Tatapan Mata Isye

Cerpen: Agus Husni

Sumber: Republika, Edisi 08/27/2006

Dia ABG, anak baru gede. Usianya menjelang 19 tahun. Berambut panjang, bermata besar indah, dan berkulit hitam manis. Laki-laki tua itu mengenalnya di sebuah restoran siap saji yang baru saja dibuka di kota itu.

Di usianya menjelang tujuh puluh, laki-laki itu hidup sendiri. Dia hidup dari uang pensiun dan kiriman anak-anaknya yang sesekali datang ke rumah tua itu. Tapi setelah mereka pulang, ia kembali didera kesepian. Dia hanya bisa memandang foto-foto masa kecil anak-anaknya, cucu-cucunya, dan almarhum istrinya ketika mengandung anak pertama mereka.

Perkenalannya dengan si ABG yang dia belum tahu namanya itu terjadi begitu saja. Setelah pertemuan pertama itu, dia menjadi lebih sering makan di sana. Bukan hanya karena masakannya yang pas buat selera tuanya dan harganya relatif murah, tetapi lebih disebabkan karena si ABG itu. Entah. Ada sesuatu dalam diri gadis itu.

“Boleh saya kenalan,” tanya laki-laki itu suatu hari setelah memesan menu favoritnya,steak ayam dengan kentang rebus dan segelas lemon tea tanpa gula. “Siapa takut. Pertama tanya nama, lalu alamat. Lalu?” gadis itu terdiam sebentar, “sudah ada yang punya belum. Ya, kan?.”

Aliran darah naik ke wajahnya. Dia sebenarnya tidak hanya ingin menanyakan nama gadis tersebut. Dia ingin memperoleh lebih banyak. Ia ingin menjadikannya sesuatu, seperti teman berceritera, atau berbagi perasaan. Tapi, apa pantas gadis itu dijadikan temannya. Laki-laki itu ragu. Dia jengah. Dunia mereka sudah seperti bumi dan langit. Gadis itu mungkin tak tahu ada jenis lagu yang disebut keroncong. Generasinya cuma kenal Raja, Ratu, Sheila on Seven, Samsons, Peterpan, Westlife, dan Same Same.

“Ya.” Cuma itu akhirnya yang keluar dari mulut laki-laki itu dengan susah payah sambil membayar pesanannya. Ia masih menungggu sesuatu yang belum keluar dari mulut si gadis. Hanya sebuah nama, sebuah langkah awal untuk menapaktilasi lembaran lain dari bukunya yang sudah tua.

“Isye,” kata si gadis tepat saat laki-laki tua itu hendak berbalik menuju tempat duduknya di rumah makan itu. “Isye. Manis.” Laki-laki itu duduk dan langsung menyantap makanannya. Ujung matanya terus memperhatikan Isye yang melayani tamu-tamu lain bersama teman-temannya.

Laki-laki itu menghabiskan potongan terakhir steak ayamnya. Dia beranjak dari restoran sambil melirik sekali lagi ke arah Isye yang ternyata juga tengah memperhatikannya. Pandangan pertama itu seperti sebuah magnit penuh misteri yang mempersatukan mereka. Saling melekat. Laki-laki tua itu merasakan suatu naluri purba yang telah terpendam lama kini berangsur-angsur muncul kembali ke permukaan lewat mata gadis itu. Bening seperti titik embun terakhir menjelang datangnya matahari pagi.

“Matamu bagus. Aku senang melihatnya. Aku berada di dalamnya.” “Sejak lama kau memang sudah berada di sana. Aku merasakan itu,” kata almarhum istrinya.Kanker jahat telah merenggut nyawa istrinya. Ia menghembuskan nafas terahir di pangkuannya. Mata itu perlahan-lahan meredup seperti sebuah lilin yang telah selesai bertugas memberikan cahaya bagi jalan hidup mereka. Sejak saat itu laki-laki itu kehilangan cahaya. Mata istrinya telah membawa cahayanya kembali ke surga.

