Rumah Sungai

Cerpen Afri Meldam (10 Agustus 2008)

Rumah kami terletak persis di pinggiran sungai Batang Sumpu. Hingga, setiap kali musim hujan datang, kami selalu dicekam rasa takut kalau-kalau air sungai meluap mencapai rumah atau arus air yang begitu deras menyimpang ke bantaran dan melanda rumah kayu kami. Tidurku sering tak tenang jika memikirkan kemungkinan marabahaya air sungai yang tengah mengintai.
Di musim penghujan seperti sekarang, air sungai Batang Sumpu yang mengalir di belakang rumah kami memang sering meluap. Tak jarang, lambaian air mencapai tonggak kayu yang menopang rumah bagian belakang –tempat Abak biasa menghabiskan petang hari sambil menghisap rokok daun enaunya. Tapi, menurut cerita Abak1, air sungai paling banter hanya akan mencapai sepertiga bagian bawah tonggak rumah, dan itu sudah berlangsung sejak lama. Aku tak tahu apakah Abak berkata benar atau tidak, yang jelas cerita tersebut setidaknya bisa mengurangi ketakutanku akan bayangan air bah yang tiba-tiba mengamuk dan menelan rumah kami – sesuatu yang sering terbayang dalam mimpi-mimpi masa kecilku.
Ya, rasa takut akan datangnya banjir besar memang hanya datang pada malam hari; hadir sebagai hantu kecil yang mengusik waktu tidur. Karena, begitu siang tiba, kami justru senang melihat aliran sungai berwarna kuning kecoklatan itu meluap hingga melampaui tepian tempat kami mandi. Meski Abak melarang kami bermain di pinggiran sungai ketika musim penghujan, tapi kami, anak-anak Abak, tak terlalu hirau dengan larangan beliau. Begitu ia lengah, atau kebetulan sedang tak di rumah, maka kami akan segera menghambur ke tepian sungai dengan sorak-sorai kegembiraan.
Dunia kanak-kanak memang dunia bermain. Ada-ada saja permainan yang kami citakan dalam rinai gerimis di pinggiran sungai yang meluap. Kalau tak main kejar-kejaran, maka kami akan bermain pasir, membikin istana-istana impian atau bola-bola pasir yang kemudian kami adu di sebuah cekungan tanah yang sengaja dibuat untuk itu. Di lain waktu, kami akan membawa tangguak2 atau tapi santan3 untuk menangkap ikan-ikan kecil atau udang yang biasanya menepi di waktu air sungai tengah pasang. Jika mujur, ikan-ikan yang kami dapat bisa mencapai puluhan ekor – dan itu akan menjadi semacam ‘tiket penutup mulut’ dari kami pada Abak, jika misalnya kami tertangkap basah tengah bermain di pinggiran sungai.
Meskipun demikian, Abak tetap tak akan pernah mengizinkan kami bermain di pinggiran sungai tanpa ada orang dewasa yang menemani. Dan aku maklum dengan hal itu. Mungkin saja Abak tak mau kami bernasib sama dengan Ulin, teman SD-ku yang beberapa tahun lalu hanyut terbawa arus sungai yang deras. Menurut cerita orang-orang, Ulin hanyut karena terlindas sebatang kayu besar yang hanyut dari hulu. Ngeri rasanya membayangkan tubuh kecil temanku itu dihantam sebatang kayu besar, lalu diseret arus deras ke tengah sungai, yang kemudian menghanyutkannya hingga meregang nyawa. Abak tentu tak ingin hal serupa terjadi pada kami, anak-anaknya.
“Berapa kali Abak harus bilang pada kalian, jangan main di tepi sungai saat air sedang pasang! Lihat! Bagaimana kalau seandainya kalian dihantam batang kayu-batang kayu itu?! Siapa yang akan menolong kalian? Tak ada! Kalian akan terseret hanyut hingga maut menjemput!” bentak Abak pada kami suatu ketika, begitu ia mendapati kami tengah bermain pasir di pinggiran sungai saat ia baru pulang dari ladang. “Kau, Mayang, sebagai kakak seharusnya memberikan contoh yang baik pada adik-adikmu, bukannya membawa mereka bermain tak tentu ujung seperti itu! Apa kau ingin kau dan adik-adikmu berkubur di singai?” Abak memberangiku dengan muka memerah.
