—zinda ruud purnama

aku tak mengerti

kenapa puisi terus berputar

melewati bola matamu

yang kini dibuncahi

bayangan lekaki kayu

sebab harus kau bingkai,

sesuatu yang sudah berjuntai,

terurai. agar lapuk tak jadi patah

dan lepas tak jadi jatuh

di gerah kuta, pasir mengekalkan rindu

orang-orang menebas leher botol wiski

sementara kau terus bersembunyi di balik

gundukan kata bekas penyesatan

para pemuisi mabuk.

dan sebentuk pura, yang tua, yang meyimpan

peristiwa lama, peristiwa

yang melambungkan bola-bola api.

tumbuh dari basah bibirmu.

maka lelaki itu, lelaki yang kayu

muncul sebagai laron sepi yang tersesat

menujumu, seakan ia berseru: “lelaki ini

bungkam di geraian rambutmu!”

Harau, 2008