Mata Isye kini memancarkan kembali cahaya itu. Meski samar-samar, laki-laki itu merasakan adanya denyut yang begitu halus di hatinya seperti yang pernah dirasakan saat ia mulai jatuh cinta pada almarhum istrinya. Dia ragu. Mungkinkah? Dia berusaha melupakan pertemuan pertamanya. Isye ditumpuk jadi masa lalunya. Ia meletakkan bayang-bayang Isye di bagian paling bawah lalu ditempatkannya di relung paling gelap dalam sudut hati dan pikirannya. Ia tidak mau lagi mengingat gadis itu.

Minggu-minggu pertama usahanya cukup berhasil. Kesibukannya semakin ditingkatkan hanya untuk melupakan Isye. Namun, setelah hampir sebulan ia menekan perasaannya, tumpukkan masa lalunya itu makin ingin dilihat. Bayangan Isye terus meronta dari kegelapan hatinya. Laki-laki itu tak kuasa lagi menahan perasaannya. Dari paling bawah, ia memindahkan bayangan Isye ke permukaan. Tapi laki-laki itu malah bingung. Malam hari ia mencoba tahajud. Mengadukan kegalauannya pada Sang Maha Pemilik Hati Manusia. Laki-laki itu merintih. Dia tidak percaya akan apa yang dirasakannya. “Gusti, apakah aku jatuh cinta lagi?”

Tuhan memberikan jawabannya dengan sangat samar. Laki-laki itu kembali mendatangi restoran setelah usahanya melupakan gadis itu menjadi berantakan. Ia ingin melihat Isye. Ia ingin menanyakan dirinya tentang perasaannya yang selama ini menghantuinya siang malam. Isye tidak melihatnya ketika ia memasuki pintu restoran. Gadis itu tengah sibuk melayani tamu. Baru ketika ia maju hendak memesan makanan, Isye melihatnya. Seakan-akan dia tidak percaya bertemu lagi dengan laki-laki itu. “Kemana saja.”
“Tidak ke mana-mana.”
“Kok, jarang makan.”
“Eeeh, lagi bosan makan di sini.”
“Bosan sama Isye, kali.”
Laki-laki itu tak menanggapi komentar Isye. Dia hanya memandanginya. Mencoba mencari jawaban yang diberikan Tuhan kepadanya. “Pulang jam berapa. Nanti saya jemput. Boleh?” tanyanya setelah Isye memperingatkan ada tamu lain yang memerlukan pelayanan. Isye mengangguk.

Sore itu mereka berjalan berdua. Menyusuri trotoar yang sudah ambrol di sana-sini dan dipenuhi pedagang kaki lima. Sepanjang perjalanan, mereka hanya membisu. Tak sepatahpun kata keluar dari mulut laki-laki itu. Isye juga diam. Ingin rasanya ia memegang tangan Isye dan merasakan kelembutannya. Membelai-belai rambut Isye seperti yang selalu dilakukannya terhadap almarhum istrinya saat mereka berjalan seperti ini. Tapi sesuatu menahannya. Tangannya yang sudah akan membelai rambut itu berhenti di tengah jalan. Nafasnya memburu. Tangannya berkeringat dan lunglai.

Dalam kebisuan mereka terus berjalan. Debu beterbangan. Bulan mulai bertengger di atas langit yang kotor. Mereka baru sadar ketika sampai di tikungan ke arah rumah Isye. Keduanya terkejut. Sebenarnya banyak yang ingin ia katakan. Seperti selamat tinggal, sampai berjumpa lagi esok, kau manis, aku sayang padamu, aku sebenarnya cinta padamu. Tapi laki-laki itu merasakan bibirnya seperti digantungi oleh ribuan beban yang sangat berat. “Isye.”
“Ya.”

Hanya itu. Waktu terasa berjalan amat lamban. Kebisingan suara lalu lalang kendaraan tak lagi terdengar. Yang terdengar hanya suara hati mereka. Suara yang keluar dari relung paling dalam, dari relung yang hanya diketahui oleh Tuhan yang menciptakannya.

