—sangdenai

kelokan jalan bukittinggi masih begitu, lembah berpunggung dingin, batang air menanak batu, dan kabut masih saja menyembunyikan rindunya para bujang-gadis untuk menyebut kata berpadu. tapi takkan kau dengar derak pedati menuruni landai jalan, takkan kau dengar celotehan perempuan berkain-basahan di tepian mandi, takkan kau dengar kekanak berlarian girang di surau saat magrib beranjak isya. dan takkan kau ingat bahwasanya di tiap kelok jalan ke bukittinggi, si sayang telah ditinggalkan pergantian tahun

Harau, 2008