—episode pertama

matamu lesat memantulkan cahaya dari balik
tirai kelambu, sedang aku masih sibuk menjaga
malam yang sedang mengambil ancang-ancang
untuk lari dari terali sepi yang baru saja kau bangun
jika benar itu terjadi mungkin tak akan kau
dengar lagi ngiau kucing tetangga di balik pagu
(kucing itu benar-benar brengsek, ia selalu
mengintai semua yang berbau daging, mencurinya
lalu memakannya diam-diam di dalam got lembab
yang ditinggal gerombolan tikus)
kau juga tak akan meributkan lagi soal
kengkengan anjing, suara musang, dan segala
yang bersuara pada jam sepimu

maaf, jika kusengajakan mengintipmu yang
sedang sibuk menghitung manik-manik kelambu
tempat tidurmu (yang katamu perumpamaan
bintang langit) agar kau mengerti tentang
perhitungan tanggal dan bulan, tentang rasi, dan
jalur-jalur angin. sebab kau ingin memandu sebuah
pelayaran yang akan memakan waktu yang lama
“tentunya aku harus hafal segalanya mengenai
pertunjukan langit, sebab aku segera menjadi
seorang juru tunjuk.” kau bicara pada suara tetes
air dari bak mandi yang sayup-sampai ke telingamu

—episode dua

hitunganmu pada manik kelambu tidur terhenti
sebab seseorang lelaki tua memakai peci hitam
mengetuk pintu. entah itu siapa, ia membawa
buntalan seperti karung beras yang masih berisi
sedikit. “sudah malam, kau seorang garin kan?
tapi sungguh tak tahu aturan!” aku terperanjat
di balik jendela mendengar kau menghardik
lelaki tua yang tergopoh-gopoh lari sambil berkata

“kau pastinya mencari sepi, sudah larut tapi masih
saja berjaga. pastinya kau mencari sepi, pastinya.
sedang aku memberikan sepi pada orang-orang,
mirip sepi ruang dalam sebuah karung.”

lalu kau melambaikan tangan seraya ingin
memanggil orang itu lagi sebab ucapannya
mengandung isyarat yang sedang kau cari
maknanya

—episode tiga

rambut panjangmu tergerai menyisakan sesal
malam masih saja ingin mencoba lari dari
terali sepi yang kau bangun

aku terus memperhatikan gerak-gerikmu
terus dan terus dari balik tirai kelambu
sambil bertanya pada diriku sendiri: kenapa
kau tidak berkaca saja, sambil mencari kutu, lalu
bersahutan dengan makhluk
kecil yang tidak kau perdulikan keberadaanya di
kepalamu itu—ia yang secara diam telah mencuri
darahmu

—episode empat

aku selalu tahu niatmu yang ingin berlayar
mengarungi samudra jauh . layaknya seorang
laksamana yang selalu diceritakan para tetua

tapi selalu kau digelak-tawakan teman-teman
sebaya yang mengatakan, kau jantan apa betina?

pastinya ucapan itu yang selalu kau ingat
hingga kau jadi seperti ini, tak bisa berpicing
mata untuk tidur, tapi hanya
berguling-guling tak karuan sambil menggigit
selimut dingin dari kulit domba persia

—episode lima

lamunanmu seperti ingin memangsa malam saja.
sesalmu pada seorang tua yang tengah malam
pernah mengunjungimu (mungkin ia sekedar
meminta segenggam beras untuk anak yatim atau
untuk biaya pembangunan surau) membuat bulu
kudukmu merinding

sebab kau ingat sesuatu mengenai sepi yang
selalu saja kau cari maknanya dan tentunya ia
memilikinya

mungkin dalam buntalan karungnya, atau masih
dalam ucapannya yang mengandung petuah purba
menyerupai tuah si pengelana sepi. ah, barangkali
saja orang tua itu sedang bergurau, atau ia sedang
menakutimu dengan berlagak gaya garin agar kau
memberinya segenggam beras lalu ia akan berkata
: tertipu kau!

—episode akhir

sebab kau si perempuan pemanggul sepi yang
bakal jadi juru tunjuk dari sebuah pelayaran
kau si pemanggul sepi yang iri pada arah angin
dan segala yang berada di langit ingin kau
kuasai dengan mengibaratkan manik-manik
kelambu tidurmu sebagai perumpamaan rasi
bintang dan jalur angin. agar kau terkurung
dalam sebuah perhitungan sepi yang teramat

sebab itulah aku selalu memperhatikanmu dari
balik jendela kamar tidurmu. agar malam tak
mencoba lari meninggalkan terali sepi yang
susah payah kau bangun dan kau rawat dengan
matamu yang mulai terlihat memantulkan kerlip
cahaya langit

kandangpadati, 2008