LAGU AIR

–muda wijaya
lagu air jatuh bukanlah lagu hujan turun
dalam badan buluh, ada yang melantun
serupa gaung sepi
dan nganga duri yang bersembunyi di kulit daun
secara rapi. barangkali kau bukanlah kayu sipi
di punggung lembah, tapi nyala api yang kobar
di mata perempuan tua pemanggul batu
(peri mana ini, yang bertamu sampai
ke rumah tujuh ruang, sedang tak satu pun pintu
dibuatkan untuk tak menutup)
kau yang beterbangan, bak kapas bunga padi.
segalanya bersayap dan capung-capung jadi
iri hati dibikinnya. lah, sedangkan perempuan tua itu
kau paksa mengungguk batu
bakal dibikin pemandian lama

lagu air jatuh bukanlah lagu hujan turun
di sebalik karang panjang, ada yang mengelupas
serupa kulit kopi
dan susupan paruh burung pelatuk di tandan pisang
tajam, dalam, pastilah nyansam. kau (peri
yang salah alamat, pintu di sini masih buta. serupa
talang basah, diketuk jadi tegang) diamkanlah
lagu air jatuh, sebab ia rahasia tajam
yang amat masam jernihnya
bila ia jatuh di subuh, seketika bandar masih keruh
maka akan kau dengar sesuara lain melagukan hujan.

dan di saat itulah peri-peri bersembunyi
ke sebalik batu unggukan
sedang air masih tak ada, juga hujan belum tentu kapan
datang bertandang

Kandangpadati, 2008

TALI HUJAN

di hari yang paling pucuk,
tali-tali hujan putus
dan cuaca berupa diam yang paling rahasia

manakala sajak menggulung jadi kepompong
basah di punggung daun
sebuah suara dalam lembut bahasa menggema
dari ladang, dari rangkap musim, dari leburan
gabuk pohon dan urat tanah.

mungkin dirimu,
“sesuatu yang berkarib dengan genangan air,
genangan laju mirip sungai,”
barangkali kau
“sesuatu yang dikutuk
untuk cuma jadi gema ladang”

kaukah seruan liar itu,
bakal membuat tali-tali hujan
menyambung diri dengan genangan air?

barangkali kau cuma seekor kecebong,
atau mungkin kunang-kunang sepi
yang mengetuk tiap pintu pohon
untuk bertamu
dan bertemu kekasihmu

Jalan Tunggang, 2008