Kamar

dunia dalam kamar, dalam retak bohlam
raung jam dinding yang kesepian
buku bergabuk dengan bau kencing tikus.

sepasang mata menanam ketakutannya,
di balik kain sarung yang dipulun ke badan

“di luar, kota memasang kabut. kota berpantai
yang tiap turun hujan garam-garam diendapkan
ke sekujur badan penghuninya”
(hujan perlahan nyisakan sakit yang sungguh!)

dunia dalam kamar, sisa makanan berlengau
dan pinggan penuh puntung puisi,

“bayangan puisi berlari dari pinggan,
ke jalanan,
berlarian sepanjang pantai
ke dermaga,
dalam kuyup melambai-lambai pada laut”

2008

Batang Rabuk

batang rabuk, sekisah badan tumbang di rimba
apa yang jadi nyata, nyatalah seketika jatuh,
tapi yang tumpul tetap belitan akar pencari lega.
nun, di sebuah cadas tempat rumput
tak tumbuh-tumbuh sulurnya. kenakanlah hujan.
pinta cuma sekejap mata yang menghiba-hiba

yang ada makin rabuk, yang jatuh makin nusuk
sesiapa yang berkilah tentang dinginnya kabut
jadi petaka dalam selimut.

beralih, masuk, atau mengendap saja di kediaman
di diam batang-batang lunak yang basah lelumut
sebuah hijau yang akrab dinginnya, oi, tubuh
yang mencari jejak sebuah musabab, tubuh
yang mencari mula dari sebuah ladang tinggi

batang rabuk, kekasih para batu-batu,
tumpangan kumbang kawin di gelitik musim.
batang rabuk, gelantungan anak rama-rama,
saksi berkarib daun-daun lepas tangkai.
tapi adakah tumbang masa yang mengenakkan?
serupa ada yang merumpangkan saja di ini musim

Kandangpadati, 2008


Landai Pantai

mengisahkanmu sama dengan menggambar ladai pantai,
di ujungnya tanah berpasir mengurung kejadian ombak
batang-batang pinus yang kusulap hidup menjatuhkan
bunga-bunganya. penyu menetaskan telur dari tangismu
membuatku gugup untuk mengulang lengkung senja
lihat, ada yang tertikam dari ucapanmu
semacam ketakutan yang menimbulkan isyarat ganjil

berapalamakah selesai kisah barumu?
biar timbul garis-garis baru yang membuatku malu
untuk tidak menyelasaikan gambar pantai landai

aku menumpang diri berkisah, mirip tukang kabar
tapi apakah akan menjadi dalam dirimu?
semisal gulungan ombak tiba-tiba menghelamu
ke tengah laut, lalu cuma rambutmu yang tergerai
menyangkut di antara batang pinus yang tumbang

Kandangpadati, 2008



Induk Angin

ingatan yang terlahir mirip biji bayam, sumpah mencekam
dari bekap rahim dan buntalan perut kembung penuh angin
ia menyembul semenjak tahun penuh hikayat para perompak

“akan kutetak tubuh-tubuh angin yang menyerang indukku!”
dengan paruh tajam dan runcing, diselipkannya
ngilu-ngilu pertempuran abadi di setiap pandangan matanya
mata merah kulit apel. mata yang pandangannya menelusup
lewat jalur angin

“kelak, induk yang rahimnya penuh angin
akan datang dengan membawa bungkahan
tanah ke tubuhku” dengan mata merah ia berharap
lahir untuk kedua kalinya dari rahim yang sama
rahim yang akan menanamnya dalam tanah berbungkah

Kandangpadati, 2007



Dua Perjumpaan

1/
dirimu yang kuabadikan dalam lembar-lembar daun
selepas musim berganti tahun dan jalanan makin lapang.
sebagian ingatan yang dulu terbawa olehmu, sekarang
sampai bersama serak suara basahmu yang makin tertelan
“terlalu cepat atau terlalu lambat aku datang?” pertanyaanmu
bikin aku bingung. sebab aku sudah lama tak hafal waktu
juga hari dan tanggal kedatanganmu di terminal itu.
yang jelas; siang itu kau gantungkan sebuah syal
yang dulu pernah kau renggutkan dari leherku.
juga buku kecil berisi salinan puisi-puisi picisanku

“abadilah cinta, perempuan yang mengendap dalam
butir air mataku, mirip derai hujan. tampunglah.
tampunglah dalam belanga yang selalu menyangkut
di jantungmu” lembar pertama buku itu kau baca
sewaktu kita singgah di sebuah warung, ah, suara itu
suara jauh yang akrab dengan malam-malamku dulu

