk berikutnya menghidupkan lampu sign serupa. Tidak ada geram suara mesin atau derit suara rem, kecuali sayup-sayup terdengar suara gelisah gelombang nun di tengah laut. Delapan orang berambut cepak dan berbadan tegap berdiri siaga di sekitar gerbang. Dua orang lainnya memberi aba-aba pada pergerakan truk-truk itu. Kemudian truk-truk itu masuk ke pelabuhan baru dengan tertib. Di belakang truk paling belakang berdiri empat pria berambut cepak dan berbadan kekar. Senapan M 16 bergelayut di punggung mereka. Sempat terdengar gongongan anjing, tapi sekejap lenyap.
Satu per satu truk menuju jembatan dermaga yang telah ditunggui sebuah kapal barang. Truk terdepan berhenti. Beberapa orang segera bergerak. Terpal dibuka, dan mereka membongkar muatan. Mobil pengangkut langsung menjemput barang. Peti kemas tampak berat dibopong mobil pengangkut itu menuju kapal. Dan… bersambung ke hal.11.
Cepat kubuka halaman lanjutan. Kubaca baik-baik sembari sesekali menyeruput esku. “Aku tidak melihat, tidak mendengar apa-apa,” tutur seorang penduduk yang bermukim di sekitar pelabuhan baru itu ketika wartawan menanyakan apakah sebelum subuh ia melihat atau mendengar sesuatu di jalan depan rumahnya dan di depan gerbang pelabuhan.

Bohong aaah, gumamku. Paling-paling demi keselamatan diri dan keluarganya. Mustahil dia tidak mendengar suara-suara kendaraan dan sedikit gonggongan anjing.
Dan kulihat pula textbox di bawah, tertera judul, “Saya Belum Mendengar Berita Penyelundupan itu”, dan terpajang foto pejabat nomor satu di daerah ini. Pada textbox lainnya seorang kepala aparat keamanan setempat berkata, “Saya tidak tahu-menahu. Saya akan tanyakan kepada anak buah saya.”

***

Angin laut berdesis-desis di liang telingaku. Senja kian rebah di balik tanjung. Lampu-lampu mercuri di sepanjang jembatan dermaga telah menyala. Kerlap-kerlip lampu kapal-kapal membintiki panorama laut kelabu. Azan magrib mulai memanggil-manggil umat-Nya. Anak-anak, remaja-remaji, om-tante, dan bapak-ibu sudah meninggalkan bibir beton pinggir darat yang membatasi terjangan air laut. Tinggal beberapa pasang muda-mudi yang masih riang bercengkerama, termasuk aku sendirian di sadel motor bebek.

Iseng-iseng kukirim sms ke nomor handphone Ridwan, bahwa aku akan menuju rumahnya sekarang. Setelah tercetak “pesan tak tersampaikan”, aku menunggu sebentar. Kumasukkan handphone-ku ke saku atas jaketku, dan tak lupa kumatikan suaranya (aku malu mendengar riuhnya dering handphone-ku). Angin laut terus mendesis di liang telingaku seiring menit-menit melaju. Kurogoh kembali handphone-ku, berharap pesan sudah sampai. Mungkin aku tidak merasakan getaran handphone-ku gara-gara aku terlalu menikmati pesona alam dermaga. Kulihat layar monitor. Tidak ada pesan balasan atau “pesan telah sampai”.

Aku penasaran. Segera kutekan tuts panggilan, berikutnya kutempelkan handphone-ku ke telinga. Di ujung sana Nona Veronika menjawab, “Anda terhubung…”
Lho, ke mana dia? Oh, mungkin masih bersholat magrib.

Kuhidupkan motor bebekku, langsung bergegas meninggalkan tempat itu. Sebelum tiba di perempatan jalan pasar daging dan ikan, handphone-ku bergetar. Getaran khusus untuk sms. Langsung kurem motorku, dan berhenti di depan sebuah lapak kosong. Tak pelak bau amis menyerbu lubang hidungku. Kurogoh saku jaketku untuk mengambil handphone-ku. Kulihat pada layar monitor. “Pesan sudah sampai”. Sip!
Kujalankan lagi motorku menuju jalan keluar area komersial itu. Namun ketika aku sampai di jembatan kecil (di bawahnya mengalir sungai kecil menuju laut), handphone-ku bergetar satu kali. Pasti sms balesan, pikirku.

