di jerat kayu-kayu, jerat yang menjebak, kau dikepung hujan

tubuhmu susup serupa siput ke lekuk batang meranti tua yang ditanam

orang tanjung karang (meranti itu ditanam sejak jaman biduk

berdayung) dalam hujan kau mendemam, sebuah urat besar meyumbul

dari basah tanah, urat yang merasukimu diam-diam hingga

kau terpelanting ke sebuah badan jalan yang serasa kau ingat.

“tapi ini dingin teramat menyansam!” barangkali itu cuma geletar bibirmu

sebab jerat kayu-kayu

berupa jebak yang ngeri.

badan jalan itu; yang ujungnya bercabang, sebuah pondok

dibangun para penggetah burung rimba; sebab cabang adalah

bingung, dan rimba menjelma ribuan pohon

yang diasingkan kabut. mungkin

ke sebuah lembah, ngarai, atau barangkali di balik lelapis bukit yang

menyimpan rahasia burung-burung.

ah, kau yang dijerat kayu-kayu, jerat yang

menjebak. kini kisahmu telah diceritakan dari semenanjung ke

semenanjung.

lalu kau bermunajad dalam dingin,

“agar sepasang sayap dihadiahkan buat hujan,

beranjaklah ke sudut lain, ke tanah yang merbak bau segala rempah”

kau, yang dijerat kayu-kayu, yang terpelanting ke sebuah jalan

dengan secabang bingung. agar suatu kali dalam hujan kau bersua rimba

.

Kandangpadati, Juni 2008