2/
pikirku kau tidak betah dengan suara-suara jangkrik
lenguh kerbau, bau lumpur sawah di belakang rumahku.
tapi aku punya banyak lukisan mengenaimu
lukisan berkanvas daun-daun yang bertahun kuselesaikan
“kau ingin lukisanmu yang bergaya apa?” kutututup matamu
mata yang pernah membuatku gila. mata yang akhirnya
meninggalkanku pada sebuah tempat yang tak bertuan.
sungguh terlalu tak sepaham kita dulu, aku terlalu
ingin berdamai dengan diri biar tidur di tikar pandan
sedang kau ingin terus dininabobokkan dengan lembut jemari

tentunya tak akan selalu ada waktu untuk terus mengelus-
elus rambutmu yang panjangnya sepinggang. “rambutmu
membuat gairah yang tak tertandingi ingin kuendapkan
malangku ke dalam rimbunnya” akhirnya aku bisa
melelapkanmu lewat puisi tentang rambut

Kandangpadati, 2007

Di Sebalik Rimbun Semak

januari macam bulan tersungkur dalam sungai
hanyut lalu tersangkut urat mati, sepi berdiri,
berlari sampai muara. terhitung juga ini sakit
seumpama beras tanak yang berulat
mana nikmat? apa boleh buat, waktu terus laju
mirip air, mirip bulan yang terhanyut

daun sedang berdiang siang terlihat jelas di mata
berdiang pada terik. apa yang berganti biarlah berganti
macam lumut dan uap yang tiba-tiba saja lengket di kulit.

januari ini bulan tersungkur di sebalik rimbun semak
beberapa unggas mengintip (terbetik bayangan cahaya
terlepas pada sayap) lebah sedang membikin sarang
di gubuk ladang. dan para pegetah rimba sedang termenung
mungkin menerka, di batang kulit manis, apa yang bakal
melekat sore nanti. dan capung senja mulai melintas
kepulangan adalah sebuah batas dari hari yang berganti
siapakah yang ingin mencium bulan tersungkur
di sebalik rimbun semak. bisa-bisa mulut kena miang
atau disayat sembilu ilalang yang berpura diam

2008


Telah Kabut

(di luar, guyuran hujan telah membentuk rimba air)
seingatku kau ingin membentuk rumah kabut, tapi
sepanjang pelarian cuaca tak pernah berkarib
berkali-kali kau mencoba bertanya pada getah yang
kau takik dari batang-batang kering “mana tanah lembab
dengan gumpalan kabut bersayap?” tapi sia-sia,

ini tahun danau menyimpan sakit rumput air, kelepak
ikan, jala cabik dan pendayung patah.
ke mana risau disudutkan?

(di luar, kunang-kunang adalah induk dari malam)
lampu damar itu telah jadi teman gelisahmu
jalan telah terkepung inginmu, yaitu kabut, lihatlah
mirip selimut yang dibentang panjang semalaman
selimut dari bibit air yang menyusupkan ngilu
pada tulang petualang, genapkanlah pencarianmu
kabut sebentar lagi beku dan pecah mendenting
ke telinga. lewatilah aliran itu, sungai yang dibanjiri
cahaya kunang-kunang, sebab teman gelisahmu
sebentar lagi bakal berpaling mata

ini tahun kelok-kelok jalan membentuk banyak simpang
kabut pecah di antara kaki-kaki patah
ke mana alamat ditujukan?

2008

Sehabis Hujan
; Dini RH Butarbutar

capung pulang senja, langit luka di ujung laut
tampaknya ombak memasang garis pada pantai
lenguh itu sampai juga, di nias, pulaumu

padang sehabis hujan telah memasang kabut
pada daun sepanjang jalan sawahan, tepinya,
rumputan seolah berat menyandang bebutir air.
kita sepasang mesra yang menunduk takut
membayangkan sudut jauh, tempat sauh memutus.

di bukit karamuntiang jejak mata masih melekat
tapi jejak itu tak cukup melengkapi rindu
akan pulaumu, akan tanah kelahiranmu.
senja teramat karam bagiku, teramat garam
kita memandangi padang sehabis hujan
dan kendaraan yang merengek lalu-lalang
membikin ruang yang hiruk pada telinga
“perjalanan yang begitu sepi” ucapmu gugu
sepi yang asing, yang menimbulkan sakit
makin menjadi

ke rimba kiranya, capung pulang senja
sehabis menafsir padang dari kejauhan
dan pulaumu, masih saja teramat jauh di mata
cuma lenguh kita yang menyampai, sayup-sayup

Kandangpadati, 2007

Iklan