Aku sebenarnya tahu akan marabahaya yang bisa datang kapan saja ketika kami bermain di pinggiran sungai yang tengah meluap. Para pembalak liar di hulu sungai biasanya membiarkan gelondongan-gelondongan kayu batangan yang tak bisa dibikin menjadi balok atau papan yang tak terhitung jumlahnya, tergeletak-bergelimpangan begitu saja di sepanjang sungai. Kayu-kayu batangan itulah yang pada musim hujan sering menyebabkan arus sungai menyimpang dan menyebabkan air bah. Pernah kami iseng menghitung jumah kayu batangan yang hanyut bersama arus sungai. Namun, karena saking banyaknya, kami jadi tak sanggup unmtuk menghitungnya.
Terkadang, ada batangan kayu yang tersangkut di bebatuan di tepian kami mandi. Ketika air sungai menyusut, Abak biasanya segera membelah gelondongan kayu itu menjadi potongan kecil-kecil untuk dijadikan kayu bakar. Ini meringankan pekerjaanku untuk mencari kayu bakar, yang memang sukar didapat pada saat musim penghujan. Sebab, kayu karet atau sungkai yang biasa kami gunakan untuk kayu bakar, tak banyak merapuh dan kering. Kayu gelondongan yang tersangkut itu tentu sangat menyenangkan hatiku.
Hal lain yang membuatku senang saat siang di musim penghujan yang membuat air sungai meruah adalah menemani Abak menjala di sepanjang bantaran sungai yang diluapi air. Abak hanya memperbolehkan aku seorang yang ikut menemaninya pergi agak ke hilir untuk menemaninya menangkap ikan. Puti dan Zaki biasanya akan dititipkan Abak di rumah Etek Jariah, sebelum kami pergi menjala. Bisa kulihat dari sorot mata keduanya betapa mereka sangat ingin ikut menjala bersama Abak. Tapi, walau bagaimanapun, mereka masih kecil-kecil. Hanya aku yang sudah cukup bisa dipercaya Abak menemaninya pergi menjala di waktu air pasang.
Tak hanya kami, banyak yang juga menjala pada saat sungai Batang Sumpu meluap. Tapi, Abak adalah seorang penjala yang andal. Hasil tangkapan Abak biasanya melebihi tangkapan yang lain. Untuk itu, selain kampigh pandan4 yang tergantung di pinggangnya, Abak biasanya akan menyuruhku juga membawa wadah lain untuk membawa ikan jika seandainya ikan yang didapat tak muat lagi dalam kampigh pandannya. Meski Abak hanya menyuruhku membawa sebuah kantong plastik ukuran menengah, tapi aku lebih senang membawa cerek aluminuim. Sebelum pergi, cerek itu biasanya kuisi terlebih dahulu dengan air bersih untuk kemudian memasukkan ikan-ikan kecil yang masih hidup ke dalamnya. Walau harus bersusah payah, aku tetap membawa cerek itu sembari mengikuti Abak. Puti dan Zaki sangat senang bermain dengan ikan dalam cerek itu ketika pulangnya aku memperlihatkannya pada mereka.
Ikan yang didapat Abak saat sungai tengah meluap memang banyak yang kecil-kecil. Tapi, tak jarang pula ada beberapa ikan besar yang menyangku di jala Abak. Dan, jika seandainya ikan besar itu tak bisa ia lepaskan dari mata jala dengan sebelah tangan, biasanya Abak membawanya ke pinggiran sungai dan memintaku untuk menolongnya. Aku sangat senang dengan pekerjaan yang satu ini. Karena sudah terbiasa, maka aku bisa melepaskan ikan dari mata jala dengan cekatan. Abak pun juga telah mengajariku bagaimana mematahkan kepala ikan dan cara menariknya dari mata jala. Aku sudah bisa dibilang cukup katam dalam hal tersebut.
Tak lama menjala biasanya ikan yang kami dapat sudah banyak. Jika kampigh yang dibawa Abak dan cerek yang kubawa sudah penuh, maka biasanya kami akan menyisir ke tepian dan berjalan pulang membawa hasil tangkapan kami.
Puti dan Zaki biasanya telah menunggu kami di depan rumah Etek Jariah. Dan, begitu melihat kami, mereka akan berlarian menyusul ke jalan dan memeriksa ikan yang kami dapat hari itu. Mereka akan kian berbinar ketika aku memperlihatkan ikan-ikan kecil yang masih hidup di dalam cerek aluminium.
Sebelum pulang ke rumah, Abak akan merogoh beberapa ekor ikan salimang, kulaghi, atau lailan yang cukup besar dari kampigh-nya dan menyuruh Puti atau Zaki mengantarkannya untuk Etek Jariah.
