Nujum Muda


ada yang menjemput pucuk tumbuh dedaunan

seperti jemputan suara kematian

tiupan angin kering dari selatan

bikin ranggas malam bulan sabit

getar semua,

bebatuan ingin muncul dari dasar paling dasar

“kesaksian tak butuh sebilah pisau panjang

cuma malaikat hitam berhak mengutak-atik putaran ingatan”

(gepulan asap dari tungku

penanak nasi telah lain,

kenapa wangi bunga malam

yang tercium?)

nujum muda telah mengawali risau peladang

ingin bergadang

menunggu tumbuh matangnya bebiji kopi

tapi ada yang menanam sakit dalam dingin

sakit yang tak tertahankan

Padang, 2007

Sepasang Bayang

sepasang bayang terhenyak dicucuk kuku hujan

mereka tertegun dan saling memburu nafas

hingga tempias air mengering di kulit muka

–dedaun akasia bertampuk patah terlihat rurut

helai kaku itu jatuh di basah rumput

di halte hijau, aku sebatang kosong yang hilang getah

menafsirkan tibanya angin pantai barat

dengan kulit tergelupas

cuaca tak restu. bulan penghujan datang tergopoh-gopoh

membikin sesak geletang akar yang mencari tanah lunak

senja ini, oh, bulan penghujan memilin rindu angin

sepasang bayang beranjak dari halte pertemuan

menapak jejalanan kecil menuju tikungan ujung

saling berpayung dalam hujan

rumah teduh, 2007

Tafsir Diam

yang hinggap di diammu

aku membayangkan semacam jejak angin

nempel di dedaun rimbun

jejak gaib yang berpaut di helai helai yang meliuk

dan terus menjuntai seolah mengerapai sesuatu

di benakmu entah berdiam kejadian apa

mungkin terisi kota mati dengan pelabuhan tua yang sansai

mungkin jejalan yang reot yang bercabang gang gang sesak

atau juga menghampar leladang luas tanpa sesuara apapun

leladang yang penuh kosong

yang bersetubuh dengan gerakmu

kurasan kelebat sebuah waktu dengan putaran lamban

cuaca yang membuat rapuh siang dan malam

dan pergantian hari yang dipenuhi patahan jarum jam

(ah, berharap aku salah tafsir atas menungmu)

2007

Sudut Simpang

di ingatan, kenangan itu makin berpaut

sepantun singkat yang mengelinding

jadi cerita panjang

tentang kau yang gemetaran duduk

menyudut di ujung sebuah simpang

dan aku cuma pejalan yang setiap kali lewat

renyuh menatap

aku seringkali menciumi tajam asap rokok kretek

ah, wangi tembakau yang membawa ingatanku berbalik

pada sebuah tahun. tahun yang sakit

tahun dengan cuaca yang bikin ngilu seluruh ceruk pori

waktu berpusing-pusing tak jelas

orang-orang tak bisa menjelaskan sebab pergantian jam

segala melingkar berlalu-lalang

dalam sesak yang memecah pandangan

waktu yang seperti pelabuhan

hanya jerit terompet pelayaran yang terdengar

lambaian ratusan tangan merenggut sesuatu dari palung dada

siang begitu cepat melesat ke balik kelambu kamar malam

tahun itu aku hanya bisa mengutuk diri

sebagai seorang gila

yang tak sanggup membaca isyarat kesiur angin

atau deburan ombak

juga tiba-tiba aku merasa renta

tak kuat berjalan mengayun tungkai

kulihat kau masih duduk menyudut

sambil mempermainkan geraian rambut

yang helainya mulai rontok

2007

Lenggok Kopi Siang

berpadu lagi talempong, gendang

dan bansi menekuk gemulai sendinya

aku dipukau lenggok

lenggokmu kutafsirkan seiring tiup kering kopi dingin

mata melayu berkedip bikin desir meninggi ke ubun-ubun

tapi sepi terlanjur berbaju dingin di puisi

seulas bibir basahmu adalah puncak dari tanjung

tempat luas laut kupandang, laut yang bikin karam pepulauan tubuh

O mak, berbasah bibir kau melenggok di kopi siangku

lentikmu kubalas kata, tarimu kubalas puisi

menarilah puisi

kafe sastra, 2007

Pantai Panjang

terpanggang juga malam ini

kelahiran. juga gemintang yang terserak di sulur rambut

nyusup ke ubun-ubunmu

lalu kita seiring menghitung pohon bakau

dalam gelegar ombak pantai pulau panjang

sementara di utara dan selatan

ujung dan pangkal pembuhulan tali nafas

kedipan cahaya saling pantul

berhambur

letupan jantungmu itu lansung mendengungkan bunyi

di gendang telingaku

sontak kita memecah bebutir kecil

sekecil pasir

kita memecah dan menimbang banyaknya buangan waktu

yang terkunyah renyah di tiap hirupan angin

malam cepat terpanggang

dan kita butuh lembah atau kutub bumi

sebagai ruang dingin

malam makin terpanggang, dan kita masih menyepi

di antara gelegar ombak mendebur batu

tak terasa ada yang meninggi

semacam renung atas picingan mata

dan urat-batang bakau melepas di sepanjang pesisir

tercenung kita dalam tipuan sunyi

membiarkan perahu-perahu melepas sauh

dalam jauh

kita mencatat lamun yang tumbuh menjalar di negri laut

di sepanjang pulau berpantai panjang

di jorokan lembah yang mendalam dada

hunian orang-orang gunung

terukaan orang-orang lembah

semakin ragam. perasaian itu tampak dalam lamun

bahkan dari kejauhan pandang igauan juga terpanggang malam

seumpama selaput tergelubik tajam cahaya

selaput yang memohon singgahan dingin–barang sekedip

kita tertipu lamun pantai panjang

Padang, April 2007

Sedaun Sirih

terukaanku menggenap di tumpak rambutmu

helai-helai rurut, kubuhul sepanjang tahun rantau

(sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam)

petuah membikin tembilang untuk lipatan tanganku

kau berdendang tangis lewat sampelong nada minor

ingin berpaut rinduku di gumaman dalam lepau

tapi badan dipagut berbukit-bukit jarak.

usah dekatkan jauh

biar sedaun sirih tak bertampuk kukunyah pengobat demam

rumah-teduh, 2007