halte

-episode I
memahat patung dalam diri—
kapan ku kau temui?

-episode II
tanggal-tanggal tak berani menulisi hari
duduk bermenung sendiri—
sepi


-episode III
kukira kali ini kau datang bersinggah diri
menggelar penat barang sejenak
sebab bermanja panas menggila; namun lalu
kutangkap seketuk dengus mengutuk

-episode IV
nyanyian di tiap langkahmu, kekasih
dihembusi musim semi berkali-kali

-episode V
aku mendirikan benteng di mata,
di kaki,
di dada
menunggumu menghempas badai perlahan
sementara aku menyimpan pelabuhan
merapatlah

-episode VI
kukepal tatap pada cemara dalam dirimu—
kaulah keteduhan
dadaku ramai
mendadak sedak

-episode VII
tepat seminggu berderai temu—
berbatang-batang rokok jadi abu
hampiri jenuh aku mengaduh berkentalan peluh di kuduk
tak sampai-sampai lepak kilau bibirku di matamu

-episode VIII
sepagi ini kukunyah merah hingga menumpahi pagar rumah
kutunggu kau lagi pepayung entah
tepat di halte yang sama tempat segala resah menua
temu tak ku sia-sia—
kemana?

-episode IX
lubang telingaku jadi peron mendesing siuk
sepukul kutelan cakapmu dari papan pengumuman
kutemukan kau berbenah diri membuntil seri di relung pipi

-episode X
berkayau cinta dalam sel darah
punah keranta dalam raga berpucuk-kembang bunga
kukumpul dalam bakul
kubangun taman sendiri di lamanmu

-episode XI
berkemas diri murung berusung ke tepi jurang
sementara aku menjadi bayang—
bermain ayunan di halaman seharian

-episode XII
lalu bagaimana—
bayu kasip menterjemahmu
bertiris dada dicerup menung
berguris mangu tilas kadu

-episode XIII
meniup jantung dalam dekap
miris sekejap

-episode XIV
kelat dua pekan bermukim pasang
berkilah jenuh kulipat sauh
layarku hempas—
jauh

-episode XV
di dalam genggam berhari-hari
menghakimi diri buncah keping sepi

-episode XVI
bertandang pun kemalaman—
bersulut suluh di lidah

-episode XVII
secarik surat kuterima,

jika saja kau melangkah dari pucuk yang kutinggalkan
dengan sebilah cahaya

telah kuabadikan gigil rindu di jalan-jalan
dan dalam debu aku menungkan
rasa malam yang kesekian*

-episode XVIII
berbaris sajak mekar sepeninggalmu
kukutuk beri tangkup rindu
ayal menjejal pasang gemulai
berkasip lidah buhul tersirap

-episode XIX
mencerap pendar sayup lampion
bermalam sendiri-sendiri
memukat kupu-kupu
sebentuk laut wangi hilang kembang
kasang

-episode XX
sudah sangat jarang mengukur petang
ceruk di ladang adakah tepi?
benihku hanyut belum semai
selesai

-episode XXI
temu tapak memeluk muka
lekat-lekat celah waktu nun kudus

-episode XXII
iani, kuhimbau namamu selepas petang
berhalau lelangkah pulang
bersingkap sedap di dekap
berkaburan lanskap
menung berkejap—
acap

rumahteduh-kandangpadati juni 2007

nb: Zulham. Mantan mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas (angkatan 2004). Masih Bermain teater di Komunitas Rumah Teduh di balik kegiatan desain grafis-nya di sebuah perusahaan periklanan di padang.