Tiba di rumah, aku akan membersihkan ikan-ikan itu, sementara Abak akan mengambil beberapa bilah lidi enau yang nantinya akan digunakan untuk menjinjing ikan-ikan yang bakal dijual. Selain dimasak hari itu dan dijual, biasanya ikan-ikan itu kami keringkan, sebagai cadangan lauk di musim sulit.
Kami semua sangat suka ikan bakar, terutama Abak. Ketika Amak5 masih hidup, ialah yang kebagian tugas membakar ikan. Dan, Abak begitu memuji ikan panggang buatan Amak. Katanya,” Tak pernah aku merasakan ikan bakar seenak buatan Amak kalian. Bumbu yang dipakainya sangat pas di lidah. Tak terlalu pedas dan tak terlalu asin. Tapi pas. Daging ikan yang ia bakar pun terasa lebih gurih dan tak pernah gosong.” Kami pun tak bisa memungkiri pujian Abak. Ikan bakar buatan Amak memang tiada tanding.
Tapi, karena tak pernah belajar langsung dari beliau, bakat Amak membuat ikan bakar tak turun padaku. Aku tak tahu pasti bumbu apa saja yang ia pakai untuk membuat ikan bakar yang gurih dan enak seperti bikinannya. Aku hanya belajar dari Etek Jariah. Namun, meski demikian, semua tetap menyukai ikan bakar buatanku.
Makan ikan bakar di saat cuaca dingin di musim penghujan memang sangat nikmat. Apalagi rumah kami terletak di pinggir sungai. Desau air sungai yang menderas membuat selera makan kian bertambah. Jika sudah demikian, selain rinai, hanya akan terdengar decap lidah dan gemeretak tulang ikan dari arah rumah kami di pinggiran sungai Batang Sumpu.
***
Hari ini, di usiaku yang sudah menginjak kepala lima, aku masih tinggal di rumah kami yang terletak persis di bibir sungai Batang Sumpu ini. Aku tinggal sendirian di sini. Hanya kenangan-kenangan keceriaan masa kecil itu yang sesekali membuatku merasa mempunyai teman di rumah ini.
Banyak yang telah berubah. Semuanya telah pergi meninggalkan rumah ini, meninggalkanku. Abak telah lama meninggal. Sementara, Puti telah disunting oleh seorang pemuda Batak dan Zaki pun telah menikah dengan gadis Makasar pujaannya. Mereka pun telah beranak-pinak. Hanya sesekali, ketika mereka pulang bersama anak-anak mereka saat Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha, aku mempunyai teman di rumah ini. Selebihnya hanyalah sunyi dan kenangan akan episode-episode masa kecil yang dulu pernah kami jalani.
Memang, banyak kenangan masa kecil yang menyenangkan. Tapi, keceriaan masa kanak-kanakku pudar oleh sebuah luka yang tak kunjung bisa kusembuhkan hingga sekarang. Ya, malam jahanam itu tak akan pernah bisa kulupakan! Malam yang telah terkutuk! Aku masih ingat ketika malam di musim penghujan itu Abak datang ke bilikku dan menyibak kainku. Dalam keadaan antara masih tidur dan terbangun, aku merasakan hangat napas Abak yang berbau tembakau berhembus di mukaku. Aku tak tahu persis apa yang telah dilakukan Abak padaku malam itu. Yang jelas, esoknya, aku merasakan sakit ketika buang air kecil. Di celanaku, kutemukan ada noda darah yang telah mengering.
Sejak saat itu, aku lebih memilih sepi. Aku tak lagi mempunyai hasrat bermain di pinggiran sungai bersama Puti dan Zaki ketika air sungai Batang Sumpu meluap. Aku lebih senang menyendiri di kamar. Luka yang kurasakan malam itu telah membuatku menjadi orang asing, bahkan bagi diriku sendiri. Dan, itulah kenapa sampai sekarang aku memustuskan untuk tidak – dan tak akan pernah – menerima lamaran dari siapa pun yang datang padaku.
Biarlah aku sendiri di sini. Menyepi di rumah di pinggiran sungai Batang Sumpu ini untuk menyongsong hari tuaku. Aku tak ingin dan tak akan pergi meninggalkan rumah ini. Di rumah ini aku pernah tertawa. Di rumah ini aku pernah menangis. Di sini aku lahir, dan aku ingin di sinilah nanti aku mati. Di sini, di rumah singai ini.n

Padang, 2 Januari 2008