Mereka berpisah. Terasa berat. Isye berbelok ke arah rumahnya diantar oleh pandangan laki-laki tua itu. Kemudian kesunyian kembali mendekapnya. Pertemuan demi pertemuan terus berlanjut. Kadang usai kerja atau pada hari-hari libur. Dari hari kehari keduanya merasa jauh lebih dekat. Laki-laki tua itu tak bisa membantah, ia bukan sekadar teman Isye. Gadis itu telah mencerahkan kehidupannya kembali. Selama mereka bertemu, tak sedikitpun laki-laki itu berani menyentuh Isye. Kadang-kadang memang timbul keinginan untuk membelai gadis itu, atau menciumnya. Hanya entah mengapa, pertemuan-pertemuan itu dirasakan jauh lebih indah jika tanpa sentuhan. Sentuhan hati mereka jauh lebih bermakna dari sentuhan badaniah.

Perhelatan dibuat sederhana. Janur menjuntai di kiri-kanan pintu masuk rumahnya. Para tamu berdatangan. “Aku nikahkan, kau, Rahadi binti Pramono, dengan Isye binti Markodi, dengan mas kawin seperangkat alat shalat, sebuah kalung emas 15 gram. Dibayar tunai.”

Kamar pengantinnya dihias mirip saat laki-laki itu memasuki gerbang malam pertama bersama almarhum istrinya. Seprei yang dipakai juga seprei lama. Dasar putih dengan hiasan bunga ungu kecil-kecil. Masih bagus, karena mereka menyimpannya dengan sangat hati-hati. Harum daun pandannya samar-samar masih terasa.

Isye naik ke tempat tidur. Laki-laki itu mengikutinya. Ia membelai rambut lalu wajah Isye dengan penuh kelembutan. Bayang-bayang istrinya terpantul di mata Isye. Ia mengusap mata hitam bening itu. Lalu mengecupnya. Tapi mata itu berubah menjadi kehijauan. Indah dan lucu. Mata itu menatapnya dengan sangat marah. Mata itu memaki-makinya. Mata seekor kucing.

Laki-laki itu bangun dari tempat tidurnya dengan tubuh penuh keringat. Kucing? Ya, kucing. Kata-kata yang selalu dilontarkan istrinya saat ia marah atau jengkel pada sesuatu. “Kucing, kau!” Mimpi itu mengembalikan ingatannya dari labirin yang membingungkan. Istrinya menagih janjinya untuk tidak menikah lagi setelah ia meningggal dunia. Ia memang mengucapkan sumpahnya saat wanita itu masih hidup dan di atas makamnya. Istrinya telah memberikan segalanya saat ia masih hidup. Cinta yang tulus, ranjang yang hangat, dan dapur yang sedap. Ia tiba-tiba merasa dihimpit perasaan berdosa.

Ia turun dari ranjangnya dan mengambil wudhu. Dalam keheningan malam ia berdoa dan meminta meminta maaf kepada almarhum istrinya. Ia meminta maaf kepada dirinya sendiri. Dan ia meminta maaf kepada Isye. “Tuhan, berikan aku jalan terbaikMu.” Malam membawa doa itu ke atas arasy dan menyampaikannya kepada Sang Maha Pencipta.

Tuhan memberikan jawaban atas doa laki-laki itu. Isye mendengar kabar itu dari pengeras suara mushala dekat rumahnya dengan rasa tidak percaya. Ia setengah berlari menuju rumah laki-laki tua itu. Langkahnya terhenti. Ada bendera kuning di pintu masuk rumah itu. Isye masuk dan berdesakan dengan orang lain yang hendak memberikan doa terakhir untuk laki-laki tua itu. Ia membuka kerudung putih yang menutupi wajah laki-laki yang telah terbaring kaku. Wajah yang baru dikenalnya itu seolah tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Isye mencium kening jenazah laki-laki tua itu dan ia mulai menangis. Dia berdoa dengan seluruh hatinya.

Doa Isye didengar laki-laki tua itu. Dia menatap gadis itu. Dia ingin merangkul Isye, ingin mencium rambut dan matanya yang indah. Tapi sebuah cahaya yang begitu cemerlang dan sejuk telah menantinya di atas. Ia melayang menghampiri cahaya itu. Almarhum istrinya menantinya di sana. Ia merentangkan ke dua tangannya, menyambutnya dalam pelukan kasih sayangnya. “Kau kembali, sayang. Kita akhirnya bersatu lagi.” Istrinya memberikan cahaya itu kembali kepadanya.***

Untuk anakku Alia dan cucuku Alifa. Aku mencintai keduanya.