di pucuk daun ubi, tali hujan berpiuh lebat, dan getah kayu berkelumun

bulan basah. angin limbubu mengirim desau lama, desau paling purba.

manakala sungai menawar lempung tanah ke retak tanjung. duh, kau

ibarat selipat kain panjang pengebat jarak. sekalian dingin bermain risau

di sebalik rimbun bukit, tapi sekejap saja kau menjelmakan lumut dalam

hijau yang teramat tawar. barangkali hujan, dingin, atau segala yang

beranjak beku cuma semacam pertanda diam untuk sakit yang dipendam.

“setakat sajak dalam batang kemumu. daging disusup beragam ulat dan getah

dihisap banyak rayap. barangkali ini waktu cuma permainan seorang peladang

di tempat paling entah.” suaramu semacam dengung sunyi yang teramat,

di dalamnya terpendam bunyi kayu hanyut terantuk batu sungai.

di lengang rimba, kabut memasang kulit pada segala batang. barangkali

ini seruanmu, sesuatu yang berjarak dengan waktu, sesuatu yang terhenti

di kedipan cahaya kunang-kunang. gerangan dirimukah yang berdiam di sekalian

cuaca aneh? ah, selipat kain panjang pengebat jarak. di masam tahun dingin tetap memuncak. berharap segerombolan pasukan bersayap membawa patahan

dedaunan bakal dirajut menjadi hunian hangat. benarkah waktu cuma permainan

seorang peladang di tempat paling entah? atau suaramu, gema yang bohong,

gema yang meragukan sesuatu yang hangat. dan barangkali ini tahun cuaca bakal

membelit seluruh punggung bukit hingga bungkuk berkepanjangan.

kudengar suaramu, “lembab tanah, bulan basah, sungai yang mengirim lempung

adalah cuaca yang gagal bertawar dengan waktu!” kudengar suaramu, gema

yang lindap padam di balik rimbun bukit. sementara dengung sunyi makin

menjadi, sunyi yang mengandung bunyi kayu hanyut terantuk batu sungai.

Kandangpadati, 2008

Iklan