Aku sedikit kaget sewaktu kulihat sebuah nomor baru yang belum pernah kusimpan. Siapa ya? Ada berita penting? Atau, ada yang ngerjain? Secepatnya kubuka.
Ji, ni rdwan. Sori, aq smbnyi dulu. Situasi gwt gr2 brta kss pnyldupan hsl tmbg di plbhn br itu. Aq dicr preman. Bini-anakq jg ngungsi. Sms ni lngsung kauhps aja. Bye.
Dicari preman? Koran hari ini menuliskan bahwa pejabat nomor satu di kota ini menyuruh aparatnya melakukan pengusutan dan tindakan tegas. Tapi kenapa Ridwan harus sembunyi? Kenapa dia tidak minta perlindungan pejabat itu? Ada apa ini?

***

Seperti beberapa pagi lampau, aku kembali berada di dermaga itu. Aku semakin menikmati kegiatan pembuka hari semacam ini, termasuk membuktikan keindahan lukisan senja kemarin. Minum kopi lokal, makan empek-empek, mendengar dan merasakan bisikan angin laut, memandang suasana dermaga penumpang dan nelayan berlatar mercu suar di ujung sana. Baru kali ini aku mengalami suasana dermaga begini nyata seumur hidupku. Aku sungguh berterima kasih kepada keluarga Pak Silvester yang telah memberi tumpangan dan pinjaman kendaraannya sehingga aku bisa leluasa menikmati pemandangan khas di wilayah Kota Dermaga ini.

Kubuka ranselku. Lalu kuambil buku agenda kegiatanku untuk kupastikan kembali, data-data apa saja yang sudah terkumpul, dan yang akan aku cari pada agenda hari ini. Ada beberapa bangunan tua yang harus kukunjungi, kudokumentasikan, kutulis beberapa hal yang kontekstual, dan kuperkirakan bahwa bangunan-bangunan itu merupakan artefak penting sebagai bagian dari cagar budaya di wilayah ini. Rasa-rasanya pikiranku begitu penuh dengan fakta menakjubkan dari sebuah kota tua.
Tapi di mana Ridwan? Ah, mudah-mudahan sampai akhir masa tugas kepenulisanku di sini kelak aku masih bisa ketemu dia, pikirku.

Ketika aku sedang asyik mencoreti kegiatan-kegiatan yang sudah kulakukan, ekor mataku menangkap beberapa sosok pria yang berjalan tegak di jalan dermaga. Angin laut tiba-tiba berdesing di liang telingaku. Sontak aku melirik ke arah mereka. Lima orang pria bertubuh kekar dibalut kaos oblong ketat warna hijau tua, bercelana jins ketat warna biru tua, dan bersepatu kulit warna hitam. Langkah mereka agak tergesa-gesa.
Wah seperti di film-film aja, pikirku. Kuputar arah dudukku, menghadap ke jalan di depan warung kaki lima ini. Kemudian kuatur posisiku sebaik-baiknya untuk dapat melihat apa yang bakal terjadi di sini. Seseorang dari mereka menoleh ke arahku sekilas, lalu pandangannya menyapu situasi di sekitarku sambil mengatakan sesuatu seperti berbisik kepada rekannya. Serta-merta wajah rekannya mengarah padaku tapi sekilas, lantas pura-pura tenang. Kemudian bibirnya bergerak. Rekan-rekannya langsung mengambil sikap siaga. Angin laut berdesis-desis di liang telingaku.
Mendadak kelima pria itu berlari ke arahku dengan gerakan berpencar.

“Itu kawannya! Kejar!”

“Tangkap!”

Gawat!

Sontak aku bangkit dari dudukku. Buku agendaku terjatuh, namun aku tak punya waktu untuk mengambilnya. Jarak antara aku dan kelima pria itu hanya sekitar tiga puluh meter. Pandangan orang-orang di sekitar dermaga langsung mengarah padaku. Aku tidak sempat bicara banyak dengan pemilik warung untuk membayar, kecuali bilang, “Sorry, Bu, kelak kubayar.” Segera aku lari menuju motor bebekku tanpa menunggu jawabannya.
“Maling! Maliiiing!”

Mati aku! Bangsat! Mereka berteriak begitu! Fitnah apa ini!

“Ingat-ingat nomor motornya!”

Segera kuhidupkan motor bebek pinjamanku, lantas langsung tancap gas menuju jalan yang berbelok ke sebelah kiri. Orang-orang berlarian mengejarku.

\

***

Sungailiat,
Juli-September 2004